Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Semakin tinggi pohon semakin kencang angin yang meniupnya


__ADS_3

Sudah satu bulan ini Ardian aktif bekerja. Pekerjaannya yang dipercayakan kepadanya semakin bertambah. Dia tidak sadar kalau anggota Dewan Direksi sedang melihat perkembangannya. Apakah dia pantas dipromosikan menjadi calon General Manager menggantikan Pak Randi atau kemampuannya masih perlu di asah lagi. Berdasarkan kesepakatan anggota Dewan Direksi dua minggu yang lalu, Ardian sedang diincar sebagai General Manager karena Pak Randi memilih off karena ingin fokus pada proses penyembuhannya.


Salah satu Dewan Direksi mengusulkan untuk mencari orang lain yang lebih dewasa dan berpengalaman. Tetapi, anggota Dewan yang lain menolak dengan berbagai alasan. Apalagi melihat Ardian selama ini yang selalu bekerja dengan jujur.


Malam itu setelah pulang dari Kantor, Ardian bergabung ke ruang keluarga setelah membersihkan badannya. Karena ada rapat di luar dia menghubungi istrinya untuk tidak sibuk menyiapkan makan malam, karena dia akan makan malam di luar.


"Kayaknya kedepannya aku akan sangat sulit untuk mengambil cuti lagi, Chay." Ardian duduk bersandar di sofa ruang keluarga dengan Chayra yang bersandar di dadanya. Mereka sedang melihat perkembangan putra mereka yang sedang belajar berdiri.


Chayra yang sedang asyik menikmati belaian Ardian sambil menatap putranya tidak sadar dengan apa yang diucapkan suaminya.


"Chay...."


"Mmm... lihat deh, Mas. Adzra kok semakin menggemaskan sekarang." Chayra menepuk-nepuk paha suaminya.


Ardian menautkan alisnya sambil menatap istrinya. "Apa kamu mendengar ucapanku?"


"Hah," Chayra kembali mendongak menatap suaminya. "Kamu memangnya bilang apa tadi?"


Ardian mendengus. "Kamu dari tadi asyik bersandar terus nggak sadar aku bilang apa?"


Chayra menggeleng lemah. "Aku kan dari tadi memperhatikan Adzra terus, Mas. Pikiranku sepenuhnya fokus pada bocah ini."


"Terus kamu asyik bersandar di aku menganggap aku hanya bantal saja?"


"Eh, astagfirullah, kok ngomongnya gitu sih, Mas. Ya wajarlah aku memperhatikan Adzra tadi. Dia kan sedang belajar berdiri. Siapa sih yang tidak mau menikmati setiap momen perkembangan anak mereka."


"Bukan begitu maksud aku. Dari tadi aku capek cerita, kamu malah tidak mendengarkan aku sama sekali."


Chayra tersenyum seraya menepuk-nepuk pelan pipi suaminya. Melihat tampang cemberut suaminya membuat tangannya gatal ingin mencubit pipi putih bersih tanpa jerawat itu.


"Eh, kenapa malah kayak yang gemes lihat aku kesel." Ardian menahan tangan istrinya yang menempel di pipinya.


"Kamu memang terlihat menggemaskan kalau kesel, Mas. Makanya tangan aku gatal ingin mencubit kamu."

__ADS_1


Ardian akhirnya hanya bisa tersenyum seraya menarik nafas panjang. Rasa kesalnya menguap begitu saja melihat tingkah istrinya. "Aku mau berbagi sama kamu, Sayang. Kamu dengarkan aku curhat ya.. Kamu kan pernah bilang sama aku kalau aku ada masalah, aku harus cerita ke kamu. Siapa tau kamu ada solusi."


Chayra terdiam sejenak seraya menatap suaminya. Memperbaiki posisi duduknya setelah puas menatap wajah sang suami. "Ok.. ok.. aku dengarkan sekarang. Kamu ada masalah apa, Mas." Mengerjap-ngerjap manja menatap suaminya.


Ardian menghela nafas berat. Mencubit pipi istrinya karena tatapan Chayra membuat dadanya berdebar tak menentu. "Sebenarnya bukan masalah. Tapi, kayaknya ke depannya aku akan semakin sibuk, Chay. Barusan Dodit cerita ke aku kalau Pak Randi memilih untuk mengundurkan diri dari jabatannya."


Chayra menautkan alisnya heran. "Terus hubungannya dengan kamu apa, Mas?"


"Aku hanya disuruh bersiap saja, Sayang. Kemungkinan besar aku yang akan menggantikan posisinya."


Chayra langsung terhenyak. Genggaman tangannya mengendur perlahan. "K.. kamu akan menggantikan posisi Pak Randi, Mas?"


Ardian menarik tangan istrinya lalu menggenggamnya. "Itu masih wacana, Sayang. Itu kata Dodit tadi pagi. Tapi, aku juga sudah menandatangani surat pernyataan untuk mengikuti promosi jabatan itu, Sayang. Ada tiga orang yang dipromosikan dan salah satunya itu aku."


"Yang memegang jabatan itu sekarang siapa, Mas?" Tanya Chayra lagi dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak oleh suaminya.


"A.. aku. Mm.. itulah mengapa aku sering pulang malam sekarang. Maaf tidak menceritakan ini sebelumnya."


Chayra menarik sedikit sudut bibirnya. "Nggak apa-apa, Mas. Alhamdulillah atas pencapaian ini. Jika memang kamu benar-benar diangkat menjadi General Manager, ya... aku hanya bisa berkata alhamdulilah. Itu adalah pencapaian yang patut disyukuri, Mas. Orang saja berpuluh-puluh tahun bekerja, tetapi masih jalan di tempat. Kamu baru saja dua tahun bekerja. Bukankah itu merupakan suatu anugerah yang patut kita syukuri? Tapi, ada hal yang harus kamu ingat, Mas. Pohon kayu semakin tinggi pokoknya, maka akan semakin tinggi angin yang meniupnya. Begitu pula dengan kehidupan ini. Semakin tinggi jabatan yang kamu dapatkan, maka akan semakin banyak cobaan yang menimpamu."


