
Usai shalat, Ardian mendekati istrinya yang terlihat bersandar dengan memejamkan matanya di sofa. "Bener kamu nggak apa-apa?" Tangannya sibuk meraba kening istrinya. Merasakan suhu tubuh Chayra normal, ia menarik nafas lega.
Chayra tersenyum meringis. "Perut aku melilit tadi, Mas. Kayak dipelintir terus kerasa kayak usus aku digulung-gulung. Aku kira mau melahirkan soalnya dua kali aku merasakannya dengan jarak beberapa menit."
Ardian melototkan matanya. Membayangkan rasanya kalau usus digulung-gulung pasti sangat sakit.
"Eheheh... udah ah, jangan tatap aku kayak gitu. Sekarang udah nggak sakit lagi kok." Chayra mengusap-usap wajah suaminya yang terlihat tegang. "Tadi aku kira mau melahirkan makanya melarang Mas Ardian ke Masjid. Tapi, tadi kontraksinya sebentar-sebentar dan sekarang perutku terasa sangat baik."
Ardian menarik nafas lega. Sedikit membungkuk dan mencium perut istrinya. "Sayang, kamu udah nggak sabar ingin keluar ya.. Tapi, jangan siksa mama kamu terus. Mama kamu sering sakit kalau kamu meronta-ronta terus." Dikecupnya lagi perut sang istri dengan durasi yang lebih lama.
Chayra tersenyum melihatnya. Diusapnya kepala Ardian yang malah memeluk perutnya sekarang.
"Sayang..." Ardian mendongak menatap istrinya. Rebahan di atas paha istrinya terasa nyaman.
"Mmm..."
"Perkiraan lahirnya berapa hari lagi ya..?"
Chayra mendongak mencoba mengingat. "Insya Allah, kalau nggak salah lima hari lagi, Mas." Kembali menatap Ardian seraya membelai lembut rambutnya.
Ardian terdiam beberapa saat. "Apa kamu tidak mau memberikan servis yang baik sebelum kita cuti nanti?" Menatap sang istri dengan penuh harap.
"Hah, apa yang mau diservis, Mas?"
Ardian bangkit seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Maksud aku gini.." memperbaiki posisi duduknya. "Kamu kan sebentar lagi mau melahirkan."
"Mmm..." Chayra mengangguk. Matanya tidak berkedip menatap kelanjutan ucapan suaminya.
"Kalau kamu melahirkan nanti, kamu kan nifas tuh. Mm... terus selama masa nifas, kamu kan tidak bisa memberikan aku nafkah batin. Jadi.. maksud aku...."
Chayra melotot lalu mencubit gemas paha suaminya. "Jadi maksud kamu diservis itu dikasih bekal batin gitu?"
"Aww.... sakit, Chay. Bukti kekerasan yang kamu lakukan bertambah lagi nih." Ardian menyingkap sarungnya dan menunjukkan pahanya yang memerah karena ulah Chayra.
"Hidihhh... itu nggak seberapa, Mas. Jawab aja pertanyaan aku yang tadi.. kenapa harus mengalihkan pembicaraan segala."
Ardian tersenyum meringis. "Iya... memang gitu maksud aku. Nanti kalau aku terlalu lama tidak diservis, pasti lembek dan tidak semangat bekerja. Bagaimana mau bekerja kalau mesinnya lemah butuh tenaga."
Chayra malah tertawa melihat ekspresi suaminya yang terlihat lesu dan tidak bersemangat. Bagaimana Ardian tidak pusing, mengingat biasanya suaminya itu hanya bisa libur satu atau dua hari.
"Kok malah tertawa? Kan masa nifasnya lama nanti. Ada bahkan yang sampai enam puluh hari. Ya Allah nggak kebayang deh, aku akan libur mendapatkan bekal selama itu."
"Harus kuat dong.. itu sudah ketetapan dari Allah, Mas."
"Makanya aku minta jatah bekal yang banyak mulai sekarang."
__ADS_1
"Mau berapa kali sehari?"
Ardian langsung menoleh menatap istrinya dengan heran. "Beneran nih, aku mau dikasih bekal?"
"Masa bercanda, Mas. Kan sudah kewajiban aku memenuhi keinginan suami."
Ardian tersenyum seraya menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya. "Ini nih, yang membuat aku semakin sayang sama kamu. Selalu mengerti kebutuhan suami luar dan dalam. Oke deh, aku akan pakai jadwal caranya. Mulai dari pagi ini. Eh, diralat.. maksud aku sekarang setelah kita ngobrol ini. Terus nanti siang saat jam istirahat kantor aku akan pulang untuk mengambil bekal. Terus nanti malam pas pulang kerja. Dilanjut saat tengah malam habis tahajjud lalu sehabis subuh. Berarti sekitar lima kali sehari."
Chayra langsung menarik tubuhnya dengan paksa. "Gila.. Mas Ardian mau melakukan itu sampai lima kali sehari? Terus rambut aku kapan ada waktu untuk keringnya kalau dikeramasin terus."
"Nggak usah kering juga nggak apa-apa. Habis mandi besar, kalau mau nambah lagi boleh juga."
Chayra langsung menutup wajah suaminya dengan kesal sambil mendorongnya menjauh.
Ardian tertawa puas menggoda istrinya. Menoleh ke arah jendela kamar sebelah timur. Langit tampak mulai memerah. Ardian beringsut mendekati istrinya. "Sekarang boleh ya.. biar aku semangat kerja nanti."
Chayra terdiam menatap dalam manik mata suaminya. Entah kenapa dia ingin tertawa melihat ekspresi memelas Ardian. Apalagi melihat tangan Ardian yang menggenggam erat kedua tangannya.
