
"Empat kecoak yang sudah berhasil ditangkap Dodit dibawa paksa ke ruangan Ardian. Awalnya mereka menolak dan hanya meminta salah satu teman mereka untuk mewakilkan. Tetapi, Dodit mengancam kalau gaji mereka akan terpotong kalau mereka tidak naik ke ruangan GM sekarang.
"Aku rasa kamu sudah cukup lama bekerja di sini, Reno. Kenapa kamu sampai berani mencari masalah dengan atasan seperti ini." Dodit terus berjalan diikuti oleh empat kecoak dibelakangnya. Pria yang dipanggil Reno hanya menggaruk-garuk kepalanya bingung.
"A.. aku tidak pernah merasa membuat masalah, Pak Dodit. Sampai sekarang pun, aku tidak tau salahku apa sehingga diminta ke ruangan Pak Ardian."
Dodit mendengus. "Masalah di lift tadi siang. Kamu berada satu lift kan, dengan istrinya Pak Ardian?"
"Eh," wajah Reno seketika memucat. "D.. dugaanku tidak meleset," menatap tiga temannya yang lain. "J.. jadi wanita bercadar tadi b.. beneran istrinya Pak Ardian?" Reno bertanya takut-takut pada Dodit.
"Hmm.." Dodit melirik empat pria yang semuanya terlihat tegang. "Kalian hanya perlu menjelaskan pada Pak Ardian apa yang terjadi. Istrinya menolak untuk menjelaskan apapun. Dia hanya bilang semuanya baik-baik saja. Tapi, Pak Ardian tidak percaya begitu saja karena melihat wajah istrinya pucat ketika keluar dari lift."
"K.. kami hanya berniat bercanda tadi, Pak." Laki-laki bertubuh kurus yang merupakan pelaku sebenarnya semakin tegang mendengar ucapan Dodit.
"Kamu yang berkata aneh-aneh tadi, Ceking. Aku dan Gani hanya diam di belakang kalian. Kamu juga ngomong tadi, Badri." Reno mendorong pelan bahu pria bertubuh tegap yang dia panggil Badri.
"Aku tidak berkata aneh tapi. Tuh si Ceking yang ngomong ngawur ngelantur nggak jelas."
"Diam...!" Dodit menghentikan langkahnya seraya melotot ke arah kecoak-kecoak di belakangnya. "Kalian diminta menjelaskan semuanya di depan Pak Ardian. Yang membutuhkan penjelasan Pak Ardian, bukan aku." Dodit membuang nafas dengan kasar. Kepalanya perlu didinginkan karena suhu kepalanya naik gara-gara mendengar perdebatan unfaedah dari kecoak-kecoak yang mengekor di belakangnya. Dodit melanjutkan kembali langkahnya.
Dodit mengetuk pintu ruangan Ardian. "Kalian berempat masuk! Pak Ardian sudah menunggu di dalam. Jangan membuat masalah lagi kalau tidak mau berurusan dengan orang-orang di lantai ini." Dodit masuk duluan.
"Ini orangnya, Ar. Aku sudah menangkap kecoaknya untuk kamu. Aku mau pamit pualang duluan. Kepala perlu pendinginan."
"Diam dulu disini, Dit. Aku membutuhkan kamu untuk mengintrogasi mereka."
"Aku capek, Ar. Kecoak-kecoak ini berisik terus dari tadi. Kamu berubah aja jadi Tokek biar mereka takut. Sekalian makan mereka biar mereka tidak berulah lagi."
Ardian melotot ke arah Dodit. Dodit hanya tersenyum ketus menanggapi.
"Aku tidak akan memecat kalian kalau kalian berkata dengan jujur sekarang. Tadi siang kalian satu lift kan, dengan istriku?"
Reno mengangguk takut-takut. "I.. iya, Pak."
"Apa ada yang menyinggung istriku?" Ardian menatap tajam empat karyawannya yang hanya menunduk.
__ADS_1
Reno menatap ke arah Ceking. "D.. dia biang keroknya, Pak. Dia yang berkata tidak sopan pada istri Bapak."
"Mmm... begitu ya..? Apa ada yang melakuan kontak fisik?"
"Mm.." semua saling tatap.
"Jawab pertanyaanku, apa ada yang melakukan kontak fisik?!" Nada suara Ardian naik satu oktaf. "Aku bertanya karena istriku ada trauma di masa lalu. Saat aku memeluknya tadi, aku bisa merasakan ketegangannya."
"M.. maaf, Pak. T.. tapi aku hanya menyentuh pundaknya."
Ardian membuang nafas kasar. Pantas saja istrinya sangat tegang. Tangannya bahkan sampai mengeluarkan keringat dingin. Ardian sudah hafal betul dengan ketegangan istrinya yang seperti itu pasti dipicu karena ada orang yang menyentuhnya tanpa izin.
"Kalian boleh keluar. Terimakasih sudah mau berkata jujur. Dit, bawa mereka keluar sekarang."
"Iya, Ar..."
Setelah empat karyawan itu keluar, Dodit mendekati Ardian yang sedang memijit pelipisnya. "Ada apa, Ar?"
"Tidak ada apa-apa, Dit. Ayo kita pulang sekarang."
