Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Aku tidak berarti untuknya


__ADS_3

Ardian menendang kerikil-kerikil kecil di sepanjang jalan yang ia lalui. Meremas rambutnya untuk melampiaskan rasa sakit yang sedang ia rasakan. Tidak tau kepada siapa dia akan mengadukan keadaannya ini.


Adzan Maghrib sudah berkumandang sejak tadi. Namun, pria itu belum sempat mendirikan shalat karena belum ada Masjid yang ia jumpai. Kembali berjalan, menyusuri jalan yang tidak ada ujungnya. Air mata terus saja menetes. Entah kenapa dia merasa sangat terluka mendengar semua perkataan istrinya tadi. Ucapan Chayra tadi lebih menyakitkan daripada ucapan orang tuanya saat mengusirnya dulu.


Ardian menarik nafas dalam saat melihat Masjid yang terlihat sangat ramai. Beberapa kali menelan ludahnya sebelum akhirnya berjalan mendekat. Semua keadaan yang dia rasakan ini harus dia serahkan kepada yang Maha Membolak-balikkan perasaan.


Melipat lengan bajunya saat sampai di tempat wudhu'. Baru saja membasuh tangan, Ardian dikejutkan oleh tepukan di pundaknya.


"Aku kira aku salah lihat. Kamu ada keperluan apa sampai shalat di sini?" Zidane masih meletakkan tangannya di pundak Ardian.


"Eh, Kak Zidane. K.. Kakak belum balik ke Pesantren?"


"Belum. Nanti malam, aku terbang. Aku ada janji dengan temanku, mau menyerahkan berkas lamaran kamu. Nanti kita ngobrol lagi. Aku juga belum shalat ini. Waktu Maghrib sudah mau habis." Ucap Zidane. Padahal dia sampai berada di tempat ini karena Chayra menghubunginya tadi sore. Gadis itu meminta tolong agar Zidane mencari tau keberadaan suaminya. Karena sampai tadi sore, Ardian tidak bisa dihubungi.


Ardian hanya mengangguk kecil. Kembali membasuh tangannya untuk mengambil air wudhu.


Usai mendirikan shalat, Zidane mengajak Ardian duduk di sebuah bangku panjang di depan Masjid.


"Ada masalah apa dengan Ayra? Sebelum Maghrib tadi dia menghubungiku."


Ardian tersenyum hambar. Menunduk sambil menarik nafas dalam. "Aku juga nggak tau, Kak." Mengusap-usap wajahnya kasar.


"Siapa yang memulai duluan. Ayra, kan?" Zidane melirik Ardian. Tangannya sibuk mengetik sesuatu di handphonenya.


Ardian terdiam. Hanya bibirnya yang tersenyum samar.


"Chayra Azzahra itu orangnya sangat lemah lembut. Namun, dia juga masih menyimpan sifat egois. Terkadang dia sulit memahami perasaan orang lain. Di lain waktu, terkadang dia berubah menjadi orang yang paling pengertian. Dia sering kali mengabaikan dirinya karena kasihan pada orang lain. Ayra juga orangnya sangat keras kepala, Ardian. Aku saja sempat bingung bagaimana menghadapinya dulu. Aku sudah tiga kali gagal melakukan ta'aruf karena dia."


"Kenapa dia melakukan itu?" Ardian menatap Zidane heran.


"Dia takut perhatianku akan berkurang padanya kalau aku menikah. Tidak ada sosok seorang ayah yang menjaga dan melindunginya. Itulah mengapa aku selalu memberikan perhatian yang lebih padanya sejak dulu." Zidane tersenyum ketus. "Orang-orang bahkan sempat berpikir kalau aku menyukainya sebagai wanita saking besarnya perhatian yang aku berikan untuknya."


Ardian kembali menatap Zidane dengan heran.


"Tapi percayalah, kalau aku selalu menjaga batasan sebesar apapun aku menyayanginya. Aku dan Ayra itu halal nikah walaupun kami seperti saudara kandung."


