
"Kami sudah menyelidiki semua teman-teman Ardian, Abi. Tapi, semuanya terlihat prihatin dengan tersebarnya berita itu. Apalagi mendengar pengakuan mereka yang tidak percaya dengan berita ini. Mengingat kalau Ardian tidak pernah lagi berkunjung ke tempat itu." Pak Ismail menjelaskan hasil penelusurannya.
"Berita dari yang lain sudah masuk? Tinggal menunggu hasil mereka. Siapa yang mengunggah video itu pertama kali."
"Yang memposting pertama kali sudah menghapus postingannya. Akunnya juga sudah di blokir." Sambung Pak Ismail lagi.
"Kenapa tidak mengkonfirmasi dulu ke kita siapa pemilik akun itu."
"Pemilik akun memakai nama samaran, Abi. Fotonya juga menggunakan foto kartun. Menurut keterangan yang saya dapat, pelakunya berada di luar negeri."
Deg...!
Ardian dan Chayra langsung saling pandang. Mereka sama-sama memikirkan nama seseorang yang berada di luar negeri.
"Sudah, nanti kita selidiki lagi. Abi capek sekarang, mau istirahat dulu." Pak Akmal langsung berlalu sambil memijit pelipisnya menuju kamar yang ditempatinya saat berkunjung ke rumah ini.
"Kalian juga istirahatlah. Aku lihat tampangmu sangat menyedihkan, Ardian." Ucap Pak Ismail. Padahal kalau di lihat dari raut wajahnya. Dialah yang sedang kecapekan. Perintah mertuanya benar-benar membuatnya kehilangan banyak waktu dan banyak tenaga. Sifat Pak Akmal yang tegas dan tidak suka dengan opini yang beredar. Membuatnya harus benar-benar mendapatkan apa yang diinginkan mertuanya.
Chayra langsung menarik tangan suaminya untuk masuk ke kamar. "Abah kalau ucapannya ditimpali malah jadi panjang nanti ceritanya." Bisiknya sambil terus berjalan.
"Kamu ngomong apa, Chay? Aku nggak dengar apa yang kamu ucapkan." Ardian bertanya karena mendengar Chayra bicara tidak jelas.
"Sssttt.. nanti aku jelaskan di dalam kamar." Berhenti sejenak lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Ardian akhirnya menuruti titah sang istri. Mau bicara lagi, tapi Chayra keburu menarik tangannya.
"Kamu bilang apa tadi?" Ardian menagih Chayra saat mereka masuk ke dalam kamar.
"Ucapan Abah jangan ditimpali, nanti panjang ceritanya." Chayra menyimpan tas pinggang kecil yang dibawanya tadi di atas meja.
"Oh, gitu ya.." Ardian melangkah pelan mendekati ranjang. Duduk di sisi ranjang sambil mendongak langit-langit. "Apakah mungkin Amira yang melakukan semua ini, Chay? Kok, aku langsung memikirkan nama dia saat Abah menyebut luar negeri tadi."
"Astagfirullahal'adzim, jangan su'udzon dulu, Kak. Dapat darimana coba, kalau memang dia yang melakukannya? Lagian dia sudah lama tidak pernah menghubungiku lagi. Mungkin dia sudah disibukkan olek keluarga barunya.
Chayra menarik nafas dalam. "Kita istirahat dulu. Ini sudah jam sebelas malam." Chayra menunjuk jam dinding. "Kalau terus dipikirkan, masalah ini akan menguras tenaga dan pikiran. Dibawa santai saja. Toh, itu hanya masa lalu, kan?"
__ADS_1
"Aku nggak bisa, Chay." Ardian mengusap wajahnya kasar. "Kenapa juga aku kebawa perasaan seperti ini. Kalau dulu, aku nggak pernah sampai seperti ini."
Chayra mendengus mendengar ucapan suaminya. "Dulu Kakak tidak ada iman, tidak ada beban. Yang ada Kakak hanya mau menikmati hidup tanpa memikirkan bekal yang akan dibawa saat mati." Chayra meraih wajah suaminya agar menatapnya. "Ardian yang sekarang sudah berbeda. Memiliki tujuan hidup, memiliki tanggung jawab dan yang pastinya, sedang mengumpulkan bekal untuk akhiratnya."
Ardian tersenyum lembut pada istrinya. Menarik tali niqab yang menutup wajah istrinya. "Menatapmu seperti ini membuat jiwaku lebih tenang, Chay. Dan yang pastinya, perkataan yang keluar dari mulutmu, seperti kata-kata mutiara yang menginspirasiku untuk bangkit kembali." Menahan dagu Chayra agar gadis itu tidak menunduk.
"Apaan sih, Kak. Malu ah, dilihatin seperti itu." Menepis jari tangan Ardian yang menahan dagunya. Wajahnya sudah berubah menjadi kepiting rebus.
Ardian berpaling seraya tersenyum, menggigit bibir bawahnya. Kembali menatap Chayra setelah bisa menguasai diri. "Kamu terlihat semakin menggemaskan kalau terlihat malu-malu seperti ini." Mencubit pelan pipi Chayra.
"Tidur, ah. Kalau ngobrol malah semakin panjang." Chayra merebahkan tubuhnya. Menutup wajahnya dengan selimut karena wajahnya terasa memanas.
Namun, sepersekian menit dia merebahkan tubuhnya, tidak terasa ada pergerakan dari suaminya. Menyibak selimut yang menutupi wajahnya. Ternyata, tak sedikitpun Ardian berpindah posisi. Pria itu masih setia mendongak langit-langit kamarnya.
