Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Kepergok saat memberikan bekal


__ADS_3

Ardian meraih gelas minumnya lalu meneguknya perlahan. Tenggorakannya terasa panas karena keselek tadi.


"Kamu baik-baik saja kan, Mas?"


Ardian hanya mengangguk. Ia masih berusaha menyeimbangkan rasa aneh di tenggorakannya. Setelah berulang kali menarik nafas panjang ia akhirnya bisa bernafas lega. "Lain kali jangan ngomong yang aneh-aneh Sayang kalau kita lagi makan."


"Aneh? Perasaan aku nggak ngomong yang aneh-aneh deh, Mas."


"Tadi kamu bilang mau cukur habis rambut aku. Apa kamu tidak takut nanti kalau melihat aku saat mati lampu. Bisa-bisa kamu kira aku tuyul lagi."


Chayra menautkan alisnya sambil menahan senyum, berjalan lebih mendekat pada suaminya. "Aku akan mengira kamu tuyul ganas yang kehabisan bensin. Merayap-rayap mencari pom bensin di tengah malam." Chayra berbisik di telinga Ardian.


Spontan Ardian menggosok-gosok telinganya. "Chay... jangan suka kayak gitu. Please deh.. udah berapa kali aku ingetin kamu, kebiasaan deh." Ardian menarik tubuh istrinya sampai jatuh di atas pangkuannya. "Aku sudah peringatkan kamu. Sekarang kamu harus membayar tuntas hukuman karena membuat aku kesal." Mata Ardian mulai gelap menatap istrinya.


"Mas... ini di Kantor loh. Bagaimana kalau ada orang masuk nanti."


"Ini ruangan aku. Aku bebas melakukan apapun yang aku mau. Jika ada orang masuk, salah sendiri masuk ke ruangan orang saat jam istirahat." Dan kejadian yang tak seharusnya terjadi, maka terjadilah.


"Permisi, Pak..." pintu sedikit terbuka menampakkan orang yang membuka pintu dari luar. "Astagfirullahal'adzim... m.. maaf Pak, nanti saya kembali lagi."


Brak..!


Pintu tertutup dengan kasar menandakan orang yang sangat terkejut.


Chayra yang sudah menyembunyikan wajahnya di balik bahu suaminya kini berani berbalik dan menatap ke arah pintu yang sudah tertutup. Tangannya masih memeluk leher suaminya. "Aku malu sekali, Mas."


"Ngapain malu, Sayang. Aku kan sudah bilang, yang masuk ruanganku saat jam makan siang, harus menerima resiko melihat apapun yang terjadi di dalam ruangan ini."


Chayra kembali melirik ke arah pintu seraya berusaha turun dari pangkuan suaminya.


"Diam di sini, Sayang. Kamu mau kemana?"


"Mau turunlah, Mas. Nanti kalau karyawan kamu masuk lagi, tidak ada pemandangan yang merusak iman yang akan mereka lihat."


Ardian terdiam tetapi matanya menatap lekat ke arah bibir istrinya.


"Kenapa menatapku seperti itu, Mas?"


"Aku belum puas dengan yang tadi. Nanti malam kamu berhutang untuk hal ini. Kamu hatust membayar tuntas."


Chayra melengos seraya merapikan kotak bekal yang di sudah kosong. "Kamu yang tidak puas kenapa aku yang harus bertanggung jawab, Mas?"


"Kewajiban istri kepada suami, Sayang."

__ADS_1


"Heh, laki-laki memang hebat ya, Mas. Kalau masalah beginian pasti menyangkut pautkan dengan..."


"Ssstttt...." Ardian meletakkan jari telunjuknya di depan bibir istrinya. "Tidak boleh mengusik hukum yang sudah ditetapkan agama."


Chayra tidak menimpali. Hanya tangannya yang masih beraktivitas membereskan meja. Hal itu membuat Ardian tersenyum. Istrinya selalu lemah kalau sudah menyangkut masalah agama.


Setelah selesai, Chayra bangkit lalu menyodorkan tangannya ke hadapan Ardian.


"Apa?" Ardian yang sedang menatap layar handphone mendongak menatap Chayra.


"Aku mau pulang, Mas."


"Nanti dulu, Sayang."


"Nanti Adzra bangun. Kasihan Bi Idah, kerjaannya udah banyak, lagi ditambah dengan mengurus Adzra."


Ardian menarik nafas panjang seraya menatap sang istri. "Iya sudah.. kamu hati-hati di jalan." Meraih tangan Chayra yang masih terulur. Membiarkan wanita itu mencium tangannya.


Chayra bergegas keluar ruangan. Baru beberapa menit hilang dari pandangan suaminya, tiba-tiba dia muncul kembali dengan raut wajah yang berbeda. "Mas..."


"Eh, ada apa kenapa kembali lagi?"


"Antar aku ke bawah, Mas. Aku malu..."


"Ada apa makanya?"


Ardian menggeleng-geleng pelan, antara gemas dan heran dengan tingkah istrinya. "Ayo, aku antar.."


Chayra mengangguk, berjalan di belakang suaminya.


"Loh, kenapa di belakang, Chay? Sini aku rangkul caranya."


"Jangan, Mas.. aku malu sama karyawan kamu."


Ardian menghela nafas berat. Dia baru mengerti penyebab istrinya sampai meminta untuk di antar.