"Aku tau itu." Jawab Ardian


Apa yang membuatmu sampai meninggalkan rumah?"

__ADS_1


Ardian menghela nafas berat. "Aku takut membentaknya, aku takut semakin menyakitinya kalau aku berdiam diri di rumah," menarik nafas dalam. "Aku takut tidak bisa mengendalikan diri. Aku hanya ingin menenangkan diri, Kak. Aku sedang berusaha melupakan kata-kata yang dia keluarkan tadi."


"Memangnya apa yang dia katakan?"


"Kak Zidane bisa tanyakan itu padanya. Dadaku terasa sesak kalau harus mengungkit lagi masalah itu."


"Kita pulang sekarang. Masalah ini harus diselesaikan agar tidak bertambah besar."


"Aku malu bertemu Chay, Kak. Biar saja aku bermalam di Masjid ini untuk malam ini saja."


"Jangan seperti itu, Ardian. Kamu harus pulang. Kamu tidurlah di kamar lain kalau kamu memang belum siap bertemu dengan Ayra."


Ardian terdiam. "Aku bingung, Kak. Aku tau kesalahanku di masa lalu memang sangat besar. Tapi, aku sudah berusaha untuk berubah, Kak. Apakah salah, kalau aku jatuh cinta pada orang yang pernah aku benci dulu? Kebejatan yang aku lakukan di masa lalu bahkan selalu mendatangiku dalam mimpi. Dosa-dosa di masa lalu itu seperti alarm yang selalu berbunyi ketika aku akan mendirikan shalat."


"Allah yang Membolak-balikkan perasaan hambanya, Ardian. Allah memberikan hidayah, itu yang patut kamu syukuri."


"Ucapan Chay tadi seperti tamparan keras bagiku. Betapa aku hanya hadir sebagai benalu dalam kehidupannya. Aku baru sadar, kalau aku tidak berarti apa-apa untuknya."


"Sudah, anggap pertengkaran tadi sebagai cobaan pernikahan. Mungkin itu juga bawaan bayinya. Itu yang membuat Ayra sangat sensitif." Zidane membuang nafas kasar. "Kita pulang sekarang. Nanti kita shalat Isya di rumah." Zidane bangkit sambil menarik tangan Ardian.


"Aku masih mau disini dulu, Kak." Jawab Ardian menahan tangannya yang ditarik Zidane.


"Kamu harus pulang agar aku bisa mempercayakan Ayra pada kamu. Aku juga ingin memikirkan diriku sendiri sekarang. Jika sudah ada laki-laki tangguh yang bisa menjadi tempatnya bersandar, maka aku bisa mencari wanita yang mau menjadi pendampingku. Abah dan Ummi juga akan datang besok. Kamu bisa membayangkan bagaimana reaksi mereka, seandainya mereka tidak menjumpai kamu di rumah."


"Percayalah, kalau semua akan baik-baik saja. Kamu akan ikut pulang denganku kalau kamu benar-benar mencintai Ayra dan calon buah hati kalian."


Lama Ardian berpikir sebelum akhirnya bangkit dan mengikuti langkah Zidane.


*********


Chayra membolak-balikkan tumbuhnya. Matanya tidak bisa terpejam. Tidur sendirian tanpa sosok Ardian membuatnya benar-benar tidak nyaman. Ia masih menyesali ucapannya yang membuat suaminya sampai pergi.


Chayra bangkit seraya beristighfar beberapa kali. Perasaannya tidak akan bisa tenang sebelum dia meminta maaf pada laki-laki itu.


Berulang kali mencoba menghubungi nomor handphone Ardian. Namun, tetap saja suara operator yang menjawab panggilannya.


Akhirnya ia memutuskan untuk mengambil air wudhu. Mendirikan shalat beberapa rakaat, berdoa memohon ampunan pada Allah atas kecerobohan dirinya yang tidak bisa menjaga lidahnya.


