
Ardian berdiri di dekat jendela kantor barunya. Menatap lalu lalang kendaraan dari atas. Ruangan barunya itu cukup luas dengan perabot yang tertata rapi. Ruangan yang dilengkapi sofa sebagai tempat menerima tamu.
Ardian berbalik seraya menghela nafas berat. Ternyata begini rasanya jadi bos. Dia sama sekali tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi hari ini. Terlalu terbiasa hidup sederhana di rumah mertuanya membuatnya nyaman dalam kesederhanaan.
Ardian duduk di kursi kebesarannya. Menyeruput kopi yang dia bawa sendiri dari rumah. Ingin tertawa tapi tertawa untuk apa?
Satu bulan yang lalu, ia mengundurkan diri dari kantor lamanya. Zidane sedikit kecewa mendengar keputusan itu. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena Ardian sudah resmi menjadi pemilik perusahaan Papinya.
Jadwal yang padat membuat pikirannya suntuk. Jadwal kebersamaannya dengan sang istri benar-benar terpangkas banyak. Semakin kesini, Chayra semakin manja dan selalu menuntutnya untuk pulang tepat waktu.
Sore itu, Ardian pulang setelah shalat Ashar. Mendapati sang istri sedang duduk di teras rumah sambil mengelus-elus perutnya yang terlihat sedikit membuncit, pria itu tersenyum samar. Masih berdiam di dalam mobil menikmati keindahan yang dititipkan Allah pada wanita itu.
Chayra bangkit saat menyadari mobil suaminya sudah berada di depan gerbang cukup lama. Menautkan alisnya menahan senyum. Berjalan mendekati mobil itu dengan langkah sedikit tertatih. Merasa risih juga karena bunyi klakson mobil di belakang mobil suaminya.
Mengetuk-ngetuk kaca mobil menunggu suaminya membuka kaca itu. "Kenapa diam di dalam mobil, Kak? Kak Zidane membunyikan klakson dari tadi." Chayra sedikit membungkuk seraya menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
Ardian terperanjat. "Astagfirullah, masa sih?" Menengok ke belakang.
"Iya, masa aku bohong. Pindah posisi dulu, kasihan Kak Zidane lama menunggu."
Ardian tersenyum seraya memajukan mobilnya. Keluar dari mobil dengan senyum mengembang. "Aku bisa pulang cepat hari ini, Sayang." Menarik istrinya sampai jatuh ke dalam pelukannya.
Chayra mendongak menatap suaminya. Mengusap-usap wajah Ardian dengan lembut. "Capek ya..."
"Mm... lumayan. Tapi, saat melihat kamu, lelah itu langsung hilang dibawa angin."
Zidane yang baru keluar dari mobil menyebikkan bibirnya. "Kalian ini benar-benar deh. Nggak pilih tempat untuk bermesraan. Jangankan di dalam rumah. Ini kalian masih berdiri di depan rumah. Kalau ada orang yang lihat nanti bagaimana?"
"Lho, memangnya kami berbuat apa? Aku cuma memeluk istriku sebagai bentuk rasa sayang dan rinduku padanya. Juga bersyukur pada Allah telah memberikan aku istri yang begitu cantik dan taat beragama."
"Masuk, Kak. Jangan berdebat disini." Chayra menarik tangan suaminya agar mengikutinya masuk ke dalam rumah.
Ardian melepas jas yang membalut tubuhnya. Tubuhnya sedikit lengket karena keringat. Belajar menjadi pemimpin perusahaan benar-benar menguras pikiran.
"Mandi dulu, Kak. Aku siapkan baju ganti sementara Kakak mandi."
"Aku mau mengajak kamu ke Rumah Sakit mengunjungi Papi."
Chayra yang susah berdiri di depan lemari langsung berbalik. "Kapan?" tanyanya, mendekati suaminya kembali.
"Malam ini, selesai shalat Maghrib."
