Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Nama bayinya siapa


__ADS_3

Malam itu Chayra tidak bisa tidur karena bayinya nangis terus. Ini adalah malam kedua di Rumah Sakit. Seharusnya dia pulang siang tadi. Tetapi ketika dilakukan cek darah, kandungan trombosit dalam darahnya melebihi kapasitas yang seharusnya. Hal itu tentu saja tidak baik untuknya, sehingga Dokter menyarankan untuk melanjutkan rawat inap sampai kandungan trombosit dalam tubuhnya normal kembali.


Bu Ainun yang baru tiba tadi siang akhirnya memutuskan untuk ikut menginap di Rumah Sakit. Sedangkan Pak Ismail sudah pulang duluan ke rumah adik iparnya karena banyaknya pekerjaan yang harus dia selesaikan. Ternyata meninggalkan rumah tidak membuatnya harus libur bekerja. Dia harus mengisi kelas walaupun melalu jalan online.


Setelah lama berbincang dan melepas rindu pada adik iparnya, Bu Ainun mendekati Box bayi dan menatapnya dengan penuh kekaguman. "Namanya siapa, Nak? Ya Allah bayinya tampan sekali." Bu Ainun masih terus menatap wajah tampan cucunya.


Ardian dan Chayra yang dari tadi tersenyum melihat antusiasme Bu Ainun langsung saling pandang. Kenapa tidak terpikir sampai sekarang nama anak mereka. Bu Ainun yang tidak mendapatkan jawaban dari siapapun akhirnya menatap Chayra dan Ardian secara bergantian. "Namanya siapa?" kembali pertanyaan itu terlontar dari mulutnya.


Chayra mencubit pelan lengan suaminya. "Mas... nama anak kita siapa?"


Ardian menggeleng. "Aku.. belum sempat memikirkan namanya sampai sekarang." Jawab Ardian polos.


Bu Ainun menautkan alisnya. "Astagfirullahal'adzim.. kok bisa seperti itu, Nak? Seharusnya nama itu disiapkan jauh sebelum anaknya lahir ke dunia. Anak kalian lahir hari kemarin, tetapi belum ada namanya sampai sekarang. Kalian mau memanggilnya dengan apa?"


"Kami akan diskusikan sekarang, Ummi. Mas Ardian sibuk terus dari kemarin. Dia lembur beberapa hari karena mengajukan cuti." Chayra langsung menjawab. Takut kalau mengelak Umminya akan ceramah panjang lebar sampai telinga memanas.


"Kalian sungguh aneh." Bu Ainun menggeleng-geleng pelan seraya bangkit. "Terserah kalian, Ummi mau keluar membeli makanan sebentar. Saat Ummi kembali nanti, namanya harus sudah siap. Bisa-bisanya kalian bilang nama anak kalian belum ada padahal anaknya sudah nongol di depan kalian. Apa yang kalian pikirkan dari kemarin-kemarin." Bu Ainun membuang nafas kasar seraya berlalu. Masih dengan rasa tidak percaya dengan pengakuan Ardian yang belum memberi nama pada anaknya.


Selepas kepergian Bu Ainun, Chayra langsung menarik nafas panjang seraya beristighfar. "Kenapa kita lalai sekali, Mas. Benar kata Ummi, kita seharusnya menyiapkan nama dari jauh-jauh hari."


"Maafkan aku, Sayang. Aku yang seharusnya menyiapkan itu semua."


"Bagaimana kalau kita minta pendapat pada Kak Zidane dan Alesha?"


"Boleh.. kepalaku terasa buntu. Tidak ada yang terlintas sama sekali. Yang ada perut aku malah lapar sekarang."


"Mas Ardian belum makan?"


"Belum sempat. Dari tadi kan disuruh bolak balik terus sama Ibu ke rumah Mami."


"Ada apa kenapa Mami menyuruh Mas Ardian ke rumahnya?"


"Mengambil perlengkapan bayi. Sebenarnya Mami bisa menyuruh orang lain. Sopir juga ada. Tapi, entah kenapa Mami sangat senang menyuruhku sekarang. Padahal perlengkapan itu bisa diambil nanti-nanti."


"Kenapa tidak bilang ke Mami dari kematin kalau kita sudah beli?"


Ardian mengangkat bahu. "Nggak ada sempat mikir kesana. Sepertinya mereka juga terlalu antusias menyambut kelahiran cucu pertama mereka sampai harus membeli perlengkapan juga. Udah ah, jangan bahas yang lain. Sekarang waktunya memikirkan nama bayi tampanku ini." Ardian mencolek pipi bayi yang sedang tidur anteng dalam boxnya.

__ADS_1


"Aku juga nggak kepikiran dari kemarin soalnya Ibu bilang mau memberi nama setelah bayinya berumur satu Minggu. Ibu mau mengikuti budaya suatu daerah katanya."


"Terus kita mau bilang apa sama Ummi nanti?" Ardian mengacak-acak rambutnya bingung.


Pintu tiba-tiba diketuk dari luar, muncullah Bu Santi dari balik pintu dengan senyum sumringah. "Assalamualaikum.."


Ardian langsung tersenyum lebar melihat siapa yang datang. "Wa'alaikumsalam.. alhamdulilah penyelamat dari amukan Ummi akhirnya datang juga." Ardian bangkit dan langsung Salim dengan khidmat pada Ibu mertua.


