
Ardian menangis haru setelah acara wisuda selesai. Tidak menyangka kalau dirinya sudah resmi mendapatkan gelar S2-nya.
Ardian berlari mendekati istrinya yang sedang duduk menunggunya di area taman Kampus. Merengkuh tubuh Chayra dari belakang.
Chayra yang tidak mengetahui kedatangan suaminya tersentak kaget. Bagian bawah perutnya terasa ngilu. "Astagfirullah, Kak. Apaan sih? Kaget tau nggak."
"Alhamdulillah, akhirnya semuanya berjalan dengan lancar, Sayang. Besok aku akan langsung cari kerja."
Chayra menghela nafas berat. "Jangan dulu. Nanti kalau Kakak kerja, aku nggak ada teman di rumah. Kakak kerja di Toko aja dulu. Kalau di Toko kan, Kakak bisa pulang kapan saja." Chayra menatap suaminya dengan tatapan memohon.
Ardian terdiam mendengar ucapan istrinya. Sebenarnya, kalau dia sudah kerja nanti, dia ingin menyicil rumah agar tidak terus-terusan numpang di rumah mertuanya.
"Nanti kita diskusikan lagi. Aku lapar, Chay. Tadi pagi aku tidak sempat sarapan karena takut terlambat."
"Aku temani Kakak makan." Chayra kembali menatap suaminya. Tangannya terangkat seraya mengusap-usap lembut wajah Ardian.
Ardian menahan tangan istrinya. "Kenapa menatapku seperti itu?"
"Mm... aku lihat seseorang tadi." Chayra menunduk, menurunkan tangannya perlahan.
Ardian memperbaiki posisi duduknya. Duduk bersila agar lebih nyaman bicara dengan istrinya. "Siapa maksud kamu?" Mengangkat dagu Chayra karena gadis itu menunduk.
"Mm... Papi dan Mami, Kak." Chayra mengangkat wajahnya perlahan.
Ardian langsung mengalihkan pandangannya. Senyum yang tadi mengembang di wajahnya pudar seketika. "Ngapain mereka kemari. Bukankah mereka sudah mencoret namaku dari kartu keluarga?"
"Aku.. aku lihat Mami menangis tadi. Dia beberapa kali mengusap air matanya sambil menatap ke dalam gedung. Papi juga terlihat sedih, Kak."
"Apa mereka tidak mendatangimu?"
Chayra menggeleng. "Mereka tidak menyadari keberadaanku."
Ardian menarik nafas dalam seraya beristighfar. Ingin rasanya dia melampiaskan kekesalannya. Namun, dia masih bisa menahan diri. "Sudahlah, kita jangan bahas itu lagi. Ayo, temani aku makan." Ardian bangkit, tangannya menarik pelan tangan Chayra yang masih enggan berdiri.
Chayra menahan tangan suaminya. "Apa Kakak tidak mau menemui mereka dulu."
"Untuk apa? Aku tidak penting lagi kan, bagi mereka? Bukankah kamu sendiri yang menjadi saksi pengusiran mereka waktu itu? Aku tidak mau mengharap belas kasihan mereka. Aku akan berusaha berdiri di atas kakiku sendiri. Ardian yang sekarang bukanlah Ardian yang dulu mereka kenal."
"Apapun yang terjadi, mereka tetap orang tua Kakak. Mami tetaplah Ibu yang melahirkan Kakak dengan penuh perjuangan."
Ardian tersenyum ketus. "Aku tidak penting bagi mereka, Chay. Aku hanyalah beban dalam kehidupan mereka. Harta dan jabatan adalah hal terpenting bagi mereka."
__ADS_1
"Jangan berkata begitu, Kak."
"Kamu, dan keluarga kamu adalah hidup dan matiku saat ini. Menjadi bagian dari kalian adalah anugerah terindah yang di berikan Allah untukku. Mereka tetap orang tuaku. Tetapi, untuk bertemu mereka saat ini, aku belum bisa melakukannya. Cukuplah Allah yang mengetahui perasaanku saat ini. Aku tidak marah pada mereka, tapi aku hanya kecewa. Perlakuan mereka, kata-kata yang Papi ucapkan waktu itu benar-benar membuatku sadar, kalau aku tidak berarti untuk mereka."
