
"Eheheh.. alhamdulilah, Bu. Ardian tersenyum meringis. Salah tingkah mendengar pertanyaan Bu Sulis.
"Itu berarti dia ngidam, Nak. Harus diusahakan itu. Kalau nggak kesampaian kemauannya bahaya itu. Nanti anaknya ileran lho.."
"Masa sih, Bu?" Ardian menggaruk-garuk kepalanya bingung. "Dapat dimana coba buah itu, Bu. Yang matang aja tidak ada yang di jual saat ini."
"Mm.. di rumah kakeknya Manda kayaknya ada, Nak?"
"Beneran, Bu? Rumahnya dimana? Apa aku boleh...."
"Eh ni anak antusias banget. Ibu tanyakan dulu sama Manda. Dia kemarin yang ke rumah kakeknya. Pulang-pulang dia bawa jeruk. Mudah-mudahan aja masih ada. Ayo ikut ke rumah Ibu. Nanti kalau ada, biar Ibu suruh Manda menemani kamu kesana."
Ardian mengikuti langkah Bu Sulis. Sudah lama tinggal di komplek perumahan ini. Baru pertama kali Ardian menginjakkan kaki di pekarangan rumah Bu Sulis.
"Tumben ya, masuk ke halaman rumah Ibu. Padahal rumah Ibu dan rumah mertua kamu bersebelahan loh."
"Aku yang jarang di rumah, Bu." Ardian duduk di bawah pohon rindang di halaman rumah Bu Sulis.
"Nggak mau masuk ke dalam aja, Nak."
"Disini saja, Bu, lebih nyaman."
Bu Sulis tersenyum melihat tingkah malu-malu Ardian. Hatinya juga tergelitik melihat perubahan pria itu. Padahal pas Ardian melakukan tindakan tidak senonoh pada Chayra dulu. Ingin rasanya dia membunuh Ardian. Karena bagaimanapun juga, dia menganggap Chayra seperti putrinya sendiri karena kebaikan hati gadis itu.
"Coba kamu tengok pohon jeruk di belakang rumah, Nak. Siapa tau ada buahnya yang masih nyangkut di pohon. Di rumah mertua kamu juga banyak pohon jeruk. Apa kamu sudah mencoba memeriksanya?"
"Sudah semua, Bu. Malahan sampai aku ditusuk-tusuk duri pohonnya. Tapi tetep aja nggak ketemu, soalnya kan nggak ada buah."
"Semua butuh perjuangan, Nak. Memang begitu orang ngidam. Keinginannya suka aneh-aneh."
Ardian hanya tersenyum seraya bangkit, untuk mencari buah jeruk di belakang rumah Bu Sulis.
"Jumpa dimana sama tu anak, Bu." Pak Sulaiman menepuk pundak istrinya. Menunjuk Ardian dengan isyarat matanya.
"Jumpa di depan tadi. Keliling komplek cariin si Ayra jeruk muda. Kasihan aku lama-lama sama tu anak."
"Kalem banget sekarang. Kalau dulu angkuhnya minta ampun." Timpal Pak Sulaiman.
"Sudah ah. Jodohnya orang baik kayak Ayra. Allah sudah mentakdirkan dia untuk berubah menjadi orang baik. Aku aja kasihan melihatnya sekarang." Bu Sulis berlalu meninggalkan suaminya untuk mencari Manda di kamarnya. Sekalian memintanya untuk menemani Ardian ke rumah kakeknya untuk mencari buah jeruk."
Pak Sulaiman hanya mengangguk. Matanya masih menatap ke arah Ardian yang terlihat sedang mendongak di bawah pohon jeruk.
"Kak Ayra sakit apa, Ma?" Manda keluar kamar sambil menggandeng tangan ibunya.
"Nanti kamu tanya suaminya ya. Mama tidak bisa menjelaskan. Kata Kak Ardian, Kak Ayra sakit dan pengen makan buah jeruk muda."
Manda menautkan alisnya. Bocah yang baru duduk di bangku kelas dua Sekolah Dasar itu menggaruk-garuk kepalanya bingung.
"Ada sih, Bu. Tapi, kecil banget." Ardian menunjukkan buah jeruk yang baru sebesar buah rambutan.
Pak Sulaiman menahan tawa melihat hasil petikan Ardian. "Itu sih masih pahit, Ardian. Sudah, kamu ajak saja Manda ke rumah kakeknya. Insya Allah, di sana buahnya masih ada."
__ADS_1
Manda berjalan mendekati Ardian. "Kak Ayra sakit apa, Kak?"
"Sakit aneh dianya, Dek. Soalnya, maunya yang aneh-aneh."
Manda memanyunkan bibirnya. "Apa Kak Ayra tidak demam? Manda ingin datang ke rumah Kakak untuk menengok Kak Ayra."
"Hehehe.... boleh, Dek. Tapi temenin Kakak cari buah jeruk dulu, yuk."
"Rumah Kakek jauh, Kak. Kakak harus pakai sepeda motor atau mobil kalau mau kesana."
"Nggak apa-apa, Dek. Mau pakai pesawat sekalipun, Kakak akan tetap kesana."
"Kalian pergi pakai motor saja biar cepet sampai. Ini hari libur, pasti ada saja titik kemacetan nanti."
Ardian sedikit terkejut melihat motor yang dimaksud Pak Sulaiman. Motor itu mirip sekali dengan motornya dulu. Ardian semakin terkejut saat Bu Sulis menyodorkan kunci dan helm kepadanya.
"Jangan terlalu banyak mikir, Nak. Nanti istrinya keburu ngambek."