"Kita harus selalu saling mengingatkan, Mas. Istri itu pakaian untuk suaminya dan sebaliknya. Aku hanya tidak mau kamu berubah setelah mendapatkan jabatan yang tinggi."


Ardian tersenyum mendengar nasehat istrinya. "Setiap kata yang keluar dari mulut kamu selalu menenangkan hati. Tapi.. jika aku mengambil jabatan ini waktuku untuk keluarga akan semakin berkurang, Chay. Aku akan selalu pulang malam."


"Tidak selamanya kamu akan pulang malam terus, Mas. Perusahaan sudah mempunyai batas jam kerja. Kecuali kalau ada lembur atau rapat di luar ruangan, itu mungkin memakan waktu. Lagian kan masih ada hari libur nasional. Kamu hanya perlu mengatur waktu saja."


"Terimakasih dukungannya, Sayang." Ardian merebahkan kembali kepala istrinya di dadanya. Kegundahan yang melanda hati Ardian memudar setelah ia mendengarkan dukungan dari istrinya. Mereka kembali fokus memperhatikan putra mereka yang terlihat masih semangat belajar berdiri.


**********


Seminggu kemudian...


Pagi itu Ardian berangkat pagi-pagi sekali. Ingatannya penuh oleh ucapan Dodit semalam yang memintanya untuk bersiap mengikuti rapat Dewan Direksi siang ini. Sebenarnya, dia selalu hadir dalam setiap rapat karena statusnya yang menjadi sekretaris Direksi. Tapi, rapat kali ini terasa berbeda. Kekosongan jabatan General Manager yang sudah berlangsung hampir sebulan ini membuatnya merasa dag dig dug mengikuti rapat. Apalagi setelah mendengar wacana yang digadang-gadang kalau dirinyalah yang akan menggantikan posisi Pak Randi itu.

__ADS_1


Siang itu sehabis shalat Zuhur, Ardian menghubungi istrinya. Hal yang selalu dia lakukan kalau ada waktu senggang. Setelah ngobrol hampir sepuluh menit, Chayra tidak lupa memperingati suaminya untuk menghabiskan bekal makan siang yang dibawanya.


"Jangan lupa bekalnya dihabiskan, Mas."


"Iya, Sayang. Aku kerja dulu ya. Kamu juga jangan lupa makan. Habis makan siang aku ada rapat dengan Dewan Direksi. Aku tidak tau sampai jam berapa. Intinya aku akan pulang habis rapat. Kalau aku pulang terlalu malam, kamu jangan menungguku pulang. Istirahat saja duluan."


"Iya, Mas."


"Aku tutup ya, Sayang.. assalamualaikum.."


"Wa'alaikumsalam.."


Ardian memasukkan handphonenya ke dalam saku jasnya. Tidak lupa ia mematikan handphonenya terlebih dahulu agar tidak ada gangguan saat rapat berlangsung nanti. Ia membuka bekal makan siangnya dan makan dengan santai menikmati masakan istrinya.


"Ar, santai banget lu. Rapat bentar lagi di mulai." Dodit muncul di depan pintu. wajahnya terlihat segar karena baru selesai shalat.


Ardian melirik jam tangannya. "Jam istirahat masih panjang, Dit. Ngapain harus tergesa. Makanan itu harus dinikmati biar nikmat. Kalau hanya dimasukkan paksa tanpa dinikmati, kita seperti tidak menghargai istri yang sudah masak enak dengan capek. Percuma dia menakar bumbu-bumbu dengan pas kalau kita tidak menikmatinya." Kembali menyuapkan nasi ke mulutnya.


"Ya.. ya.. terserah kamu. Apa kamu sudah mempersiapkan mental kamu untuk kemungkinan terburuknya nanti?"


"Kemungkinan terburuk apa maksud kamu?" Ardian menimpali sambil mengunyah dengan pelan.


"Kemungkinan kalau kamu tidak terpilih sebagai GM."


"Kenapa harus dipusingkan. Kalau tidak terpilih aku akan tetap menjalankan peranku sebagai Sekretaris Direksi. Jadi sekretaris juga memangnya tidak digaji. Intinya aku butuh pemasukan setiap bulan untuk menghidupi keluargaku. Kakek sudah menargetkan untuk jatah istriku setiap bulan."


"Hahahaha... nasib lu punya istri yang lebih kaya. Coba cari wanita biasa, nggak usah terlalu pemilih."


"Kamu kan tau ceritanya, Dit. Aku malah yang terlalu bodoh karena tidak mengenal dia dari pertama kali bertemu. Yang ada aku malah membencinya." Ardian tersenyum kecut mengingat kebodohannya di masa lalu. "Kamu tau, Dit. Satu minggu yang lalu aku curhat ke istriku tentang promosi jabatan ini. Dia bilang alhamdulilah, tapi dibarengi dengan nasehat panjang lebar yang membuat perasan ini langsung tenang."


Dodit mendengus. "Kenapa kamu malah curhat. Udah cepetan habiskan makanan kamu. Aku tunggu di ruang rapat." Dodit keluar lalu menutup pintu dengan pelan.


Ardian tersenyum lalu segera menghabiskan makanannya. Ia tidak mungkin telat ke ruang rapat karena imagenya akan langsung hancur jika dia yang calon GM telat menghadiri rapat.

__ADS_1


*********


__ADS_2