Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Fatwa singkat


__ADS_3

Setelah membicarakan masalah hutang maminya dengan Chayra malam itu, Ardian semakin terbuka pada istrinya. Ia sepakat dengan Chayra untuk membayar hutang maminya di perusahaan dengan menggunakan tabungan istrinya terlebih dahulu.


Pagi itu sebelum berangkat kerja, seperti biasa Ardian selalu berpamitan pada maminya terlebih dahulu.


"Mm... Nak, Mami minta uang dong." Tiba-tiba tangan Bu Renata terulur saat Ardian akan beranjak pergi.


"Uang untuk apa, Mi?"


Bu Renata mendengus. "Mami nggak ada pegangan sama sekali sekarang. Mami butuh uang untuk membayar barang Mami yang akan datang hari ini."


"Ardian belum gajian, Mi. Ini aja untuk makan sehari-hari Chay belanja memakai uang pribadinya."


Bu Renata menyebikkan bibirnya. "Itu juga uangnya dari kamu. Masa perhitungan banget kalau pakai itu dulu untuk belanja."


"Hah.." Ardian tertawa kecil mendengar jawaban maminya. "Apa Mami kira karena istriku nganggur lalu dia tidak memiliki penghasilan? Mami salah besar. Yang ada setiap bulan itu dia yang selalu menutupi kekurangan yang aku berikan. Gaji yang aku terima di Perusahaan tidak seberapa karena dipotong untuk membayar hutang Mami. Sampai kapanpun uang segitu tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhkan kami di rumah."


Bu Renata langsung mengalihkan pandangannya. Bingung mau bilang apa.


"Sekarang hutang Mami sudah berkurang di Perusahaan. Mami memakai uang untuk apa sih sampai punya utang puluhan milyar."


"Mami... Mami tidak pernah punya hutang sebanyak itu. Itu hanya akal-akalan Papi kamu saja, Nak."


"Jangan menyalahkan orang yang sudah mati, Mi. Papi tidak pernah menyebut-nyebut nama Mami dulu. Walaupun gajiku terpotong sampai enam puluh persen, tetapi Papi tidak pernah menyebut nama Mami. Dia berpura-pura seolah-olah hanya dia yang menghabiskan uang itu."


"Mami tidak tahu menahu dengan hal begituan. Mami hanya menerima jatah bulanan dari Papi kamu."


"Tapi ketika Mami berhutang yang bayar pasti Papi. Yang ditagih Papi bukan Mami. Dan sekarang semua berpindah ke aku. Sisa hutang Mami yang belum dibayar Papi semua dilimpahkan ke aku."


"Kamu kan anak Mami satu-satunya. Jadi sudah jelas semua dilimpahkan ke kamu."


"Tapi aku pusing, Mi. Mami tau sendiri, kalau aku kebanyakan numpang di istriku."


"Eh, maksud kamu apa ngomong gitu? Rumah ini kan hadiah pernikahan kalian dari Pak Akmal. Seha....."

__ADS_1


Ardian menggeleng-geleng pelan membuat Maminya berhenti bicara. "Ini memang hadiah pernikahan, Mami. Tapi Mami tau sendiri siapa Pak Akmal itu. Dia itu Kakek dari istriku, Mi. Seharusnya Mami sadar diri dong. Intinya aku tidak mau ada penagih hutang lagi yang datang. Kalau sampai ada yang datang, aku akan lepas tangan." Ardian mengangkat kedua tangannya seraya berjalan mundur keluar dari kamar Bu Renata.


"Ardian, Mami belum selesai ngomong, Nak."


"Ngomong saja sama Chay, nanti dia yang melanjutkan ke aku." Ardian berkata tanpa menatap Maminya. Ia terus melanjutkan langkahnya tanpa berniat untuk berbalik. Terserah mau dibilang tidak sopan atau apa pada orang tua. Intinya dia takut akan luluh jika melihat tatapan memelas maminya yang butuh uang.


"Mami tidak enak kalau ngomong sama dia." Sayup-sayup Ardian mendengar suara teriakan maminya. Tetapi, sampai anak tangga habis ia turuni, dia masih bertahan untuk tidak berbalik.


"Ihh.. dasar anak zaman sekarang kebanyakan kurang ajar sama orang tua." Bu Renata masuk kembali ke dalam kamarnya dengan bersungut-sungut. Chayra yang berada di dalam kamarnya hanya bisa mengelus dada. Posisi kamar yang bersebelahan membuatnya bisa mendengar percakapan suami dan ibu mertuanya tadi. Andaikan Ardian menutup pintu dengan sempurna ketika bicara dengan Bu Renata tadi, Chayra tidak akan bisa mendengar semuanya.


*********


Menjelang makan siang, Dodit segera membereskan berkasnya. Ardian sudah memintanya untuk membereskan lebih awal karena Ardian akan pulang siang ini.


"Sudah siap, Ar?" Dodit menongolkan kepalanya di depan pintu ruangan Ardian.


Ardian yang sedang duduk bersandar dengan santai langsung bangkit begitu mendengar suara Dodit. "Ok.. kita berangkat.." Ardian melempar kunci mobil pada Dodit.


"Eh, kok kita? Kan yang mau pulang kamu."


"Itu Ibu lu, Ar."


