
Chayra duduk di sisi ranjang membelakangi suaminya yang sedang tidur. Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari. Ingin membangunkan suaminya untuk mendirikan tahajjud, tetapi hatinya ragu karena suaminya pulang jam dua belas malam tadi.
Ia akhirnya memilih bangkit, memperbaiki letak selimut suaminya sebelum meninggalkan sisi tempat tidur.
"Mau kemana, Sayang?" Tiba-tiba tangan Ardian menahan tangannya.
Chayra berbalik mendengar suara serak suaminya. Ia tertegun beberapa saat lalu kembali mendekat. "Mm..."
"Kenapa tidak membangunkan aku?" Ardian menarik tangan istrinya lalu meletakkannya dibawah pipinya.
"Nggak tega aku, Mas. Kamu kan tidurnya baru tiga jam." Jawab Chayra seraya duduk kembali.
"Nggak apa-apa , Sayang. Aku bisa melanjutkan tidur setelah shalat. Lagian aku juga tidak akan ke Kantor besok. Hari ini sudah cukup menguras tenaga."
Chayra hanya menyimak. Hanya sebelah tangannya yang mengusap-usap kepala suaminya.
"Berasa disayang banget sama kamu kalau dielus-elus seperti ini."
Bibir Chayra mengulas senyum mendengar ucapan suaminya. "Aku kan memang sayang sama kamu, Mas. Memangnya kalau tidak dielus-elus kayak gini, kamu nggak merasakan kasih sayang aku, hmm?"
"Aku merasakannya. Tapi... kalau di touch kayak gini, kasih sayang kamu semakin terasa, Sayang." Ardian menggosok-gosok pipinya pada tangan Chayra.
"Shalat dulu kalau begitu. Biar nanti kalau kamu mau skin to skin, kamu tidak berat dan tidak harus langsung mandi."
"Hmm... memangnya kamu izinin aku kalau mau sekarang." Ardian menatap suaminya penuh harap.
"Mau dikasih izin atau nggak, kalau kamunya sudah mau mana bisa aku menolak, Mas.." Chayra menarik tangannya perlahan. "Shalat dulu gih, kalau begitu." Tangannya yang sudah terlepas dari Ardian mengusap-usap pipi suaminya dengan lembut.
"Aku ngantuk lagi nih, kalau dielus sama kamu." Ardian kembali memejamkan matanya
Chayra kembali tersenyum. "Ayo makanya shalat dulu. Nanti aku elus-elus lagi kalau kamu sudah selesai shalat." Chayra berusaha membuka mata suaminya dengan tangannya. Hal itu membua Ardian terpaksa membuka kembali matanya. Ia merenggangkan ototnya sebelum bangun. "Minta air minum, Sayang." Hal yang jarang sekali dilupakan pria itu adalah minum saat bangun tidur. Kegiatan positif itu sudah berlangsung cukup lama, sejak dirinya berusaha untuk move on dari kebiasaan buruknya dulu, yaitu minum minuman keras.
Chayra meraih botol air mineral di atas meja kecil samping tempat tidur. Ada rasa ragu untuk menyerahkan botol itu karena dia sudah meminum setengahnya. "Tapi, tadi aku meminum setengahnya, Mas. Apa perlu aku mengambil yang baru untuk kamu?" Menawarkan terlebih dahulu mungkin lebih baik.
"Nggak usah, Sayang. Ini saja sudah cukup. Mana sini.." Ardian meraih botol itu dari tangan istrinya. Meneguknya sampai hanya tinggal tersisa botolnya saja. "Sudah habis." Ardian terdiam sejenak. "Mm.. kok airnya terasa ada manis-manisnya, Chay?"
Chayra menautkan alisnya seraya menahan senyum. "Masa sih, Mas?"
__ADS_1
"Iya, Sayang. Sepertinya itu karena kamu yang meminumnya duluan."
Chayra tersenyum kecil. "Bukannya itu memang slogan resmi dari merek air yang sudah kamu minum itu, Mas?"
"Hehehe.. masa sih, Sayang?" Ardian menggaruk-garuk kepalanya. "Mm... aku ke kamar mandi dulu kalau begitu."
Chayra menggeser tubuhnya agar suaminya bisa lewat.
Usai shalat, Ardian kembali merebahkan tubuhnya. Dia berusaha terlihat segar di depan istrinya walaupun lelahnya masih terasa sampai sekarang. Tapi, bagaimanapun dia menyembunyikan, feeling seorang istri pasti merasakan apa yang dirasakan suaminya. "Mau dibuatkan teh hangat, Mas?"
"Nggak, aku mau tidur lagi. Nanti subuh bangunin aku ya.."
"Subuh setengah jam lagi, Mas. Nanti yang ada kepala kamu malah pusing lagi. Ditunggu aja sebentar ya.. aku buatkan teh biar kamunya tidak ngantuk."
Ardian terdiam sesaat lalu menatap istrinya. "Tapi aku boleh tidur kan nanti habis shalat subuh."
"Mm..." Chayra mengangguk untuk meyakinkan suaminya.
