Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Kedatangan orang tua Ghibran


__ADS_3

Setelah mendapatkan jawaban yang pasti dari Chayra, Ghibran dan Rudi langsung pamit. Mata Ghibran sedikit berair entah karena kemasukan debu atau karena terharu mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Chayra.


"Masa iya, kalian mau langsung pamit?" Tanya Pak Ismail.


"Iya, Abah. Kami kan harus masak, cuci pakaian, cuci piring, bersihin Asrama dan seterusnya, Abah." Jawab Rudi mengabsen kegiatannya pagi ini.


"Sarapan aja dulu, Nak. Sarapan sudah siap kok di dapur. Tinggal di hidangkan meja makan aja." Ucap Bu Ainun.


Ghibran jadi segan dengan Pak Ismail dan Bu Ainun. "Nggak usah repot-repot, Ummi. Kami yang bertamu terlalu pagi. Kami balik aja ke Asrama."


"Rizki itu nggak boleh ditolak lho, Nak. Sekalian pendekatan dengan keluarganya Ayra." Sambung Pak Ismail. "Di Asrama pun, belum tentu sudah ada sarapan, kan?"


Ghibran dan Rudi saling pandang mereka saling meminta persetujuan dari sorot mata masing-masing.


"Ayo, jangan terlalu banyak mikir. Nanti Abah yang berubah pikiran dan mengusir kalian."


"Abah kenapa bilang gitu, sih?!" Bu Ainun menepis pelan lengan suaminya.


"Jangan marah dulu, Ummi. Kami sudah biasa bercanda seperti itu kok dengan mereka. Iya kan Ghibran, Rudi?"


Ghibran dan Rudi hanya mengangguk.


"Ayo.." Ucap pak Ismail lagi. Beranjak duluan menuju dapur diikuti oleh empat orang di belakangnya.


Bu Ainun dan Chayra langsung sibuk menyiapkan hidangan di atas meja makan.


Ghibran tidak menyangka wanita keras kepala yang dia kira anak manja ternyata begitu cekatan menghidangkan makanan di atas meja. Bola matanya terus bergerak mengikuti gerakan Chayra yang keluar masuk dapur bawa ini bawa itu.


Pak Ismail hanya tersenyum melihat kelakuan Ghibran. Tampak jelas di mata Ghibran, kekaguman pada keponakannya.


Rudi mencubit pelan paha Ghibran. Dia langsung melirik ke arah Pak Ismail saat Ghibran menatapnya dengan kesal.


"Ada apa, Nak Rudi?" Tanya Pak Ismail dengan nada santai.


"Ng..nggak ada apa-apa, Abah."


"Nak Ghibran!"


Ghibran langsung menoleh. " Eh, i..iya, Abah."


"Apa matamu tidak capek, dari tadi ngikutin gerakan Ayra kesana kemari?"


Ghibran langsung menunduk. Dia mengusap-usap tengkuknya.


Malu?


Jangan ditanya lagi. Pak Ismail memang bertanya dengan santai. Tapi ucapannya langsung tepat sasaran. Yang di tanya langsung mati kutu.


"Jangan terlalu dipandang, Nak. Dia belum halal untukmu. Kalau mau puas memandangnya, segera halalkan jangan terlalu lama menunggu."


Ghibran masih tak bergeming. Dia tetap menunduk sambil mendengarkan nasihat dari Pak Ismail.


"Benar kata Abah, Ghi. Segera halalkan." Ucap Rudi sambil menyenggol lengan Ghibran. Dia menaik turunkan alisnya menggoda Ghibran, walaupun Ghibran menatapnya dengan tatapan sinis.


"Apaan sih kamu, Rud?!" Hanya itu yang dikatakan Ghibran untuk membalas Rudi.

__ADS_1


"Ssstt, jangan berisik, mereka datang lagi. "Bisik Pak Ismail pada dua orang di depannya. Dan tampak Bu Ainun dan Chayra yang baru keluar dari dapur membawa hidangan terakhir.


Rudi menatap Ghibran dengan tatapan penuh kemenangan. Sebenarnya dia ingin meledakkan tawanya melihat Ghibran yang mati kutu dan tidak berdaya di depan Pak Ismail dan keluarganya.


