Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Perdebatan para mantan


__ADS_3

Barisan keluarga besar Pak Akmal memenuhi halaman rumah Santi. Mereka sedang bersiap menuju lokasi acara lamaran Zidane. Mereka berangkat usai melaksanakan shalat Ashar berjamaah di Musholla.


Bu Ainun bahkan tidak menyangka, kalau putranya akan melabuhkan pilihan terakhirnya pada wanita yang sudah sangat lama menjadi sahabat Chayra.


"Kamu jangan gugup, Nak." Bu Ainun meraba-raba dada Zidane yang memang terlihat sedikit tegang.


"Zidane nggak gugup, Ummi. Cuman, rasanya agak berbeda sedikit."


"Sepertinya bukan Kak Zidane yang gugup, tapi Ummi." Timpal Bian.


"Kamu ini selalu saja nyambung, Dek." Zidane menarik pipi Bian.


"Eh, jangan ditarik pipi aku nanti malah merah. Sudah tampan kayak gini. Nanti tampannya malah berkurang lagi." Bian menggosok-gosok pipinya.


"Kita berangkat sekarang."


Perhatian mereka langsung teralihkan saat mendengar perintah dari Pak Akmal. Anggota keluarga memasuki mobil dengan tertib.


Diantara barisan itu, ada sesosok pria yang menjadi pusat perhatian Ardian.


Ghibran..


Pria itu terlihat berjalan di belakang Pak Ismail.


Tapi..


Pria itu berjalan tanpa adanya pasangan. Padahal sebelumnya Zidane sudah berjanji tidak akan membawa Ghibran kembali ke rumah ini kalau tidak bersama dengan pasangannya.


Ardian menatap tajam ke arah Ghibran. Tangannya merangkul erat tangan Chayra. Sesekali, dia juga sengaja merangkul pinggang Chayra untuk menunjukkan kalau dirinyalah pemilik gadis itu seutuhnya.


Bian menarik tangan Ardian yang merangkul pinggang Chayra. "Tidak usah pamer, Kak. Semua sudah tau kok, kalau Kak Ardian pemilik Kak Ayra. Mau menunjukkan pada Kak Ghibran kalau Kakak itu..."


"Sssstttt..." Ardian membekap mulut Bian. "Jangan berisik kamu."


Bian hanya menyebikkan bibirnya seraya berlalu. "Dasar..."

__ADS_1


Di tempat acara berlangsung, Chayra merasa sedikit canggung saat Ghibran sepertinya sengaja mengambil tempat duduk di samping suaminya. Beberapa kali mencuri pandang pada pria itu. Tubuhnya yang terhalang oleh tubuh Ardian membuatnya tidak terlalu nampak kalau dirinya sedang memperhatikan pria itu.


Ghibran beberapa kali tersenyum pada Ardian yang hanya dibalas seperlunya oleh pria itu. Ardian hanya takut, kalau Ghibran sengaja memberikan senyuman palsu padanya.


Ardian mempererat genggaman tangannya pada tangan Chayra. Mendapati tindakan suaminya membuat Chayra jadi terkejut.


"Kak, tangan aku sakit. Kenapa diremas kayak gini sih?" Chayra berusaha menarik tangannya.


"Aku nggak mau melihat Pak Ghibran melihat kamu tidak ada yang menggenggam tanganmu."


"Kan Kakak yang duduk di samping dia. Ngapain pakai acara khawatir segala coba?"


"Jangan berisik nanti dia dengar." Ardian tersenyum jahil pada istrinya.


"Tapi... aku kok mau pipis rasanya digenggam kayak gini."


"Mau aku temani?"


"Nggak usah, aku bisa pergi sendiri." Chayra bangkit dengan perlahan. Menyesuaikan keseimbangan tubuhnya sebelum berjalan. Ardian akhirnya terpaksa membiarkan Chayra pergi. Tepukan di pahanya membuatnya mengalihkan pandangannya.


Ardian tersenyum salah tingkah. Tidak menyangka kalau kata-kata itu yang akan diucapkan Ghibran. Perlahan dia menyambut uluran tangan itu. "T.. terimakasih, Pak."


"Semoga keberkahan selalu memenuhi pernikahan kalian. Semoga Allah selalu membukakan jalan keluar atas semua masalah yang menimpa kalian. Dan... semoga pernikahan kalian tumbuh menjadi keluarga yang sakinah, mawadah warahmah, aamiin.."


Ardian mengerjap-ngerjap mendengar do'a yang terucap dari Ghibran. Tidak percaya kalau pria itu akan mendo'akan kebaikan untuk pernikahannya.


"Aku hadir disini bukan karena apa-apa. Aku memang belum mendapatkan pengganti Zahra sampai sekarang. Tapi, aku sudah ikhlas dan tidak akan mengharapkan dia lagi. Aku sudah ikhlas dengan semua ini. Aku datang kesini hanya untuk menghadiri acara lamaran sekalian akad nikah Zidane. Karena kami bersahabat sejak kecil. Jadi, tidak afdal rasanya kalau aku tidak hadir karena masalah pribadiku dengan adiknya. Maafkan kejahatan yang pernah aku lakukan selama ini." Mempererat tangannya yang masih berjabat dengan Ardian.


"Sekali lagi t.. terimakasih, Pak."


"Iya..." Ghibran berusaha terlihat tabah di depan Ardian. "Aku pamit dulu, mau samperin Zidane. Mau memberikan dukungan biar dia tidak gugup lagi."


"Iya, Pak. Terimakasih do'anya."


Ghibran mengangguk seraya berlalu. Ia menghampiri Zidane yang sedang mempersiapakan hati dan perasaannya untuk mempersunting wanita cantik yang sudah berdiri beberapa meter di depannya.

