
Lewat jam dua belas malam barulah Kate pamit dari rumah Santi. Jamuan makan yang diterimanya membuat bibirnya tidak pernah berhenti tersenyum. Semangatnya untuk memberikan informasi penting pada Ardian semakin berapi-api. Beberapa kali menunjukkan rekaman cctv pada sahabat lamanya itu. Berdiskusi dengan serius untuk meyakinkan Ardian dengan semua penjelasannya. Akhirnya bukti rekaman itu membuat Ardian percaya, kalau Amira memang ikut terlibat dalam tragedi kedatangan Audy di waktu subuh pagi Selasa kemarin.
"Gue pamit, Bro. Terimakasih jamuannya. Kelurga baru lho benar-benar baik hati ya... kecuali adik ipar lho itu aja yang sedikit menyebalkan." Kate mengingat sindiran pedas Bian saat mereka datang untuk makan malam tadi. "Besok malam gue datang lagi untuk membawa informasi baru untuk lho."
"Ok.. hati-hati di jalan. Semoga Allah mempercepat proses tobat lho."
Kate tersenyum lemah mendengar ucapan Ardian. "Gue harus sering-sering datang kemari kalau benar-benar ingin berubah."
Ardian mengangguk. "Lho boleh datang kemari kalau gue lagi ada di rumah. Tapi jangan terlalu sering juga. Gue kan butuh banyak waktu untuk berduaan dengan istri gue."
"Iya... sadar diri lah gue. Masa gangguin lho setiap hari. Gue pamit mm... as.. assalamualaikum.."
"Hmmm lho ini ucap salam pakai acara kaku segala. Wa'alaikumsalam.."
Kate hanya menanggapi ucapan Ardian dengan tersenyum kecil. Melangkahkan kakinya menjauhi rumah. Ardian menatap Kate sampai menghilang di balik gerbang.
Ardian sedikit terkejut saat masuk ke dalam kamar karena melihat Chayra masih duduk di depan meja belajarnya. "Kamu kenapa belum tidur, Chay? Ini sudah tengah malam. Lagi kerjain apa sampai duduk berjam-jam di depan meja belajar?"
"Aku kesepian, Kak. Nggak duduk lama kok disini. Aku barusan rebahan di ranjang. Tapi nggak tau aja kenapa mata ini sulit terpejam. Kayaknya butuh bantal kecil yang empuk seperti biasa."
Ardian tersenyum seraya berjalan mendekat lalu memeluk istrinya dari belakang. "Maaf membuatmu menunggu." Mencium pipi istrinya lembut.
"Ngomongin apa aja sampai tengah malam gini?" Mendongak menatap suaminya yang masih memeluknya.
"Banyak sekali. Besok aku ceritakan, aku mau shalat Isya dulu sekarang. Kamu istirahat jangan terlalu lama duduk."
"Iya.." Chayra beranjak bangkit. Merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya masih sulit terpejam. Mungkin kebiasaannya tidur dalam pelukan hangat suaminya membuatnya seperti ini malam ini.
Ardian Pov...
Aku masih tidak percaya dengan semua yang kulihat dari rekaman cctv yang dibawa Kate. Apa sebenarnya yang diinginkan Amira padaku. Padahal aku sudah menghapus semua tentang dirinya dari pikiran dan hidupku. Beberapa kali memberikannya peringatan untuk tidak menggangu hidupku lagi. Tapi, entah apa yang membuatnya sampai nekat melakukan semua kebodohan ini. Aku juga kesel sama Audy. Kenapa juga dia mau begitu saja disuruh-suruh sama Amira. Padahal dulu mereka itu bermusuhan pas aku masih berpacaran dengan Amira. Amira beberapa kali melabrak Audy gara-gara aku bermalam bersama gadis itu.
