Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Ingin punya anak selusin


__ADS_3

Pagi itu, Ardian bangun jauh sebelum waktu subuh datang. Usai mendirikan tahajjud, ia duduk sambil membaca Al-Qur'an. Perbuatannya itu tidak luput dari tatapan istrinya. Chayra yang baru bangun langsung ke kamar mandi mengambil air wudhu'. Ia menggelar sajadahnya di samping sajadah suaminya.


Ardian mendongak menatap istrinya sambil tersenyum. "Udah bangun, Sayang?"


"Kenapa tidak membangunkan aku dari tadi, Mas?"


"Tadi malam kamu tidur lewat jam dua belas. Tadinya aku berniat membangunkan kamu saat Adzan Subuh. Tapi ternyata kamunya bangun sendiri."


"Huh, dasar kamu, Mas. Aku shalat dulu kalau begitu."


"Mmm..." Ardian kembali membuka kitab suci Al-Qur'an dan melanjutkan bacaannya. Suaranya sir karena tidak mau mengganggu shalat istrinya.


Usai mendirikan shalat Subuh, Chayra dan Ardian bertolak ke Makam Almarhum Pak Sucipto. Sebelum berangkat, mereka ke kamar Bu Renata untuk mengajaknya ikut serta. Tetapi, pintu kamar masih terkunci rapat, menandakan pemiliknya masih tertidur lelap.


"Mami... kita ke Makam sebentar." Ini sudah yang kesekian kalinya Ardian memanggil maminya.


"Sudah, Mas.. kita pergi berdua saja. Mungkin Mami capek."


"Capek bagiamana? Memangnya sepanjang hari ini Mami pernah bekerja? Perasaan dia hanya berlehak-lehak nggak jelas. Mami memang suka gitu, kalau masalah ibadah pasti malasnya menyebar kemana-mana."


"Sssttt... nggak baik ngomong kayak gitu. Ayo.. kita pergi saja." Chayra akhirnya menarik tangan suaminya agar segera meninggalkan depan kamar Bu Renata.


"Mami harus diperingati agar dia tobat, Chay. Sudah tua juga masih aja malas shalat. Bagaimana kalau Malaikat maut datang saat dia sedang tidur?" Ardian terus ngoceh sambil terus berjalan karena tangannya ditarik Chayra.


Chayra berbalik seraya melototkan matanya ke arah suaminya. "Kamu ngomong apa sih, Mas? Seharusnya kamu do'akan agar Mami mendapat hidayah. Ni orang malah ngomong ngawur ngelantur nggak jelas."


Ardian cengengesan tersenyum salah tingkah. Dia memang tidak suka menyembunyikan apa yang tersimpan dalam hatinya. "A.. aku salah ngomong ya.." Ia bertanya masih dengan ekspresinya yang tadi.


"Jelas salah, Mas. Astagfirullahal'adzim.. ini masih sangat pagi, kamu udah merusak moodku, Mas." Chayra menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak menyangka kalau suaminya bisa sebodoh ini.


Chayra POV...


Aku menarik kembali tangan Mas Ardian. Suamiku ini benar-benar tidak bisa menyembunyikan isi hatinya. Aku khawatir Mami mendengarkan ucapannya tadi, itulah mengapa aku menariknya agar posisi kami lebih aman.


Sudah tujuh hari ini Papi meninggalkan kami. Sejauh ini yang aku lihat baik Mami atau Mas Ardian tidak ada yang berusaha untuk lebih dekat. Mas Ardian hanya berinteraksi ketika ada yang perlu dibahas.

__ADS_1


Mas Ardian bilang, Maminya malas ibadah. Iya, aku akui itu memang benar adanya. Tapi, aku tidak berani terlalu ikut campur. Andaikan aku dekat dengan Mami seperti halnya aku dekat dengan Ibu, aku pasti sudah mengeluarkan tausiah agar orang tua ini cepat sadar. Satu lagi, Mami tidak pernah ikut ke Makam Almarhum Papi. Kalau aku atau Mas Ardian tanya, dia pasti menyalahkan kami karena tidak membangunkan lebih awal. Padahal tangan Mas Ardian selalu kebas setelah dari kamar Mami karena selalu mengetuk pintu dengan keras. Astagfirullah, kelurga ini kok ribet ya menurut aku.


Author POV...


Akhirnya Chayra dan Ardian berangkat berdua lagi ke Makam. Mereka selalu rutin setiap pagi ke Makam Almarhum Pak Sucipto. Rencana Ardian akan mengakhirinya di hari ke sembilan nanti. Tapi, sekarang saja istrinya sudah minta izin untuk pulang karena tidak nyaman.


********


Chayra bernafas lega saat sampai di depan rumah. Bibirnya mengulas senyum menandakan betapa dia merindukan tepat istirahat ternyaman-nya.


"Ayo kita turun.." Ardian membuka set belt yang melindungi tubuhnya.


"Kamu mau ikut turun, Mas? Aku kira kamu mau langsung balik ke rumah Mami."


"No.. no.. no, Sayang. Aku juga butuh istirahat yang tenang. Di rumah Mami aku tidak pernah bisa tidur nyenyak. Aku juga mau istirahat sebentar. Nanti sore aku kesana untuk mempersiapkan acara tahlilan nanti malam."


"Mm.. tapi bagaimana kalau Mami marah?"


