
Pagi itu, Ardian mengajak Chayra untuk lari pagi. Selama mereka menikah, tak sekalipun mereka keluar
"Ayo, mumpung hari Minggu. Kamu belum pernah kan, keliling komplek selama tinggal disini?"
"Malu, Kak. Bagaimana coba. Masa iya, aku jalan-jalan dengan pakaian seperti ini?" Chayra menyentuh bajunya.
"Perasaan kemarin pas ke Mall, kamu ganti cadar kamu dengan masker. Apa kamu tidak bisa melakukan itu sekarang?"
"Berat rasanya. Aku ingin istiqomah seperti ini. Ibu akan sangat marah kalau sampai tau aku buka tutup cadar."
"Tapi, aku inginnya berbeda dengan Ibu."
"Maksudnya..?"
Ardian berjalan mendekat. Ingin rasanya dia memeluk istrinya itu dari belakang. Memeluknya sambil melihat pantulan wajah mereka di depan cermin.
"Mm.. aku.. aku.."
Chayra menahan senyumnya melihat gelagat Ardian. Terlihat jelas kalau pria itu ingin mengatakan sesuatu, tetapi malu untuk mengatakannya.
"Apa.. ngomong aja, Kak. Dulu perasaan, Kakak selalu berkata sinis padaku. Kok sekarang seperti terbalik seratus delapan puluh derajat."
"Itu terjadi karena aku belum mengenal kamu."
"Lalu sekarang apakah Kak Ardian merasa sudah mengenalku?"
"Mmm.." Ardian mengangguk. "Apa.. apa aku boleh meminta sesuatu sama kamu?"
"Apa.. Kakak katakan saja."
"Mm.. maukah kamu menemaniku untuk konsultasi ke Dokter?"
"Konsultasi untuk apa?"
"Aku mau menghapus yang di punggungku ini."
Chayra tertegun. "Kak Ardian benar-benar mau melakukan itu?"
"Tentu saja. Aku sudah bilang, kalau aku akan berubah demi kamu."
"Jangan berkata begitu. Jika Kak Ardian benar-benar ingin berubah, berubah lah karena Allah."
Ardian terdiam sejenak. Terdengar helaan nafas berat darinya. "Apakah ucapanku yang kemarin kamu anggap main-main?"
"Ucapan yang mana maksud Kakak?"
"Aku menyimpan perasaan padamu."
Chayra terdiam. Matanya menatap Ardian. Tak sedikitpun dia berpaling, walaupun Ardian juga sedang menatapnya.
"Kenapa..? Apa kamu akan marah karena hal itu?"
Chayra menggeleng. "Aku hanya takut, Kak. Aku.. aku takut tidak bisa membalas perasaan Kakak."
"Aku akan berjuang sampai kamu juga bisa mencintaiku."
"J... jangan lakukan itu. Akan banyak hati yang terluka jika kita saling jatuh cinta."
"Apakah kamu lebih mementingkan perasaan orang lain daripada perasaanku?"
"Buka..."
"Aku suamimu, Ayra. Aku yang paling berhak kamu cintai. Bukan Pak Ghibran atau siapapu itu."
"Ja......."
__ADS_1
"Jangan bilang, kalau kamu hanya berniat membantuku untuk berubah. Setelah itu kamu akan meninggalkanku. Apakah itu yang ada dipikiran kamu?"
Chayra menelan ludahnya. Semua ucapan Ardian tidak bisa terelakkan. "Aku.. hanya.. ingin..."
"Jangan pikirkan Amira lagi. Wanita itu sudah tidak ada lagi dalam kamus hidupku."
Chayra tersentak. Tatapannya langsung berubah sendu. "Apakah secepat ini anda melupakan dia?" Hilang sudah panggilan manis gadis itu untuk Ardian. Kini panggilan formal yang dulu terucap kembali.
"Dia berkorban banyak untuk anda. Dia bahkan sampai menghancurkan masa depannya untuk anda. Apakah tidak ada rasa kasihan anda setelah anda merenggut apapun itu bentuk kebahagiaan yang dimilikinya."
"Dia yang meninggalkan aku duluan. Dia yang membiarkan aku menjalani pernikahan ini. Jadi, jangan salahkan aku kalau aku mencintaimu sekarang."
Chayra tidak tau harus berkata apa lagi. Dia pikir, ucapan Ardian di depan Ghibran kemarin hanya untuk memanas-manasi Ghibran saja. Kini, suaminya itu sudah mengatakan yang sebenarnya.
Ardian menarik nafas dalam. "Maafkan aku berkata kasar padamu." Meraih tangan Chayra dan menciumnya lembut. "Aku benar-benar mencintai kamu. Jangan hancurkan perasaan yang baru tumbuh ini dengan menolak perasaanku. Setidaknya, cobalah menjalani hubungan ini denganku. Aku yakin, lama-kelamaan kamu akan terbiasa dengan keberadaanku di sisimu."
Chayra hanya menanggapinya dengan diam. Bagaimanapun juga, dia sudah berjanji pada Amira kalau dia akan menjaga diri agar tidak menaruh perasaan pada Ardian.
"Jangan pikirkan Amira lagi. Dia tidak akan kembali karena dia akan menikah disana."
Pernyataan Ardian membuat Chayra langsung tersentak kaget.
"Kamu bingung darimana aku mengetahui semuanya?"
Chayra masih diam, menunggu kelanjutan kalimat pria itu.
"Kamu bisa membuka handphone kamu kalau kamu mau tau jawabannya."
Chayra menatap Ardian sekilas. Tangannya langsung meraih benda gepeng yang tergeletak begitu saja di pinggir ranjang.
Mata Chayra membulat sempurna saat melihat pesan WhatsApp dari Amira.