"Kamu ngomong gitu maksudnya apa? Memangnya Ummi kalian marah kenapa?"


Ardian tersenyum meringis sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Ummi marah karena kami belum kasih nama untuk bayi kami, Bu."


Bu Santi malah tersenyum mendengar cerita menantunya. "Kan Ibu sengaja, Nak. Rencananya Ibu mau kasih nama nanti pas bayinya berumur satu Minggu. Kayak kamu dulu, Ayra. Kamu juga dikasih nama setelah satu Minggu lahir." Jawab Bu Santi dengan santai sambil meletakkan barang bawaannya.


"Ibu yang menjelaskan pada Ummi. Wajahnya mangap-mangap kesal dari tadi."


"Tidak usah dipikirkan. Nanti Ibu yang bicara pada Mbak Ainun. Dia kemana sekarang?"


"Keluar membeli makanan. Habis marah tadi, kayaknya tenaganya terkuras dan langsung ingin makan."


*********


Hari ini adalah hari pertama Chayra tidur di rumah. Setelah diperbolehkan pulang oleh Dokter, Bu Santi membawa cucunya pulang ke rumah barunya. Awalnya dia ingin membawa cucunya pulang ke rumahnya. Tetapi, Pak Akmal menelpon dan meminta Ardian untuk pulang ke rumah mereka saja.


Handphone Ardian berdering nyaring. Ardian yang baru saja terlelap tidak merasa terusik walaupun suara deringan itu memenuhi seluruh ruangan. Chayra yang sedang memberikan ASI pada bayinya mencoba menggoyang-goyangkan tubuh suaminya dengan sebelah tangannya.


"Mas... ada telepon. Bangun... jawab sebentar suaranya sangat berisik."


Ardian tidak bereaksi. Jangankan untuk bangkit, bergerak pun tidak walaupun suara Chayra sudah cukup keras ditambah dengan goyangan pelan di tubuhnya.


Beberapa kali mencoba tetapi tidak membuahkan hasil, Chayra akhirnya membiarkan saja bunyi nyaring itu mengganggu indra pendengarannya. Suaminya terlihat sangat lelah. Mungkin karena efek kurang tidur sejak dari Rumah Sakit kemarin. Setelah bayinya terlelap, Chayra bangkit dan meraih handphone suaminya. Pas waktu itu handphone itu kembali berbunyi, menampakkan nama Dodit di sana. Chayra sedikit ragu untuk menjawabnya. Tetapi, sudah berapa kali suaminya dihubungi oleh orang yang sama. Tidak mungkin orang itu terus menghubungi ulang suaminya jika tidak ada hal yang penting.


"Assalamualaikum, Pak." Chayra akhirnya menjawab dengan suara pelan.


Sepersekian detik tidak ada respon dari sebrang. Ternyata Dodit sedang berusaha menormalkan detak jantungnya karena terkejut mendengar suara Chayra.


"Maaf, apa ada orang disana?" Kembali Chayra bersuara.

__ADS_1


"Eh, ada Mbak.."


"Maaf, Pak. Suami saya sedang tidur. Dari kemarin kurang tidur karena menjaga bayi kami. Apa ada hal penting, biar saya sampaikan nanti?"


Dodit menarik nafas panjang. Selama mengenal Ardian, baru kali ini dia mendengar suara lembut wanita yang menjadi istri temannya itu. Suara lemah lembut yang terdengar sangat sopan.


"Maaf, Dek eh, Mbak.. Mm.. Pak Ardian diminta ke Kantor oleh Pak Randi. Ada sesuatu yang ingin beliau tanyakan pada Pak Ardian."


"Oh, kapan suami saya diminta menghadap, Pak?"


"Kalau bisa sekarang. Tapi, Mbak bilang Pak Ardian masih tidur. Jadi bisa nanti pas beliau bangun."


"Akan saya sampaikan, Pak."


"Mari Mbak terimakasih. Selamat siang.." Dodit langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban Chayra. Dia tertegun dan langsung terduduk di atas sofa.


"Kamu kenapa, Dit?" Pak Randi yang duduk di depan Dodit terkejut melihat reaksi asistennya itu. "Dit, apa Ardian bisa datang?"


"Eh, i.. iya, Pak. Bapak bilang apa?"


"Kamu kenapa katak orang yang syok gitu?" Pak Randi melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Dodit yang belum pulih kesadarannya.


"Saya... saya terkejut mendengar suara..." Dodit menghentikan kalimatnya. Segera menutup mulutnya yang hampir saja keceplosan mengatakan kalau suara istri Ardian begitu lemah lembut dan sopan.


Pak Randi melengos. "Aku bertanya apa Ardian bisa datang?"


"Mm... bisa, Pak. Tapi, sekarang dia sedang tidur kata wanita itu. Sudah berusaha dibangunkan tetapi orangnya tidak bisa bangun."


"Dia tidur atau pingsan?"


"Hehehe.. nggak tau juga, Pak."


"Kirimkan saja pesan padanya. Suruh dia menemui ku nanti malam di Kafe Xx jam delapan malam. Aku mau pulang sekarang. Jika ada berkas yang perlu ditandatangani, simpan saja dulu. Besok pagi aku selesaikan. Ada urusan penting di rumah."


"Baik, Pak."


******

__ADS_1


__ADS_2