Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Semua karena Ardian 2


__ADS_3

Alesha duduk di kursi plastik di samping Berangkar tempat Ardian berbaring. Ia sudah berhasil mengorek informasi dari Bian tentang penyebab bonyoknya muka Ardian.


"Kenapa bisa seperti ini?" Pura-pura mengajukan pertanyaan. Berharap mendapatkan jawaban yang lebih dari yang dia dengar dari Bian.


"Jangan bertanya terus, Lesha. Kamu sendiri yang bilang, kalau Bian sudah memberikan informasi untukmu."


"Iya, Kak. Tapi Kak Ardian kenapa tidak ngelawan?"


"Tidak mau memperpanjang masalah." Kembali memejamkan matanya karena pandangannya sedikit kabur.


"Huh.. coba kalau dulu. Ayra cuma melarang Kak Ardian untuk pegang-pegangan dengan si Amira. Eh, dendamnya sampai ke akar-akarnya." Alesha melongos.


Ardian kembali membuka matanya mendengar ucapan Alesha. "Ck, itu mah terjadi sebelum aku mengenal siapa dia. Kenapa juga Allah baru kemarin mengenalkan dia padaku. Andaikan Allah mempertemukan kami sejak kecil. Aku yakin, aku tidak akan kalah dalam masalah ilmu agama dengan Pak Ghibran yang arogan itu."


"Didikan orang tua yang membuat Pak Ghibran seperti itu, Kak. Dia mendapatkan perhatian yang penuh dari orang tua. Sedangkan Kak Ardian, ditengok satu atau dua bulan sekali. Diajarin baca basmalah aja nggak pernah. Mana bisa baca kitab Syarah Dahlan seperti dia."


Ardian hanya mendengus. Meraba bibirnya yang bengkak karena terasa nyut-nyutan.


Alesha menatapnya dengan kasihan. "Itu sakit banget ya, Kak."


Ardian hanya mengangguk kecil.


"Berapa kali tonjokan itu. Mata bengkak, bibir bengkak. Kok, gue lihat kayak orang yang habis main smackdown." Alesha tertawa melihat muka Ardian. "Dari tadi pengen ketawa. Tapi, lama-lama menatap Kak Ardian. Kok, gue jadi kasihan ya.." menarik nafas panjang. Menatap Ardian dengan tatapan kasihan.


"Pak Ghibran kayak orang yang nggak gue kenal tadi. Biasanya kan, tu orang lemah lembut ngomongnya. Terus selalu menjaga adab. Menjaga imej dia. Kok, dia tadi kayak nggak terkendali gitu. Memukul gue dengan brutal. Mata gue aja ini tiga kali kena tonjokan dia. Jangan tanyakan lagi pipi sama bibir gue. Nggak terhitung. Untung saja gue masih bisa ngomong. Jadi, gue meluruskan opini orang-orang yang menonton."


"Loh, memangnya Pak Ghibran menonjok lho dimana?"


"Di area parkiran sebelah barat."


"What..?!" Alesha menganga tak percaya mendengar pengakuan Ardian.


Ardian tersenyum sinis. "Baru tau gue, kalau ada orang yang sakit hati gara-gara mantan pacarnya dihamili suaminya." Ardian ingin tertawa, tetapi dia tahan karena bibirnya terasa sangat sakit.


Alesha kembali tertawa. "Tertawanya nanti kalau tuh bibir sudah nggak bonyok lagi. Gue hanya kepikiran sesuatu, Kak."


"Apa?"


"Reaksi Ayra saat melihat muka Kak Ardian nantinya."

__ADS_1


"Gue belum mau bertemu dia kalau bibir sama mata gue masih bengkak."


"Yang benar saja, Kak. Istri lho mau bertemu sejak tadi. Dia nyuruh gue nelfon lho dari tadi pagi. Tapi.."


"Chay kenapa di Kampus sampai harus dilarikan ke Rumah Sakit segala?"


"Dia muntah terus, Kak. Gue kira dia lagi badmood gara-gara ucapan Tina tadi pagi. Tapi, pas Pak Ghibran sedang menjelaskan materi. Pak Ghibran kan biasa tuh, berdiri di samping tempat duduk Ayra. Nggak taunya tiba-tiba wajah Ayra berubah pucat. Pas gue tanya, tau-taunya mulutnya dia udah penuh muntah. Kirain dia muntah gara-gara bau parfum Pak Ghibran. Ternyata dan ternyata.. ck.. ck.. ck..." Alesha menggeleng-geleng pelan.


"Istrinya Ardian Baskara hamil."


"Nggak usah pakai Baskara segala sekarang. Gue udah terbuang. Jadi, nama belakang itu tidak berlaku lagi buat gue. Cukup Ardian saja."


"Ok.. ok.. kita ralat kalau begitu. Istrinya Ardian anak yang terbuang hamil. Gkgkgk..."


"Sumpret lho, bilang gue kayak gitu."


Alesha tidak memperdulikan protes Ardian. "Ternyata, Ayra kayak gitu bukan karena Tina, bukan juga karena Pak Ghibran. Semua terjadi karena lho, Ardian anak yang terbuang."


Ardian hanya melongos kesal. Bian yang berada di sebelah kirinya juga tidak mengerti dengan arah pembicaraan Alesha.


"Gue butuh penjelasan lho, kenapa istri gue sampai bisa di rawat inap. Tapi, gue akan menuntut itu nanti saat gue sudah pulih."


