
Sore itu, Chayra mengajak suaminya jalan-jalan di sepanjang pinggiran kolam ikan di depan Asrama Santri Putri. Tempatnya dulu sering bersenda gurau bersama Saras dan Tania.
"Suasana di tempat ini benar-benar berbeda, Chay. Aku merasa hatiku lebih tentram walaupun baru semalam aku bermalam di sini." Ardian membuka percakapan setelah cukup lama mereka terdiam. Udara sejuk di tempat itu membuat Ardian berulang kali menarik nafas panjang menikmati udaranya.
"Jelas beda lah, Kak. Tanah yang Kak Ardian injak di tempat ini berbeda dengan tanah yang Kak Ardian injak di rumah."
"Letak bedanya dimana coba? Yang di sini sama yang di sana sama-sama ciptaan Allah. Kalau menurutku sih, sama aja."
"Berbeda, Kak."
"Makanya jelaskan dong, letak bedanya dimana."
"Tanah yang di Pondok Pesantren ini dilimpahi dengan keberkahan. Setiap hari selalu diinjak oleh kaki-kaki Santri yang menuntut ilmu. Yang lebih utama lagi, mereka menuntut ilmu agama. Sedangkan rumah Kakak, mendengar bacaan ayat suci Al-Quran saja jarang."
Ardian merenung mendengar penjelasan istrinya. "Bisa ya kayak gitu?"
"Of course. Why you say like that?"
"Hehehehe.. nggak ada apa-apa." Ardian meraih tangan istrinya.
"Eh," Chayra terkejut. Matanya langsung menatap tangannya yang digenggam Ardian. Dadanya tiba-tiba berdebar tak menentu.
"Kenapa terkejut? Nggak boleh ya, menggandeng tangan istri sendiri?"
"B.. bukan begitu, Kak. Aku.. aku hanya terkejut tadi." Chayra menatap sekeliling yang terlihat sedikit ramai. Para Santri sedang menikmati udara sejuk di sekitar kolam. "Aku pernah menjadi bagian dari mereka."
"Maksud kamu?" Ardian menangkup pipi Chayra agar kembali melihatnya.
"Aku pernah tinggal di tempat ini, Kak." Mengalihkan pandangannya agar tidak beradu pandang dengan Ardian.
Ardian mengerutkan keningnya. "Masa sih?"
"Mm... aku tinggal di tempat ini sebelum Kakak melakukan tindakan kriminal kepadaku waktu itu." Chayra memanyunkan bibirnya.
Ardian menurunkan tangannya dari pipi Chayra. Menunduk sejenak lalu kembali menatap istrinya. "Jangan seperti itu, Sayang. Bibirmu kelihatan monyong walaupun kamu menutupnya pakai cadar. Tapi, kamu terlihat semakin manis kalau menatapku dengan tajam seperti ini."
"Apaan sih?" Chayra menepis tangan suaminya. Menunduk karena pipinya merona merah. Untung saja cadarnya menyembunyikan rona merah di pipinya. Dadanya juga kembali berdebar tak menentu.
"Iya, aku memang jahat waktu itu. Tapi, sekarang kan, aku sedang berusaha untuk berubah. Aku sudah memperbaiki niatku, Chay. Aku akan berubah karena Allah."
"Alhamdulillah kalau begitu. Aku ikut senang mendengarnya." Chayra menatap Ardian sekilas. Kembali menatap ke sembarang arah. Takut, jantungnya melaju lebih cepat lagi kalau terlalu lama bertatapan dengan pria itu.
Mata Chayra berbinar saat melihat dua sahabatnya berjalan di kejauhan. Namun, dua gadis itu duduk di sebuah Gazebo. Sepertinya, Saras dan Tania belum mengetahui keberadaannya di Pesantren.
"Mm.. Kakak tunggu aku sebentar disini. Aku mau kesana sebentar." Menunjuk ke arah Gazebo panjang tempat Saras dan Tania duduk.
