
Ardian menyusuri koridor Rumah Sakit dengan langkah tergesa. Dia melihat handphonenya setelah selesai shalat Ashar. Kesibukan menyiapkan dokumen yang akan dibawa Dodit membuatnya fokus bekerja tanpa mengingat handphone yang dia letakkan sejak keluar sebelum shalat Zuhur tadi. Lima panggilan tak terjawab dari istrinya membuatnya langsung menghubungi istrinya.
Ardian lebih terkejut saat Bian yang menjawab panggilannya. "Kakak cepat pulang. Kak Ayra masuk Rumah Sakit. Jangan bertanya apa-apa karena aku tidak mau menjelaskan apapun. Masalahnya terlalu berbelit-belit. Sekarang Kakak ke rumah sakit karena Kak Ayra sudah di infus dan sedang diobservasi."
Tut.. Tut... Tut..
Sambungan telepon diputus secara sepihak. Hal itu membuat Ardian tidak bisa berkata apa-apa. Hanya menatap layar handphonenya dengan tatapan kosong. Hampir dua tahun hidup bersama Bian membuatnya mengenal dengan baik karakter adik iparnya itu. Bian bahkan tidak mengucap salam saat menjawab panggilannya tadi.
Setelah kesadarannya pulih kembali, Ardian bangkit seraya mengusap wajahnya dengan kasar seraya melafadzkan istighfar. Dia harus kembali ke ruangan Pak Randi untuk meminta izin. Tapi, sayangnya Pak Randi sedang ada rapat di luar dan parahnya lagi Dodit yang menemani Pak Randi. Akhirnya Ardian memutuskan untuk izin melalui pesan singkat. Ia bergegas meninggalkan kantor dan langsung bergegas menuju Rumah Sakit.
"Apa yang terjadi?" Ardian berdiri di samping Berangkar Chayra dengan menggenggam erat tangan Chayra yang bebas dari selang infus.
Bian mendengus sambil menyerahkan handphone Chayra pada Ardian. Chayra tidur sejak satu jam yang lalu karena dikasih obat oleh Dokter. "Kak Ayra terkena serangan vertigo gara-gara itu." Bian melirik handphone kakaknya yang sudah berpindah ke tangan Ardian.
"Maksud kamu, Chay terlalu sering main hp?"
Bian kembali mendengus. Perasaan yang campur aduk antara kesal, lapar dan tidak tenang karena belum mendirikan shalat Ashar membuatnya merasa kacau. Dia bahkan tidak sempat mengganti seragam sekolahnya karena panik melihat kondisi kakaknya tadi. "Kakak cari tau sendiri di handphone itu. Aku minta uang, Kak. Aku lapar karena belum sempat makan siang." Bian menyodorkan tangannya pada Ardian.
"Kenapa tidak makan dari tadi, Dek.. Bagaimana kalau kamu ikutan sakit?"
"Jangan banyak cakap deh, Kak. Apa aku ada waktu untuk memikirkan diri sendiri, sedangkan Kakak aku sedang kesakitan pas aku pulang tadi. Untung saja aku cepat pulang. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau aku telat sedikit saja. Mana uangnya buruan. Aku juga belum shalat Ashar ini." Bian kembali menyodorkan tangannya. "Cepetan...." Bian semakin tidak sabaran karena Ardian hanya menatapnya dengan bengong.
"Kak, cepetan..."
"D.. dompet Kakak ketinggalan di Kantor, Dek. Tadi pas Kakak buka hp Kakak terkejut melihat banyak panggilan tak terjawab." Ardian mengerjap-ngerjap bingung. Dia juga baru sadar kalau dompetnya ketinggalan karena terlalu panik tadi.
"Ya Allah, Astagfirullahal'adzim.. Kalau begitu aku pulang saja, Kak. Aku akan kembali nanti habis shalat Isya."
"Ibu mana, Dek?"