"Marah untuk apa? Seharusnya Mami bersyukur aku masih mau ke rumah walaupun mereka pernah mengusirku. Mami juga tidak mau bermodal untuk semua kebutuhan Almarhum Papi. Heran aku.. padahal harta yang ditinggalkan Papi pasti dia yang embat semua. Untuk aja Kakek berbaik hati memberikan aku banyak sumbangan. Entahlah berapa hutangku kalau tidak ada bantuan dari Kakek."


"Hehehe..." Ardian mengusap-usap tengkuknya. "Hanya mengeluarkan uneg-uneg dalam hati saja. Aku tidak bisa ngomong bebas sama orang lain selain kamu."


"Tapi itu nggak baik, Sayang."


Ardian tersenyum meringis menatap istrinya. "Maafkan aku. Ah, dipanggil sayang sama kamu, kok dadaku langsung berdebar-debar kayak gini."


"Nggak usah baperan, Mas. Masa segitu aja langsung dag dig dug." Chayra melepaskan gendongan dan menyerahkan putranya pada Ardian. "Adzra kamu yang gendong, Mas. Aku pegel dari kemarin nggak ada yang gantiin. Kamu terlalu sibuk mengurus ini itu."


"Makanya aku ingin punya anak satu lusin biar kalau ada apa-apa banyak yang bantuin."


Chayra kembali melotot seraya menelan ludahnya dengan susah payah. "Jangan gila, Mas. Yang ini aja kalau diingat sakitnya masih membuat dada ngilu. Bagiamana kalau satu lusin?"


"Hahahaha..." Ardian tertawa lepas melihat ekspresi istrinya. "Aku bercanda Sayang. Aku ingin punya banyak anak. Tapi, semampu kamu. Kalau kamu mampunya dua orang, boleh. Tiga orang, lebih baik. Empat orang, mmm... kayaknya itu cukup."


Chayra melengos seraya menyandarkan kembali punggungnya. "Kalau kamu mau punya banyak anak, kamu bantu aku melahirkan."

__ADS_1


"Aku akan selalu menemanimu setiap melahirkan. Dua belas kali kamu melahirkan, maka dua belas kali aku akan menemanimu."


"Hah, gila kamu, Mas. Aku sih.. tidak mau berlebihan seperti itu. Aku hanya berharap Allah memberiku kepercayaan untuk mengasuh anak lebih dari satu orang. Lebih baik kita berdo'a dan menyerahkannya pada Allah. Kalau Allah SWT sudah menghendaki. Walaupun aku tidak ingin punya satu lusin, tapi itu ketetapan dari Allah, kita tidak akan bisa menolak."


"Woahh... istriku memang the best." Ardian mengusap-ngusap kepala istrinya dengan penuh kasih sayanh. "Nanti kita berdebat lagi. Aku ngantuk banget. Tidur sebentar sebelum waktu Zuhur tiba."


"Aku udah ajak kamu keluar dari tadi. Kamunya aja yang mengajak aku ngomong ngawur ngelantur nggak jelas. Pakai acara pingin punya anak satu lusin segala. Kirain aku mesin pembuat anak apa." Chayra berucap sambil membuka pintu mobil. Kalau dia tidak segera mengakhiri perdebatan ini, maka mereka akan gagal untuk istirahat siang. Ardian tidak akan pernah mau mengalah kalau sudah berdebat.


Ardian kembali tertawa puas. Ekspresi kesal istrinya kalau sudah kalah debat membuatnya sangat terhibur.


Ketika akan merebahkan tubuhnya di atas ranjang, handphone Chayra tiba-tiba berbunyi nyaring. Ardian mengurungkan niatnya untuk rebahan. Kasihan kalau harus membangunkan istrinya. Chayra terlihat sangat kelelahan mengurus putranya sendirian.


Ardian menarik nafas panjang saat melihat nomor telepon Kakek Akmal terpampang di layar handphone istrinya.


"Assalamualaikum, Kek."


"Kenapa kamu membawa istri kamu pulang, Ardian? Mami kamu menangis karena dia merasa semua orang meninggalkannya."


Ardian terkejut mendengar ucapan Pak Akmal. Masalah baru sepertinya timbul lagi. "Kami hanya pulang sebentar, Kek. Kasihan Chay karena disana dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Aku juga sudah minta izin baik-baik tadi sama Mami. Dia bilang terserah kalian saja. Kenapa sekarang malah menangis?"


"Sudah, jangan di perpanjang. Intinya kamu akan kembali nanti sore."


"Iya, Kek."


"Oh iya, kalau istrimu terlalu capek, biarkan saja dia istirahat di rumah. Tidak usah membawanya kembali kesini."


"Kakek di rumah Mami sekarang?"


"Iya, Kakek tutup, assalamualaikum.."


Tut... Tut.. Tut...


"Wa'alaikumsalam.." Ardian menjawab salam walaupun sambungan telepon diputus secara sepihak. Kakeknya ini benar-benar deh. Mentang-mentang punya duit banyak. Mengakhiri percakapan seenaknya sendiri. Ardian meletakkan kembali handphone istrinya. Dia kembali merebahkan tubuhnya. Dia harus istirahat agar tubuhnya fit kembali. Sejak papinya meninggal, dia tidak pernah dapat istirahat dengan baik karena tanggung jawab sepenuhnya diserahkan kepada dirinya.


Heh, bagaimana mau punya anak selusin kalau tidak pernah bisa diservis dengan baik.

__ADS_1


*********


__ADS_2