Mata Ardian menatap ke arah telunjuk istrinya. "Kamu mau menghampiri dua gadis itu?"
Chayra mengangguk mantap. "Dia itu sahabatku, Kak."
"Aku ikut, boleh?"
"Mmm... ayo deh." Chayra mengulurkan tangannya. Disambut dengan senyuman hangat Ardian.
Saras dan Tania menatap heran pada wanita bercadar yang semakin mendekat. Apalagi saat melihat seorang pria yang menggandeng tangan wanita itu.
"Assalamualaikum, boleh numpang duduk?" Chayra sedikit membungkukkan badannya.
"Loh, kok suaranya nggak asing ya.." Saras dan Tania saling tatap bingung.
__ADS_1
Chayra menarik tali niqab yang menutup wajahnya. "Assalamualaikum, Saras, Tania."
Saras dan Tania menutup mulut tidak percaya. "Masya Allah, Ayra..." menghambur memeluk Chayra tanpa memperdulikan pria yang berdiri di sampingnya.
Tangan Ardian terlepas saat Chayra membalas pelukan kedua sahabatnya. "Kalian apa kabar?"
"Alhamdulillah, kami baik, Ayra. Kamu yang apa kabar? Kami dengar, kamu membatalkan khitbah Ustadz Ghibran secara sepihak. Apa berita itu benar." Ucap Tania, melirik Ardian lalu kembali menatap Chayra.
Chayra tersenyum kecut. "Panjang ceritanya. Lain waktu insya Allah aku akan menceritakannya pada kalian."
Ardian menyentuh ujung jari istrinya. Chayra menoleh dan baru ingat kalau dia sedang bersama suaminya. "Eh, maaf, Kak. Aku kok lupa kalau sedang bersama Kakak. Kenalin, ini suami aku. Namanya Ardian Baskara."
Ardian hampir saja mengulurkan tangannya. Namun, buru-buru ia ganti posisi dengan menangkupkan tangannya di depan dada. Begitu juga dengan Saras dan Tania. Kedua gadis itu melakukan hal yang sama dengan Tania.
"Ardian, suaminya Chay.. Eh, Ayra maksudku."
"Saras"
"Tania"
Saras dan Tania saling pandang lalu tersenyum. "Kamu memang selalu beruntung, Ayra. Kemarin punya mantan, tampan. Sekarang, suaminya malah lebih gagah." Tania berbisik pada Chayra.
"Punya panggilan khusus untuk Ayra ya Kak? Tadi perasaan nama panggilannya berbeda?" Tanya Saras sedikit malu-malu.
"Iya, aku nggak mau memanggilnya dengan sebutan yang sama dengan orang lain. Dia itu orang khusus, jadi panggilannya juga harus khusus."
"Subhanallah, kereeeeen....." Saras dan Tania berucap serentak.
Ardian hanya bisa tersenyum mendengar jawaban dua gadis itu.
Banyak pertanyaan yang memutar di kepala Saras dan Tania. Namun, kedatangan Amrina untuk menjemput Chayra membuat kedua gadis itu harus menyimpan pertanyaan itu dulu.
"Ini namanya Kak Ardian, Dek. Jangan dong bilang Kakak yang ini."
Amrina tersenyum malu. "Maaf, Amrina lupa namanya."
"Ayo kita pulang kalau begitu."
"Sini, Kak Ardian gendong." Ardian mengangkat tubuh Amrina.
"Malu, Kak. Amrina kan sudah besar sekarang."
"Nggak apa-apa."
"Aku tinggal dulu ya. Nanti kalau ada waktu aku akan berkunjung ke Asrama kalian."
"Kami tunggu kedatangan kamu."
"Insya Allah, assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam.."
********
Malam itu, usai mendirikan shalat dari Masjid Santri. Ardian dan Chayra dipanggil Pak Ismail untuk menghadap. Pak Ismail menunggu mereka di ruang kerjanya.
