
Flashback on..
Saat Ardian sampai Kantor pagi itu, Pak Randi tersenyum sumringah menyambutnya.
"Tumben kamu telat datang, Ar. Biasanya kamu yang menjadi penghuni paling utama setiap pagi di lantai lima ini."
Ardian cengengesan sambil mengusap-usap tengkuknya. "Ada sedikit kesibukan tadi pagi, Pak. Intinya aku tidak terlambat saja, kan?"
"Makanya sekarang biar kamu tidak terlalu sibuk setiap pagi, Asisten kamu sudah siap menunggu perintah yang akan kamu berikan."
Ardian langsung berdiri saat mendengar kata Asisten. "Asisten, maksud Bapak?"
"Kemarin malam habis Maghrib ada rapat dewan Direksi. Aku juga tidak hadir sih. Tapi Papa aku yang mengabarkan kalau Anita ditetapkan sebagai Asisten kamu. Jangan libatkan masalah pribadi dalam pekerjaan. Anita orangnya gercep kok. Gayanya saja yang seperti itu, tapi kemampuan menangkapnya sangat baik. Dia sangat cocok untuk membantu kamu dalam menyelesaikan pekerjaan. Kedepannya kita bisa bekerjasama dengan semakin baik lagi."
"Kok saya tidak diinformasikan kalau dia yang akan menjadi Asisten saya, Pak?" Ekspresi Ardian langsung berubah.
"Yang menentukan itu Dewan Direksi." Pak Randi menahan senyum melihat ekspresi Ardian.
"Bapak bohong ya... kenapa rupanya kayak mau senyum-senyum gitu?"
"Dapat apa aku kalau berbohong."
Ardian tersenyum, "aku tau Bapak tidak serius. Ayo kita taruhan kalau Bapak memang serius dan tidak membual."
"Taruhan? Memangnya kamu berani taruhan pakai apa?" Pak Randi terkejut mendengar ucapan Ardian. Seumur hidupnya baru pertama kali ada orang yang mengajaknya taruhan.
"Mmm..." Ardian mencoba berpikir. "Pakai makanan pantangan, bagaimana?"
"Tapi aku tidak punya pantangan makanan, Ardian. Apa saja akan lolos masuk ke dalam perut." Pak Randi kembali duduk bersandar di sofa.
"Tapi aku punya, Pak."
"Oh, itu berarti kalau kamu yang kalah kamu harus memakan makanan yang akan aku pesan buat kamu. Kalau aku yang kalah, aku akan rela bertukar Asisten dengan kamu. Yaitu mengganti Anita dengan Dodit. Aku akan mengalah demi kamu."
"Wahahaha... hebat itu, Pak. Aku mau kalau begitu." Ardian langsung bertepuk tangan menyetujui ucapan Pak Randi tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu.
Pak Randi tersenyum. "Ok.. wait me here. Don't go anywhere.." Pak Randi bangkit seraya berlalu masuk ke dalam ruangannya.
"Wokay.." Ardian kembali duduk santai di sofa depan ruangannya.
Pak Randi langsung menghubungi Dodit sesaat setelah dia masuk ke dalam ruangannya. "Dit, kamu tau tidak makanan pantangan Ardian?"
__ADS_1
"Kenapa menanyakan itu, Pak?"
"Aku ada taruhan dengan dia. Cepat jawab kalau kamu tau."
"Setau saya, Pak Ardian tidak bisa makan seafood, Pak. Dia juga tidak boleh makan pedas."
"Oh, kalau begitu pesankan aku makanan udang balado dengan saos pedas level setan."
"Makanannya untuk Bapak atau Pak Ardian, Pak?"
"Kamu tidak usah banyak tanya. Pesan saja sesuai dengan yang aku ucapkan tadi."
"Baik, Pak."
Pak Randi tersenyum puas. Dia jadi penasaran melihat Ardian nanti kalau tau dirinya kalah dalam pertandingan.
Ardian menghubungi Pak Sucipto beberapa saat setelah Pak Randi masuk ke dalam ruangannya. Beberapa saat hanya diam menyimak setiap kata yang diucapkan Papinya. Dia terduduk lesu setelah Papinya mematikan sambungan telepon.
"Ardian, kamu ada taruhan apa dengan Pak Randi? Kenapa tiba-tiba dia memintaku untuk membeli makanan aneh seperti ini?" Dodit yang baru naik ke lantai lima menongolkan kepalanya ke ruangan Ardian.
"Memangnya Pak Randi memintamu membeli apa?"
"Udang goreng dengan saus sambal setan."
"Tunggu ya, aku antar ke ruangan Pak Randi sebentar."
Ardian mengangguk lemah seraya mendudukkan kembali tubuhnya. Hanya beberapa menit Dodit menghilang, pria itu malah kembali ke ruangan Ardian diikuti oleh Pak Randi dibelakangnya.
"Kamu sudah siap, Ardian?"
"Eh, mmm... saya siap, Pak."
"Baiklah saya membawa bukti hasil rapat semalam. Ditambah konfirmasi dari Anita kalau dia sudah ditunjuk secara resmi sebagai asisten kamu."
Ardian hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Jadi, karena kamu di nyatakan kalah, kamu harus menerima konsekuensi dari saya."
"H.. hukuman untuk saya apa, Pak?"
