Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Cerita dibalik layar


__ADS_3

Ardian hanya menahan senyum mendengar ucapan Dodit. Ada rasa kelegaan yang ia rasakan setelah masalah besar yang memenuhi kepalanya sejak dua minggu belakangan ini mendapatkan solusi.


"Eh, lu mau makan juga nggak? Bengong aja dari tadi."


"Pesankan saja seperti yang kamu pesan."


"Aku pesan mie ayam, Ar. Kamu kan tidak bisa makan pedas."


"Nggak usah pakai sambal. Gitu aja kok repot. Atau diganti pakai sup iga saja. Untuk minum, aku maunya jus jeruk saja."


Waiters berlalu setelah menuliskan pesanan Ardian. Dodit mengernyit melirik Ardian dengan kesal.


"Kenapa menatapku seperti itu, Dit?"


"Lu katanya nggak punya duit, terus kenapa memesan sup iga segala?"


"Kita harus makan enak biar semangat kerja untuk membayar hutang. Lagian Kakek juga sudah membayar semuanya."


"Apa?!" Mata Dodit membulat sempurna. "Kamu sengaja ya nggak bilang sama aku. Jahat banget sih jadi orang."


Ardian hanya menarik sudut bibirnya. Ia kembali termenung mengingat rentetan kejadian yang menimpanya setelan kepergian Pak Sucipto. Hal yang paling berat adalah mengetahui kalau maminya doyan menghabiskan uang untuk hal yang tidak penting. Hal itu berujung pada hutang yang menumpuk. Hal itu tentu saja membuka mata Ardian untuk melihat, siapa orang-orang yang mendukungnya di saat dia jatuh seperti saat ini.


Tiga malam yang lalu, Pak Akmal tiba-tiba datang bertamu ke rumah cucunya. Hal itu tentu saja membuat Ardian dan Chayra bertanya-tanya. Kakeknya tidak pernah datang tanpa sebab. Setelah duduk dan suguhkan minuman oleh cucunya, barulah Pak Akmal memberitahukan maksud kedatangannya.


Flashback on...


Malam itu..


Chayra baru saja naik dan menutup pintu kamar setelah menyambut suaminya pulang kerja. Ia meletakkan tas kerja suaminya di atas meja dekat meja riasnya. Tidak lupa menyiapkan baju ganti untuk Ardian. Tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk dan terdengar suara Bi Idah dari balik pintu.


"Non Ayra, ada Tuan Besar di bawah."


Chayra langsung bangkit dan membuka pintu. "Bibi bilang apa?"


"Ada Tuan Besar, Non. Dia datang bawa anak buah banyak sekali. Bibi sampai merinding melihat tubuh kekar yang banyak itu, Non."


"Bibi ngomong apa sih?"


"Non Ayra turun saja dulu. Tuan Besar mencari Den Adzra juga, Non."


"Adzra kan lagi bobo, Bi. Bibi turun saja duluan. Bilang sama Kakek kalau aku sedang menunggu Mas Ardian selesai mandi. Nanti aku bawa Adzra turun walaupun sedang bobo."


"Baik, Non." Akhirnya Bi Idah turun kembali untuk menyampaikan pesan dari Chayra untuk Pak Akmal.


Sekitar sepuluh menit, Chayra turun menemui kakeknya dengan menggendong Adzra yang masih bobo.


"Assalamu'alaikum, Kek." Tidak lupa Chayra mencium tangan kakeknya bolak-balik.


"Suami kamu mana, Sayang?"

__ADS_1


"Masih shalat, Kek. Tadinya aku mau menunggu dia selesai shalat dulu baru aku turun. Tapi, Kakek akan lelah menunggu."


Pak Akmal mengambil alih Adzra dari pangkuan Chayra. "Kakek dengar mertua kamu tinggal disini sekarang."


"Eh... iya, Kek. Ayra lupa bilang sama Kakek."


"Kakek tau kamu sengaja. Mertua kamu itu banyak tingkah. Dimana dia sekarang?"


"Mami belum pulang, Kek. Dia sedang ke rumah temannya yang sedang mengadakan syukuran."


"Kakek mau ngomong dengan suami kamu. Tapi, karena dia masih shalat, Kakek akan menunggunya sampai dia selesai."


"Kakek makan malam dulu bersama kami. Kebetulan Mas Ardian juga belum makan."


"Kakek sudah makan, Sayang. Tidak apa-apa kalau kalian mau makan malam dulu. Kakek mau main bersama Adzra sambil nunggu kalian." Tangan Pak Akmal mulai jahil mengganggu tidur Adzra.


"Kek, nanti dia malah rewel kalau di ganggu."


"Kakek yang akan tanggung jawab kalau dia rewel."


Chayra akhirnya hanya bisa menghela nafas berat melihat tingkah kakeknya.


Ardian duduk di depan Pak Akmal usai makan malam. "Apa kabar, Kek?"


"Baik, sangat baik. Itulah mengapa Kakek bisa ada di rumah kamu malam ini. Ayra, bawa anak kamu dulu, Kakek mau bicara serius dengan suami kamu."


"Kakek ada perlu dengan suami kamu, Sayang. Nanti Kakek tanggung jawab kalau dia tidak bisa tidur."


Chayra melengos. "Mana ada kayak gitu. Yang ada kalau urusan Kakek sudah selesai pasti langsung kabur."