Akhirnya, Chayra membuang nafas kasar seraya bangkit lagi. "Tidur, Kak..." menepuk pundak Ardian pelan.
"Eh, iya.." Ardian yang terkejut langsung menoleh. "Mm... kamu tidur saja duluan. Aku akan menyusul nanti."
"Terus Kakak mau ngapain?"
"Duduk merenungi nasib. Merutuki kebodohanku di masa lalu." Jawab Ardian tanpa basa-basi.
"Sampai Allah menghilangkan beban pikiran ini."
Chayra mendengus, duduk sambil bersedekap. Memutar otak, bagaimana caranya agar Ardian mau istirahat.
"Mm.. Chay.."
"Iya..."
"Aku mau shalat dulu ya. Mau minta petunjuk sama Allah." Seraya bangkit. Namun, Ardian berbalik lagi. Mendaratkan ciuman di dahi, pipi kiri kanan, lalu bibir istrinya. "Aku lupa memberikan ciuman sama kamu. Mungkin itu juga yang menambah beban pikiranku tadi. Aku lupa membuktikan kasih sayangku pada istri tercinta." Berbalik lagi melanjutkan niatnya untuk mengambil air wudhu.
Chayra menyebikkan bibirnya. Namun, dia mengulas senyum sambil meraba bibirnya yang tadi di cium Ardian. "Apa hal ini yang membuatku sulit tidur dari tadi?" Bertanya pada dirinya sendiri. Menarik nafas dalam. Merebahkan kembali tubuhnya yang terasa lelah.
Chayra benar-benar tidak terpengaruh dengan berita itu. Dia terlihat santai dan tidak mau ambil pusing dengan semua itu.
__ADS_1
Mencoba memejamkan matanya setelah lama mendongak langit-langit kamarnya. Laki-laki yang dia harapkan akan memeluknya tidak kunjung selesai shalat.
Chayra akhirnya bangkit lagi. Matanya benar-benar tidak mau terpejam. Mata itu malah lebih nyaman ketika diajak menatap pria yang sedang khusyuk berdo'a dengan suara isak tangis yang ditahan.
Chayra merangkak ke sisi tempat tidur. Duduk di sisi ranjang, tepat di belakang Ardian yang sedang berdo'a. Tiba-tiba saja dia mendapatkan ide untuk merekam tindakan suaminya itu.
Sekitar lima menit Chayra merekam. Ia berbalik, segera merebahkan tubuhnya. Takut kalau Ardian mengetahui aksinya tadi.
Chayra pura-pura memejamkan matanya saat Ardian selesai curhat pada Allah SWT. Merasakan ada pergerakan di tempat tidur, ia bisa menarik nafas lega. Itu berarti suaminya ada niat untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Ardian mencium pelipis Chayra lalu memeluknya dengan erat. "Terimakasih sudah bersedia menjadi bagian dari hidupku. Terimakasih atas bimbingan kamu selama ini." Ardian memejamkan matanya. Mencium pucuk kepala istrinya lama. Menghirup dalam aroma sampo istrinya. Aroma yang selalu ia rindukan. Perlahan, ia mendekatkan bibirnya. Melakukan penyatuan dengan bibir Chayra.
"Hhmmmmppmm.."
Ardian terkejut dan langsung menarik diri. "Lho, kamu masih bangun, Chay?"
Chayra hanya mengap saat Ardian melepas ciumannya. Hidungnya terlihat kembang kempis karena tidak siap dengan perlakuan suaminya. "Kakak main nyosor aja. Aku kan nggak siap dengan perlakuan Kakak."
"Aku kira kamu sudah tidur, Sayang." Ardian kembali memeluk erat tubuh Chayra.
"Tadinya aku sudah tidur. Tapi, aku terkejut saat ada benda kenyal menempel di bibirku."
Ardian menggaruk-garuk kepalanya. "Maaf kalau perbuatanku mengganggu tidurmu. Aku merasa jauh lebih tenang sekarang. Selama aku shalat tadi, tiba-tiba saja ucapan Kakek terngiang-ngiang di telingaku."
"Ucapan Kakek yang mana maksud Kakak?"
"Ucapan Kakek yang menyuruhku untuk membuktikan, kalau yang diberita itu hanya bagian dari masa lalu. Aku sudah berubah sekarang. Seperti yang kamu ucapkan tadi, Ardian yang sekarang adalah Ardian yang memiliki tanggung jawab. Aku harus bangkit dan kembali beraktivitas seperti biasa. Aku harus bisa berdamai dengan keadaan. Itu semua demi kebaikan di masa yang akan datang.
Ardian menatap wajah Chayra dengan intens. "Soal penyebar berita itu, aku yakin kalau pelaku sebenarnya adalah Amira. Mungkin saja dia mau balas dendam sama aku karena perbuatanku padanya dulu."
"Sudah, jangan dibahas lagi. Lebih baik kita istirahat dulu." Chayra melingkarkan tangannya di pinggang Ardian.
"Aku harus mulai mencari pekerjaan untuk menghidupi kamu, Chay." Ardian bicara walaupun matanya terpejam.
"Kakak memang harus kerja. Tapi nanti kalau ijazahnya sudah keluar. Kakak tenangkan diri dulu sekarang. Ngapain coba, berfikir sampai sejauh itu."
__ADS_1
Ardian hanya tersenyum mendengar omelan Chayra. Baginya, omelan itu seperti nyanyian indah pengantar tidur.
********