Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Kabar pengobat rindu


__ADS_3

Di malam ketiga di luar kota, Ardian belum juga ada waktu untuk menghubungi istrinya. Dia mulai tidak fokus bekerja. Berulang kali di peringati oleh Pak Randi karena salah membawa dokumen. "Kamu kenapa, Ardian? Kamu terlihat tidak fokus dari tadi. Sudah dua kali kamu salah membawa berkas. Untung saja masih ada kesempatan untuk mengambilnya. Bagaimana kalau waktunya mepet dan kamu melakukan kesalahan yang sama?" Pak Randi berulang kali menarik nafas panjang karena perbuatan Ardian. "Kamu sedang memikirkan apa?" Akhirnya pertanyaan itu keluar karena raut wajah cemas Ardian yang tidak bisa disembunyikan.


Ardian mengangkat wajahnya. Merasa bersalah melihat raut wajah atasannya karena kesalahannya sendiri. "T... tidak ada apa-apa, Pak. Maafkan saya yang tidak bisa bekerja dengan baik."


"Apa terjadi sesuatu pada istrimu?" Pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dari mulut Pak Randi. Ternyata kehilangan istri saat melahirkan menyisakan trauma dan rasa bersalah yang sangat mendalam. Tangannya sedikit mencengkram bahu Ardian.


Ardian tertegun mendengar pertanyaan Pak Randi. Sampai sekarang dia belum menghubungi istrinya karena kesibukan yang tidak ada ujungnya. Dia hanya mengabari Chayra saat dia sampai di hotel. "A.. aku.. aku belum menghubunginya, Pak." Ardian mengerjap-ngerjap masih menatap Pak Randi dengan bingung. Kenapa dia merasa kalau atasannya itu bisa membaca pikirannya yang sedang kacau karena memikirkan Chayra.


"Selesai acara ini, segera hubungi istri kamu. Aku tidak mau ada orang yang merasakan penyesalan seperti yang aku rasakan sekarang."


Ardian mengangguk patuh. Kesadarannya kembali pulih saat Dodit menepuk pundaknya dari belakang. "Kita masuk ke ruang rapat sekarang. Kamu harus bisa mengontrol situasi hati kamu. Jangan sampai ada kesalahan lagi. Kita hampir mencapai final. Jangan sampai karena kesalahan kecil, investor sampai meragukan kemampuan kita."


Ardian tersenyum seraya mengangguk. "A.. aku akan berusaha memberikan yang terbaik. Maafkan aku lalai dalam menjalankan tugas. Aku akan berusaha untuk konsentrasi."


"Iya, kamu harus bisa membuktikan ke Pak Sucipto kalau kamu bisa diandalkan. Siapa tau tahun depan kamu naik jabatan menggantikan posisi Pak Randi."


"Eh," Ardian malah tersentak mendengar ucapan Dodit. "Ketinggian mimpinya, Dit. Posisi itu terlalu tinggi untuk anak kemarin sore seperti aku." Ardian tertawa kecil.


"Tidak ada yang tidak mungkin. Apalagi Pak Sucipto adalah salah satu pemegang saham, kan? Ah, kayaknya aku salah ngomong. Bukannya saham itu sudah atas nama kamu? Seharusnya kamu tidak perlu capek-capek bekerja menjadi asisten GM. Posisi kamu sebenarnya sudah ada di atas Pak Randi."


"Mana ada kayak gitu." Ardian tersenyum salah tingkah. "Ah, kayaknya aku akan langsung mengundurkan diri begitu terpilih menjadi GM. Aku takut tidak ada waktu untuk keluarga. Lihat aja Pak Randi sekarang. Dia terlihat kelimpungan membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan. Dia sering terlihat frustasi saat pekerjaannya benar-benar padat. Padahal dia sudah punya dua Asisten kan, aku dan kamu. Tapi masih saja dia terlihat kesulitan. Udah ah, ayo kita masuk. Semangat... ini adalah hari terakhir.." Ardian mengepalkan tangannya. Padahal dalam hati ingin rasanya merebahkan badan untuk melepas penat. Membahas masalah saham membuatnya tidak enak. Kalau dipikir dia memang tidak seharusnya menjadi Asisten GM. Tapi, dia buru-buru menepis pikiran itu. Pengalaman kerja itu yang perlu, bukan banyaknya kepemilikan batinnya.