__ADS_1


Hanya beberapa menit Ghibran berdiri di samping Zidane lalu pamit keluar ruangan. Pria itu berdiri di pinggir kolam ikan mini di halaman depan. Matanya menatap kosong ke tengah kolam. Beberapa kali bibirnya terlihat menyunggingkan senyum. Senyum pada dirinya sendiri.


"Sepertinya ada yang masih patah hati karena mantan."


Ghibran tersentak dan langsung berbalik. Segera menundukkan pandangannya saat melihat Amira berdiri di belakangnya. Bukan karena dia tidak mau menatap wanita itu. Namun, cara Amira berpakaian membuat Ghibran tidak enak kalau harus menatapnya.


"Maaf, saya tidak sedang patah hati." Kembali membalik tubuhnya menghadap kolam.


"Alah, jangan pakai ngelak segala deh lu. Udah kelihatan banget kok, kalau lho belum bisa ikhlas melihat Ayra bersama Ardian." Amira sengaja menyentuh pundak Ghibran.


Ghibran menghempaskan tangan Amira dengan kasar dari pundaknya. "Tau apa anda dengan perasaan seseorang. Aku memang belum bisa melupakannya. Tapi, aku tidak ada niat untuk memilikinya apalagi sampai merebutnya dari pasangan halalnya."


Amira tertawa kecil mendengar ucapan Ghibran. Bersedekap seraya berjalan semakin mendekati Ghibran. "Tapi, tampang anda terlihat sangat menyedihkan saat melihatnya tadi."


Ghibran tersenyum sinis. Tak sedikitpun dia menoleh kepada Amira. Mungkin mata anda yang perlu dicuci agar bisa membedakan tampang seseorang."


"Heh, mata gue sudah sangat jernih. Sayang sekali lho berkata begitu. Sebenarnya, gue mau mengajak lho bersekutu untuk memisahkan mereka. Kita sama-sama menginginkan salah satu dari mereka. Lho menginginkan ceweknya dan gue menginginkan cowoknya."


Ghibran kembali tersenyum sinis. "Pikiran saya tidak serendah pikiran anda. Saya masih memiliki akal sehat untuk tidak melakukan tindakan buruk pada pernikahan orang lain."


"Terimakasih atas ajakannya. Lain kali anda pikirkan terlebih dahulu hal itu ada manfaatnya atau tidak. Jika hanya berniat untuk menyakiti orang lain, saya tidak berminat sama sekali. Assalamualaikum.." Ghibran bergegas meninggalkan tempat itu. Sebentar bersama Amira membuat perasaannya tidak enak. Gadis itu benar-benar agresif dan berani. Dia jadi bergidik ngeri mengingat bagaimana cara Amira menyentuh pundaknya tadi. Gadis itu sengaja menyentuhnya dengan manja.


Saat memasuki ruangan kembali, Ghibran mendapati Chayra sudah kembali duduk di tempat semula. Rasa enggan tiba-tiba menghampirinya saat akan duduk kembali di tempatnya semula. Apalagi melihat pemandangan yang membuat matanya terasa sakit. Chayra merangkul tangan suaminya sambil merebahkan kepalanya di pundak Ardian.


Ghibran membuang nafas kasar seraya berlalu keluar. Hatinya masih saja terasa ngilu jika melihat hal itu. "Mereka suami istri, Ghibran. Apa sih yang kamu pikirkan." Ucapannya lirih pada dirinya sendiri.


"Kenapa keluar lagi? Nggak tahan melihat mereka bermesraan terus? Aku sudah mengajak lho untuk bersekutu tapi lho malah menolak. Daripada sakit hati terus melihat pemandangan itu." Amira bersedekap dengan angkuhnya di depan Ghibran. "Apa salahnya sih, menerima tawaran gue. Daripada lho sakit hati terus melihat pemandangan yang menyesakkan itu. Gue aja kepanasan di dalam, makanya keluar untuk mencari angin segar."


"Maaf, sekali lagi saya tidak tertarik. Permisi.." Ghibran mencari tempat lain untuk menghindari Amira. Gadis itu benar-benar keterlaluan. Berpakaian dengan sangat tidak sopan disaat semua tamu undangan menggunakan hijab. Hanya dia satu-satunya tamu undangan yang berpakaian semaunya. Padahal, konsep acara disusun dengan konsep islami. Tapi, sepertinya Amira mengabaikan anjuran itu.


Ghibran berjalan ke halaman belakang. Dimana dia mendapati para pelayan sedang istirahat. Para pelayan itu hanya menunduk hormat saat melihat Ghibran melintas di hadapan mereka. Tidak ada yang berani menyapa karena mereka semua mengenal siapa Ghibran. Dari pakaian yang dia pakai saja mereka sudah tau kalau Ghibran adalah orang terhormat.


Ghibran memilih untuk ke kamar mandi. Dia melihat Amira mengikuti langkahnya dari belakang. Itulah mengapa dia memilih untuk masuk ke kamar mandi. Gadis itu benar-benar tidak tau malu. Ghibran beberapa kali menggerutu karena Amira sepertinya tidak menggubris semua ucapannya. "Sudah punya suami, kenapa senang banget sih, mengganggu rumah tangga orang lain. Aku cemburu sih cemburu. Tapi, aku tidak berniat untuk menghancurkan rumah tangga mereka." Ghibran menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Ya Allah, lindungi hamba dari godaan syetan yang terkutuk. Allahu Akbar Astagfirullahal'adzim .." bergegas masuk ke dalam kamar mandi karena melihat Amira berjalan mendekat ke arahnya.


*********

__ADS_1


__ADS_2