Sekitar tiga puluh menit mereka bicara enam mata. Chayra keluar dengan menepuk-nepuk punggung suaminya. Santi ingin bertanya, namun Chayra langsung meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. Mengisyaratkan pada ibunya agar tidak mendekat.
"Izinkan aku memelukmu." Ucap Ardian saat mereka sampai di dalam kamar.
__ADS_1
"Kenapa harus minta izin segala. Biasanya juga langsung main peluk walaupun aku sedang badmood."
"Aku harus berjuang lebih kuat lagi, Chay.." memeluk erat tubuh Chayra. "Ucapan Abah tadi benar-benar menjadi beban pikiranku ke depan."
"Jangan diambil hati. Yang akan menjalani kehidupan bersama Kak Ardian kan, aku. Kita hanya satu minggu di rumah ini, Kak. Kita akan pulang kan, minggu depan."
"Iya sih, tapi rasanya pasti sangat lama kalau ada tekanan nanti."
"Abah akan pergi seminar lagi besok. Jadi, Kakak tidak perlu menjalankan perintah Abah kalau Abah tidak di rumah. Mm.. atau nanti aku bilang saja ke Ummi."
"Kitab Matan Jurumiyah itu apa sih? Baca Al-Qur'an aja baru kemarin aku bisa. Sekarang malah disuruh memahami kitab itu."
"Matan Jurumiyah itu adalah kitab dasar ilmu nahwu. Nanti deh aku bantu jelaskan. Abah menyuruh Kak Ardian menghafal dan memahami kitab itu, mungkin karena Kak Ghibran Abdullah ahli di bidang itu."
"Jangan menyebut nama lengkap pria itu, Chay. Aku cemburu mendengarnya."
"Astagfirullahal'adzim, aku sedang bersama Kak Ardian lho."
"Iya, tapi tetap saja. Kamu menyebut namanya seperti itu seperti orang yang spesial aja."
Chayra akhirnya diam sambil menahan senyum.
"Kita tidur ya, aku ngantuk habis disidang tadi."
"Mmm... aku ada janji sama teman aku yang kita temui tadi sore."
"Janji apa?"
"Mau ketemuan sama mereka malam ini."
"Dimana?"
"Di Asrama mereka."
"Aku ikut kalau begitu."
"Eh, nggak boleh Kak. Laki-laki tidak boleh masuk ke Asrama Santri Putri dengan alasan apapun."
"Seketat itu?!" Ardian bertanya karena tidak percaya.
"Iya, memang ketat. Hanya Pengurus Pesantren yang boleh masuk. Itupun sebatas di halaman Asrama."
"Kenapa kamu tidak mengajak mereka bertemu di tempat yang tadi sore."
"Ini malam, Kak."
"Kalau begitu kamu pergi besok saja biar aku bisa ikut. Aku harus ikut denganmu. Kamu bilang, kalau kamu mau cerita tentang bagaimana kisahnya sehingga kamu sampai menikah dengan aku. Aku harus minta maaf pada kedua temanmu itu."
"Astagfirullah, aku tidak akan menceritakan semuanya lah. Aku cukup menceritakan hal yang bisa dikonsumsi publik. Memangnya aku sudah gila, membuka aib suami sendiri."
"Pokoknya kamu jangan pergi sekarang. Aku membutuhkan dekapan kamu malam ini."
"Maksudnya?"
Ardian menaik turunkan alisnya. "Aku ingin itu... boleh ya.."
Chayra mendengus. "Kenapa nggak langsung bilang begitu. Pakai acara menahan acaraku segala. Tapi..." Chayra kembali duduk di samping suaminya. "Aku mau menjadi istri yang berbakti." Bisiknya lembut di dekat telinga suaminya.
Ardian tersenyum seraya meraih tubuh istrinya.
__ADS_1
*********