
Amira mendekati kamar Ardian dengan perlahan. Samar-samar, ia mendengar suara pria itu sedang menelepon dengan seseorang. Ia mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka.
"Papi dijemput sopir aja. Beneran, Pi, aku sedang tidak sehat. Aku juga tidak pernah keluar kamar beberapa hari ini."
"......."
"Kalau aku ke Rumah Sakit, siapa yang akan menjaga aku, Pi. Papi dan Mami sibuk terus. Mana ada waktu untuk aku."
"..........."
"Nggak, Pi. Aku tidak mau nikah pokoknya. Belum puas menikmati masa muda. Ngapain coba nikah muda menyiksa diri aja. Udah, Pi, aku mau istirahat. Nanti sopir yang jemput Papi dan Mami."
Amira menghela nafas berat. Terlihat jelas kalau kekasihnya itu sedang menahan penderitaan batin. Dia tersenyum hambar, mengingat dirinya juga yang mengalami hal yang hampir sama dengan Ardian. Tangannya sudah terangkat untuk mengetuk pintu. Namun, ia mengurungkan niatnya. Kembali terdiam, berpikir apakah akan masuk atau kembali ke bawah.
Berbalik menatap Alesha. Namun, gadis yang dicarinya tidak ada di tempat. "Lho, Alesha kemana?" Amira sudah melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat itu. Namun, ia terkejut saat tangannya ditahan.
"Eh," Amira berbalik dan mendapati Ardian sudah berdiri di belakangnya. Sedang menggenggam erat tangannya. "K.. ka..."
"Kamu kapan kemari? Kenapa nggak bilang-bilang dulu?" Tanya Ardian sambil mencubit pelan pipi Amira.
"Nomor Kak Ardian nggak aktif terus. Sudah berulang kali gue coba hubungi." Menampakkan wajah cemberut.
Ardian menautkan alisnya. "Masa sih, Sayang. Handphonenya nggak pernah mati kok." Menatap Amira dengan tatapan sendu. "Rindu banget ya sama gue?"
"Banget, Kak. Benar-benar menyiksa batin."
Ardian memeluk Amira dengan pelan. "Jangan marah ya, kalau gue meluk lho. Gue beneran rindu banget sama lho. Maaf kalau beberapa hari ini gue hilang kabar. Soalnya gue sedang sakit."
"Kenapa nggak bilang kalau Kak Ardian sakit? Setidaknya gue kan bisa menemani Kakak."
"Nggak mau merepotkan kamu." Ardian mengusap-usap kepala Amira yang tertutup jilbab sambil menciumnya beberapa kali.
Amira tidak berusaha melepaskan diri. Dia menikmati pelukan hangat pria itu. Tidak bisa dipungkiri kalau dirinya sangat merindukan pria yang sudah mengisi hatinya tiga tahun terakhir ini.
"Lho sendirian kesini, Sayang?"
"Eh, nggak, Kak. Ada Alesha juga di bawah."
"Kalian datang berdua? Apa Tina nggak ikut?"
"Mm.. Tina lagi jagain Ayra yang lagi sakit."
Ardian sedikit mengendorkan pelukannya saat Amira meenyebut nama Chayra.
__ADS_1
"Kenapa Kak Ardian terkejut?"
"Ng.. nggak kok, Sayang. Siapa yang terkejut. Baguslah kalau dia sakit. Jadi kan tidak ada yang cerewet larang-larang gue deket sama lho."
"Eh, kok Kakak malah ngomong gitu sih? Ayra beneran sedang sakit dan dia butuh teman yang bisa menemaninya. Tapi, karena gue sangat merindukan Kakak, terpaksa deh gue ninggalin dia sebentar."
"Apa benar begitu?" Ardian menangkup pipi Amira.
"Iya... kapan sih Mira pernah bohong sama Kakak?"
"Sering banget.." Kembali memeluk gadis itu.
Amira merasakan detak jantung Ardian terasa semakin kencang setelah dirinya menyebut nama Chayra tadi. Tapi.. masa iya sih dia yang melakukan itu pada Ayra pikirnya dalam hati.
"Mm.. kita ke bawah aja yuk, Kak. Kasihan Alesha nunggu sendirian disana."
"Ke kamar sebentar yuk."
"Eh, nggak nggak." Amira langsung menarik diri dari pelukan Ardian. "Jangan ke kamar, Kak. Nanti kita malah berbuat dosa lagi."
Ardian mendengus. "Sebentar saja, Sayang. Gue rindu banget sama yang ini." Mengusap lembut bibir Amira.
"Ng...." Amira ingin menolak lagi. Namun, mengingat tujuannya datang ke rumah ini untuk mencari tau tentang kekasihnya itu. Dia harus masuk ke kamar Ardian untuk mencari bukti. Mudah-mudahan tidak ada yang mencurigakan nanti agar kekasihnya itu terbebas dan tidak ada yang curiga lagi padanya.
"Nggak akan, Sayang. Janji cuma mau yang ini aja." Menyentuh bibir Amira dengan manja.
Amira terdiam beberapa saat. Memikirkan dosa yang akan dia perbuat lagi. Namun, jika dia tidak masuk dia tidak akan mendapatkan apa-apa dan kembali dengan tangan hampa.