*********
Ardian benar-benar tidur usai mendirikan shalat subuh. Sampai jam sembilan pagi Chayra menunggu suaminya untuk turun sarapan, tetapi belum ada tanda-tanda suaminya akan turun. Ia akhirnya naik lagi ke atas untuk membangunkan Ardian. Chayra berjanji akan menemani Tina untuk bertemu dengan Dodit. Sejak hari perkenalannya dengan Dodit hari itu, Tina menjadi sering menghubungi. Walaupun tidak ada hal penting yang akan dibahas, Chayra hanya mendengar curhatan Tina tentang Asisten suaminya itu.
Setelah capek membangunkan papanya, Adzra turun kembali pada mamanya. "Ada apa, Nak? Kenapa ganggu Papa sih.. Papa kan lagi istirahat."
"Istirahatnya cukup sampai disini saja, Mas. Coba kamu lihat jam, ini jam berapa?"
Ardian menyipitkan matanya sambil melirik ke arah jam dinding.
"Bangun ya, Mas. Sekarang kamu bangun, mandi, shalat Dhuha lalu turun ke bawah untuk sarapan. Selesai sarapan kamu anterin aku ke rumah Tina. Katanya Pak Dodit mau datang ke rumahnya."
"Dodit tidak ngomong apa-apa sama aku semalam."
"Itu urusan pribadinya, Mas. Masa semua harus dilaporkan ke kamu. Iya... kalau masalah pekerjaan sih, wajar."
"Hmm... aku mau mandi dulu kalau begitu. Tapi... bibir aku kok terasa kaku gini ya.."
Chayra menyebikkan bibirnya seraya menggeleng-geleng pelan. Dia sudah paham maksud dari ucapan suaminya. "Nanti kalau sudah disiram air, bibirnya akan lentur kembali kok, Mas."
__ADS_1
Ardian menatap istrinya.. "tidak akan bisa, Sayang. Bibir ini akan berhenti kaku kalau disentuh barang kenyal milikmu."
"Ada saja alasan. Adzra juga punya benda kenyal itu, Mas. Adzra, papa minta kiss. Kamu mau kan, kasih papa kamu kiss.."
"Benda milik Adzra juga tidak akan mampu membuatnya lentur kembali."
Chayra menarik nafas panjang. Suaminya ini tidak akan mau mengalah sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan. Akhirnya, dia mendekati suaminya lalu mendaratkan satu ciuman kilat di bibirnya.
"Loh, kok ciumannya seperti angin lewat sih?"
"Astagfirullahal'adzim, Mas. Kamu ini banyak protes deh.."
"Ciuman itu harus dinikmati, Sayang. Kalau kayak tadi itu namanya apaan. Aku nggak merasa dicium. Aku malahan merasakan bibirku seperti disentuh."
"Kalau begitu nanti kita lakukan lagi. Sekarang kamu mandi dulu. Aku akan menyiapkan baju ganti. "Adzra, sini dulu, Sayang. Jangan ganggu papa. Papa kamu belum mandi.." Adzra nurut dan langsung mendekati Chayra.
_________
Ardyan mengantar istrinya ke rumah Tina setelah menuntaskan seluruh ritual paginya. Mata Ardian langsung fokus pada mobil hitam yang sudah terparkir cantik di halaman rumah Tina.
"Ternyata dia sudah ada disini, Chay." Ardian keluar dari dalam mobil dengan mata masih fokus pada mobil Dodit. "Sama siapa ya.. kira-kira dia datang kemari?"
"Mungkin Pak Dodit datang sendirian, Mas. Mm.. aku mau ke rumah Alesha sebentar, boleh?"
"Nanti dulu, Sayang. Kita harus memberitahu tuan rumah terlebih dahulu kalau kita sudah datang." Ardian menggandeng tangan istrinya untuk memasuki rumah. Baru saja membuka pintu dan mengucap salam, Chayra dan Ardian terkejut melihat Dodit yang sedang duduk menunduk dihadapan papa dan mamanya Tina.
"Wa'alaikumsalam.. eh.. Nak Ayra, sini Sayang." Bu Tantri mamanya Tina langsung berdiri begitu melihat Chayra.
Chayra dan Ardian berjalan mendekat untuk salim dengan kedua orang tua Tina. Saat Ardian mengulurkan tangannya pada Bu Tantri, wanita paruh baya itu terlihat enggan untuk menyambut uluran tangan itu. Ternyata sakit hati Bu Tantri karena perbuatan Ardian dulu masih membekas dan sulit dihilangkan. Ardian hanya tersenyum lemah. Bagaimanapun juga, wanita itu tidak suka padanya karena ulahnya sendiri.
Ardian dan Chayra menatap Dodit saat mereka sudah duduk di sofa. Dodit tidak berkata apa-apa saat melihat kedatangan mereka. Begitu juga dengan Tina, wanita itu masih menunduk dalam.
"Kapan datang, Dit?" Ardian mencoba menyapa Dodit walaupun tidak berani berharap akan mendapatkan jawaban.
Dodit hanya melirik lalu kembali menunduk. "Barusan, Ar."
"Oh," hanya itu jawaban Ardian karena melihat raut wajah Dodit yang terlihat tidak bersahabat.
__ADS_1
"Sudah berapa lama kamu mengenal laki-laki ini, Ardian?" Ardian lansung salah fokus. Sepertinya ada kejadian yang terjadi sebelum mereka datang tadi.
**********