
Pagi itu Chayra kembali sibuk menyiapkan perlengkapan suaminya ke kantor. Setelah acara syukuran si rumah ibunya selesai tadi malam, Ardian langsung memboyong keluarga kecilnya untuk pulang. Karena dia cuti hanya dua hari. Jika untuk pulang besok pagi, pasti ada saja drama yang timbul yang akan membuatnya terlambat ke Kantor.
Chayra mengancingkan kancing di lengan baju suaminya. "Jangan lupa, kalau bisa kamu pulang lebih cepat, Mas. Semakin kesini kamu semakin sibuk. Waktu untuk keluarga semakin berkurang." Satu kalimat protes sudah dilayangkan. Ardian hanya bisa tersenyum masam menanggapinya.
Chayra beralih memasang jas lalu memasangkan dasi dan memperbaiki letak dasi Ardian. Sebelum berangkat, dia akan selalu menilai penampilan suaminya. "Oke sudah terlihat sempurna." Chayra menatap dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, menurunkan tangannya yang masih menempel di dada suaminya.
Tangan itu langsung di tahan Ardian. Meletakkan kembali di dadanya agar Chayra bisa merasakan detak jantungnya. "Kenapa, Mas..?" Chayra menunduk, wajahnya langsung merona merah. Ardian sering sekali melakukan hal-hal yang membuat wajahnya langsung merona merah.
"Aku bahagia memilikimu, Sayang." Ardian mengatakan itu sambil menarik tubuh istrinya. Tubuh Chayra jatuh ke dalam pelukannya. "Kamu bisa merasakan bagaimana irama detak jantungku saat berdekatan dengan tubuhmu."
"Udah ih, Mas. Kamu berangkat kerja ya, sekarang. Modus saja kasih rayuan kirain aku akan meleleh. Sengaja kan berkata begitu biar aku melupakan ucapanku tadi."
"Tidak, aku memang merasakan hal berbeda saat berdekatan dengan kamu." Ardian mempererat pelukannya saat merasa istrinya berontak. "Jangan dilepas dulu, Sayang. Aku belum puas memelukmu."
"Tapi, Mas...."
"Ssstttt..." Ardian semakin membenamkan wajah istrinya. "Jangan protes atau nanti malah tidak bisa lepas. Apa kamu sudah lupa kalau aku sering hilang kendali saat berdekatan denganmu?"
"Mas.. lebai ah," Chayra memukul dada suaminya. Wajahnya kembali menyemburkan rona merah.
"Jangan bersikap seperti ini, Chay. Aku makin gemes tau nggak?"
"Hmmm... udah punya anak juga, masih aja seneng goda istri."
"Mumpung Adzra masih bobo. Tau kan Adzra paling suka ganggu acara kita berdua."
"Namanya juga anak kecil, Mas. Makanya kalau lagi pingin, anaknya di pindah dulu ke kamar sebelah biar tidak diganggu. Mas Ardian berangkat kerja sekarang ya.. aku udah buatkan nasi goreng tadi."
Dengan berat, Ardian akhirnya melepaskan pelukannya. "Kok menu sarapannya berat, Sayang. Biasanya kan aku sarapan pakai roti bakar."
"Ganti menu, Mas. Nggak bosen apa sarapan pakai roti terus. Mas Ardian kan sering melewatkan makan siang di Kantor." Chayra berlalu dari hadapan suaminya yang masih melongo.
__ADS_1
"Siapa yang bilang begitu, Sayang. Apa kamu punya mata-mata untuk mengawasi gerak-gerik ku di kantor."
"Jangan macam-macam, Mas. Aku punya Indra ke tujuh yang bisa memantau perbuatan Mas Ardian di luaran sana."
Ardian menelan ludahnya. "Ah, kamu jangan ngomong yang nggak bener dong. Merinding nih aku mendengar kamu punya Indra ke tujuh segala. Bukannya orang mengatakan indra ke enam bukan ke tujuh?"
"Suka-suka akulah Mas mau bilang apa. Bilang aja jujur kalau kamu sering melewatkan makan siang. Hati-hati loh, jangan sampai terkena penyakit maag seperti aku. Penyakit maag itu terdengar sepele, tapi kita yang merasakannya terasa disiksa."
"Siap dilaksanakan, Nyonya. Baiklah, mulai sekarang saya akan berusaha untuk makan teratur dengan menghabiskan bekal makan siang yang dibuatkan Tuan Putri." Ardian bergaya hormat sambil berdiri tegak.
Chayra melengos sambil berlalu keluar. Berdebat dengan suaminya selalu saja berakhir dengan dirinya yang sakit hati.
Saat sampai di depan meja makan, Ardian kembali mempertanyakan ucapan istrinya saat di kamar tadi. "Chay, jawab dengan jujur, siapa yang bilang kalau aku jarang makan siang di Kantor."
"Kenapa membahas itu lagi sih, Mas?"
"Aku hanya khawatir. Jangan sampai kamu benar-benar memilik Indra ke enam seperti yang kamu ucapkan tadi. Atau mungkin kamu punya anak buah yang memantau setiap gerak-gerik ku di luar."