"Ibu tidak bisa dihubungi. Dia sepertinya sedang rapat di Toko. Kalau ada rapat seperti ini, biasanya Ibu pulang setelah waktu Maghrib masuk. Kayak orang yang nggak kenal sama Ibu saja Kakak ini."
"Iya sudah kalau begitu, kamu pulang saja dulu. Bawakan juga baju ganti untuk Kakak."
"Mana kunci mobil Kakak?" Bian kembali menyodorkan tangannya.
"Memangnya kamu kemari pakai apa tadi?"
__ADS_1
"Pakai Ambulance. Kakak gila memangnya, aku nyetirnya bagaimana coba sambil ngawasi orang sakit." Bian melengos sambil membuang pandangan. "Udah mana kunci mobilnya.. aku belum shalat, Kak."
"Ini.. cepat kembali ya.. Bawakan ATM kakak yang tersimpan di laci meja belajar Kakak kamu."
"Iya, assalamualaikum..." Bian berlalu setelah mendapatkan kunci mobil. Perutnya yang terus-menerus berbunyi membuat hatinya tak karuan. Walaupun dia tumbuh tanpa seorang ayah, tetapi untuk pertama kalinya dalam hidup dia merasakan yang namanya kelaparan.
Ardian menatap dalam istrinya yang belum juga membuka mata. "Maafkan aku, Sayang. Apa yang membuatmu seperti ini. Padahal tadi pagi kamu baik-baik saja pas aku berangkat ke kantor." Ardian mengangkat tangan istrinya dan menciumnya lembut. Rasa bersalah semakin menghantuinya. Ardian tersenyum lembut sambil mengusap wajah istrinya. Ardian sedikit terkejut karena baru menyadari kalau istrinya tidak memakai cadarnya.
Baru saja Ardian mengambil cadar Chayra yang tergeletak di dekat kepalanya, Dokter tiba-tiba masuk untuk memeriksa keadaan pasien.
"Permisi Pak, selamat sore. Kami mau memeriksa pasien dulu ya, Pak." Dokter itu tersenyum ramah pada Ardian. "
"Iya, Pak silahkan.." Ardian bangkit seraya berjalan sedikit menjauh dari Berangkar istrinya. Takut kalau keberadaannya yang terlalu dekat mengganggu aktivitas Dokter.
"Coba Adek buka matanya sekarang.." Dokter itu menginstruksikan pada Chayra untuk membuka mata.
"Kan istri saya sedang tidur, Dok." Ardian langsung protes karena merasa kalau Dokter itu memaksa istrinya.
"Sudah bangun istrinya, Dek. Masa tidak bisa bedakan orang yang sedang tidur dengan orang yang hanya memejamkan mata saja."
"Istrinya kan lagi sakit, Dek. Nggak ada tenaga untuk ngomong banyak. Dari tadi juga dia tidak berani membuka mata karena pandangannya berputar-putar." Pak Dokter kembali fokus pada Chayra. "Berani membuka mata?"
Chayra langsung menggeleng. "Masih terasa berputar-putar, Dok."
"Adek jangan banyak pikiran. Suaminya siaga gini, mikirin apa coba sampai terkena vertigo kayak gini."
Chayra hanya tersenyum lemah menanggapi candaan Dokter itu.
"Nanti kalau keadaannya sudah lebih stabil, kita bisa pindah ruangan ya.."
"Iya Dok."
Dokter itu berlalu setelah mendengar jawaban Chayra.
Ardian kembali duduk di samping pembaringan Istrinya. Ia tersenyum lemah menatap istrinya yang memejamkan mata. "Maafkan aku, Chay. Aku berangkat kerja tadi pagi karena melihat kondisi kamu baik-baik saja."
"Aku.. aku tidak apa-apa, Mas. Cuman aku nggak tau aja kenapa pandangan ku tiba-tiba kabur dan berputar-putar."
__ADS_1
"Maafkan aku, Sayang."