__ADS_1
Ya Allah, kenapa rasa sesak karena perbuatan di masa lalu semakin menjadi-jadi sekarang. Andaikan tidak mengingat benih yang sudah aku tanam dalam benih Chayra istriku. Ingin rasanya aku bunuh diri karena tidak kuat menghadapi masalah ini. Sejak kedatangan Audy pagi itu, aku tidak berani mengambil posisi intim dengan istriku, apalagi sampai harus melakukan begituan. Aku melihat kekhawatiran di mata istriku.
Aku tau Chayra merasa tertekan dengan cobaan yang silih ganti berdatangan. Tapi, wanita itu selalu mengelak dan akan marah kalau aku minta maaf berulang kali padanya. Aku hanya bersyukur, Dokter selalu mengatakan semuanya baik-baik saja. Bahkan bayi dalam kandungannya berkembang pesat. Tumbuh lebih cepat dari yang seharusnya. Berat badannya juga lebih dari normal. Kemungkinan untuk melahirkan normal tipis sekali itu kata Dokter kemarin.
Aku pandang wajahnya yang terlihat damai saat terpejam. Sepertinya dia baru bisa terlelap karena dari tadi aku lihat beberapa kali Membolak-balikkan tubuhnya. Aku hanya. Ida berdo'a semoga masalah ini cepat berlalu dan kami bisa menjalani hari-hari dengan tenang seperti biasa.
Aku terkejut saat tiba-tiba handphoneku berbunyi. Sshhhtttt.... ini sudah tengah malam. Siapa yang menelpon di jam segini. Pasti orang yang nggak penting. Ku raih benda gepeng itu dengan malas. Eh, ternyata Mami. Ada apa tiba-tiba menghubungiku tengah malam begini.
Takut membuatnya menunggu terlalu lama, akhirnya aku menjawab panggilan itu. "Assalamualaikum, Mi."
"Kamu sudah tidur?"
Aku mendengus saat mendengar pertanyaan Mami. Kebiasaan dia jarang mengucap salam. Aku juga dulu seperti itu tidak pernah mengucap dan menjawab salam orang. Tapi, sekarang aku merasa kesal kalau ada orang yang tidak menjawab salamku.
"Mami kebiasaan deh nggak jawab salam. Dosa tau nggak."
"Eh, iya Mami lupa. Wa'alaikumsalam.. kamu sudah tidur?"
"Besok kamu datang ke rumah. Ada yang ingin kami bicarakan."
"Aku masuk kerja besok, Mi. Ada jadwal rapat di dua tempat yang harus aku hadiri."
"Kamu kan bisa meminta Dodit untuk menggantikan kamu."
"Nggak bisa, Mi. Aku yang harus turun mendampingi Pak Manager. Aku pulang kira-kira jam tiga sore. Aku akan usahakan untuk datang pulang kerja nanti."
"Bawa Chayra juga, Nak. Kami ingin melihat menantu kami juga."
"Kenapa tidak Mami saja yang datang ke rumah. Chay tetap di rumah kok. Dia sudah menyelesaikan pendidikannya satu bulan yang lalu. Jadi dia belum memiliki kesibukan yang berarti sekarang.
"Agak sungkan, Nak. Mami kan sering buat masalah dulu."
__ADS_1
"Nah, justru itu Mami datang untuk sekalian minta maaf. Tenang, Mi. Istri aku bukan orang pendendam kok. Dia juga sering menanyakan Mami kenapa tidak pernah menghubungi dia. Ingin menghubungi Mami duluan tapi dia malu. Ngomong-ngomong Mami kapan pulang?" Aku baru teringat kalau selama ini Mami tinggal di Amerika. Apa gerangan sehingga dia tiba-tiba sudah ada di sini.
"Tiga hari yang lalu, Nak. Mami mau tetap tinggal di rumah sekarang. Capek bolak-balik terus. Iya sudah kalau begitu, nanti Mami tanyakan pada Papi kamu. Mami tutup ya selamat malam."
"Assalamualaikum, Mami.." Aku berusaha mengingatakn Mami untuk membiasakan diri mengucap salam.
