
Chayra Pov...
Aku menyusul Mas Ardian ke dalam kamar. Aku takut dia marah berkelanjutan karena candaan Alesha tadi. Aku menarik nafas dalam sebelum membuka pintu. Ah... kok aku jadi deg-degan gara-gara hal itu. Aku juga terkejut karena kedatangan Kak Ghibran. Sebenarnya aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya. Tapi, seperti yang Alesha katakan tadi. Mungkin karena kami pernah saling mencintai itu yang membuatku terasa mau copot saat berinteraksi dengannya tadi.
Sampai kamar aku malah tercengang karena tidak ada orang. Kemana Mas Ardian? Dia bilang dirinya kurang sehat, tapi kenapa dia tidak istirahat. Saat aku berjalan masuk, sayup-sayup kudengar suara Mas Ardian dari Balkon. Oh, ternyata dia sedang menelpon seseorang. Aku melengos, kenapa harus ke Balkon segala. Memangnya siapa yang akan mengganggu.
Aku duduk di sisi ranjang yang berdekatan dengan pintu yang mengarah ke Balkon. Aku sengaja mengambil posisi itu untuk menyusui Adzra. Karena di posisi ini, aku bisa mendengar suara Mas Ardian.
"Iya, Pak. Sekali lagi maaf. Jangan bahas Anita lagi, Pak. Aku tetap akan menolak dia kalau Papi mengajukan dia lagi sebagai Asisten. Kalau Bapak mau menukarnya dengan Dodit aku pasti akan menerimanya dengan senang hati."
Oh, ternyata masalah Asisten. Aku menunggu apa lagi yang akan diucapkannya.
"Saya memang tidak enak badan, Pak. Awalanya tadi saya baik-baik saja memang. Tapi, entah kenapa sejak Papi menyebutkan Anita yang akan menjadi Asisten saya, kepala saya mendadak pusing. Saya benar-benar tidak suka dengan cara berpakaiannya, Pak. Benar-benar sudah melewati batas toleransi saya. Memang bodynya bagus seperti kata Bapak. Kayak gitar Belanda apa itu namanya. Tapi...."
Aku kembali melengos, dia menghina tapi memuji. Dasar laki-laki, katanya aja yang tidak akan melihat wanita dari fisiknya. Tapi yang dibahas malah yang menjurus kesitu semua. Siapa wanita yang bernama Anita? Kok aku jadi penasaran lama-lama mendengar namanya disebut suamiku. Aku menggeser tubuhku ke tengah kasur. Pegel juga punggungku menyusui Adzra dengan posisi seperti ini. Tapi, aku kembali ke pinggiran tempat tidur. Berpindah posisi ke sofa di dekat pintu kamar. Disini posisiku sepertinya aman. Mas Ardian tidak akan curiga kalau aku menguping pembicaraannya tadi. Aku langsung ambil posisi uenak lalu kembali memberikan ASI untuk putraku. Tak berapa lama, mataku ikut mengantuk melihat putraku yang perlahan memejamkan matanya.
Aku tidak tau kapan Mas Ardian masuk kembali kedalam kamar. Karena saat aku bangun, Adzra sudah ditidurkan di ranjangnya. Dan aku menemukan tubuhku di atas kasur dengan selimut lengkap.
Author POV...
Malam itu Chayra menyiapkan makan malam seperti biasa. Ardian terlihat lebih pendiam walaupun ada Alesha di sana. Biasanya dia selalu cerewet dan suka menggoda Alesha.
"Adzra sini Sayang. Main sama Papa dulu ya.. Mamanya mau makan malam. Nanti kalau Mamanya Adzra tidak makan dengan baik, Adzra tidak mendapat asupan gizi yang baik." Ardian mencoba mengambil alih putranya dari gendongan istrinya.
"Kamu makan saja dulu, Mas. Nanti aku makan kalau kamu sudah selesai."
"Kamu saja yang makan duluan. Kasihan Alesha dia pasti sudah lapar kalau harus menunggu lagi." Ardian meraih tubuh Adzra dari pangkuan istrinya. Meninggalkan meja makan membawa Adzra ke ruangan lain.
"Apa kalian selalu seperti ini setiap malam, makan malam bergantian dan tidak bisa makan bersama?" Tanya Alesha setelah Ardian berlalu.
Chayra mengangguk. "Kami tidak mempermasalahkan hal itu. Intinya kami bisa menjaga anak saja." Chayra meraih piring dan memasukkan sedikit nasi ke dalamnya.
__ADS_1
"Apa kamu sengaja tidak meminta pembantu menjaga Adzra sementara kalian makan?"
"Mas Ardian yang nggak mau. Dia hanya tidak mau kalau anak kami malah lebih dekat dengan pembantu daripada orang tua. Itulah mengapa aku akan memaksimalkan waktu untuk Adzra. Mas Ardian juga akan meluangkan waktunya di malam hari untuk Adzra. Sepulang kerja, dia akan langsung mandi dan kami akan shalat bergantian."
Alesha hanya manggut-manggut mendengar cerita Chayra. Apakah dirinya bisa seperti itu nantinya jika anaknya lahir, mengingat dirinya yang kurang suka dengan anak kecil. Rencana menunda untuk memiliki momongan pun, harus dia batalkan karena Zidane yang tidak mau.
"Kenapa bengong, Lesha?"
"Eh, nggak.. aku hanya memikirkan bagaimana dengan diriku nantinya jika anakku lahir. Kamu tau kan, aku tidak terlalu suka dengan anak kecil. Aku sudah membayangkan akan mengasuh anak pasti akan membuatku pusing."
