
Ardian berjalan menyusuri trotoar di sepanjang jalan di komplek rumah Santi mertuanya. Berniat ingin mencari angin segar sambil jalan-jalan pagi. Baru berjalan berjarak beberapa rumah dari rumah mertuanya. Tidak sengaja, telinganya menangkap bisik-bisik tetangga yang sedang menggunjingnya.
"Ternyata memang sudah bejat dari dulu anaknya. Aku kira cuma Ayra yang menjadi korban, karena memang mereka ada masalah. Eh, ternyata dia sudah menjadi penghuni tempat terlarang kayak gitu."
"Aku juga nggak nyangka banget, Jeng. Sebenarnya sih, Ayra sampai bermasalah karena pria itu bertingkah semaunya." Timpal ibu yang lain.
Ardian menunduk dan menghentikan langkahnya. Duduk di sebuah bangku panjang yang berjejer rapi. Berjarak dua kursi dari tempat tiga orang ibu-ibu yang sedang menggunjingnya. Untung saja dia memakai topi dan masker. Jadi, ibu-ibu itu tidak mengenalinya.
"Apa sih, yang membuat si Ayra sampai mau dinikahi laki-laki tengil nggak berakhlak seperti itu."
"Jangan salah, Jeng. Kata Jeng Santi, yang minta dinikahi itu si Ayra. Katanya, si Ayra tidak mau kalau pria baik-baik merasakan tubuhnya yang hina."
"Lho, maksudnya bagaimana itu, Jeng? Mana mungkin bisa gitu? Chayra itu anaknya sangat Sholehah. Itu... apa namanya, Ustadz yang juga melamarnya waktu itu juga sangat tampan dan sangat sopan. Ramah lagi orangnya. Masa iya sih, dia yang minta untuk dinikahi laki-laki tengil tak bermoral itu?"
"Nggak tau ah. Anu juga, Jeng. Saya sering lihat, kalau Ustadz tampan itu masih sering berkunjung ke rumah Jeng Santi. Sepertinya dia masih mengharapkan si Ayra."
"Laki-laki terhormat seperti itu tidak akan mengharapkan wanita yang sudah menjadi istri orang, Jeng. Palingan dia datang karena mau menyambung silaturrahim saja."
"Aku kok malah kasihan sama Ustadz itu. Jauh-jauh datang dari kota A. Eh, malah ditinggal nikah sama si Ayra. Prianya nggak betul lagi. Aku sih nggak setuju banget melihat Ayra menikah dengan pria itu. Kalau saja si Ayra itu anak aku, sudah aku suruh dia untuk menggugat cerai saja."
Telinga Ardian lama-lama panas mendengar gunjingan itu. Tangannya sudah terkepal menahan kesal. Namun, ia berhasil menguasai diri dengan terus melafadzkan istighfar.
"Eh, ada berita baru lagi nih, di f***b**k." Seorang ibu yang sedang membuka akun media sosial menunjukkan video yang muncul di berandanya. "Wah, ini sepupunya si Ayra yang upload. Siapa itu namanya, anaknya Bu Ainun, Kakak Almarhum Mas Ari itu lho, Jeng. Yang tinggal di rumah Jeng Santi sekarang ini."
"Namanya Zibane kayaknya. Eh, nggak, namanya Zi.. Zidane. Iya betul namanya Zidane."
"Coba lihat nih.." Ibu-ibu itu terdiam menyimak video yang sedang di putar. Mereka saling pandang setelah itu.
"Masa iya sih, Jeng.." Saling bertanya karena masih tidak percaya.
"Tapi, anak tengil itu terlihat khusyuk sekali berdoa. Sampai nangis-nangis gitu. Ah, kok aku kebawa suasana." Salah satu Ibu itu mengusut air mata karena terharu.
"Kok aku juga kasihan jadinya, Jeng."
"Aku mau pulang, Jeng. Belum masak nih. Nanti papanya anak-anak keburu pulang." Salah satu Ibu itu bangkit dan meninggalkan perkumpulan.
__ADS_1
Akhirnya, perkumpulan itu bubar karena personilnya belum ada yang masak untuk anak suami. Ternyata di kalangan Ibu-ibu di sekitar perumahan Santi, ngerumpi itu lebih menarik daripada beres-beres rumah. Padahal di tempat itu jarang sekali ada yang memakai tenaga pembantu.
Ardian membuang nafas kasar selepas kepergian Ibu-ibu itu. Ia membuka topi dan masker yang menutup wajahnya. "Ternyata, rasanya nyesek juga ya, kalau mendengar secara langsung orang yang membicarakan tentang keburukan kita." Bergumam sendiri. "Tapi, video apa ya, yang dimaksud mereka tadi. Mereka menyebut-nyebut nama Kak Zidane lagi. Aaarrgghh, sayangnya aku tidak punya handphone sekarang. Aku... aku miskin, nggak ada uang untuk membelinya." Ardian mengusap-usap wajahnya kasar.
Lama duduk termenung, akhirnya dia bangkit dan melanjutkan langkahnya. Memakai kembali topi dan maskernya untuk menutupi wajahnya.
********
"Ini pekerjaan kasar, Nak. Tidak pantas untuk pria bertangan mulus seperti kamu." Seorang pria menepuk pelan pundak Ardian.
Ardian nekat mencari pekerjaan walaupun Chayra belum mengizinkannya. Entah mengapa dia merasa tidak nyaman terus-terusan numpang tidur numpang makan di rumah mertuanya. Apalagi setelah mendengar gunjingan tetangganya waktu itu. Dia merasa benar-benar tertantang dan ingin membuktikan pada mereka kalau dirinya memang benar-benar sudah berubah.