Chayra mengangguk setuju. "Tapi makan malam dulu ya. Aku nggak mau lapar di perjalanan nanti." Kembali bangkit dan ke posisi semula. "Mandi dulu lah sana," ucapnya pada Ardian tanpa berbalik.
"Aku juga lapar, Chay. Malu sama Mami, sama Nenek kalau sampai bawa lapar ke Rumah Sakit." Ardian mendekati istrinya. Memeluk tubuh wanita itu dari belakang.
"Kakak bau asem, mandi dulu sana." Chayra menggoyang-goyangkan tubuhnya agar tangan Ardian terlepas.
"Aku mau isi energi dulu biar semangat."
"Makanya mandi dulu sana, setelah itu kita shalat Maghrib, baru deh makan. Masa sih, nggak kuat sampai waktu Maghrib tiba. Di Masjid sudah renungan itu."
__ADS_1
"Maksud aku bukan tenaga, Sayang."
"Terus..?"
"Energi perasaan," berbisik di telinga Chayra.
Chayra menggosok-gosok telinganya karena geli. "Heh, energi apaan, sore-sore gini?" melirik kesal ke arah suaminya.
"Hatiku gersang, Chay. Capek kerja juga. Kita libur sudah beberapa hari coba. Kenapa juga Dokter melarang aku sering-sering melakukan itu."
Chayra menghela nafas berat. "Itu semua demi kebaikan anak kita, Kak. Kandungan aku kan masih rentan. Nanti kalau sudah trimester akhir, malahan di suruh sering-sering buat anaknya cepat masuk ke jalan lahir."
Ardian cengengesan. "Trimester akhir itu mulai dari bulan berapa?" Menyandarkan kepalanya di pundak Chayra.
"Katanya sudah menjadi pawang wanita. Masa gituan aja nggak tau."
"Aku sudah lupa semua tentang wanita. Wanita yang aku tau saat ini hanya kamu, Sayang." Mencium gemas pipi istrinya.
"Mandi dulu... mandi sana.. udah mau adzan, Kak. Katanya mau jenguk Papi."
"Nggak di kasih isi energi dulu, nih."
"Nggak..! Nanti malam kalau sudah balik dari rumah sakit."
Ardian melepaskan pelukannya perlahan. Pura-pura kecewa dengan keputusan istrinya. "Ya udah kalau nggak izinin. Sudah tau kan, dosa istri yang menolak keinginan suaminya." Membuka baju seraya mengambil handuk.
Chayra langsung memanyunkan bibirnya. "Inikan sudah mau adzan, Kak. Kalau Ibu atau Kak Zidane memanggil kita untuk shalat jamaah nanti, bagaimana?"
"Kak.... Kak Ardian beneran marah nih?" Mengetuk pintu kamar mandi.
Tidak ada jawaban..
Chayra mendengus. "Ya udah kalau ngambek. Sekalian aja nggak di kasih sampai nanti malam." Menghentakkan kakinya meninggalkan depan pintu kamar mandi. Ia berjalan keluar kamar, menenteng mukenah dan langsung menuju Musholla.
Ardian menongolkan kepalanya di pintu kamar mandi. Melihat tidak ada istrinya, ia kembali menutup pintu. Menyegerakan membilas tubuhnya. Takutnya Chayra benar-benar ngambek dan tidak jadi memberinya jatah nanti malam.
**********
Chayra melirik suaminya usai mendirikan shalat. Sengaja duduk di samping kiri ibunya agar tidak berada di belakang suaminya.
Usai bersalaman dengan mertuanya, Ardian berpindah menyodorkan tangannya pada istrinya. Lama tangan itu berdiam karena Chayra tidak menggubris uluran tangan itu.
Santi langsung menyenggol putrinya. Dengan terpaksa, Chayra akhirnya meraih tangan itu dan menciumnya asal.
