Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Membuat keputusan besar


__ADS_3

Siang itu terasa sangat terik. Dodit berjalan di belakang Ardian menuju parkiran. "Yakin nih, kita mau makan di luar? Kamu nggak kepanasan emangnya kalau keluar, Ar? Kasihan wajah putih bersih kamu akan ternoda kalau terkena sinar matahari."


Ardian menghentikan langkahnya. Melihat bosnya berhenti, Dodit pun ikut berhenti. "Kenapa berhenti, Pak Bos?"


"Lu cerewet pisaaan.. Dari tadi ngoceh terus sampai telinga aku berdenging. Pakai komen wajah mulus segala. Ini wajah asli Dit, bukan oplosan. Kalau asli itu pasti sulit terkontaminasi." Ardian kembali melanjutkan langkahnya. "Atau kamu iri ya, karena aku memiliki wajah mulus seperti artis Korea."


Dodit menyebikkan bibirnya. "Nggak ada mirip-miripnya sama sekali. Mata orang Korea itu sipit, Ardian. Mata lu lebar kayak gitu." Dodit melengos seraya mendahului langkah Ardian. Ia masuk duluan ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi.


"Tapi gini-gini aku mantan favorit wanita, Dit. Aku bahkan tidak bisa mengingat satu persatu wajah wanita yang pernah tidur bersamaku."


Dodit kembali melengos. "Itu sih bukan karena kamu menjadi pria favorit. Tapi mereka tidur bersama kamu karena kamu bejat dan tidak bertanggung jawab."


"Hehehe... tapi setidaknya aku sudah tobat sekarang, Bro."


"Kalau aku jadi istri lu, aku nggak akan sudi menjadikan kamu suami."


"Lah, kamu ketinggalan informasi. Yang minta aku untuk menjadi suaminya itu dia, Dit. Aku bahkan menolak dengan tegas, tapi dia juga bersikeras. Mungkin karena niatnya memang baik, itulah mengapa Allah berkehendak."


"Nasib lu aja yang beruntung." Timpal Dodit. Mereka sudah keluar dari gerbang dan bersiap untuk menyebrang. "Besok kalau hutang lu udah lunas, jangan lupa cari sopir pribadi biar pekerjaan gue nggak ganda kayak sekarang."


"Perjalanan masih panjang, Dit. Iya... kecuali kalau aku mengikuti saran dari kamu untuk menjual saham itu, mungkin aku akan cepat terbebas."


"Kamunya aja yang ngeyel dikasih tau."


"Kita ini sudah dewasa, Ar. Kita sudah tau mana yang benar dan mana yang salah."


"Aku sedang mempertimbangkan saran dari kamu kemarin. Aku hanya takut kalau kamu memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan."


"Eh, kok ngomongnya gitu? Aku bukan manusia berhati busuk yang akan memanfaatkan kelemahan teman, Ar. Aku kasih saran untuk menjual saham ke aku, kamunya malah tertawa. Kirain aku tidak punya uang tujuh milyar apa. Aku memang sudah tidak memiliki kedua orang tua lagi. Keluarga pun, sepertinya tidak ada orang yang mau mengakui aku. Aku juga bukan orang kaya. Tetapi berkat Pak Sucipto memungutku dan menyekolahkan aku, aku bisa seperti ini sekarang."


Ardian terkesiap mendengar cerita Dodit. Sepersekian detik matanya tidak berkedip menatap pria yang sedang menyetir di sebelahnya. Tapi, tak sedikitpun Dodit merasa terusik. "J.. jadi k.. kamu di rawat Papi sejak kecil?"


Dodit hanya mengangguk kecil. "Aku diam di Panti Asuhan, tapi Almarhum Papi kamu yang selalu menyumbangkan dana untuk kelangsungan hidup kami. Beliau juga menyekolahkan aku sampai tamat S1. Iya... sampai aku masuk ke Perusahaan ini. Dan untuk S2, aku kuliah sambil kerja. Kamu kira aku akan mengabdi begitu saja sama Pak Sucipto? Aku malu dan menghormati beliau karena kemuliaan hatinya. Itulah sebabnya, walaupun beliau sudah meninggal sekarang, aku akan tetap mendampingi putranya yang banyak tingkah ini." Dodit melirik Ardian dengan lirikan mengejek.


"Kapan aku banyak tingkah, Dit?"


"Heh, giliran kayak gini pasti pura-pura lupa. Kamu sering memperlihatkan kemesraan dengan istri kamu dihadapan aku, bukannya itu namanya bertingkah. Terus pas aku minta bantuan untuk mencarikan wanita yang cocok, nggak pernah mau membantu. Dasar kamu.." Dodit mendelik kesal. Mobil sudah memasuki pelataran parkiran Kafe tempat Ardian mengadakan perjanjian dengan seseorang.


"Oh, kamu seriusan mau dicarikan pasangan. Aku kira kemarin itu cuma bercanda, Dit. Hahaha... besok-besok dah, kalau ada waktu luang, aku kenalin sama teman istri aku. Kalau hari libur dia sering main kok ke rumah."


Dodit melebarkan matanya dengan senyum merekah. "Seriusan, Ar. Kamu mau memperkenalkan aku sama teman istri kamu?"


"Iya..."