"Sudah ah, jangan minta maaf terus. Toh ini semua bukan salah kamu, Mas." Chayra mencengkram tangan suaminya saat mengatakan itu. Mau tidak mau, hal ini memang terjadi karena Ardian. Chayra merasakan kekecewaan yang mendalam. Tapi, kembali lagi dia harus kuat karena itu hanyalah bagian dari masa lalu.
"Aku mau istirahat, Mas. Mas Ardian tidak apa-apa kan, kalau aku tinggal tidur?"
"Iya nggak apa-apa. Intinya kamu nyaman, Sayang. Jangan pikirkan aku.." Ardian mengusap-usap kepala istrinya.
Chayra memijit matanya saat tangan Ardian menyentuh kepalanya. Tiba-tiba saja rasa sakit saat melihat foto itu datang lagi. Di a hanya berpikir, bagaimana perasaan suaminya dulu saat dengan santainya berbuat macam-macam dengan orang yang tidak halal baginya.
*******
Malam itu, Bian datang setelah jam sembilan malam. Alasannya karena dia menunggu Bu Santi pulang dulu dari Toko. Sekitar setengah jam mendengar petuah panjang dari ibunya. Bu Santi benar-benat marah gara-gara tidak dikasih tau kalau putrinya masuk Rumah Sakit.
"Kenapa tidak langsung jemput Ibu ke Toko, Nak?"
"Bagaimana mau menjemput Ibu, sedangkan aku sendirian. Aku membawa Kak Ayra ke Rumah Sakit menggunakan Ambulance. Kak Ardian juga tidak bisa dihubungi pas aku membawa Kak Ayra. Aku tidak berpikir kemana-mana, Bu. Aku hanya berpikir Kak Ayra harus segera sampai di Rumah Sakit agar segera mendapatkan penanganan Dokter. Kak Ayra juga mencengkram tanganku terus. Katanya pandangannya berputar-putar sampai dia tidak berani membuka mata."
Bu Santi akhirnya hanya bisa menarik nafas dalam. Dia tidak bisa protes banyak karena alasan yang di utarakan putranya tidak bisa dipungkiri kebenarannya. "Maafkan Ibu, Nak."
Namun, saat sampai di Rumah Sakit, Bu Santi langsung menanyakan keberadaan handphone Chayra. Penjelasan Bian kalau penyebab kakaknya sampai seperti ini berasal dari benda gepeng itu membuatnya langsung bertindak.
"Handphone istri kamu dimana, Nak?" Bu Santi langsung mempertanyakan benda gepeng milik Chayra pada Ardian.
"Itu, Bu di Nakas samping Chay. Aku belum sempat membukanya dari tadi karena harus mengurus administrasi dulu." Ardian sedang membuka makanan yang baru saja dibeli oleh Bian untuknya.
Bu Santi mengambil handphone itu dan langsung membukanya. Tapi, Bu Santi tidak tau password yang dipakai putrinya. "Password-nya apa, Bi?"
"Tanggal lahir Ibu dari belakang." Jawab Bian, melanjutkan mencomot sepotong paha ayam.
Bu Santi langsung berselancar dengan handphone itu. Beberapa kali terdengar tarikan nafas panjang darinya lalu membuangnya dengan kasar. Terdengar juga istighfar beberapa kali dari mulutnya. Pantaslah putrinya langsung drop. Pesan itu membuat dada Bu Santi terasa sesak. Dia saja yang tidak hamil merasa sakit melihat semua itu. Apalagi putrinya yang sedang mengandung anak pria yang ada dalam pesan itu.
Bu Santi melihat ke arah Ardian dan Bian. Melihat keduanya sudah selesai makan, Bu Santi langsung angkat bicara. "Ardian, cari tau orang yang melakukan semua ini pada putri Ibu. Saat Ayra sudah keluar dari Rumah Sakit nanti, Ibu tidak mau tau, bawa orang yang telah melukai putri Ibu ini langsung ke hadapan Ibu."
Ardian yang tidak mengerti dengan maksud perkataan mertuanya hanya menganga bingung.
*******
__ADS_1