Chayra berusaha untuk memahami perasaan suaminya. Dia harus belajar mengerti keadaan pria itu. Seperti halnya Ardian yang sudah berusaha memperbaiki diri agar terlihat pantas untuk menjadi pendamping hidupnya.
Chayra tersenyum tipis. "Ayo kalau begitu. Kita coba temui mereka dilain waktu. Kita nggak usah membahas hal yang sekiranya membuat mood kita rusak. Hari ini Kak Ardian harus bahagia di hari yang berkesan ini." Menggandeng tangan suaminya sambil terus melangkah.
"Terimakasih, Sayang." Ardian menggenggam erat tangan Chayra. Mencium tangan itu dengan penuh perasaan.
Setelah acara makan-makan selesai, Ardian mengajak istrinya untuk pulang. Hari ini dia harus ke Toko untuk mengecek barang yang masuk. Tapi, dia teringat kalau dirinya belum memiliki handphonenya.
"Nanti dulu lah, Kak. Aku mau jalan-jalan dulu. Mumpung aku tidak eneg sama Kakak."
"Huh, alasan saja kamu ini." Mencubit gemas pipi istrinya. "Temani aku cari handphone kalau begitu."
"Yah, aku nggak bawa ATM, Kak. Dari kemarin juga mau dibeliin pakai acara nggak mau segala. Sekarang pas aku nggak bawa apa-apa, Kakak malah mau beli."
"Aku ada uang, Sayang. Kamu lupa, kalau aku sudah kerja sekarang."
Chayra menautkan alisnya. "Kok cepet banget dapat gaji? Perasaan baru beberapa hari Kakak kerja."
"Kebaikan hati Ibu mertua." Ardian menaik turunkan alisnya. "Sepertinya Ibu kasihan melihat aku tidak punya handphone. Setiap mau menghubungi kamu, pasti aku akan pinjem handphone padanya. Mungkin, hal itu yang membuat hatinya tergerak untuk memberiku gaji lebih awal."
"Ayo makanya temani aku.." Ardian menarik tangan Chayra untuk mendatangi konter HP di dekat Kampus mereka.
"Ibu pulang duluan. Kita pulang pakai motor nanti."
"It's ok. Uang Kakak ada berapa di situ?"
Ardian tersenyum meringis. "Hehehe... cuma tiga juta, Sayang. Dapat kan, handphone dengan harga segitu?"
"Siapa bilang nggak dapat. Banyak kok, handphone murah dan berkualitas."
"Aku tidak mengutamakan gaya saat ini. Yang utama sekarang, aku membutuhkan benda gepeng itu."
"Iya..." Chayra mengikuti langkah suaminya memasuki Konter. Perut Chayra seketika mual saat m masuki ruangan. Aroma parfum dari beberapa orang pengunjung Konter itu membuatnya tidak nyaman.
"Mmm... aku tunggu Kakak diluar."
"Kenapa..? Aku butuh kamu untuk memilihkan modelnya. Aku tidak pandai dalam hal ini. Kalau kamu keluar, aku takut nanti kamu malah tidak suka dengan model yang aku ambil."
__ADS_1
"Terserah Kakak saja mau ambil yang mana. Aku nggak kuat dengan aroma parfum di ruangan ini." Aroma parfum persis seperti aroma parfum Ghibran yang membuatnya sampai masuk Rumah Sakit kemarin.
Ardian terdiam sejenak. Melihat air mata yang menganak sungai di mata istrinya. Dia akhirnya harus mengalah demi kenyamanan Chayra. "Iya sudah, kamu tunggu aku di depan. Aku tidak akan lama."
