Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Acara Aqiqah sekaligus pemberian nama


__ADS_3

"Ada apa lagi, Mas?" Chayra melihat kembali suaminya masuk ke dalam kamar.


"ATM aku dimana, Sayang?" Ardian menggaruk-garuk kepalanya sambil membuka satu persatu laci di lemari pakaiannya.


"Kan aku nggak pernah menyimpannya. Kamu kan simpan sendiri, Mas. Ada apa tiba-tiba mencari ATM?"


"Mau mengambil uang untuk membeli kambing untuk aqiqah, Sayang. Ibu bertanya aku mampu apa tidak untuk membeli kambing. Aku jawab saja kalau untuk sekedar harga kambing atau sapi aku mampu. Tapi... masalahnya kartu aku mana sekarang?"


"Kamu dari dulu selalu lalai meletakkan barang milik kamu, Mas. Bagaimana kalau kartunya hilang atau apa?" Chayra menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Pakai ATM aku aja dulu."


Ardian langsung menggeleng. "Tidak boleh, itu uang kamu. Sampai kapanpun aku tidak ada hak untuk menyentuh hak milik kamu."


"Tapi aku nggak keberatan, Mas. Lagian kita sedang butuh sekarang. Pakai saja, aku nggak suka berpikir seperti itu juga. Uang itu bisa dicari belakangan. Yang penting sekarang masalahnya selesai agar tidak ada yang menjadi beban pikiran. Mas mau kalau Kakek nanti yang bayarin kambingnya?"


Ardian langsung menggeleng. Sudah cukup Kakeknya itu turun tangan untuk menyelesaikan masalahnya. Rumah yang dibangunkan Pak Akmal saja entah berapa nilainya. "ATM kamu dimana?" Ardian mulai membuka lemari pakaian istrinya. Terlihat sedikit kaku karena dia memang tidak suka membuka lemari istrinya jika tidak ada perlu.


"Di laci sebelah kanan ketiga paling bawah. Ada di dalam dompet berwarna grey berukuran kecil dan yang paling tipis."


Ardian mengernyit mendengar penjelasan istrinya. "Kok detail gitu sih.."


"Nanti kalau bingung, Mas pasti bertanya itulah mengapa aku menjelaskan."


Ardian hanya tersenyum sambil tangannya membuka laci. "Eh, dompetnya kok banyak gini?" Ardian mengusap jejeran dompet yang tersusun rapi di dalam laci itu. Tersusun sesuai dengan warna dan ukuran masing-masing.


"Tuh kan, baru aja aku bilang.." Chayra mendengus sambil berjalan mendekat.


"Ternyata kamu gemar mengoleksi ya.."


"Sebenarnya aku tidak suka. Itu juga aku tidak beli kok. Hanya sekali aku pernah membeli dompet. Sisanya itu pemberian dari Kakek, Nenek, Ummi, Abah, Ibu dan dari Kak Zidane juga."


"Oh, ternyata mereka gemar memberi hadiah ya.."


Chayra tersenyum.. "Mungkin karena aku tidak punya ayah makanya mereka sangat perhatian sama aku."


Ardian yang terkejut mendengar ucapan istrinya sontak langsung berbalik dan memeluk tubuhnya erat. "Kamu kok ngomong gitu, Sayang?"


"Aku baik-baik saja, Mas. Ngapain harus terkejut seperti ini?"

__ADS_1


"Kamu ngomongnya kayak orang yang mendapatkan kehidupan yang miris karena tidak punya ayah."


"Ng.. nggak.. maksud aku bukan kayak gitu, Mas. Maksud aku, semua memperlakukan aku dan Bian itu lebih istimewa karena kami memang anak yatim." Chayra mengurai pelukan suaminya perlahan.


"Jangan ngomong kayak gitu lagi ya.." Menangkup pipi Chayra dengan tatapan prihatin. "Aku nggak suka dengernya."


"Iya, aku nggak akan membahas itu lagi kalau Mas Ardian nggak suka."


"Bukan apa-apa, Sayang. Tapi, aku hanya tidak mau kamu terus mengenang kenangan pahit di masa lalu." Ardian kembali menarik istrinya ke dalam pelukannya. "Itu juga berlaku padaku. Aku tidak ingin kamu mengingat terus keburukan yang pernah aku perbuat padamu di masa lalu. Aku ingin kita bersama-sama melangkah ke depan. Menatap masa depan yang insya Allah jauh lebih baik dari sebelumnya."


Chayra memperdalam pelukannya. "Perbuatan buruk itu tidak akan bisa dilupakan, Mas."


Ardian terkejut dan terasa ingin melepas pelukannya, tetapi Chayra semakin mempererat tangannya di pinggang Ardian. "Jangan dilepas, Mas. Aku rindu pelukan Mas Ardian yang seperti ini."


"Tadi katanya kamu tidak bisa melupakan perbuatan buruk aku di masa lalu."


"Aku belum selesai ngomong, keburu kamu mengendorkan pelukan, Mas. Tau apa istrinya rindu pelukan hangat suaminya."


"Aku juga sangat rindu, Chay. Dari kemarin aku ingin meluk kamu, tapi takut kamunya marah karena sibuk dengan si kecil." Tangan Ardian kembali erat memeluk. "Kamu bilang ucapan kamu belum selesai tadi. Lanjutkan dong, kalau begitu."


