Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Ketegangan diantara kedua belah pihak


__ADS_3

Zidane menghentikan langkahnya saat melintas di depan Ghibran dan Chayra. Ia menghela nafas berat melihat pemandangan di depannya. "Ghi, kamu itu orang yang terhormat di Kampus. Kamu itu seorang Dosen yang digemari banyak wanita. Apa kamu tidak malu mengemis cinta pada gadis biasa seperti adikku ini?"


Ghibran hanya terdiam. Mulutnya terasa sangat berat walaupun hanya untuk sekedar mengiyakan ucapan Zidane.


"Kamu laki-laki yang luar biasa. Banyak wanita di luaran sana yang menginginkan kamu."


"Aku tidak bisa..!" Akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulut Ghibran.


"Hentikan drama ini. Kita sudah ditunggu tamu di dalam. Jangan terlihat cengeng di depan orang lain. Kalau kamu seperti ini, bagaimana kamu akan melindungi adikku nanti."


"Aku menangis bukan karena aku lemah. Tapi, aku sedang mendalami perasaanku pada wanita ini." Ghibran menunjuk Chayra sampai menyentuh pucuk kepala wanita itu.


"Jangan mencintainya terlalu dalam. Nanti kamu terluka oleh cintamu sendiri. Karena sedalam apapun kamu mencintai seseorang, jika Allah tidak mentakdirkan kalian untuk bersatu. Iya.. tetap saja kalian akan gagal dan patah hati."


Chayra mengalihkan pandangannya mendengar ceramah kakaknya. Sedangkan Ghibran menatap lekat wajah Zidane. Dia tidak bisa pungkiri kalau ucapan Zidane memang benar. Apakah selama ini dia terlalu mencintai Chayra, sehingga saat ini dia sangat terluka saat mendapatkan penolakan dari wanita itu.


"Kalian cuci muka dulu. Jangan ada sisa tangisan saat kalian masuk ke ruang tamu." Zidane langsung berlalu setelah menyelesaikan kalimatnya.


*******


Chayra hanya berdiri tanpa ada niat untuk duduk saat melihat tamu yang dimaksud Zidane. Darahnya seperti mendidih dan naik ke ubun-ubun. Sorot mata kebencian ia tunjukkan pada laki-laki yang hanya menunduk di sofa.


"Duduk, Nak sini di dekat Ibu." Ucap Bu Santi dengan lembut. Urat kesedihan terlihat dari raut wajahnya. Bu Santi pun, marah ketika melihat pria yang telah melakukan hal yang tidak senonoh itu pada putrinya. Namun, ia berusaha meredam amarah itu dengan sangat. Jangan sampai kemarahannya ini membawa petaka untuknya dan keluarganya.


Tidak ada respon dari Chayra. Hanya dadanya yang terlihat naik turun yang menandakan betapa gadis itu sedang menahan rasa sakit di hatinya.


"Duduk, Ayra.." Giliran Pak Akmal yang bicara. Semua mata tertuju padanya. Kecuali Ardian, pria itu masih setia menunduk dan tidak berani sedikitpun mengangkat wajahnya.


"TIDAK..! siapa yang telah membawa pria bajingan ini kemari?!" Chayra langsung menunjuk ke arah Ardian.


"Ayra, duduk dulu! Kita harus bicara, agar masalah ini selesai. Ardian datang untuk minta maaf." Pak Akmal bangkit melihat respon cucunya.


Chayra menggeleng pelan. "Apa kata maaf dirinya, akan mampu mengembalikan semua yang telah dia ambil dariku? Tidak, Kek. Kata maaf darinya tidak akan membuat aku perawan lagi. Pria bajingan ini telah merenggut semuanya. Aku benci padanya!" Chayra langsung berlari masuk kembali ke dalam kamarnya.


"Ayra, tunggu! Kita harus selesaikan masalah ini sekarang." Tidak ada yang mendengarkan teriakan Pak Akmal. Untuk pertama kalinya, cucunya itu berani membantah perintahnya dan tidak mau mendengar ucapannya.

__ADS_1


"Seburuk itulah hasil perbuatan kamu pada cucuku. Sekarang apa yang akan kamu lakukan setelah menghancurkannya seperti itu?" Pak Akmal beralih menatap Ardian. Berusaha bicara dengan tenang dan menahan amarahnya.


"Apakah kamu mampu mengembalikan semua yang telah kamu ambil darinya?" Bu Santi bangkit, menatap lekat wajah Ardian yang tidak berani mengangkat wajahnya. "Pantaslah kamu dicap sebagai pria bajingan. Astagfirullahal'adzim..." Bu Santi menangis di hadapan anggota keluarganya yang lain. Memijit pelipisnya beberapa kali lalu Mengusap-usap wajahnya untuk melampiaskan rasa sakit di hatinya.


"Saya mewakili putra saya untuk minta maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian ini, Bu." Pak Sucipto angkat bicara melihat putranya yang tidak bereaksi dan hanya menunduk. "Aku pun tidak bisa menahan amarahku saat mengetahui kalau yang dia lecehkan itu adalah cucunya Pak Akmal."


