
Sudah satu minggu ini, Ardian selalu rutin mengantar Chayra. Dia juga bersikap lebih baik pada gadis itu. Apalagi kalau bertemu dengan Kate. Dia akan terlihat berlebih-lebihan di depan temannya itu.
Setelah sepakat dengan Kate. Akhirnya Ardian akan melanjutkan studi Magister-nya Kampusnya ini. Walaupun sebelumnya dia sudah sepakat dengan Kate untuk melanjutkan studi di Amerika. Namun, mereka merombak kembali kesepakatan awal.
"Siapkan bekal makanan dan minuman untuk gue. Hari ini gue mau menunggu lho sampai lho pulang. Ada yang akan gue urus juga disana."
Chayra hanya menganggukkan kepalanya mendengar perintah Ardian. Berlalu untuk mengambil kotak bekal yang ada di lemari dapur.
"Lho mau kemana?" Ardian menatap bingung Chayra. Menganggukkan kepala, tapi malah berlalu meninggalkannya.
"Saya mau mengambil kotak bekal untuk anda."
"Tidak usah, pakai satu kotak saja. Lho tinggal menambah isi kotak dari porsi makan lho. Nanti kita makan berdua."
Chayra berpikir sejenak. Dia tidak mungkin akan nyaman jika makan berdua dengan pria itu.
"Ayo buruan, nanti lho telat kalau kebanyakan mikir." Ardian berlalu meninggalkan Chayra. "Gue tunggu lho di mobil." Lanjut Ardian tanpa menatap Chayra. Menyampirkan jaketnya ke bahunya.
Chayra masih berdiri mematung. Masih bingung dengan sikap Ardian belakangan ini. Beberapa saat baru tersadar kembali dan melanjutkan mengisi kotak bekalnya.
Setengah perjalanan, dua orang itu masih membisu. Hanya suara musik yang mengisi kesunyian perjalanan.
Ciiiiiiiittttt.....
Ardian ngerem mendadak. Dari mulutnya keluar kata-kata kotor yang terdengar asing di telinga Chayra.
Chayra langsung menoleh karena terkejut. "Astagfirullahal'adzim, apa yang terjadi?!" Chayra menatap Ardian yang terlihat menahan kesal.
Ardian tidak menghiraukan pertanyaan Chayra. Dia malah menongolkan kepalanya keluar mobil. "Woi..! bisa nyetir nggak lho?! Setan lho, ganggu jalan orang aja." Kembali memasukkan kepalanya. Memencet klaksonnya beberapa kali untuk melampiaskan rasa kesalnya.
Mobil di depan kembali berjalan. Namun, ada yang terlihat aneh. Mobil itu melaju tidak normal.
"Ni orang lagi mabuk atau lagi bercinta sih. Kenapa sih, menyebalkan sekali."
Chayra kembali menatap Ardian. Melihat cara jalan mobil di depannya, ia teringat dengan kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat dia bersama Alesha dan Tina terhalangi jalannya oleh mobil yang dikendarai Ardian dan Amira.
Chayra memejamkan matanya seraya kembali beristighfar. "Astagfirullahal'adzim.." mengusap-usap dadanya pelan.
Ardian menautkan alisnya menatap Chayra. "Kenapa lho? Lho merasa berdosa karena mendengar gue marah sama orang itu?"
Chayra tersenyum kecil. "Tidak sama sekali. Saya hanya teringat dengan kejadian beberapa tahun yang lalu. Dimana saya juga pernah mengalami hal serupa. Seperti yang terjadi pada anda tadi. Waktu itu saya pergi bersama Alesha dan Tina. Alesha yang mengendarai mobil. Dia juga mengumpat kesal seperti yang anda lakukan tadi. Tapi, kami beristighfar serentak setelah mengetahui kalau orang yang berada di dalam mobil di depan kami adalah salah satu teman kami. Dan yang membuat kami sangat kecewa, dia sedang bersama pacarnya waktu itu. Kendaraan itu berjalan persis seperti mobil itu." Chayra menunjuk mobil yang masih berada di depan mobil suaminya.
"Maksud lho?" Ardian melirik Chayra. Ternyata dia penasaran dengan teman yang dimaksud Chayra.
"Sahabat saya hanya tiga orang seperti yang anda tau. Saya sudah menyebutkan dua orang yang bersama saya. Itu berarti yang saya maksud, teman saya yang tidak bersama kami waktu itu. Anda pasti mengerti kan, maksud saya?"
Ardian terdiam. "Jangan bahas itu. Nanti mood gue rusak."
"Anda yang bertanya kan. Saya hanya berniat untuk bercerita tadi. Tapi, karena anda bertanya, jadi saya menjawabnya."
"Sudah.. nanti kita telat."
"Mmm... untuk apa juga membahas hal yang tidak penting."
Akhirnya mereka terdiam kembali sepanjang sisa perjalanan.
__ADS_1
Saat waktu makan siang..
Handphone Chayra berdering. Gadis itu sedang duduk di pinggir trotoar di parkiran Kampus.
"Assalamualaikum.." ucapnya pelan.
Tidak ada jawaban. Atau mungkin orang yang meneleponnya tidak mau menjawab salam.
"Halo, apa ada orang disana?" ucap Chayra lagi.
"Halo, gue disini. Lho pulang jam berapa?"
"Sekarang.. mata kuliah untuk hari ini sudah selesai semua."
"Tapi gue masih ada urusan. Lho udah makan belum?"
"B.. belum.. saya tidak enak makan duluan karena anda belum makan."