"Kan aku berangkat sama kamu tadi pagi, Dit. Itulah mengapa aku tidak mengizinkan kamu pulang dari tadi."
"Astaga... aku lupa. Aku mau shalat Ashar dulu, Ar. Nanti kalau sudah sampai rumah, aku malah langsung tidur lagi."
"A.. aku juga mau shalat dulu."
Dodit POV...
Aku meninggalkan ruangan Ardian karena melihat perubahan sikapnya. Aku kira dia akan memberikan pelajaran pada Reno cs tadi. Sudah capek-capek bilang ke Rano vs kalau Ardian itu ibarat Tokek dan Rano cs ibarat kecoak. Kecoak jangan macam-macam sama tokek karena tokek makan kecoak. Tapi... ah, aku juga tidak mengerti dengannya. Aku bela-belain mencari Reno cs ke ruangan mereka masing-masing, karena mereka berada di devisi yang berbeda.
Sepertinya ada masa lalu yang membuat Ardian langsung syok ketika ada yang mengaku ada yang melakukan kontak fisik. Apa Bu Ayra pernah mengalami pelecehan sehingga dia memiliki trauma seperti yang dikatakan Ardian tadi. Tapi... ah, aku memikirkan apa sih. Biarlah itu urusan mereka. Aku tidak boleh ikut campur terlalu jauh. Lebih baik aku shalat dulu. Ngapain pusing ngurusin rumah tangga orang, tau diri sendiri belum laku-laku.
Ardian POV...
Aku mengunci pintu ruanganku setelah Dodit keluar. Entah kenapa kenangan buruk di masa lalu itu muncul memenuhi kepalaku setelah ada yang mengaku melakukan kontak fisik dengan istriku. Aku langsung mengingat Chay. Untung saja aku masih bisa mengendalikan diri dan tidak mengamuk pada empat karyawan itu. Aku rasa, menyuruh mereka keluar adalah pilihan yang tepat.
__ADS_1
Aku menghempaskan tubuhku di atas sofa. Aku mengacak-acak rambutku seperti orang frustasi. Aku tenggelam dalam rasa bersalahku. Chay... Chay... ya Allah.. ini semua karena aku. Rasa bersalah ini akan menghantuiku seumur hidup.
Aku bangkit untuk mengambil air wudhu. Mudah-mudahan perasaan ini bisa lebih tenang setelah mengingat-Nya. Saat melewati kaca besar di depan kamar mandi, aku berhenti. Aku mengerjap-ngerjap melihat pantulan wajahku. Terlihat ada air mata menggenang. Heh, aku tersenyum getir. Ternyata aku menangis karena kebodohan yang aku lakukan dimasa lalu. Kebodohan yang aku lakukan dengan tanganku sendiri. Sungguh terlalu...
Aku merasa jijik melihat bayanganku sendiri. Dosa demi dosa yang pernah aku lakukan bermunculan satu persatu. Ya Allah... aku mengusap wajahku dengan kasar. Sudah berapa wanita yang aku hancurkan.
Aku meninggalkan depan cermin. Semakin melihat pantulan wajahku, aku semakin jijik pada diri sendiri.
Author POV...
"Shalatnya lama banget, Ar? Wirid berapa putaran sampai-sampai aku menunggu lebih dari setengah jam. Pintu dikunci lagi. Mau shalat aja, ngapain coba pakai mengunci pintu segala."
"Kebanyakan protes lu, kita pulang yuk."
"Aku sepertinya mau mampir di warteg dulu deh, Ar. Aku udah lapar banget nih."
Ardian mengernyit. "Berapa kali sih, kamu makan dalam sehari?"
"Tergantung.. kalau ada pekerjaan tambahan seperti tadi, aku akan cepat lapar. Pekerjaaan mengurus kecoak liar seperti tadi menguras tenaga dan pikiran. Gula darahku langsung turun karena kebanyakan emosi tadi. Kamu tidak tau bagaimana sulitnya perjuanganku menyeret kecoak-kecoak tadi ke kandang tokek."
Ardian melengos. "Yang lebih pantas jadi tokek itu kamu, Dit. Aku tidak pernah marah sama mereka. Justru mereka langsung bertekuk lutut saat kamu yang bicara. Mata kamu dilebarin sedikit biar bermata besar seperti tokek."
Dodit hanya mendengus lalu membuka pintu mobilnya. Mobil itu menembus keramaian jalan raya.
"Aku mau mampir di warung bakso dulu, Ar. Mau ikut nggak?"
Ardian menatap Dodit beberapa saat. Pikirannya belum pulih dari mengingat kenangan buruknya. "Mm.. kamu bilang apa tadi?"
Dodit menarik nafas panjang. "Aku mau mampir di warung bakso di depan. Pak Ardian yang terhormat mau ikut atau mau berdiam diri di dalam mobil?"
"Mm... aku ikut saja. Aku mau mencoba mengalihkan pikiranku dari kejadian tadi."
"Ngapain mikirin kecoak, Ar? Hidup itu harus dibawa santai biar tidak memberatkan."
Ardian hanya tersenyum kecut menanggapi. Hatinya belum bisa diajak kompromi. Bukan karena masalah karyawan itu. Tapi ini tentang masa lalu yang akan akan menjadi penyesalan seumur hidupnya.
__ADS_1