
Ghibran duduk termenung di atas sajadahnya. Usai mendirikan tahajjud dan istikharah, dia tidak ada niat untuk meninggalkan tempatnya bersujud. Kelebat bayangan wajah Chayra terus menghantui pikirannya. Sampai saat ini, tidak sedikitpun hatinya mau berpaling dan mencari pengganti gadis itu. Nama Chayra masih melekat di dalam hatinya.
"Allahuakbar.." lirihnya pelan seraya menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Apakah aku harus pergi?" Menunduk seraya mencoba menyelami kedalaman perasaannya. Untuk mrmantapkan hatinya, apakah dia harus berjuang lagi.
Kembali menarik nafas dalam." Bismillah, aku harus pergi menemuinya. Ini adalah bentuk dari ikhtiarku untuk mendapatkannya. Mudah-mudahan Allah mengabulkan permohonanku." Ghibran menggenggam tangannya. Keluar rumah untuk memanaskan mesin mobilnya. Ia berniat segera bersiap dan langsung berangkat. Kalau menunda, takutnya Chayra sudah menjadi milik permanen Ardian.
Sejak kepulangannya hari itu, Ghibran tidak pernah berkontak lagi dengan anggota keluarga Chayra. Termasuk Zidane yang menjadi teman dekatnya pun, tidak pernah ia hubungi lagi. Jika kebetulan Zidane mengirim pesan, dia hanya membaca tanpa berniat untuk membalas pesan dari sahabatnya itu.
"Kamu ada acara kemana, Nak? Ini masih sangat pagi dan kamu sudah memanaskan mesin mobil."
Ghibran yang baru masuk langsung disambut dengan pertanyaan papinya. Lamunannya tentang Chayra langsung buyar dan diterbangkan angin. "Eh, Papi sudah bangun?"
Pak Marzuki menautkan alisnya. "Papi bertanya sama kamu, Nak. Kamu mau kemana, sepagi ini sudah memanaskan mobil?"
Ghibran hanya tersenyum. Ia sengaja mengalihkan pembicaraan agar papinya tidak bertanya. Namun, Pak Marzuki malah curiga dengan lagaknya yang tidak biasa.
"Mm.. anu, Pi." Ghibran menghindari kontak mata dengan papinya. "Aku.. aku ada acara di luar kota. Jadi, aku berangkatnya lebih pagi biar tidak kena macet nanti."
"Kamu pergi sama siapa? Kenapa tidak pakai pesawat saja biar cepat sampainya?"
"Mm.. anu.. mm.." Ghibran memutar otak agar jawabannya tidak berbelit-belit. Jangan sampai papi dan maminya tau rencananya yang sebenarnya.
"Mm.. aku pergi dengan beberapa Dosen dari Kampus, Pi. M.. mereka pakai bis. Tapi, aku pilih pakai mobil saja karena ada urusan yang akan aku selesaikan sebelum ini." Ghibran tersenyum agar terlihat lebih meyakinkan.
"Tapi siapa yang akan berangkat sepagi ini, Nak? Kalau kamu pergi pakai pesawat ya.. Papi maklumi. Tapi, ini kamu pergi pakai mobil, terus berangkatnya sepagi ini. Ini baru pukul tiga pagi lho. Yang benar saja kamu ini." Pak Marzuki malah semakin curiga dengan cara ngomong anaknya yang terlihat berbeda.
"Ghibran menggaruk-garuk kepalanya. "Aku.. aku cuma mau cepat sampai saja, Pi."
Pak Marzuki menggeleng-geleng pelan. "Shalat Subuh dulu di rumah. Nanti habis shalat, baru kamu boleh berangkat." Pak Marzuki berlalu setelah menyelesaikan kalimatnya. Dari tatapannya, sudah jelas kalau ucapannya itu tidak boleh dibantah.
Ghibran akhirnya hanya bisa menarik nafas dalam. Kembali ke bagasi untuk mematikan mobilnya. Jika sudah begini, dia harus nurut dan tidak boleh membantah sama sekali.
__ADS_1
*********
Ardian duduk di pinggir tempat tidurnya dengan menunduk. Menggerutu hanya sebatas di dalam hati. Pak Sucipto duduk di sofa dengan memangku sebelah kakinya. Menatap putranya dengan tajam. Sejak kejadian malam itu, Pak Sucipto tidak mengizinkan Ardian keluar rumah. Pria itu hanya berdiam diri di dalam kamar. Pekerjaannya hanya melancarkan bacaan syahadat dan sholawat yang harus dibacanya saat akad nikah lusa.
Dua hari lagi, acara akad nikahnya akan digelar. Papinya berulang kali menyuruhnya melancarkan bacaan syahadat dan sholawat. Pak Sucipto tidak mau Ardian sampai membuatnya malu karena tidak lancar membaca syahadat maupun sholawat nanti.
"Ulangi lagi, Ardian. Papi tidak menyangka kalau baca syahadat saja kamu keringat dingin seperti orang yang lari maraton. Bagaimana kalau kamu melafadzkan qobul nanti." Pak Sucipto menggeleng-geleng pelan melihat keringat dingin putarannya.
"Asyhadu.. an..laailaaha illallah.." Ardian menatap papinya. "Terus apa lagi, Pi?"
Pak Sucipto menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Itu baru syahadat tauhid. Syahadat rasulnya belum."
"Maksudnya apa?"
"Astagfirullahal'adzim.." Pak Sucipto mengusap wajahnya kasar. Dia baru teringat ucapan Amira waktu itu, tentang putranya yang tidak mengenal Tuhannya.