"Eh, wa'alaikumsalam.."
Aku menghela nafas berat. Sepertinya cerita kemarin sudah sampai ke telinga Papi dan Mami. Tapi, siapa yang menyampaikan berita itu. Apa mungkin Kakek Akmal. Heh, kemungkinan besar memang dia pelakunya, mengingat kedekatan mereka selama ini.
Aku kembali membaringkan tubuhku di samping Chay. Memeluknya hangat seperti yang biasa aku lakukan setiap malam padanya. Menatapnya lama seperti ini membuat perasaanku kembali tenang. Ingin aku mendaratkan ciuman di bibirnya. Tapi, aku tidak berani melakukannya. Bukan karena aku takut mengganggu tidurnya, mengingat betapa diriku suka iseng selama ini. Tapi, sejak kejadian itu memang hanya sebatas ini yang bisa aku lakukan. Aku malu kalau harus melakukan yang lebih jauh. Dia terlihat terlalu sempurna untuk laki-laki sehina diriku ini.
Aku akhirnya ikut terlelap dengan posisi memeluk istriku. Hari ini terasa sangat panjang. Tapi, informasi yang aku peroleh dari Kate membuatku bisa menyusun rencana apa yang aku akan aku buat kedepannya. Iya walaupun telinganku sampai berdenging mendengar ocehan temanku yang satu itu. Kate seperti tidak pernah berhenti ngomong sejak selesai makan malam tadi.
*********
"Kak, bangun. Ini orang kenapa sulit sekali bangun sih. Tidur jam berapa semalam sampai sesulit ini dibangunkan." Chayra m ngoceh sambil terus menggoyang-goyangkan tubuh suaminya. Padahal dia sengaja membiarkan Ardian tidak ikut shalat berjamaah Subuh tadi.
"Kak, bangun. Matahari sebentar lagi terbit. Kakak belum shalat Subuh." Mencubit pipi suaminya. Tetap Tidak ada reaksi.
Chayra mendengus. Akhirnya dia mencium pipi Ardian. Tubuhnya langsung nempel dan tidak bisa dia angkat. "Eh, ini kenapa ceritanya." Chayra tersenyum karena menyadari kalau Ardian yang menahan tubuhnya dengan melingkarkan tangannya di pinggangnya. "Huh, modus aja Kakak ini. Sengaja nggak mau bangun dengan cubitan. Eh, pas dapat pelukan langsung nempel. Udah ah, jangan kebanyakan modus. Nanti Malaikat pencatat amal kebaikan keburu naik. Kakak jadinya tidak dapat pahala shalatnya nanti." Chayra berusaha mengangkat tubuhnya. Namun, ia tetap tidak bisa karena tangan suaminya yang masih melingkar indah di pinggangnya.
"Sebentar saja, Sayang. Mataharinya belum mau terbit kok. Malaikat juga katanya mau nunggu aku selesai shalat dulu baru mereka mau naik. Kasihan katanya sama aku yang terlalu banyak beban."
"Huh, mana ada seperti itu. Malahan kalau merasa terlalu banyak beban seharusnya Kakak bangun dan segera mendirikan shalat. Tau juga dosa numpuk, masih pakai acara malas-malasan untuk bangun. Udah ah, ini perut aku kejepit Kak. Kasih Adek bayinya ikut kejepit disana. Nanti dia susah nafas."
"Astagfirullah, aku lupa kalau kamu lagi hamil." Ardian spontan melepaskan pelukannya dan langsung bangkit. "Kamu nggak apa-apa kan?"
"Nggak, aku baik-baik aja kok. Sengaja berkata begitu biar Kakak cepat bangun." Jawab Chayra sambil menahan senyum. "Anak sudah mau lahir juga, masih aja sering lupa." Chayra meninggalkan kamar tanpa memperdulikan Ardian yang melongo mendengar ucapannya.
*********
__ADS_1