"Lokasi lho dimana sekarang?"
"Di parkiran. Saya sedang menunggu kedatangan anda."
"Gue kesana sekarang. Jangan ke mana-mana."
Sambungan telepon terputus. Chayra menggeleng-geleng pelan. Untuk pertama kalinya dia melakukan panggilan telepon dengan Ardian. Ternyata Ardian tidak terbiasa mengucap ataupun menjawab salam.
Baru saja menarik nafas dalam, pria yang dia sedang bingungkan itu muncul dari arah kanan.
"Makan siangnya mana?" Ardian menyodorkan tangannya.
Chayra mengacungkan kotak bekalnya. "Ini.."
Chayra menelan ludahnya melihat cara makan pria itu. Langsung menyuap nasi tanpa membaca do'a terlebih dahulu.
"Ini, lho habiskan. Gue akan kembali satu jam lagi. Ini kunci mobil, kalau lho mau keluar dulu biar nggak bosan nunggu gue." Meletakkan kunci mobil di telapak tangan Chayra. Bergegas pergi tanpa menunggu jawaban Chayra.
Chayra menatap nanar kotak bekalnya. Hanya tersisa sesuap nasi. Menyuap nasi sisa itu perlahan. Kok, dia sedih dengan keadaan ini. Dia merasa sedang makan makanan sisa karena tidak punya uang untuk membeli makanan.
"Jangan berfikir negatif, Ayra. Daripada nasi itu mubazir. Ingat.. orang yang suka mubazirkan sesuatu itu adalah temannya setan." Chayra menyemangati dirinya sendiri.
********
Malam itu...
Sudah pukul sepuluh malam. Namun, Chayra masih sibuk di meja belajarnya. Konsentrasinya buyar ketika mendengar Ardian yang sedang melakukan panggilan suara dengan seseorang.
Ardian mengaktifkan loud speaker panggilannya sehingga Chayra bisa mendengar dengan jelas yang dibicarakan suaminya.
"Halo, Bro. Lho dimana?"
"Lagi di rumah. Ngapain nanya-nanya keberadaan gue?"
"Lho nggak datang sekarang?"
"Kemana..?"
__ADS_1
"Yaelah ni orang pakai nanya segala. Iya.. ke tempat biasalah."
"Kemana maksud lho?"
"Lho sedang pura-pura lupa atau mungkin lho udah beneran tobat?"
"Jangan berbelit-belit biar gue langsung paham."
"Astaga, Ardian.. maksud gue ke ****. Sumpah, Bro. Ceweknya cakep-cakep banget malam ini. Kayaknya mereka baru semua. Apa lho nggak mau coba yang baru?"
"Memangnya lho ada disana?"
"Yo'i, Bro. Gue sedang dipijit seorang wanita cantik. Cium dulu, Sayang. Bibir kamu terlihat menggemaskan." Kate sengaja memanas-manasi Ardian. Padahal dia sedang berada di dalam kamarnya, memeluk bantal guling yang belum dicuci sarungnya. Beberapa saat terdiam untuk lebih meyakinkan Ardian, kalau dia benar-benar sedang mencium seorang wanita cantik. "Yakin nih, lho nggak mau datang kemari?" ucapnya lagi.
Ardian menarik nafas dalam. Mendengar ucapan Kate tadi membuat kejantanannya bangun dari tidur panjangnya.
"Nanti gue lihat kondisi. Kalau Papi dan Mami gue sudah istirahat, gue akan menyusul lho."
"Gue tunggu lho, cepetan."
"Lho jangan banyak bacot, Kate. Lima menit aja gue sampai kalau memang gue bisa keluar nanti."
"Iya.. iya.. sorry, Bro. Gue lupa kalau lho adalah joki motor yang selalu membuat onar."
"Bisa diam nggak sih. Udah, ah, gue mau lihat kondisi dulu."
"Wokay.. cepetan kalau lho nggak mau kehabisan."
"Iya sisain lah. Masa lho mau gasap semua?" Tenaga lho hanya cukup untuk meniduri dua wanita."
"Lho ngeremehin gue nih, ceritanya.."
"Lho tunggu gue disana. Gue mau cari cara biar bisa keluar rumah."
"Good luck.."
"Mmm..."
Ardian mematikan sambungan telepon. Matanya membulat saat menyadari kalau Chayra ternyata masih duduk di depan meja belajarnya.
"L.. lho masih bangun?"
Chayra pura-pura fokus menulis dan menghitung sesuatu.
"Hei, lho dengar gue nggak?"
Chayra hanya melirik lalu kembali menulis.
"Lho dengar semua yang gue bicarakan di telepon tadi?" Tanya Ardian lagi.
Chayra menarik nafas panjang. "Saya punya telinga yang normal seperti anda. Percakapan anda tadi bahkan merusak konsentrasi belajar saya."
"Kenapa lho tidak menutup telinga lho, biar nggak denger?"
"Untuk apa saya melakukan itu? Ini telinga saya. Walaupun agama melarang kita untuk mendengar yang buruk-buruk. Tapi saya tidak tau harus menjawab apa nanti kalau Papi dan Mami bertanya sama saya. Kalua saya sudah tau anda kemana, saya bisa mengatakannya pada Papi dan Mami tanpa harus berbohong."
__ADS_1
Ardian menelan ludahnya. Bingung mau melakukan apa. Untuk mengancam wanita itu juga tidak bisa ia lakukan. Selama Papi dan Maminya ada di rumah, dia tidak bisa menyakiti Chayra lebih dari sekedar kata-kata.
*******