"Hehehe... sudah kamu bawa naik sana. Nanti malah Kakek kemalaman pulangnya."


Chayra mengambil alih putranya dengan ekspresi ketus. Hidungnya kembang kempis menahan kesal. Hal itu membuat Pak Akmal tersenyum. Spontan tangannya mengusap-usap kepala cucunya. "Kamu tetap menjadi putri kecil Kakek, Sayang."


"Mmmm...." jawab Chayra seraya meninggalkan ruang keluarga. Untung saja Pak Akmal sudah mengusir para ajudannya untuk keluar, sehingga mereka tidak menyaksikan kekonyolan yang dibuat pria itu.


Selepas kepergian Chayra, Ardian mempersiapkan diri untuk mendengarkan apapun yang akan disampaikan Pak Akmal.


"Kakek dengar mami kamu terlilit hutang, apa benar begitu?"


Ardian menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Pak Akmal. "Iya, Kek. Dan beban tanggung jawabnya dilimpahkan ke aku sekarang."


"Apa rumah dan aset kamu disita Bank kemarin tidak cukup untuk membayar hutangnya?"


Ardian menggeleng lemah. "Aku sudah menjual semuanya, Kek. Hanya saham di perusahaan yang tersisa lima persen. Aku di desak untuk menghabiskan hutang Mami. Tapi, aku tidak bisa menyerahkan semuanya."


Pak Akmal mengnautkan alisnya seraya beristighfar. "Astagfirullahal'adzim.."


"Dan kemarin aku hampir putus asa, Kek. Aku berniat menjual saham itu pada teman sekantorku. Semua pihak memintaku untuk segera melunasi hutang itu. Padahal mereka tau kalau saat ini aku sedang tidak punya pegangan sama sekali."

__ADS_1


Pak Akmal menarik nafas dalam. "Berapa nilai saham yang kamu miliki itu?"


"Tujuh milyar, Kek."


"Apa jumlah itu bisa membuat hutang itu selesai?"


Untuk yang kesekian kalinya Ardian menggeleng lemah. "Masih kurang tiga puluh persen, Kek."


Pak Akmal menghembuskan nafasnya perlahan seraya mengusap wajahnya dengan kasar. "Mami kamu itu makan apa sih, sampai uang sebanyak itu tidak bisa melunasi hutangnya? Kalau kamu seperti ini terus, keluarga kecil kamu akan terbengkalai karena kamu tidak bisa memberikan nafkah dengan baik."


"Maafkan aku, Kek. Aku juga tidak ingin seperti ini. Tapi, aku harus bagaimana? Kalau aku lepas tangan, Mami akan dipenjara dan... aku tidak bisa melihat Mami tersiksa. Aku.. aku memang bukan anak yang baik, Kek. Tapi, setidaknya aku harus bisa bertanggung jawab untuknya."


Pak Akmal terdiam menatap Ardian. Sepersekian detik dia menatap Ardian yang terlihat berusaha menahan kesedihannya. "Apa kamu sudah memutuskan untuk menjual saham itu?"


"B.. belum, Kek. Aku masih berat melakukan itu. Kalau aku menjualnya, otomatis hasil jerih payah Papi satu-satunya akan habis juga."


Pak Akmal kembali terdiam. Tidak menyangka kalau cucu menantunya itu bisa berpikir sampai sejauh itu.


"Jika Kakek bersedia, maukah Kakek mengambil alih saham itu. Jika Kakek yang memegangnya, aku akan bisa membelinya kembali suatu hari nanti."


Pak Akmal menatap Ardian lekat. "Apa kamu yakin dengan ucapanmu itu?"


"Iya, Kek. Sebenarnya aku takut mengambil keputusan ini. Tapi, jika aku berurusan dengan Kakek, setidaknya jalan yang akan aku tempuh ke depannya bisa lebih mudah."


"Berapa total hutang yang menjadi beban kamu?"


"...................."


Pak Akmal mengangguk-angguk, seperti sedang mempertimbangkan usul Ardian. "Hari Kamis nanti kita bertemu di Kafe Dahlia. Bawa berkas yang berhubungan dengan pembicaraan kita malam ini. Kakek akan menghubungi kamu jika Kakek berubah pikiran atau merubah hari perjanjian."


"Baik, Kek. Terimakasih atas pertimbangannya."


"Kakek belum memutuskan, Ardian. Berdo'a saja semoga Kakek tidak berubah pikiran." Pak Akmal bangkit dari duduknya. "Kakek pulang dulu. Kamu berdo'a yang rajin agar Kakek tidak berubah pikiran. Assalamu'alaikum..."


Flashback off...


"Woi... Ar..." Dodit melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Ardian.


"Eh, ada apa..?" Ardian mengerjap-ngerjapkan matanya memulihkan kesadarannya.


"Mia ayam gue sudah habis. Sup iga kamu belum disentuh. Kenyang lu menghayal dari tadi?"


"Kapan datangnya?"


"Eh, malah bertanya lagi. Gue bilang sup lu udah dingin. Kalau gue habisin aja mungkin lu nggak sadar tadi."


"Hehehe.." Ardian mendekatkan mangkuk sup iga miliknya. Saat dia mencicipi kuah sup, ternyata kuahnya memang sudah dingin. Ardian melirik ke arah Dodit sambil makan dengan perlahan.


***********

__ADS_1


__ADS_2