Malam itu, Ardian kembali ke kamar hotel setelah lewat jam dua belas malam. Kondisi mata yang setengah sadar membuatnya langsung ambruk di atas tempat tidur. Sempat berjanji untuk menghubungi istrinya setelah selesai rapat, tetapi keadaan benar-benar tidak mendukung. Begitu acara ditutup, Ardian langsung pamit pada Pak Randi untuk kembali ke hotel karena kondisinya yang kurang sehat.


Ardian terbangun pukul empat pagi. Ia mengusap-usap matanya yang terasa masih mengantuk. Tapi, dia belum shalat Isya. Masih ada waktu setengah jam sebelum waktu subuh tiba. Ardian bangkit sambil menarik nafas dalam. Pekerjaan ini benar-benar menguras energinya.


Usai mendirikan shalat, Ardian membuka Al-Qur'an, membaca beberapa lembar dan berhenti setelah mendengar adzan Subuh berkumandang. Ia memutuskan akan menghubungi istrinya setelah shalat Subuh nanti.


Ardian meraih handphone yang belum sempat dia hidupkan sejak semalam. Baru menghidupkan, rentetan notifikasi pesan masuk bertubi-tubi masuk.


Assalamualaikum, Mas...


Kamu apa kabar, Mas. Kenapa tidak ada kabar? Pesan yang kedua masih dari orang yang sama.


Handphone kamu kenapa tidak bisa dihubungi, Mas?


Sesibuk apa sih, sampai tidak ada waktu untuk membalas pesan. Aku rindu..


Jawab kalau sudah tidak sibuk lagiaql...

__ADS_1


Ardian tersenyum membaca pesan terakhir dari istrinya. "Aku juga rindu sekali, Sayang." Tangannya langsung sibuk membalas pesan. Tapi, dia hapus pesan itu dan memilih untuk melakukan panggilan.


Tiga kali mencoba melakukan panggilan tetapi tidak ada jawaban. Perasaan Ardian mulai tidak tenang. Tidak biasanya istrinya tidak menjawab panggilan sesibuk apapun dirinya. Akhirnya, Ardian mencoba menghubungi Bian.


"Assalamualaikum..." senyuman Ardian langsung mengembang begitu tersambung.


"Wa'alaikumsalam.. ada apa, Kak, tumben menghubungi aku sepagi ini?"


"Eh, ni anak tidak pakai basa basi segala. Tanyain kek, Kakak sehat atau nggak disini."


"Ngapain, udah pasti Kak Ardian sehat kan, makanya bisa menghubungi aku."


Ardian menarik nafas dalam. "Kamu kok jadi ketus gini sih, sama Kakak?"


"Pakai basa-basi segala. Kakak bilang aja ada maunya makanya menghubungi aku."


"Kakak kamu kemana, kenapa tidak menjawab telepon aku?" Akhirnya Ardian mengalah karena Bian terdengar tidak mood untuk berbasa-basi.


"Ada di dapur lagi bantu Ibu masak. Aku sedang belajar makanya tidak bisa diganggu terlalu lama. Ada ujian membaca kitab gundul nanti siang. Maaf tidak bisa banyak membantu."


Ardian tersenyum. Adik iparnya ini sering memakai istilah yang terkadang dia tidak mengerti maksudnya. "Kitab gundul maksud kamu apa?"


"Ye elah, Kak. Kitab gundul aja nggak tau. Nggak lolos jadi mantu Kiyai kalau begini ceritanya."


"Hmmm.... giliran enaknya aja.. Coba Almarhum Bapak masih ada, Kakak pasti disuruh membaca kitab gundul sebagai mahar."


"Aku belum paham maksud kamu kitab gundul itu apa?"


"Kita gundul itu kitab yang ditulis tanpa baris. Kak Ardian tidak akan bisa membacanya karena Kakak tidak suka belajar ilmu Nahwu."