Usai mendirikan shalat, Chayra kembali ke atas ranjangnya. Meraih handphonenya, mencoba menghubungi Zidane.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Kak."


"Wa'alaikumsalam.. kenapa belum tidur, Dek? Kamu sedang hamil. Begadang itu tidak baik untuk kesehatan kandungan kamu. Apa kamu mengkhawatirkan suami kamu?" Zidane meletakkan jari telunjuknya sebagai isyarat agar Ardian diam. Walaupun Ardian ikut pulang dengan Zidane. Namun, ia memilih beristirahat di kamar Zidane. Masih merasa belum siap kalau harus berjumpa istrinya dengan keadaan perasaan yang campur aduk.


"I.. iya, Kak. Aku mengkhawatirkan Kak Ardian. Dimana dia tidur malam ini. Seharusnya aku tidak berkata begitu tadi sore. Aku terlalu egois, tidak memikirkan perasaannya."


"Baguslah kalau kamu sudah menyadari kesalahan kamu. Setidaknya kamu tidak membenarkan perbuatan yang sampai menyakiti suamimu."


Chayra mengusap air matanya. "Apa.. apa Kak Zidane tidak bertemu dengan Kak Ardian?"


"Aku bertemu, tapi dia bilang, untuk apa dia pulang kalau dirinya sudah tidak berarti untukmu."


Chayra tertegun. "Aku... benar-benar menyesali ucapanku tadi, Kak. Aku.. aku juga sedang mengandung anaknya."


"Kamu memang sedang mengandung anaknya. Tapi, ucapan kamu seperti duri yang menusuk-nusuk harga dirinya. Lain kali perhatikan apa yang kamu ucapkan. Karena bisa jadi, ucapan kamu sendiri yang akan menjatuhkanmu."


Chayra bingung mau menjawab apa. Di hanya bis menelan ludahnya mendengar semua ucapan Zidane.


"Tidurlah, suamimu akan menemui kamu kalau dia sudah merasa lebih baik."


"Aku.. aku tutup, Kak. Assalamualaikum.."


"Wa'alaikumsalam.."


Handphone Chayra jatuh dengan sendirinya. Air matanya jatuh tanpa ia minta.


Sementara itu di kamar sebelah. Ardian yang menjauh saat mendengar suara istrinya di balik telepon, kembali mendekat setelah panggilan suara itu berakhir.


"Kenapa dia menghubungi Kak Zidane di jam segini? Biasanya dia sudah terlelap dalam pelukanku di jam segini."


Zidane tersenyum. "Dia merindukanmu, tetapi dia gengsi mengatakan hal itu. Dia tidak bisa tidur karena tidak ada laki-laki setia yang selalu mengelus rambutnya. Memeluknya dengan penuh kasih sayang. Malam ini, dia baru merasakan, betapa besar pengaruh seorang Ardian dalam istirahatnya."


"Aku ingin menengoknya, Kak."


Zidane terkejut mendengar permintaan Ardian. "Terserah kamu. Pergilah kalau kamu benar-benar ingin melihatnya."


"Terimakasih, Kak." Ardian bergegas keluar dari dalam kamar. Perlahan, ia mendekati kamar istrinya. Pintu kamar itu sedikit terbuka. Ternyata Chayra belum mengunci pintu kamar itu. Antara sengaja atau gadis itu memang lupa.


Ardian berdiri di depan pintu. Ingin rasanya langsung masuk dan merengkuh tubuh wanita yang sedang terisak itu ke dalam pelukannya. Namun, ucapan Chayra kembali terngiang-ngiang.

__ADS_1


Ardian mundur beberapa langkah. "Aku.. aku tidak berarti untuknya," ucapnya lirih. Memejamkan matanya, mengepalkan tangannya untuk menahan gejolak perasaannya. "Maafkan aku, Chay.." Ardian menunduk lemah.


******


__ADS_2