"Kalau dijalani dengan ikhlas pasti menyenangkan, Lesha. Aku juga nggak pernah membayangkan akan bisa merawat anak aku sendiri tanpa bantuan Ibu. Dulu malah aku selalu mengkhayal kalau Ibu yang akan sibuk mengurus Adzra karena aku yang nggak becus. Ternyata rasanya berbeda ketika yang kita rawat itu adalah anak kita sendiri."
Alesha menghela nafas berat. "Mudah-mudahan aku bisa seperti kamu."
"Insya Allah... sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Kita makan dulu yuk, kasihan Mas Ardian pasti dia juga lapar."
Alesha hanya mengangguk seraya mulai menikmati makan malamnya.
Ardian masuk ke ruang kerjanya setelah selesai makan malam. Ada sedikit pekerjaan yang harus dia selesaikan agar saat Pak Randi menanyakan besok pagi dia sudah siap.
Sementara itu, Chayra langsung masuk ke dalam kamar. Masih ada kecanggungan karena masalah tadi siang. Takutnya akan menimbulkan masalah baru, ia akhirnya memilih untuk menghindar dari suaminya.
Pukul sebelas malam, Ardian masuk ke dalam kamar. Lampu kamar belum dimatikan walaupun penghuninya sudah tidur. Ardian berjalan mendekati tempat tidur. Ada rasa bersalah yang menelusup ke dalam hatinya saat melihat ketidakberdayaan istrinya. Chayra tidak protes sama sekali saat dia marah tadi siang. Ia memang tidak bisa mengendalikan emosinya saat mendengar ucapan Alesha yang sedang menggoda istrinya. Apalagi saat melihat pipi istrinya yang merona merah ketika Alesha menyebut nama Ghibran.
Ardian POV....
Aku memutuskan untuk masuk ke dalam kamar setelah pekerjaanku selesai. Aku menghela nafas panjang saat melihat istriku sudah terlelap dengan memeluk Adzra. Aku hanya heran, dia selalu lupa mematikan lampu sebelum tidur. Apa matanya tidak perih nanti kalau tidur dengan lampu menyala seperti ini. Aku mematikan lampu lalu membaringkan tubuhku di sebelahnya. Aku miringkan tubuhku menghadapnya lalu memeluk tubuhnya dari belakang. Hah, berada dalam posisi intim seperti ini dengannya selalu memberikan perasaan yang berbeda untukku. Aku hirup aroma tubuhnya dalam-dalam. Dia malah menggeliat dan kakinya menendang pelan adikku. Ah, aduh... ini adik langsung berdiri karena merespon sentuhan itu. Bagaimana ini.. aku malu kalau harus meminta Chay melayaniku. Aku memarahinya tadi siang karena kesalahan yang tidak dia perbuat. Aku menarik nafas panjang. Mudah-mudahan adik ini bisa tidur dan tidak menuntut lebih.
Chay malah berbalik ke arahku. Huh, deru nafasnya yang teratur langsung menyapu ke wajahku. Aku menggigit bibirku karena tiba-tiba saja aku ingin mencium bibir ranum yang terkatup rapat di depanku. Ku pandang bulu matanya yang panjang dan lentik. Ya Allah.. cantik sekali istriku.
Oh tidak, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menciumnya. Ku tutup mulutku dan menjauhkan sedikit badanku saat melihatnya mengerjap-ngerjap.
__ADS_1
"Mas..." ucapnya lirih.
Hadeh.. bilang 'Mas' aja kok suaranya sensual dan seperti menggoda gitu sih. Bukan seperti itu, lebih tepatnya aku yang terlalu tergoda olehnya. "Sayang..." aku memeluk tubuhnya erat.
"Ada apa, Mas..Aku ngantuk banget. Kamu yang matikan lampu? Maaf tadi aku ketiduran karena Adzra rewel."
Aku tersenyum dengan wajah ditekuk. "Maaf ya untuk yang tadi siang."
Dia menautkan alisnya, eh malah terlihat makin cantik lagi. Ini mata benar-benar sudah di butakan nafsu atau apa. Apapun yang Chay lakukan dia terlihat sangat menggoda. Huh, sabar.... malu dong sama istri. Tadi siang marah-marah nggak jelas, masa sekarang mau minta jatah.
"Nggak apa-apa." Dia malah tersenyum lembut kepadaku. Tangannya malah meraba pipiku dengan lembut. Sshhhtttt.... darahku terasa berdesir sampai ke ubun-ubun. Aku tersenyum kaku kepadanya
"Kenapa wajahnya ditekuk gitu, Mas?"
"Sayang... boleh ya..."
"Hah..?!" Dia malah bengong menatapku. Rasanya ingin ku sambar bibirnya yang terbuka itu. "Maksudnya apa, Mas? Kan aku sudah maafkan kamu."
Aku menghela nafas berat. Dia selalu saja tidak peka kalau aku berkata tidak jelas. "Maksud aku.. aku ingin itu." Aku menunduk malu. Kok rasanya kayak mau minta permen tetapi takut tidak dikasih.
"Itu apa, Mas? Kamu lapar lagi, mau aku temani makan malam?"
Hah, aku langsung menarik nafas panjang. Wanita kesayanganku ini benar-benar deh, menguji kesabaran banget. "Bukan perut aku yang lapar, Sayang..." aku lebih menekankan pada kata sayang.
"Terus...."
"Batin aku yang lapaaar...."
**********
Hahahaha... kasihan Mas Ardian.. makanya jangan suka marah tidak jelas biar nggak malu sendiri.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya biar othor semangat nulisnya...