"Owh, andaikan itu bukan anak kami yang putra anda lecehkan, apakah anda tidak akan perduli dengan kasus ini?" Ucap Bu Santi lagi. Menatap Pak Sucipto dengan penuh keberanian.


"B.. bukan seperti itu, Bu. Tapi, kami hanya sangat kecewa karena itu adalah cucu dari kolage kami."


"Huh," dengus Bu Santi. Berlalu mengikuti putrinya masuk ke dalam kamar.


Bu Santi mendorong pintu kamar putrinya yang tidak terkunci. Ia terbelalak saat melihat Chayra yang meringkuk di depan lemarinya dengan rambut acak-acakan.


"Astagfirullah, kamu kenapa, Sayang. Ya Allah, Mbak Ainun...!!" Bu Santi langsung menjerit histeris.


Beberapa kali ia menjerit, barulah Zidane datang bersama Bian, Mayra dan Amrina adiknya. Ia pun terbelalak melihat Chayra yang seperti itu.


"Astagfirullah, apa yang terjadi?! Ummi, Abah..!" Zidane langsung menurunkan Amrina dari gendongannya. Meraih tubuh Chayra, membopongnya ke atas tempat tidur.


"Lepaskan aku! Aku bukan wanita murahan yang bisa kamu sentuh semau kamu!" Kaki dan tangan Chayra meronta kemana-mana. Namun, hal itu bertahan hanya beberapa saat sebelum tubuh itu tiba-tiba lemas dan tak sadarkan diri.


Pak Ismail dan Bu Ainun yang baru masuk ke dalam kamar, panik melihat keadaan Chayra.


"Abah, hubungi Dokter yang biasa menangani Ayra. Ummi tidak mau terjadi apa-apa pada Ayra." Bu Ainun menggoyang-goyangkan tubuh suaminya dengan keras.


"Iya, Ummi. Ini juga Abah sedang mencobanya." Jawab Pak Ismail dengan tenang. Dia tidak mau ikut panik, agar keadaan ini bisa ia kendalikan.


Tubuh Chayra tiba-tiba kejang. Jeritan Bu Santi semakin menjadi-jadi melihat hal itu. Semua orang yang berada di dalam kamar itu langsung panik. Pak Ismail yang berusaha untuk bersikap tenang pun, ikut panik. Zidane menggendong Amrina untuk membawanya keluar ruangan. Menarik tangan Bian yang ikut sesenggukan melihat keadaan kakaknya.


"Jangan menangis, Dek. Kita keluar ya.. agar kamu bisa lebih tenang."


"Kak Ayra kenapa, Kak. Tadi dia baik-baik saja. Apakah dia akan mati juga seperti Bapak. Hiks.. hiks.. hiks.. Kak Ayra jangan mati.. siapa yang akan menjadi kakaknya Bian kalau Kakak mati."


"Astagfirullahal'adzim, Bian kenapa ngomong gitu, Dek. Kak Ayra tidak akan mati. Cuman, penyakitnya sedang kambuh. Bian jangan berpikir yang macam-macam ya.."

__ADS_1


"Kak Ayra tidak pernah sakit seperti itu sebelumnya. Dia selalu tersenyum dan tidak pernah mengeluh sakit. Kak Zidane jangan bohong sama Bian."


Zidane menarik nafas dalam. Memang sulit kalau harus berbohong pada Bian. Anak itu sudah duduk di bangku kelas dua SMP. Dia sudah tau yang benar dan yang salah.


Zidane semakin dibuat pusing saat melihat Ghibran yang sudah menunggunya di dekat pintu. Dari sorot matanya, dia sudah bisa memastikan kalau laki-laki itu butuh penjelasan mengenai kejadian di dalam kamar. Ia akhirnya berjalan mendekat. Mau menghindar juga tidak akan bisa.


"Zahra kenapa, Zi..?" Pertanyaan itu langsung terlontar dari mulut Ghibran saat Zidane sampai di depannya.


"Ayra pingsan." Jawab Zidane pendek.


"Tadi aku mendengar dia menjerit."


"Iya, tapi sekarang dia tidak sadarkan diri."


"Aku mau masuk."


"Jangan! Dia tidak menutup auratnya sepenuhnya. Dia tidak memakai hijab saat ini."


"Lalu kenapa kamu melihatnya?!"


"Aku kakaknya, Ghi."


"Kamu bukan kakak kandungnya, Zidane. Kamu hanya kakak sepupunya. Kamu harus camkan itu."


"Tapi aku tidak ada nafsu padanya karena aku benar-benar sudah seperti saudara kandung dengannya."


"Tapi kamu juga halal nikah dengannya. Bagaimanapun kamu menganggapnya. Kamu tetap harus menjaga batasan kamu padanya."


"Jangan ajak aku berdebat sekarang, Ghi. Keadaannya sedang darurat dan Ayra butuh pertolongan."


Ghibran mengusap wajahnya dengan kasar. Ia berbalik kembali ke ruang tamu. Langsung mendekati Ardian dan mengangkat kerah baju pria itu.


"Ini semua gara-gara kamu, Bangsat!"


Bug..!

__ADS_1


Satu tinjuan melayang ke wajah Ardian.


*******


__ADS_2