"Mmmm... gue sudah menjelaskan itu pada Ibu. Lho bisa tanya Ibu nanti. Gue malas kalau harus menjelaskan lagi." Ucap Alesha. Handphonenya tiba-tiba berdering nyaring. "Gue tinggal sebentar." Langsung bangkit meninggalkan Ardian dan Bian karena Amira yang menghubunginya.


"Wa'alaikumsalam. Lesha, kata Tina Ayra sakit. Sakit apa dia? Tina bilang dia muntah-muntah dari Kampus. Apa dia hamil?"


Alesha terdiam sejenak. Memikirkan alasan yang paling logis yang akan membuat Amira tidak sampai berpikir sejauh itu. "Mm.. Ayra cuma masuk angin. Tapi, dia juga salah makan. Aku lupa kalau dia alergi udang. Dia mencicipi sarapan aku yang digoreng pakai minyak udang tadi pagi. Aku malah keasyikan ngobrol sampai tidak memperhatikannya."


"Kebiasaan dia itu. Dari dulu selalu saja makan sisa kita. Alasan macam lah, takut mubazir lah, orang lain juga banyak yang kelaparan lah. Huh, titip salam dah untuk dia. Semoga lekas sembuh. Gue mau ada kegiatan di luar. Assalamualaikum..."


"Wa'alaikumsalam.." Alesha langsung bernafas lega. "Untung saja Amira bisa menerima alasan gue."


Adzan Maghrib berkumandang dari tadi. Alesha langsung menuju Musholla setelah menyimpan handphonenya di dalam tas.


**********


"Chay Sayang... bangun dong. Kok kamu tidurnya lama sekali sih." Ardian mengusap-usap dahi Chayra yang masih enggan membuka mata.


Alesha dan Tina menyebikkan bibirnya. "Katanya nggak mau bertemu Ayra kalau bonyoknya belum hilang." Ledek Alesha.

__ADS_1


"Nggak kuat akunya. Nggak apa-apa pakai kursi roda asalkan bisa bertemu istri." Ardian berkata tanpa mengalihkan pandangannya. Matanya masih menatap lekat wajah istrinya.


"Biarkan saja istrimu istirahat dulu, Nak. Dari tadi dia menanyakan kamu terus. Ibu bilang saja kalau kamu masih sibuk di toko."


Ardian hanya melirik mertuanya seraya tersenyum. Dia sudah hafal betul sifat mertuanya. Tidak akan membuat orang khawatir dan akan berusaha membuat orang disekitarnya selalu nyaman.


Mata Chayra mulai mengerjap. Perlahan matanya mulai terbuka. Memijit pelipisnya karena kepalanya nyut-nyutan. "Kok masih pusing aja ni kepala." Ucapnya lirih, menatap ke langit-langit ruangan yang di tempatinya. Belum sadar kalau Ardian sedang duduk di samping ranjangnya. Ia malah menoleh ke arah Ibu dan kedua temannya yang duduk di sofa.


Ardian sengaja menelungkupkan bantal agar pandangan istrinya terbatas ke arahnya.


"Kak Ardian kapan mau datang, Bu? Ibu bilang tadi, kalau dia akan datang setelah shalat Isya. Tapi ini sudah pukul berapa coba?"


Santi tersenyum mendengar pertanyaan putrinya. Begitu juga dengan Alesha dan Tina.


"Suami kamu masih sibuk, Nak. Ibu tadi memberikan tugas yang sangat banyak untuknya. Ibu tidak mengizinkan dia meninggalkan Toko sebelum pekerjaannya kelar semua."


"Kok dia jadi gila kerja gini sih. Ini kan baru hari pertama, Bu. Dia seharusnya tidak mengutamakan pekerjaan di saat istrinya sedang membutuhkan dia. Masa sih, orang lain yang lebih perduli." Chayra merenggut kesal.


"Aku sangat sibuk sampai tidak ada waktu untuk kamu, Chay.."


Chayra terkejut, langsung menoleh ke sumber suara. Mengangkat bantal yang menghalangi pandangannya. "Aaa... Kakak kapan datang. Kenapa nggak ngebangunin aku tadi?" Mengacak-acak rambut Ardian.


Ardian mengangkat wajahnya, dan....


"Astagfirullahal'adzim, muka Kakak kenapa?" Chayra sontak langsung bangun melihat wajah suaminya yang bengkak. Meraba-raba pelan wajah Ardian yang terlihat memprihatinkan.


"Suami kamu habis bertarung main smackdown dengan Pak Ghibran, Ayra." Timpal Tina.


"Maksudnya..?"


"Nanti aku cerita kalau kita sedang berdua. Terlalu banyak pasang telinga yang akan mendengar cerita aku, kalau aku menceritakannya sekarang."


"Ini semua terjadi gara-gara Kak Ardian, Ayra." Alesha menimpali.


"Loh, Kakak cari gara-gara sama Pak Ghibran?" Chayra kembali menatap suaminya.


"Bukan begitu maksud Alesha, Ayra. Ini semua gara-gara Kak Ardian karena Kak Ardian sudah menghamili lho." Tina meluruskan karena Chayra terlihat salah paham. Dia berpikir kalau Ardian memanas-manasi Ghibran sehingga terjadi adu jotos.


Chayra menggeleng pelan. "Aku nggak ngerti maksud kalian."

__ADS_1


"Istirahatlah, Chay. Aku akan menjelaskannya nanti saat kondisi kamu sudah pulih." Ardian hanya mengusap-usap dahi istrinya karena dia tidak bisa memberikan ciuman. Bibirnya masih bengkak seperti bekas tersengat lebah.


*********


__ADS_2