"Kalian lagi marahan?" Santi akhirnya bertanya karena tidak tahan melihat tingkah dua manusia di depannya.
"Dia yang duluan tadi. Udah tua juga pakai ngambek segala." Ucap Chayra dengan bersungut.
Ardian hanya mengangkat bahu menatap Zidane yang terlihat menahan senyum.
"Hhmmm... kamu ini, Nak. Masalah kecil itu jangan suka dibesar-besarkan. Apalagi itu dengan suami."
__ADS_1
Chayra hanya terdiam mendengar nasehat ibunya.
"Kata suami kamu, kalian mau menjenguk Pak Sucipto sekarang. Benar begitu?"
Chayra mengangguk kecil.
"Terus, masa iya, mau menjenguk mertua tapi pemandangan muka kamu kusut kayak gitu, Nak?"
Chayra akhirnya menarik nafas dalam seraya melirik suaminya. "Aku cuma kesel sama dia, Bu. Masa dia mau mengisi energi saat mau adzan tadi."
"Suami kamu kan lapar, Nak? Kaki tidak akan keberatan kok kalau dia mau makan duluan. Kerja di perusahaan itu tidak hanya tentang tenaga. Tapi, pikiran yang lebih berperan penting."
"Huh, Ibu nggak paham maksud Ayra. Iya sudah, kita makan sekarang saja. Perut aku sudah lapar ini." Chayra bangkit meninggalkan Musholla.
"Kenapa sih dia? Kok dia gini-gini amat sekarang? Perasaan dulu, dia itu lemah lembut dan penyabarnya luar biasa." Zidane ikut angkat bicara karena ikutan bingung dengan sikap adik sepupunya itu.
"Sejak hamil dia sering kayak gitu, Kak. Aku juga bingung." Ardian bangkit, "aku mau menyusulnya dulu. Nggak mau bertambah bara-bere lagi nanti."
Santi dan Zidane hanya mengangguk mengiyakan ucapan Ardian.
Ardian mendapati istrinya sudah menggulung tubuhnya di bawah selimut. Ardian menutup pintu dengan pelan. Duduk di sisi ranjang seraya menarik nafas panjang. "Katanya lapar mau makan malam. Kok malah tidur sekarang."
"Aku nggak selera makan." Jawab Chayra dengan ketus.
Ardian merebahkan tubuhnya di samping Chayra. "Kalau begitu, mungkin kamu akan berselera kalau mengisikan aku energi."
Chayra langsung menyibak selimut yang menutupi wajahnya. "Enak saja, siapa juga yang mau kayak gitu." Membalik tubuhnya membelakangi suaminya.
"Tapi aku butuh itu, Sayang." Memeluk tubuh Chayra dari belakang. "Suami itu energinya harus selalu terisi penuh di rumah. Kalau tidak terisi penuh, takutnya dia malah mengisi energi di tempat lain nanti."
"Modus Viar dikasih jatah."
"Serius ini. Memangnya kamu mau kalau aku mengisi energi ku di luar."
"Mau jadi ahli maksiat lagi memangnya? Udah bosan jadi orang baik."
"Makanya tatap aku, Sayang." Menarik tubuh Chayra agar menatapnya. "Aku nggak mau jadi orang jahat lagi. Itulah mengapa aku menginginkan kamu yang sudah halal untukku." Mencium dahi istrinya dengan penuh perasaan. "Boleh ya..."
Chayra akhirnya melirik istrinya. "Kan kita mau ke Rumah Sakit sekarang."
"Kita bisa pergi besok."
"Kakak kan sibuk sekarang."
"Pasti ada waktu kalau kita benar-benar berniat akan pergi."
"Terus aku harus mandi malam dong sekarang."
"Sesekali, Sayang. Yang tidak boleh itu setiap malam."
"Huh," Chayra mendengus. "Kalau udah mau, nggak ada yang bisa menghalangi." Beranjak duduk sambil melepas mukenanya.
__ADS_1