"Katanya mau memenuhi kebutuhan batin aku. Aku harus selalu jajan yang halal sekarang biar semangat ibadahnya nggak pupus." Rayu Ardian lagi.
"Kamu hebat ya, Mas. Ngapain juga jajan yang haram. Kalau mau dilempar ke laut sama keluarga aku, coba aja."
"Aku tidak akan pernah berani, Sayang. Kamu aja nggak habis-habis aku makan setiap hari."
Chayra hanya melengos tetapi membuka kancing piama yang dikenakannya. Hal itu membuat Ardian langsung tersenyum lebar.
*******
"Ardian, kita makan siang di kafe depan gedung Kantor sekarang. Ada pertemuan sebentar."
"Apa aku boleh tidak ikut?" Tawar Ardian sambil menaik turunkan alisnya.
"Kamu kenapa sih hari ini? Tumben kamu terlihat sangat bersemangat."
"Eheheh... nggak ada apa-apa. Cuma lagi bahagia aja." Ardian melirik Dodit yang berlalu meninggalkannya ke dalam ruangan Pak Randi. Apa kebahagiaannya terlihat sangat kentara sampai membuat orang lain heran dengan sikapnya hari ini. Ia hanya mengusap-usap wajahnya. Ternyata sarapan pagi menggunakan istrinya membuat mood boosternya benar-benar baik sampai siang menjelang. Walaupun kandungan gula dalam tubuhnya sudah berkurang banyak, tetapi bekal batin dari istrinya tadi pagi masih betah menemaninya sampai siang ini. Biasanya kalau jam segini, dia sudah makan coklat beng-beng yang selalu dia simpan di saku jasnya.
"Kamu harus ikut kata Pak Randi." Kedatangan Dodit membuyarkan lamunannya tentang sang istri.
"Harus banget ya?"
"Iya.. soalnya kamu yang lebih gercep sekarang. Jadi tidak ada alasan kamu untuk tidak ikut."
Ardian mendengus. "Aku nggak bisa pulang dong kalau begitu.." Ardian terduduk lesu di sofa depan ruangan Pak Randi.
"Mau pulang? Ngapain pulang jam segini, Ardian?"
__ADS_1
"Mau ambil bekal batin di istri?"
"What..?!" Dodit menatap Ardian dengan tatapan bingung. "Maksud kamu, kamu mau main jam segini?"
"Eh, ni orang ternyata paham maksud aku. Kamu kayak orang yang udah pengalaman aja bisa paham bahasa begituan."
"Kan kamu bilang bekal batin. Yang ada bekal batin ya... pasti nggak jauh-jauh dari hubungan suami istri."
Plak!
Ardian melempar berkas di tangannya ke kepala Dodit. Pak Randi yang baru keluar dari ruangannya terkejut melihat kejadian itu. "Eh, Dit nyamuknya besar sekali di atas kepala kamu." Ardian segera mengelak agar Pak Randi tidak curiga.
Dodit mengernyit heran. Kepalanya terasa keleyeng karena Ardian melempar berkas dengan lumayan keras. Matanya menatap Ardian dengan tatapan mengintimidasi, seolah-olah minta penjelasan dengan perbuatannya tadi.
"Aku kira kalian sedang beradu kuat tadi." Ucap Pak Randi. "Kita berangkat sekarang. Tamunya sudah menunggu kita di tempat perjanjian."
"Baik, Pak." Jawab Ardian dan Dodit kompak.
******
Chayra mencoba menghubungi suaminya karena sudah berjanji akan pulang siang ini. Tetapi, tiga kali mencoba tetapi tidak ada jawaban. Akhirnya ia memilih untuk mengirim pesan singkat.
Nggak jadi pulang, Mas? Aku sudah masak untuk kamu. Tapi, kalau memang sibuk dan tidak bisa pulang, kita bisa makan bareng pas Mas Ardian pulang nanti.
Pesan terkirim. Chayra meletakkan handphonenya dan kembali ke dapur untuk membantu Bi Idah menyelesaikan masakannya.
"Tuan sudah sampai mana, Non?"
"Belum ada info, Bi. Kayaknya dia masih sibuk. Aku sudah mencoba menghubunginya beberapa kali, tapi tidak ada jawaban."
"Woalah... usah capek Neng menyiapkan makan siang. Kasihan kalau Tuan tidak pulang." Bu Idah berkata prihatin. "Memang gini ya, Neng kalah punya suami orang penting. Kesibukannya tidak terbendung."
"Mas Ardian bukan orang penting, Bi. Jadi bos juga nggak."
"Tapi dia terlihat selalu sibuk, Neng. Nggak kebayang nanti kalau Neng Ayra melahirkan sementara Tuan sibuk terus."
"Dia akan mengambil cuti sebelum aku melahirkan, Bi. Dua hari sebelum aku melahirkan, dia sudah cuti nanti."
"Alhamdulillah kalau begitu, Neng. Bibi jadi senang dengernya."
Chayra tersenyum menimpali celotehan Bu Idah. Mendengar ada notifikasi pesan masuk dari handphonenya, ia keluar menuju meja makan dimana ia meletakkan benda gepeng itu tadi."
Maaf, Sayang. Aku nggak bisa pulang. Ada rapat mendadak yang tidak bisa ditunda. Aku janji akan makan malam di rumah nanti. Kita makan bersama nanti. Love you...
Chayra menghela nafas berat. Walaupun sedikit kecewa karena suaminya tidak bisa pulang, tetapi dia harus maklum. Bagaimanapun juga suaminya harus profesional dalam bekerja.
__ADS_1
*********