"Aku tau, tapi aku harus punya pasangan yang bisa membantuku mengatasinya. Chay bukannya membantu menasehati Mami, dia malah selalu membela Mami. Menyalahkan aku kalau aku marah sama Mami. Tapi bagaimana tidak marah coba, Dit? Setiap hari pasti aja ada barang pesanannya yang datang. Dia baru beberapa hari di rumah, tapi itu membuatku pusing. Kemarin dua juta yang dibayarin, nggak tau deh hari ini. Aku nggak enak sama Chay kalau terus-terusan seperti ini." Ardian menutup komputer di depannya. "Ayo, kita makan siang di rumah. Istriku pasti sudah masak enak di rumah."


"Iya.. kamu memang benar-benar beruntung. Punya istri yang jago dalam segala hal. Aku akan bersiap menjadi penggantimu seandainya kamu melepaskannya.


Plak..!


Satu pukulan melayang di kepala Dodit. "Jaga mulut kamu kalau kamu masih mau hidup. Wanita seperti istriku itu limitid, the only one in the world."


Dodit langsung menyebikkan bibirnya. "Nggak segitunya juga kali, Pak. Insya Allah, Allah masih menyisakan beberapa untuk orang seperti Dodit ini. Aku terlalu baik kalau hanya mendapatkan wanita pecicilan."


Ardian mengangkat sebelah bibirnya. "Kalau , terlalu pemilih malahan nanti dapat yang nggak bener. Kamu itu bagaimana sih. Kemauan kamu tidak sesuai dengan perjuangan kamu. Ingat bro, usaha tanpa do'a itu sombong. Dan sebaliknya, do'a tanpa usaha itu sia-sia."

__ADS_1


"Aku sedang berusaha mencari wanita yang cocok dengan aku, Ar."


Ardian menghela nafas berat. "Kalau mau cari yang cocok itu sulit, Dit. Kenapa tidak menjadikan pernikahanku contoh. Kamu tau kan siapa aku dulu. Aku tidak pernah mengenalmu dari dulu. Tapi setidaknya kamu sudah mengenal aku dari cerita."


"Iya.. iya.. lanjutkan mau ngomong apa lagi." Dodit menarik tangan Ardian untuk duduk. Mereka akhirnya memilih duduk di sofa depan ruangan Ardian.


"Siapa yang akan menyangka kalau aku akan menikah dengan wanita Sholehah seperti Chay. Dia itu wanita limitid seperti yang aku bilang tadi. Allah bahkan mempertemukan kami dengan rasa benci yang menjadi-jadi. Aku tidak menyangka kalau aku akan langgeng dengan dia, mempunyai anak yang tampan dan sepertinya akan mewarisi kecerdasan ibunya."


"Terus fatwanya untuk aku apa, Ar? Dari tadi kamu sibuk cerita masalah rumah tangga kamu terus. Pelajaran yang bisa aku ambil apa?"


"Dasar lu, sampai sejauh ini aku cerita kamu belum ngerti-ngerti juga." Ardian menarik nafas dalam. "Menikah itu bukan tentang hal saling memuaskan di atas ranjang saja. Tapi, kita harus saling memahami dengan pasangan kita. Itu yang aku maksud, Dit. Ketika menikah kita tidak mungkin langsung saling memahami. Semua butuh waktu. Semua akan diproses oleh waktu. Intinya, kamu jangan mencari wanita yang kekanak-kanakan. Kamu akan kesulitan ketika menyesuaikan diri dengannya. Kamu akan mengalah terus padanya walaupun dia yang bersalah sekalipun. Mm... terus satu lagi, kamu jangan melihat wanita hanya dari cantiknya saja. Karena setelah menikah, yang kamu butuhkan adalah wanita yang perhatian. Yang bisa mengurus kamu, yang bisa menutupi kekurangan kamu. Percaya sama aku, Dit. Wanita itu pada dasarnya cantik semua jika dilihat oleh mata laki-laki yang pandai menjaga hati wanita."


"Woaahhh... ternyata Pak GM muda ini punya rasa empati yang sangat kuat pada wanita."


"Hmmm... kamu ini di kasih pencerahan malah ngeledek."


"Nggak nyangka aja, Ar. Aku kira kamu itu orangnya tidak bisa berkata bijak seperti itu. Eh, tau-taunya kamu pandai membuat hatiku langsung cenat-cenut."


"Sebenarnya aku bukan orang seperti ini dulu. Aku malahan orang yang paling tidak perduli dengan wanita. Semua wanita yang sudah aku tiduri malahan aku buang tanpa perduli. Tapi, sekarang istriku mengajarkan aku bagaimana menghargai wanita. Aku sadar kalau semua yang aku lakukan dulu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku."


Dodit hanya manggut-manggut. "Mm...Ar, apa istrimu tidak punya teman yang bis dikenalkan ke aku?"


Ardian menatap Dodit dengan alis tertaut. "Ada..."


"Terus kenapa nggak bilang dari dulu sama aku?"


"Kamu nggak pernah bertanya ngapain aku beri tau." Ardian bangkit setelah menyelesaikan ucapannya. "Ayo kita pulang, bisa-bisa aku nggak makan siang nanti kalau kamu terus-terusan ajak aku ngobrol disini."


Dodit hanya pasrah ditarik Ardian. Sampai depan mobil Ardian mendorong Dodit duduk di balik kemudi.


"Loh, kok aku yang nyetir sih?"


"Terus kamu menyuruh siapa? Yang lebih tinggi jabatannya disini kan, aku.."

__ADS_1


Sepersekian detik Dodit melongo. Ia mendengus setelah mencerna ucapan Ardian.


*********


__ADS_2