"Ayo, silahkan dinikmati.." Ucap Bu Ainun mempersilahkan dua tamunya.


Mereka sarapan dengan tenang tanpa ada obrolan.


Tiba-tiba Amrina muncul." Kenapa Abah dan Ummi tidak menunggu Adek dulu sarapannya?" Dia memanyunkan bibirnya. "Kakak Ayra juga." Sambungnya.


Chayra bangkit lalu mendekati gadis kecil itu. "Maafin Kakak ya, Adek. Abah, Ummi sama Kakak kedatangan tamu tadi. Jadi kita sarapan duluan karena tamunya mau segera kembali ke Asrama mereka.


"Mana tamunya, Kakak? Kok, Rina nggak lihat?" Amrina celingukan.


Chayra menggeser tubuhnya." Itu.." Tunjuknya pada Ghibran dan Rudi yang masih menikmati sarapan.


"Ups, maaf, Rina tidak lihat tadi." Ucapnya sambil menutup mulut.


Mereka semua tersenyum melihat tindakan Amrina.


Chayra meraih tangan kecil Amrina. Mengajak gadis kecil itu duduk di sebelahnya untuk menikmati sarapan.


Amrina memperhatikan dua orang tamu di sampingnya. Dia agak memiringkan kepala agar bisa lebih leluasa melihat wajah mereka. "Oh, ternyata tamunya Kakak Ghibran dan Kakak.. mm.." Amrina mengetuk-ngetuk dagunya dengan telunjuk mencoba mengingat nama Rudi. "Mmm.. kakak Ru..di ?" Ucapnya pencoba menebak.


Rudi mengangguk senang. "Kok nama Kak Ghibran langsung diingat, sedangkan nama Kak Rudi, kenapa Adek hampir lupa?"


"Karena Kakak Ghibran kan tampan. Kalau Kakak Rudi tampannya sedikit, mmm.. kurang tampan."


"Hah?!" Rudi melengos mendengar jawaban Amrina. Sedangkan yang lain langsung tertawa.


"Kakak-kakak yang di Asrama Santri Putri, kan bilang gitu, Ummi.." Ucap gadis itu polos.


Pak Ismail menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba menyudahi tawa sambil beristighfar. Chayra dan Bu Ainun ikut beristighfar.


Ghibran berbisik di telinga Rudi. "Aku bukan orang yang suka balas dendam karena aku selalu bersabar. Tapi, Allah membalas kesabaranku lewat Amrina..Gk..gk..gk."


Rudi menggosok-gosok telinganya kesal, melirik Ghibran dengan sinis.


* * *


Tiga bulan berlalu..


Hubungan Ghibran dan Chayra terlihat semakin membaik. Mereka selalu saling memberi kabar walaupun hanya melalui pesan singkat.


Hari ini, Ghibran kembali duduk di sofa ruang tamu rumah Pak Ismail. Bukan bersama Rudi lagi. Hari ini dia datang bersama kedua orang tuanya.


Mereka akan berbicara serius. Ghibran pernah mengatakan tidak akan menikahi Chayra dalam waktu dekat saat mereka bertemu dulu. Tapi, sepertinya dia akan mengkhianati ucapannya itu.


Ghibran meremas kedua tangannya yang saling bertautan. Dia benar-benar gugup. Kedua orang tuanya menepuk pundaknya untuk menyemangati putranya.


Pak Ismail dan Bu Ainun yang sudah menyambut kedatangan orang tua Ghibran berbincang santai di ruang tamu. Berbeda dengan Ghibran yang sudah tampak tegang sejak duduk di sofa itu.


"Assalamualaikum," ucap Chayra dan Amrina serentak.


Chayra terkejut melihat Ghibran yang sudah berada di sana, duduk diapit oleh dua orang yang belum dia kenal. Senyum yang tadi merekah hilang seketika. Dia merasakan ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam," jawab lima orang yang sudah menunggu kedatangannya di ruang tamu.


"Ayra, sini, Nak." Ucap Bu Ainun.