Ardian menyambar kunci motor dan helm. Langsung memakainya dan meminta Manda untuk segera naik di belakangnya.
********
"Ini kenapa sampai seperti ini, Kak. Hilang setengah hari. Pulang-pulang, muka biduran kayak gini. Bukan hanya di wajah ni, Kak. Kayaknya di punggung sama dada Kakak juga banyak." Chayra mengomel sambil terus membalurkan minyak kayu putih di punggung suaminya.
"Digigit semut, Chay."
"Makanya Kakak udah kemana? Tumben juga Manda ikut sama Kakak. Biasanya ni bocah paling sulit di ajak keluar kecuali bersama orang-orang tertentu."
Chayra menepis pelan lengan suaminya. "Ini maksud Manda apa, Kak?"
"Kamu masih pengen makan jeruk nggak?"
"Huh, udah lewat. Pinginnya kemarin. Kalau sekarang udah nggak lagi. Kan Kakak capek nyari buahnya, tapi nggak ketemu juga."
Ardian langsung berbalik menatap istrinya. Raut wajahnya berubah sendu. "Serius kami udah nggak pengen lagi."
"Mmm..." Chayra mengangguk meyakinkan. "Kenapa sih, nanya terus? Kayak udah dapat buahnya aja. Atau... Kakak bersyukur karena tidak capek lagi cari buah itu."
Ardian menyebikkan bibirnya. "Aku udah dapat buahnya, Chay."
"Masa sih? Mana buahnya kalau udah dapat." Pura-pura celingukan mencari buah jeruk yang tidak terlihat di ruangan itu.
"Kamu nggak percaya sama aku?"
"Itu tadi Kak Ardian dikerumuni semut di pohon jeruk makanya tubuhnya biduran, Kak." Timpal Manda.
Chayra tertegun mendengar penuturan Manda. Menatap suaminya dengan tatapan kasihan. "Benar begitu, Kak?"
"Hehehe... cari jeruknya ke rumah orang tuanya Bu Sulis, Chay. Soalnya disini udah keliling komplek, tapi tak dapat-dapat."
"Maafkan aku, Kak." Mengusap-usap wajah suaminya.
__ADS_1
"Kamu makan ya jeruknya. Aku metiknya susah payah banget. Pohon jeruknya banyak. Tapi, hanya satu yang ada buahnya. Pohon yang dipenuhi semut itu."
"Mmm.. iya aku makan deh nanti. Maaf..."
"Kenapa minta maaf. Kamu nggak salah apa-apa kok."
"Tapi aku merepotkan Kakak sampai seperti ini."
"Nggak apa-apa. Ini sudah menjadi kewajiban aku."
"Kak Ayra Manda mau pulang dulu ya.. Nanti Manda main lagi kesini kalau adeknya udah keluar. Kata Mama, ada Adek di perut Kakak."
Ardian dan Chayra saling pandang. "Hehehe... iya, Dek. Tapi, adeknya keluarnya masih lama."
"Nggak apa-apa keluarnya kapan aja, Manda akan tunggu." Sambil salim pada Chayra dan Ardian. "Assalamualaikum, Kak."
"Wa'alaikumsalam.."
"Udah, Kakak hadap sana lagi. Pinggangnya juga harus di balur biar nggak gatal lagi."
Ardian mengikuti perintah istrinya. "Kasihan banget suamiku, cari jeruk sampai harus kayak gini."
"Demi kamu, Sayang. Apa sih yang nggak?" Menahan tangan Chayra yang sedang merayap di pinggangnya.
"Eh, kenapa ini?"
"Aku hanya ingin dipeluk kamu kayak gini. Kok rasanya enak banget. Membuat perasaan aku tenang gitu..."
"Iya, tapi masalahnya ini ruang tamu, Kak. Kalau ada yang lihat nanti bagaimana? Apalagi kalau Bian yang lihat. Bisa bara-bere nanti. Tau kan tu anak. Lepas ah..."
"Sebentar saja.."
"Ini tapi, kok aku yang terkesan seperti wanita genit, peluk-peluk pria dari belakang."
"Lho, genit sama suami sendiri kan dapat pahala."
"Tapi aku nggak suka. Kak Ardian bau keringat lagi. Pingin muntah lagi deh kayaknya ini."
"Kamu ini, Chay. Aku pakai parfum, kamu mau muntah. Aku nggak pakai parfum juga mau muntah. Sekarang aku bau keringat, kamu mau muntah lagi."
"Nggak tau, Kak. Tapi memang kayak gitu. Aku juga bingung."
"Bawaan anaknya itu, eneg sama bapaknya yang terlalu bucin sama ibunya."
Ardian mengusap-usap tengkuknya. Sedangkan Chayra langsung menarik tangannya. Matanya langsung menoleh ke arah pintu. "Eheheh.. Kak Zidane, kapan baliknya?"
"Huh, kalian ini ngapain peluk-pelukan di ruang tamu. Pelukan itu di kamar, biar nggak ada yang lihat."
"Aku sedang membalur tubuh Kak Ardian yang digigit semut, Kak. Nekat banget ni orang udah tau pohon jeruknya banyak semut. Eh, nekat metik buahnya."
"Kan kamu yang pengen makan buah jeruk, Sayang."
__ADS_1
"Bagus itu. Jadi suami itu memang butuh perjuangan yang penuh. Apalagi di saat istri ngidam dan ingin makan makanan yang aneh-aneh." Zidane berjalan mendekat. Meletakkan map yang di bawanya di atas meja depan Ardian dan Chayra.