Ardian terdiam beberapa saat sebelum menjawab ucapan adiknya. "Iya... Kakak memang lemah dalam hal itu. Kakak bisa minta tolong sebentar." Mengalihkan pembicaraan mungkin lebih baik pikir Ardian.


"Apa?"


"Bisa kasih handphonenya ke Kakak kamu sebentar, Kak Ardian mau ngomong."


"Kak Ayra... suaminya mau ngomong ini.." Tiba-tiba Bian berteriak.


"Eh,Dek.. kenapa pakai acara teriak segala. Kenapa tidak mendatangi saja lalu berikan handphonenya baik-baik."

__ADS_1


"Ini juga aku udah di depannya."


"Terus kenapa harus teriak?"


"Kak Ayra suka lama kalau dilembutin. Mendingan pakai suara keras biar cepat loading."


Ardian menghela nafas. "Tidak apa-apa lah, yang penting kamu mau membantu Kakak."


"Assalamualaikum, Mas.. Ya Allah.. kamu kemana aja sampai nggak ada kabar sama sekali. Tau nggak aku sampai berpikir yang macam-macam karena kamu benar-benar tidak bisa dihubungi. Semalam aja merasa ragu untuk mengirim pesan. Tapi, karena didorong perasaan rindu, aku akhirnya memberanikan diri untuk mengirim pesan."


Ardian hanya tersenyum mendengar ucapan panjang lebar istrinya. "Maaf, Sayang," hanya kata itu yang keluar untuk menjawab sederetan kata panjang istrinya.


"Kamu kemana aja, Mas?" Ternyata sang istri masih membutuhkan penjelasan.


"Aku benar-benar sibuk, Sayang. Semalam aku sempat berniat untuk membuka handphone. Tapi, akunya ketiduran. Shalat Isya aja tadi pas mau datang waktu subuh."


"Hhmmm... mana kata-kata Mas Ardian sebelum berangkat yang bilang kalau tidak akan bisa tidur kalau tidak peluk aku?" Ternyata sang istri masih pada mode sakit hati karena tidak dikabari.


"Aku ketiduran karena kecapekan, Sayang. Bayangin aja, mulai rapat jam sembilan terus sampa jam dua belas. Masih ada acara penutupan dengan minum-minum semalam, ta..." belum Ardian selesai ngomong, Chayra sudah memotong.


"Terus kamu ikutan minum, Mas?!" Mata Chayra melotot menunggu jawaban suaminya.


"Kamu ini, Chay. Aku belum juga selesai cerita sudah main potong aja. Ya.. nggak lah, aku nggak akan berani lagi menyentuh minuman itu. Pak Randi dan Dodit aja menolak. Pak Randi malah memberikan jawaban yang sangat bijak. Kamu mau dengar?"


Hening..


Tidak ada jawaban dari istrinya. Tapi, Ardian yakin kalau istrinya sedang menunggu kelanjutan ceritanya. "Pak Randi bilang, kami memang bukan Muslim yang taat, tetapi kami masih tau batasan. Eh, ucapannya itu malah berpengaruh besar dan membuat banyak orang sadar."


Masih tidak ada respon dari istrinya. Lama menunggu dan tidak ada suara. "Chay, Chay... kamu masih disana, kan?"


"Mas...."


"Eh, iya, Sayang ada apa?"


"Video call ya.. aku pingin lihat kamu. Tapi, tunggu dulu aku mau mengambil handphoneku di kamar. Bian pelit banget, pakai acara tarik handphonenya segala dari telinga aku."


"Oh, iya Sayang. Aku tunggu kamu. Cepetan ya.."


Chayra akhirnya menyerahkan kembali handphone Bian. Wajah adiknya itu sudah benar-benar terlihat asin. Bian memang sedang belajar, itulah mengapa dia merasa terganggu.

__ADS_1


Setelah menggunakan handphonenya, Ardian dan Chayra saling melepas rindu. Tidak terasa mereka melakukan panggilan video sampai jam tujuh pagi. Panggilan ini ternyata berhasil menjadi pengobat rindu yang sudah ditahan sejak beberapa hari terakhir ini.


********


__ADS_2