Pak Sucipto menatap nanar putranya. Seburuk itukah dirinya sebagai orang tua sehingga tidak menyadari betapa buruk karakter putranya saat ini. "A.. apa kamu juga.. tidak tau bacaan shalat?"
Deg!
Pak Sucipto menelan ludahnya, tidak bisa berkata apa-apa.
Melihat reaksi papinya, Ardian tersenyum sinis. "Aku aja nangis ingin ikut pergi ngaji waktu itu. Tapi Mami selalu melarang aku. Mami bilang, aku tidak cocok bergaul dengan anak tetangga. Berjanji mau mendatangkan guru ngaji untuk aku. Eh, tapi sampai sekarang janji hanya tinggal janji."
Ardian kembali melirik papinya. Masih belum ada reaksi. Ia semakin semangat untuk mengungkit-ungkit kesalahan orang tuanya dimasa lalu.
"Siapa yang akan Papi salahkan sekarang? Apakah Papi akan menyalahkan aku karena aku seperti ini? Apakah Papi akan menyalahkan Mami? Karena Mami selalu membatasi kegiatanku dalam hal keagamaan. Atau mungkin Papi akan menyalahkan diri sendiri? Karena Papi yang menjadi kepala keluarga hanya memberikan materi kepadaku. Tapi tidak dengan ilmu agama. Bagaimana aku akan berakhlak seperti anak orang. Sedangkan Papi dan Mami tidak pernah memperdulikan semua itu. Papi dan Mami hanya sibuk mengumpulkan uang, uang dan uang."
"Cukup, Ardian!" Bu Renata muncul dari pintu dengan raut wajah kesal.
Pak Sucipto dan Ardian menoleh serentak. "Kenapa kamu menyalahkan kami atas keburukan yang terjadi pada kamu saat ini? Kamu sudah besar sekarang. Seharusnya kamu sudah bisa membedakan yang benar dan yang salah. Kami sudah memfasilitasi kamu dengan barang-barang mewah. Sudah memberikan pendidikan yang layak untuk kamu."
__ADS_1
"Iya, Mami memang benar. Aku sudah diberikan pendidikan yang layak. Tapi, apa Mami pernah memikirkan proses pertumbuhan aku sampai aku sebesar sekarang? Siapa yang mendidik aku sampai aku bisa berdiri tegak di depan kalian. Kalian hanya memberikan materi, tapi tidak dengan kasih sayang. Aku butuh kasih sayang, Mami. Ardian putramu ini butuh dekapan hangat seorang ibu."
Bu Renata memutar bola matanya kesal. "Anak sebesar kamu tidak layak lagi untuk dipeluk. Kamu sudah sangat dewasa kalau minta pelukan Mami sekarang."
"Cukup, Renata!" Pak Sucipto bangkit. "Dengarkan keluh kesah putramu. Jangan memotongnya sedikitpun atau kamu akan aku lempar keluar dari kamar ini. Kamu sudah kelewatan." Pak Sucipto kembali duduk setelah menyelesaikan kalimatnya.
Bu Renata akhirnya berjalan mendekat dan ikut duduk di sofa samping suaminya.
"Diam disana dan jangan coba-coba untuk bicara sebelum Ardian selesai." Ucap Pak Sucipto mengancam.
Bu Renata mengangguk patuh. Mendengar nada bicara suaminya, ia tidak berani membantah.
"Lanjutkan, Ardian. Keluarkan apapun yang ingin kamu ucapkan. Malam ini, kita akan menyelesaikan semuanya."
"Aku hanya ingin seperti orang lain, Pi. Aku hanya terlihat tangguh, tapi sebenarnya aku rapuh. Aku berpura-pura selalu terlihat bahagia, walaupun hatiku tidak pernah damai."
"Mungkin tubuhku tidak akan seperti ini kalau aku bahagia. Tidak ada orang yang damai hatinya, memiliki tubuh kurus kering seperti aku ini."
"Aku hanya butuh kalian, bukan harta kalian."
"Ja...." Bu Renata menutup mulutnya. Melirik suaminya yang juga sedang meliriknya. Hampir saja mulutnya keceplosan ingin membantah ucapan putranya.
"Aku ingin seperti orang lain. Orang tua mereka selalu ada di samping mereka saat acara sekolah. Sedangkan aku? Jangankan saat rapat wali murid. Saat aku wisuda kemarin pun, kalian tidak mendampingi aku. Pernah tidak, Mami dan Papi pikirkan bagaimana perasaan aku?" Ardian menitikkan air matanya. Laki-laki yang berpura-pura tangguh itu, kini menampakkan sifat aslinya.
"Sudahlah, bagi kalian ucapanku ini tidak akan berarti apa-apa. Aku hanya meminta pada kalian. Jangan salahkan aku, jika suatu hari nanti, wanita yang akan menjadi istriku ini tidak bahagia bersamaku. Jujur, aku sebaiknya memilih masuk penjara daripada harus menikah dengannya. Tapi ya.. seperti yang Papi katakan kemarin, ada harga diri kalian yang harus dipertaruhkan jika aku masuk penjara."
Ardian mengerjapkan matanya. Menarik nafas agar bisa menguasai diri.
Pak Sucipto menunduk. Diam-diam dia juga mengusap air matanya. Putranya yang selalu mandiri itu, kini menuntut kasih sayangnya.
Benar kata Ardian. Selama ini, dia dan istrinya hanya sibuk mencari uang. "M.. maafkan kami, Nak. Maafkan kami yang terlalu serakah dengan materi." Pak Sucipto kembali mengusap air matanya.
__ADS_1
*******