Ardian POV...


Semakin kesini rasa sayangku semakin besar untuk wanitaku ini. Sungguh aku benar-benar menikmati perjalanan hidupku setelah bersamanya. Berbeda sekali rasanya kehidupanku yang dulu dan sekarang.


Chayra Azzahra ini memang wanita yang aneh menurut aku. Ketahuan berciuman dengan suami sendiri kok malunya sampai dibawa kemana-mana. Aku mah kalem-kalem aja, walaupun aku melihat beberapa karyawan wanita di lantai lima berbisik-bisik saat aku mengantarnya turun. Mungkin itu yang membuatnya malu. Gara-gara melihat ekspresi wanita-wanita yang sedang melakukan kegiatan rutin mereka menghibah orang.


Aku sengaja menarik Chay agar sejajar denganku. Ku rangkul lalu ku cubit pipi Chay saat lewat di hadapan mereka. Hal itu tentu saja membuat wajah istriku merona merah. Walaupun wajahnya tertutup cadar, aku bisa melihat dan merasakan hal itu. Hahahaha.. aku semakin merasa di atas angin. Jarang-jarang aku bisa membuatnya seperti ini.

__ADS_1


Dia meminta untuk di antar sampai depan lift saja. Tapi, aku menolaknya. Aku harus memastikan kalau tidak ada orang yang mengusiknya sampai dia masuk kembali ke dalam mobil. Aku melambai saat dia sudah masuk ke dalam mobil. Tidak lupa aku selipkan kata hati-hati untuknya.


Saat aku naik kembali, aku melihat Dodit sudah duduk di sofa depan ruanganku. "Kenapa nggak langsung masuk, Dit?" Tanyaku.


Dodit yang sedang membolak-balik berkas ditangannya langsung mendongak begitu mendengar suaraku. Dia menatapku dengan tatapan kesal. Dasar ni orang.. kebiasaan banget deh, kalau lagi berdua seperti ini, rasa hormatnya akan turun ke level satu.


"Aku tidak akan berani masuk sembarangan ke ruangan kamu lagi, Ar. Dasar kamu ini, nyosor-nyosor sama istri nggak tau tempat. Ini masih jam kerja lagi.


Aku langsung melotot mendengarnya. "Enak saja bilang jam kerja. Tadi itu aku sedang makan siang, Dit. Makan disini memiliki dua arti. Makan untuk keperluan lahir dan makan untuk keperluan batin."


Dodit melengos mendengar penjelasanku. Aku langsung membuka pintu. Ngapain ngeladenin orang ini. Siapa suruh menjomblo sampai usia senja.


"Eh, mau kemana lu..?" Dia malah menarik lengan bajuku.


"Mau masuklah, Dit. Kita harus kembali bekerja karena jam istirahat sudah habis."


"Dasar lu.." Dodit ikut bangkit dan mengikutiku masuk ke dalam ruangan.


"Eh, Ar.. lu tadi udah berapa lama dalam posisi itu?"


"Maksudnya?" Aku pura-pura tidak paham dengan arah pembicaraannya.


"Heh, pura-pura bodoh lagi ni orang."


Hahahaha... Dodit terlihat semakin kesal. Terzeraaah... gue nggak perduli. Siapa suruh kepoin masalah pribadi orang. Aku sengaja membuka komputer agar dia tidak bertanya lagi.


"Tadi lu pangku-pangkuan dengan istri lu. Nggak berat emangnya.. terus rasanya enak ya.. kayak tadi itu?" Dodit malah bertanya seperti orang bodoh. Terlihat sekali kalau dia tidak berpengalaman sama sekali dalam hal begituan.


"Ngapain tanya-tanya. Itu privasi aku dengan istri. Kalau kamu penasaran, kamu nikah aja biar nggak jadi penonton terus. Lama-lama kamu bisa ileran kalau terus-terusan melihat hal tadi setiap hari."


"Gila lu, Ar. Manager keuangan tadi langsung kabur saat melihat lu sedang mesum. Tapi, kayaknya dia bergosip deh di depan ruangan Sekertaris Direksi. Makanya mereka bisik-bisik saat istri lu lewat tadi."


Aku hanya manggut-manggut. Pantesan Chay tidak nyaman pas lewat tadi. Ternyata ada yang sedang menghibahnya. "Jadi kamu datang dengan Manager keuangan tadi?"


"Iya.. itulah mengapa aku langsung menutup pintu tadi. Tapi, aku gagal menyembunyikan aib lu. Matanya terlalu jeli sehingga berhasil melihat semuanya walaupun aku sudah berusaha menutupnya dengan tubuhku."


"Aib.. aib. Gue melakukannya dengan istri. Aib dari Hongkong. Yang ada gue sudah memenuhi kebutuhan bekal batin. Biar kalau ada yang nawarin jajan sembarangan gue nggak minat."


Dodit menyebikkan bibirnya. Sepertinya dia sudah bosan bertanya karena aku selalu bisa menjawabnya dengan jawaban yang membuatnya hanya bisa mengelus dada.


Author POV...


Ardian kembali pada kesibukannya setelah Dodit diam menunggunya yang sedang menandatangani beberapa berkas dari Manager keuangan tadi.

__ADS_1


Ardian melirik ke arahnya beberapa kali karena kasihan melihat Dodit yang selalu kalah debat dengannya.


*********


__ADS_2