"Terimakasih pengertiannya. Chayra bergegas keluar. Memuntahkan isi perutnya di tempat sepi yang Duduk di bangku panjang di bawah pohon rindang.Menarik nafas dalam beberapa kali membuatnya lebih nyaman. "Kenapa ada aroma parfum Kak Ghibran tadi. Apa dia juga ada di sana tadi? Tapi, kata Ibu kemarin, Kak Ghibran dan Kak Zidane akan kembali ke Pesantren." Chayra bergumam sendiri. Kembali menarik nafas dalam agar rasa mual itu cepat hilang.
Chayra mengedarkan pandangannya. Dia benar-benar merasa kalau Ghibran berada di tempat itu. Entah mengapa, dia merasakan hal itu. Sosok pria itu masih saja menggelayut manja dalam hatinya. Walaupun sedikit demi sedikit, nama Ardian juga ikut hadir. Namun, posisi Ghibran masih tetap unggul untuk saat ini.
Chayra mendongak karena merasa ada orang yang berdiri di depannya. Sebuah sapu tangan yang disodorkan di depannya membuatnya terkejut. "Eh," mendongakkan kepalanya menatap wajah orang baik itu.
Deg..!
Chayra kembali menunduk karena terkejut. Tidak menyangka dirinya akan bertemu dengan pria itu dalam kondisinya yang sedang seperti ini.
"Biasakan diri membawa sapu tangan atau tisue saat keluar rumah. Mulut kamu perlu dilap setelah muntah." Ucap pria berkacamata hitam yang menyodorkan sapu tangan itu.
"Kenapa juga suami kamu meninggalkan istrinya sendirian dalam kondisi kamu yang seperti ini. Seharusnya kamu menikah dengan pria yang bisa bertanggung jawab. Laki-laki yang bisa menjaga kamu. Bukan pria yang meninggalkan kamu di sembarang tempat seperti ini." Ucap pria itu datar.
"Terimakasih perhatiannya, Kak. Tapi, suamiku bukan orang yang tidak bertanggung jawab. Hanya saja dia sedang ada keperluan di dalam Konter itu. Aku yang keluar karena tidak kuat dengan aroma parfum orang-orang di dalam sana." Chayra berkata tanpa mengangkat wajahnya. Meremas niqab yang di genggamnya. Belum sempat memakainya lagi setelah muntah tadi.
Pria itu duduk berjarak di bangku yang di duduki Chayra. "Apa kamu sedang sakit? Kamu terlihat sangat pucat."
"Tidak seperti yang Kakak lihat. Aku hanya mual karena aroma parfum yang terlalu kuat di dalam."
"Semoga kamu tidak berbohong. Yang aku tau, dari dulu kamu bukanlah orang yang pandai berbohong."
"Aku memang tidak berbohong."
"Ternyata kamu disini. Ayo kita kembali. Nanti kita malah ketinggalan pesawat."
Chayra memejamkan matanya mendengar suara itu.
"Untuk apa kamu sibuk mengurus dia. Sudah ada orang yang berkewajiban menjaga dan mengurusnya."
"Suaminya menelantarkannya, Ghibran. Aku mendapatinya sedang muntah-muntah di bawah pohon itu."
"Aku sudah bilang, kalau suamiku tidak seperti itu." Chayra akhirnya kesal juga dengan ucapan pria itu.
"Dia sedang hamil. Itulah mengapa dia muntah di sembarang tempat." Timpal Ghibran.
Chayra hanya berdecak kesal. Meladeni dua orang yang tidak mau mendengarkan alasannya ini benar-benar menguji kesabarannya. Berulang kali ia melafadzkan istighfar agar tidak terpancing.
__ADS_1
"Sepertinya dia tidak bahagian, Ghibran. Aku lihat tubuhnya semakin kurus sejak menikah dengan laki-laki songong itu."
"Terimakasih kritikannya. Tapi, saya sangat bahagia menikah dengan orang pilihan saya. Seharusnya kalian berdua yang berkaca terlebih dahulu. Kalianlah yang terlihat menderita melihat aku bahagia dengan suamiku." Chayra langsung bangkit meninggalkan tempat itu. Kembali masuk ke dalam Konter untuk mencari suaminya.