Ardian juga masih penasaran dengan video yang katanya diunggah Zidane itu. Ingin bertanya, tetapi merasa malu. Pernah mencoba membuka handphone istrinya. Tetapi, sekali lagi dia merasa malu melakukan itu. Chayra sudah terlalu baik padanya.
Ardian termenung setelah Bapak-bapak itu mengatakan itu. "Tidak apa-apa, Pak. Saya harus bisa mencari uang untuk istri saya."
Bapak itu menghela nafas berat. "Kenapa tidak mencoba melamar pekerjaan di Toko besar itu. Aku dengar, disana sedang membutuhkan karyawan." Menunjuk toko yang sedang ramai pengunjung.
"Aku tidak ada ijazah, Pak. Mana diterima kalau mau kerja di Toko. Ijazahku ketinggalan di rumah orang tuaku. Aku hanya ikut istri kemari."
Ardian terdiam. Melirik beberapa kali pada Bapak-bapak tempatnya memohon pekerjaan. Sebenarnya dia juga ingin mulai mencari pekerjaan. Namun, ijazahnya tertinggal di rumah Papinya. Sudah satu Minggu ini dia berkeliling mencari kerja. Memberi alasan pada istrinya kalau dia mau mencari angin segar setiap pagi. Dia akan kembali pulang saat menjelang siang. "Tapi, ijazah SMA juga ikut tertinggal, Pak. Sayang sekali ya.."
"Hhmmm... bagiamana Bapak bisa bantu ya, Nak. Kamu terlihat tidak cocok menjadi buruh bangunan. Kamu terlihat seperti anak orang kaya. Lebih tepatnya, terlihat seperti anak Mami. Bapak takut, kamu tidak bisa bekerja maksimal nantinya. Bos Bapak itu orangnya sangat teliti, Nak. Bapak takut disemprot nanti kalau kamu tidak becus bekerja."
"Saya akan usahakan untuk bekerja maksimal. Bapak bisa buktikan ucapanku itu nanti." Ucap Ardian meyakinkan.
Tiba-tiba adzan Zuhur berkumandang. Ardian langsung terduduk, diam mendengarkan adzan.
Bapak itu salut melihat kelakuan Ardian. Menggeleng-geleng pelan melihat kelakuan Ardian. "Benar-benar Muslim yang taat." Ucapnya lirih.
Usai adzan berkumandang, Ardian bangkit kembali seraya mengusap wajahnya. "Mm.. Pak. Masjid di sini dimana ya?"
"Di pinggir jalan raya itu, Nak."
"Terimakasih, Pak. Saya shalat dulu kalau begitu."
__ADS_1
"Iya, silahkan.."
"Assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam.."
Ardian bergegas meninggalkan Bapak itu. Dia harus segera menunaikan kewajibannya. Harus segera pulang juga agar istrinya tidak curiga.
Sampai rumah, Ardian disambut dengan tatapan tajam istrinya. Chayra duduk di sofa sambil bersedekap. Sedangkan Santi mertuanya, wanita itu masih menatapnya dengan tatapan yang menenangkan.
"Darimana, kenapa baru pulang?" Chayra melangkah mendekati Ardian. Tatapannya masih mengintimidasi.
"Aku... aku..."
"Jangan mencoba untuk membuat alasan. Aku butuh kejujuran Kakak. Aku dengar dari para tetangga, Kakak kelayapan sampai ke ujung komplek. Ngapain coba, jalan-jalan sampai sejauh itu."
Ardian menggeleng pelan. "Aku sedang cari kerja, Sayang." Ucapnya keceplosan. Langsung menutup mulutnya karena tidak menyangka kata itu yang akan keluar dari mulutnya.
"Cari kerja? Kerja apaan, Kak? Aku tidak meminta Kakak untuk kerja saat ini. Aku hanya butuh Kakak tetap ada di sampingku." Chayra berdecak kesal. Entah mengapa, akhir-akhir ini dia ingin selalu dekat dengan suaminya. Tapi, kalau Ardian berdiam diri di sampingnya, dia malahan ingin muntah melihatnya. Bawaannya ingin kesal saja.
"Duduk dulu sini, Nak." Ucap Santi dengan lembut. "Kamu juga duduk, Ayra. Terdengar sangat tidak sopan. Suami pulang, kamu langsung bertanya seperti itu. Seharusnya, kamu ajak dia bicara baik-baik, Nak."
Chayra hanya mendengus walaupun akhirnya mengikuti perintah sang Ibu.
"Maafkan Ayra ya, Nak. Jangan diambil hati. Dia hanya sedang kesal. Dia menunggu kamu dari pagi. Sudah satu Minggu ini, kamu sering keluar rumah dengan alasan mau mencari angin segar. Tapi, kamu menghilangnya sampai siang. Istri mana coba yang tidak khawatir. Apalagi tadi pagi kamu pergi sangat pagi sampai lupa sarapan. Banyak tetangga kita yang sering menyebut-nyebut nama kamu sekarang."
Chayra tiba-tiba bangkit dan meninggalkan ruang keluarga. Masuk ke dalam kamar dengan membanting keras pintu kamarnya.
"Maafkan Ardian, Bu." Ardian menatap kepergian istrinya dengan rasa bersalah.
"Jujur sama Ibu, kamu pergi kemana? Istri kamu sampai berfikir negatif. Menganggap kamu mencari wanita lain."
"Astagfirullahal'adzim, Ardian tidak pernah melakukan itu, Bu. Demi Allah, Ardian tidak pernah berniat melakukan tindakan bodoh. Sudah cukup kebodohan di masa lalu yang membuatku menderita sampai sekarang." Ardian hanya bisa menarik nafas panjang mendengar aduan mertuanya.
********
__ADS_1