"Seperti perjanjian kita sebelumnya, kamu harus makan makanan yang sudah saya siapkan." Pak Randi meraih wadah makanan di tangan Dodit lalu menyerahkannya pada Ardian. "Ini makanan yang harus kamu makan."
__ADS_1
Mata Ardian langsung terbelalak saat melihat menu makanan itu. Melihat warna merah menyala di atas udang goreng itu membuatnya bergidik ngeri.
"Mm... Pak, apa ini tidak berlebihan? Bagaimana kalau Pak Ardian sakit nanti? Kan bisa panjang ceritanya, Pak." Dodit mencoba mencegah rencana Pak Randi.
"Dia yang nantang aku duluan, Dit. Ah, itu cuma makanan pedes, Ar. Masa gitu aja kamu nggak kuat. Aku saja bisa sampai menghabiskan tiga porsi dalam sekali duduk. Kan kamu yang mengajak aku taruhan. Jadi, kamu harus mempertanggung jawabkan hal itu."
Ardian mencoba untuk tersenyum walaupun hatinya sudah gusar. Tangannya mengaduk perlahan makanan berwarna merah di depannya. "Saya akan memakannya, Pak."
"Nah gitu dong. Ini baru namanya Ardian yang hebat"
Ardian duduk perlahan, mulai menyuapkan makanan itu ke mulutnya. Baru sekali suap, perutnya sudah terasa tidak enak. Tetapi, untuk mengatakan menyerah di depan Pak Randi gengsi dia lakukan. Akhirnya, ia menyuapkan udang dan sambalnya secepat kilat. Pada suapan kelima, wajahnya sudah berubah merah padam. Perutnya langsung terasa seperti di aduk-aduk. Segera ia meraih air mineral di depannya dan meneguknya sampai tandas. Mulutnya terasa terbakar. Ia menangkupkan wajahnya di atas meja.
Melihat kejadian itu, Dodit segera mendekat. "Kamu nggak apa-apa kan, Ar?"
"Mmm...."
"Ardian, kamu baik-baik saja kan?"
Hening, Dodit menunggu sampai Ardian mengangkat wajahnya. Tapi, sampai sekian menit belum ada tanda-tanda perubahan posisi tubuh pria itu. "Pak, bagiamana ini?" Dodit menatap Pak Randi yang bengong melihat Ardian.
"Coba kamu bantu dia, Dit." Ucap Pak Randi, tetapi dia juga ikut mendekat. "Ar, kamu baik-baik saja, kan?" Pak Randi terlonjak saat melihat keringat dingin yang mengucur di pelipis Ardian. "Ardian, kamu baik-baik saja, kan?" Pak Randi menyentuh bahu Ardian.
"Ardian..." Dodit mengangkat kepala Ardian dan....
"Huek...." Ardian memuntahkan isi perutnya.
"Astagfirullah..."
"Ayo kita ke kamar mandi. Jangan muntah disini, Ar.."
"Huek.. huek..." Ardian terus memuntahkan isi perutnya.
"Aku kan sudah bilang, Pak. Kalau dia tidak bisa makan pedas." Dodit akhirnya melirik kesal pada Pak Randi. Yang dilirik jadi merasa serba salah.
"Tunggu aku ambilkan minyak kayu putih dulu." Pak Randi bergegas keluar ruangan. Anita yang melihat Pak Randi keluar dengan tergesa dari ruangan Ardian akhirnya tidak tahan untuk tidak melihat apa yang terjadi.
Setelah beberapa upaya dilakukan tetapi tidak ada perubahan, Pak Randi akhirnya memutuskan untuk membawa Ardian ke Rumah Sakit. Ia menanggung semua beban biaya perawatan Ardian karena benar-benar merasa bersalah.
Flashback off...
Randi POV..
__ADS_1
Aku tidak akan pernah berani lagi main-main dengan yang namanya alergi makanan. Melihat kondisi Ardian di kantor tadi membuat aku benar-benar frustasi. Aku kira dia akan mati tadi karena kondisinya yang seperti itu. Setelah istrinya datang, aku keluar dari ruangan IGD dengan dada berdebar-debar. Istrinya Ardian ternyata pakai cadar. Hah, antara percaya dan tidak. Aku benar-benar terkejut melihatnya. Tangannya yang menyentuh tangan suaminya tadi menunjukkan bagaimana dia benar-benar mengkhawatirkan keadaan suaminya. Aku terkejut saat dia menanyakan penyebab suaminya sampai masuk Rumah Sakit. Mungkin keadaan Ardian sangat baik saat berangkat ke Kantor tadi, itu yang membuatnya sampai bertanya. Aku malah salah fokus mendengar ucapan Ardian yang minta istrinya memeluknya di depan kami. Dasar, manja banget jadi suami. Suara istrinya lemah lembut tetapi tegas. Ah, aku bingung bagaimana menjelaskan. Ardian sepertinya sangat terobsesi dengan istrinya sehingga dia cukup berhati-hati saat bicara. Aku lebih baik memilih mundur dari ruangan itu daripada harus menyaksikan drama yang akan dibuat Ardian selanjutnya. Menurut pandanganku, istrinya Ardian itu benar-benar istri yang luar biasa. Aku memilih untuk mundur dari ruangan itu karena malu telah membuat suami orang sampai drop seperti itu.