Chayra mendongak menatap suaminya. "Saat aku kesel sama kamu, tiba-tiba perbuatan buruk akan melintad di kepala aku. Dan tepat waktu itu aku akan langsung mengingat betapa baiknya suamiku yang aku kenal sekarang. Suami yang penuh perhatian dan sangat bertanggung jawab. Sampai-sampai aku akan sangat khawatir kalau dia tidak menghubungiku di jam makan siangnya."


********


Acara Aqiqah sekaligus pemberian nama pada Bayi Ardian dan Chayra alhamdulilah berlangsung Hidmat. Bu Santi berhasil menyusun acara dengan sangat rapih. Beberapa orang tetangga di sekitar rumah Chayra yang agak berdekatan juga ikut diundang.


Setelah nama resmi di berikan, kini sang Bayi sudah mempunyai nama. Bukan lagi disebut dengan bayi kecilku oleh orang tua baru itu.


"Kita mau memanggilnya dengan sebutan apa, Mas?"


"Aku sih maunya Adzra. Tapi, kita minta persetujuan Ibu, Papi dan Mami juga. Kita harus bertanya pada orang tua biar berkah."


Chayra terkekeh mendengar ucapan suaminya. "Sudah sana, kamu aja yang tanya, Mas. Baby-nya masih anteng mimik ni. Nggak mau kendor sama sekali."


Ardian mengangguk seraya melangkah menjauhi istri dan putranya. Tidak lupa dia mencubit pipi gembul putranya sebelum melangkah pergi. Chayra yang sedang menyusui baby Adzra tidak bisa bergerak bebas karena putranya menyusu dengan sangat kuat.


Nama Adzra Beryl Baskara akhirnya tersemat pada Bayi Chayra dan Ardian setelah mereka melewati diskusi panjang. Kebanyakan anggota keluarga menolak karena Adzra itu dominan nama anak perempuan. Tetapi, Ardian bersikeras memberikan nama itu karena itu adalah singkatan namanya dan sang istri.

__ADS_1


Flashback on..


Tiga hari sebelum acara dilaksanakan, seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang keluarga rumah Chayra dan Ardian.


"Kamu sudah tau kan, syarat kambing untuk Aqiqah?" Zidane sengaja bertanya di depan anggota keluarga untuk mengetes pengetahuan Ardian.


Ardian mengangguk mantap. "Diantaranya, Kambingnya harus berumur lebih dari satu tahun, kambingnya harus sehat tidak boleh cacat. Karena anak aku laki-laki aku membeli dua ekor kambing."


"Kamu belinya pakai uang siapa tapi? Pakai BPJS atau tanggung sendiri?"


"Astagfirullah, aku belinya pakai uang sendiri, Kak. Mentang-mentang aku masih miskin, masa beli dua ekor kambing saja aku tidak mampu?"


"Siapa tau aja ada BPJS nyangkut dari Pak Sucipto atau Bu Renata."


Pak Sucipto dan Bu Renata hanya tersenyum mendengar candaan Zidane. "Kami akan sangat senang seandainya Ardian mau menerima pemberian kami. Tetapi dia selalu menolak dengan tegas. Dia bilang masih mampu membeli dua ekor kambing. Harga satu ekor kambing tidak akan menghabiskan gajinya satu bulan."


"Oh iya, Kak. Amira masih ada disini sekarang. Apa kita akan mengundangnya atau bagaimana?"


"Tidak usah diundang." Ucap Pak Sucipto dan Bu Renata kompak. "Mami tidak mau ada masalah lagi. Sudah cukup dia berulah. Jangan ada lagi drama baru karena Mami tidak suka." Sambung Bu Renata.


Karena mendapat penentangan dari kedua orang tua Ardian, Alesha akhirnya membatalkan rencananya untuk menghubungi Amira.


Flashback off..


Ardian menghampiri Bu Santi yang sedang berbincang santai dengan kedua orang tuanya. Karena acara sudah selesai dan para tamu undangan sudah pulang, mereka bisa berbincang santai di ruang keluarga. Bu Renata langsung menepuk sofa di sebelahnya saat melihat putranya berjalan mendekat.


"Ada apa, Nak? Cucu Mami mana kenapa tidak ikut kemari?"


"Lagi mimik, Mi. Dia nggak mau lepas dari tadi. Chay aja udah capek duduk, sudah merubah posisi beberapa kali. Tapi Baby Adzra masih anteng aja nggak meras terusik dengan pergerakan mamanya."


"Baby-nya mau di panggil Adzra nih ceritanya?" Timpal Bu Santi.


"Rencananya aku sih begitu, Bu. Itulah mengapa aku datang kemari untuk mempertanyakan nama panggilan. Chay sih setuju-setuju aja. Tapi aku harus bertanya pada kalian juga."


"Kalau Ibu sih setuju-setuju aja. Tapi coba kamu tanyakan pada orang tua kamu juga."


Pak Sucipto dan Bu Renata saling pandang dengan suaminya. "Boleh, Sayang.. namanya enak di dengar kok."

__ADS_1


Akhirnya jadilah nama panggilan sang bayi dengan nama Adzra.


__ADS_2