Ardian tertegun. Mulutnya yang sudah penuh dengan nasi langsung berhenti mengunyah. Bibirnya tersenyum meringis. Tangannya teracung mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Mas kira aku paranormal, sehingga punya Indra ke enam segala." Chayra tersenyum sinis.
Ardian menelan nasinya dengan susah payah. "Maaf, Sayang. Terkadang terlalu banyak pekerjaan yang menuntut untuk segera diselesaikan."
"Pekerjaan itu diselesaikan pada waktunya, Mas. Setiap Perusahaan sudah menyediakan waktu untuk istirahat mengerjakan ibadah, untuk makan dan lain sebagainya. Bekerjalah sesuai dengan porsinya, Mas. Jangan terlalu dipaksakan nanti kamu sakit." Chayra terus bicara sambil bolak balik ke dapur menyiapkan bekal makan siang untuk suaminya.
Bi Idah hanya senyum-senyum dari dapur. Dibalik senyumnya, ada rasa salut yang terselip dalam hatinya untuk Chayra. Kagum pada sikap Chayra yang berani menegur langsung perbuatan salah suaminya. Jarang sekali dia menemukan wanita yang seperti Chayra.
Ardian terus menyuapkan nasi ke mulutnya sambil terus mendengar ceramah sang istri. Pagi itu, akhirnya ceramah Chayra berakhir setelah Ardian berpamitan untuk berangkat kerja. "Kamu juga jangan lupa makan. Jangan hanya memperingatkan suami tetapi kamu sendiri tidak makan dengan baik." Ardian mengusap kepala istrinya, mencium dahinya dengan penuh kasih sayang lalu masuk ke dalam mobil.
Chayra hanya mengangguk seraya tersenyum lembut pada suaminya. "Kamu hati-hati bawa mobilnya, Mas."
__ADS_1
"Iya, Sayang, assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam.." Chayra masuk kembali ke dalam rumah setelah melihat suaminya keluar dari gerbang dan mobilnya hilang dari pandangan.
"Oalah, Neng. Hati Bibi adem ayem melihat Neng dan Tuan kayak tadi."
Chayra terlonjak kaget saat tiba-tiba Bi Idah muncul dari dapur dengan senyum sumringah. "Astagfirullah, Bi... aku kaget banget. Bibi bilang apa?"
"Bibi senang melihat kejadian pas Tuan sarapan tadi, Neng. Laki-laki mah memang suka gitu, Neng. Sering lupa waktu kalau sudah bekerja. Suami Bibi juga sering gitu. Kalau udah sibuk di sawah, kalau tidak sore dia tidak akan pulang."
"Eh, Bibi diam-diam ternyata suka nguping ya.."
"Eheheh... bagaimana nggak nguping, Neng. Kan Bibi sedang di dapur tadi. Kebetulan saja, itu rizkinya Bibi."
"Astagfirullah, Bi... nguping pembicaraan orang saja di ulang rizki. Itu mah rizki nggak baik namanya. Seharusnya Bibi tutup mata tutup telinga tadi biar tidak mendengar dan melihat apapun."
"Weh si Neng. Bibi juga kan suka mendengar kalian kayak tadi. Tuan Ardian itu nurut banget kayaknya sama Neng Ayra. Kalau dia pulang malam saja, kalau disambut sama Neng, wajahnya akan berbinar senang. Berbeda kalau Bibi yang menyambutnya, dia akan menampakkan wajah letih dan lesu. Itu lagi, Neng, Bibi sangat senang mendengar panggilan khususnya untuk Neng Ayra. Wah... kayak di drama-drama orang bermata sipit itu, Neng. Iya... walaupun Tuan Ardian tidak bermata sipit, tapi ketampanannya sudah di atas rata-rata." Bi Idah terus nyerocos tidak perduli dengan ekspresi majikannya. Chayra hanya menahan senyum sambil duduk setia mendengar semua ucapan Bi Idah.
"Neng juga cantiknya kebangetan. Apalagi kalau pakai baju tidur, rambut di biarkan tergerai saat menyambut suami pulang. Masya Allah, Neng. Bibi saja yang perempuan meleleh, apalagi laki-laki."
Chayra langsung melototkan matanya. "Bibi..." ucapnya pelan pada Bi Idah.
"Eh, iya Neng ada apa?" Bu Idah gelagapan. Meletakkan pisau yang dari tadi dipakainya untuk memotong wortel. "Ada apa, Neng? Apa ada ucapan Bibi yang salah yang membuat Neng tersinggung?"
"Bibi kapan melihat aku menyambut Mas Ardian?"
"Mm... setiap Neng menunggunya di ruang tamu. Bibi harus memastikan Tuan rumah tidur dulu, baru Bibi ke kamar belakang." Jawab Bi Idah dengan anteng. Kembali melanjutkan aktivitasnya memotong wortel.
Chayra menarik nafas panjang seraya beristighfar. Jadi selama ini Bi Idah yang selalu mematikan semua lampu di rumah. Dia baru sadar, kalau wanita paruh baya di depannya ini sangat perduli dan perhatian padanya.
*********
__ADS_1