'Wa'alaikumsalam.. tumben menghubungiku duluan?'
Ini bukan Ayra. Ini Ardian..
Gue sudah tidak pegang handphone lagi. Papi tidak mengizinkan gue pegang handphone karena gue harus fokus menjadi orang yang lebih baik.
'Alhamdulillah..'
Gue mau tanya sesuatu sama lho.
'Apa..?'
Kenapa lho menyuruh Ayra untuk membuat gue berubah. Kalau lho mau melihat gue berubah, kenapa lho nggak melakukan itu dari dulu.
'Gue tidak memintanya, tapi dia sendiri kan yang memutuskan untuk menikah dengan Kakak. Lagian, sekarang gue udah bertunangan di sini. Gue nggak akan ngemis cinta lagi sama Kak Ardian. Kita jalani hidup masing-masing mulai dari sekarang.'
Baguslah kalau lho sadar diri.
'Mm.. apa aku boleh bertanya?'
Silahkan.. jika gue bisa menjawab, gue akan jawab.
"Apa Kakak mencintai Ayra?'
Tentu saja karena dia istriku. Setiap hari gue melihatnya tersenyum. Selalu mengingatkan gue kalau gue berbuat salah. Mungkin itu yang membuat gue sampai secinta ini sama dia."
'Jaga dia untukku. Assalamualaikum..'
Wa'alaikumsalam..
Chayra kembali menatap Ardian setelah selesai membaca pesan itu. "Kenapa Kakak tidak pernah menceritakan ini padaku?"
"Pesan itu ada di handphone kamu. Seharusnya kamu sudah tau dari kemarin."
__ADS_1
"Aku jarang berkirim pesan dengannya. Sekarang aku harus bilang apa padanya?"
"Jangan ganggu dia lagi. Aku sudah bilang sama kamu kalau dia akan segera menikah. Kalau kamu terus menghubunginya, aku takut dia tidak bisa fokus pada pernikahannya."
"Kenapa Kakak bisa setenang dan sesantai ini saat mengatakan dia akan menikah. Apakah Kakak tidak merasa kehilangan?"
"Aku sudah terlanjur kecewa padanya. Dia yang membuatku sampai seperti ini."
Chayra hanya bisa menarik nafas panjang. Menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Apakah dia akan terjebak selama-lamanya dalam pernikahan ini? Hal ini menjadi tanda tanya besar di otaknya.
Akhirnya jalan-jalan pagi itu dibatalkan karena perdebatan panjang yang tidak ada ujungnya itu benar-benar menyita waktu.
********
Ardian termenung di depan kelas Chayra. Ia berulang kali mengumpat karena kesal. Bagiamana tidak kesal. Ghibran yang sedang menyampaikan materi di dalam kelas istrinya seperti sengaja berdiri di dekat Cahaya duduk. Sengaja menjelaskan materinya dari sana setelah menyadari keberadaan Ardian. Beberapa kali melakukan tanya jawab dengan Chayra membuat Ardian semakin kesal.
Ardian sengaja menghindar setelah Ghibran selesai. Meninggalkan depan kelas dan berjalan berlawanan arah dengan tujuan Ghibran. Kembali mendekati kelas setelah yakin kalau Ghibran sudah pergi.
Ardian tersenyum hangat saat melihat istrinya keluar. Wanita itu juga tersenyum, terllihat matanya menyipit.
Perdebatan panjang hati Minggu kemarin menghasilkan kesepakatan. Mereka akan berdamai dengan keadaan. Membiarkan kemana saja takdir cinta membawa mereka. Mereka tidak bisa berbuat banyak karena mereka tidak bisa mengalahkan takdir.
Ardian menggandeng tangan Chayra. Gadis itu mulai terbiasa dengan hal itu. Tidak ada lagi penolakan dari hatinya kalau hanya untuk sekedar bergandengan tangan.
"Kita langsung pulang."
"Ucap Ardian tanpa basa-basi."
"Lho, ada apa?"
"Ada sesuatu yang harus kita selesaikan hari ini. Ini demi masa depan kita kita."
"Bilang dulu. Aku tidak mau pulang, kalau hal itu masih menjadi rahasia."
"Kamu ini benar-benar ya.." Ardian mencubit gemas pipi Chayra.
"Aaa... sakit, Kak."
"Hehehe.. Ardian nyengir. Berinteraksi seperti ini dengan Chayra membuat perasaannya berbunga-bunga.
"Kalian ini kenapa kayak anak kecil sih?!" Alesha menyela karena dua manusia didepannya benar-benar berisik.
"Ups, astagfirullah maaf, Lesha. Ini semua gara-gara Kak Ardian. Coba aja tangannya nggak usah gatal-gatal ingin nyubit. Aku pasti tidak berisik."
"Kelakuan kamu terlalu menggemaskan kalau hanya untuk ditonton."
Tina yang berdiri di belang mereka ternyata merekam kejadian itu. Setelah selesai, dia langsung mengirimnya pada Amira.
Mir, mungkin lho tidak akan baik-baik saja setelah melihat kejadian yang gue kirim ini.( Caption orang menangis)
Tak berapa lama kemudian..
Alhamdulillah banget kalau mereka bisa seperti ini. Gue ikut bahagia, Tin. Terimakasih sudah mengabari semuanya.'
Tina sedikit terkejut saat membaca balasan Amira.
Lho nggak salah tulis kan?
Tidak. Itu semua benar adanya. Gue akan menikah di sini. Maaf nggak bisa ngundang kalian karena jarak.
Lho ini.. kenapa lho nggak cerita dari kemarin-kemarin?
'Gue terlalu sibuk. Sorry...'
"Huh," Tina mendengus seraya memasukkan handphonenya ke dalam saku.
__ADS_1
*******