"Kok Kakak Ayra aja yang dipanggil Ummi? Adek Rina kenapa nggak dipanggil juga sama Ummi?" Ucap gadis kecil yang masih berdiri di samping Chayra. Dia bersedekap sambil memonyongkan bibirnya. Siapapun yang melihatnya pasti gemas dengan tingkah gadis kecil itu.


Bu Ainun bangkit mendekati putrinya. Dia mengelus pelan kepala Amrina sambil menjelaskan sesuatu di telinga gadis itu. Tiba-tiba Amrina tersenyum senang sambil menganggukkan kepalanya. Dia menggenggam uang kertas dua puluh ribu yang diberikan Umminya.


"Baik, Ummi. Tapi, Rina pergi sama siapa?"


"Coba Adek minta ditemani oleh Kakak yang sedang duduk di pinggir kolam." Ucap Bu Ainun.


"Ok, Ummi. Kalau begitu Adek pergi dulu ya.. Assalamualaikum semuanya.. da..da.." Gadis itu langsung berlari keluar rumah.


Bu Ainun menggenggam tangan Chayra dan mengajaknya duduk di samping Pak Ismail.


"Kenalan dulu, Nak." Ucap Pak Ismail. "Kamu tau siapa yang duduk di depanmu ini?" Tanyanya pada Chayra sambil menunjuk tiga orang yang duduk di depan mereka.


Chayra mengangguk tapi langsung menggeleng lagi. "Ayra hanya mengenal Kak Ghibran saja, Abah." Jawabnya dengan menunduk.


Tiga orang di depannya tersenyum melihat tingkahnya.


"Apa kamu mau mengenal kami, Nak?" Tanya maminya Ghibran.


Chayra mengangkat wajahnya dan menatap wanita paruh baya di depannya. Dia membalas senyuman itu lalu mengangguk. "Tentu saja, Bu."


"Saya Laela, Nak. Dan ini suami saya,Marzuki. Kami adalah orang tua kandungnya Ghibran."


Duar!


Bagai disambar petir geledek. Muka Chayra langsung berubah merah padam. Dia langsung menunduk. Hatinya langsung gusar. Detak jantungnya semakin kencang. Sebenarnya apa tujuan Ghibran membawa orang tuanya ke rumah Pak Ismail.


"Mm.. maaf. Boleh saya ke kamar mandi sebentar." Masih menunduk.


"Silahkan, Nak." Bu Laela langsung mempersilahkan.


Chayra langsung bergegas meninggalkan ruang tamu itu dan masuk ke kamarnya. Perasaannya benar-benar campur aduk.


Ghibran pernah berpamitan padanya untuk pulang beberapa hari yang lalu. Tapi, dia tidak menceritakan alasannya untuk pulang dan bodohnya lagi, Chayra juga tidak bertanya.


Chayra menatap pantulan dirinya di depan cermin. Dia terus mengatur nafasnya sampai rona merah yang tampak di wajahnya perlahan memudar. Dia mendekati pintu kamar dan kembali menarik nafas dalam sebelum keluar untuk menemui tamunya kembali.


"Fuhh, semoga semuanya baik-baik saja ya Allah. Bismillahirrahmanirrahim..." Ucapnya sambil menarik gagang pintu. Ia keluar kembali ke ruang tamu. Dia kembali duduk di samping Umminya.


Ghibran menatapnya lama, tapi Chayra enggan untuk membalas tatapan pria di depannya. Sekali dia membalas tatapan Ghibran. Chayra memicingkan mata dan menatap dengan tatapan mengintimidasi.


Kak Ghibran berhutang penjelasan padaku. Kira-kira seperti itulah arti tatapan Chayra padanya. Ghibran menunduk dan kembali meremas jari-jari tangannya yang saling bertautan.


"Apa kamu tau maksud kedatangan Nak Ghibran dan keluarganya kemari, Nak?" Tanya Pak Ismail pada Chayra.


Chayra menatap pak Ismail. "Tidak, Abah." Jawabnya sambil menggelengkan kepala.


"Mereka datang dengan niat baik, Nak. Nak Ghibran datang ke sini berniat untuk mengkhitbahmu untuk menjadi istrinya.


* * *

__ADS_1


__ADS_2