"Mikirnya kelamaan, Sayang..." Ardian menarik tangan Amira memasuki kamarnya.
Setelah adegan ciuman dilewati Amira. Gadis itu mulai memikirkan cara untuk mencari barang bukti di kamar itu. Dia hanya menghela nafas berat saat melihat kamar yang sangat berantakan.
"Kamarnya kenapa berantakan seperti ini, Kak? Apa tidak ada pelayan yang membersihkan kamar Kakak?"
Ardian menggeleng. "Gue yang tidak mengizinkan mereka masuk. Ini tempat privasi gue, Sayang. Hanya gue, lho, papi dan mami gue yang boleh masuk."
"Tapi kenapa dibiarkan berantakan seperti ini." Amira mengedarkan pandangannya.
"Jangan lihat macam-macam ah," Ardian menutup mata Amira. "Kita keluar aja yuk. Pasti mata kamu sakit melihat kamar yang berantakan seperti ini." Bangkit dan menarik tangan Amira agar ikut bangkit.
"Nggak," Amira menarik tangannya. "Gue mau bereskan kamar ini dulu. Biasanya juga nggak pernah berantakan seperti ini. Lama nggak kesini malah kamarnya berubah lusuh seperti ini." Bangkit dan memungut satu pakaian kotor Ardian yang tergeletak di dekat kakinya.
"Nggak usah, Sayang. Kita keluar aja, ayo..."
__ADS_1
"Atau mau dimandiin juga sama gue?" Amira menaik turunkan alisnya mencoba menggoda.
"Udah ah, nggak lucu. Ngasih gituan aja nggak. Eh, malah pakai nawarin mau mandiin gue segala." Kembali menarik tangan Amira. Kali ini terlihat lebih keras agar gadis itu tidak memaksa untuk membersihkan kamarnya.
Sebenarnya Ardian khawatir karena belum membereskan bekas ia menyekap Chayra beberapa hari yang lalu.
Amira semakin curiga dengan tingkah Ardian. Raut wajah pria itu berubah saat dia memaksa untuk membersihkan kamar itu. Menarik tangannya kembali dari genggaman Ardian.
Sontak, pria itu langsung berbalik dan menatapnya heran. "Hei, ada apa?"
"Aku bingung dengan Kakak." Amira mengalihkan pandangannya karena kesal.
"What do you mean?" Ardian menangkup wajah Amira.
"Nggak ada, ayo kita keluar." Amira menarik tangan Ardian keluar dari kamar.
Ardian tersenyum mengikuti langkah gadis itu.
Alesha merenggut kesal melihat kedatangan Amira dan Ardian. "Ngapain aja sih, di dalam? Hampir satu jam nih, gue nunggu. Nggak mikirin orang yang..." Alesha menghentikan kalimatnya. Untung saja tidak keceplosan mengatakan orang yang sedang menunggu di luar. Mengetik pesan untum Tina kalau dua orang yang ditunggu sudah keluar.
Tina yang menunggu di dalam mobil langsung memberi tahu Pak Akmal. "Mm.. Kek. Kata Alesha, Kak Ardian sakit dan dia tidak pernah keluar dari dalam kamar. Tapi, Alesha mengirim pesan lagi, kalau Amira berhasil membawa Kak Ardian keluar dari kamar.
"Itu berarti, kita membutuhkan keterangan dari Amira. Kita pergi dari sini kalau begitu. Biarkan mereka mencari tau lebih banyak." Pak Akmal memberikan instruksi.
Zidane yang berada di balik kemudi langsung menjalankan mobil usai kakeknya bicara.
"Tapi, Kek, mereka berdua pulang pakai apa nanti?"
"Mobil online kan banyak sekarang."
"Hehehe..." Tina tersenyum meringis sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Kembali ke Amira.
"Mm.. sebenarnya Kakak sakit apa sih? Muka sampai tak terawat seperti ini." Amira meraba-raba wajah Ardian yang sedikit berewokan karena tidak pernah terurus.
"Biasalah, Sayang. Kalau gue sakit kan selalu begini. Malas ngapa-ngapain dan nggak suka diatur." Tersenyum malas pada Amira seraya memegang tangan Amira yang masih menempel di pipinya. Mencium lembut tangan kekasihnya itu.
Amira membalas senyuman pria itu. Perasaannya semakin tidak karuan. Ardian yang dia kenal paling cinta kebersihan dan paling benci melihat dirinya yang lusuh. Tapi kali ini benar-benar terlihat berbeda. Ardian yang biasanya bersih dan rapi tampil kucel dan sedikit berbau karena dirinya tidak mandi dari kemarin.
Alesha berulang kali menarik nafas dalam seraya beristighfar melihat interaksi pasangan kekasih di depannya. Amira yang katanya mau tobat sejak dulu, selalu saja melakukan kontak fisik dengan pria itu. Bagaimana bisa tobat kalau kayak gini, batinnya.
Andaikan karena tidak ada keperluan, dia tidak akan pernah menginjakkan kakinya di rumah ini. Dia juga risih dengan kelakuan Ardian yang semaunya dan sering mengumbar kemesraan dimana-mana. Namun, dia tidak langsung mengeluarkan rasa kesalnya itu seperti Chayra. Ia mampu menyembunyikan rasa kesal itu agar tidak tampak pada laki-laki mesum di depannya.
__ADS_1