__ADS_1


"Tapi orangnya kayak istri kamu nggak?"


"Iya bedalah, Dit... kan beda orangnya. Tapi untuk masalah agama, insya Allah dia orangnya taat kok. Terus, mereka itu caranya berteman kompak banget, Dit. Mereka selalu saling mengingatkan kalau ada yang berbuat salah."


"Tapi, dia bakalan mau nggak ya, sama aku."


"Tidak usah pikirkan sampai kesitu dulu. Kenalan aja belum. Turun yuk, aku tidak mau sampai telat."


Ardian menelan ludahnya setelah masuk ke dalam Kafe. Dua orang ajudan Pak Akmal berdiri menjaga pintu masuk ruangan VIP di Kafe itu.


"Kita telat, Ar. Orangnya udah datang duluan. Perjanjiannya jam berapa sih?"


"Jam satu, Dit. Ini baru saja jam dua belas lewat empat puluh lima menit. Udah ah, ayo kita masuk. Ingat, Dit. Jangan terlalu menunduk di depan Kakek nanti. Kakek itu suka arogan kalau nyali kita lemah."


"Ok, Bos.." Dodit mendorong pelan tubuh Ardian agar berjalan di depannya. Ardian menarik nafas panjang, menatap dua ajudan Pak Akmal seraya menyunggingkan senyuman ramah untuk mereka.


"Assalamu'alaikum, Kek. Selamat siang." Ardian langsung mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Pak Akmal.


"Kamu kenapa sampai datang terlambat, Ardian. Kakek sudah lima belas menit menunggu kamu."


"Aku tidak terlambat, Kek. Perjanjiannya kan jam satu."


"Sudah pintar ngeles ternyata kamu sekarang." Pak Akmal tersenyum sinis. "Kamu sudah shalat Zuhur apa belum?"


"Bagus kalau begitu. Aku tidak suka dengan anak muda yang bergaya, tetapi tidak pandai menjaga shalatnya."


Ardian dan Dodit saling pandang sambil cengengesan.


"Kamu sudah membawa semua berkasnya, kan?"


Ardian mengangguk seraya meletakkan sebuah map di hadapan Pak Akmal.


"Kakek pegang saham kamu, kamu pakai uang di kartu ini untuk melunasi semua hutang Mami kamu." Pak Akmal menyodorkan sebuah kartu pada Ardian. "Isi di dalam kartu ini melebihi harga saham kamu. Kamu bisa melunasi semua hutang Mami kamu, bahkan masih tersisa sedikit. Untuk itu, Kakek berharap kamu bisa bijak dalam menggunakannya. Gunakan uang sesuai kebutuhan. Belilah sesuatu sesuai kebutuhan, bukan sesuai dengan keinginan. Jangan seperti Mami kamu yang memiliki gaya hidup mewah, tapi tidak sesuai dengan kemampuannya."


"Terimakasih bantuannya, Kek."


"Jangan sungkan untuk menghubungi Kakek kalau ada masalah lagi ke depan. Jangan sembarangan minta tolong pada orang asing. Kita tidak tau isi hati orang masing-masing."


"Iya, Kek."


"Saham itu tetap menjadi milik kamu. Kakek hanya menyita berkas ini sebagai jaminan. Jangan sampai Bu Renata bertingkah ke depannya. Jangan pernah berniat untuk menjual saham kamu, Nak. Kamu tidak tau tetesan keringat Papi kamu untuk bisa memiliki saham itu."


"I.. iya, Kek. Maafkan kecerobohanku."

__ADS_1


"Satu lagi, Ardian. Jangan pernah berniat untuk menjual habis harta yang kamu miliki. Lebih baik kamu menggadaikannya. Karena setelah kita menjual, pasti akan lebih sulit untuk memilikinya kembali."


"Terimakasih nasehatnya, Kek."


"Ok, Kakek rasa tidak ada yang perlu dibahas lagi. Ingat pesan Kakek tadi, Nak. Gunakan uang sesuai kebutuhan bukan sesuai keinginan. Titip ini untuk cucu dan cicit Kakek." Pak Akmal menyerahkan dua buah paper bag pada Ardian. Pak Akmal berlalu diikuti oleh anak buahnya setelah urusan mereka selesai.


"Ar," Dodit menepuk pundak Ardian setelah semua orang pergi dan meninggalkan mereka berdua.


"Apa?"


"Kakek lu nggak memesan apa-apa selama duduk disini?"


"Nggak tau. Kakek itu orangnya tidak terlalu suka makan. Air pun dia hanya suka minum air putih. Tidak minum kopi, teh dan yang lainnya. Kakek itu rajin puasa Senin Kamis, Dit. Jangan salah menilai orang."


Dodit manggut-manggut. "Ternyata Kakek kamu itu orangnya taat ya.."


"Ayo kita kembali, jangan terlalu sering menggunjing orang, nanti pahala kamu diambil sama mereka yang kamu gunjing." Ardian bangkit seraya membereskan barang-barangnya yang akan dia bawa ke Kantor.


"Kita belum makan siang, Ar. Lu main balik aja, perut sudah keroncongan kayak gini."


"Astagfirullah..." Ardian kembali duduk. "Aku juga padahal lapar sekali. Kok bisa sampai lupa."


"Heh, lu nggak kerasa aja karena sudah makan pakai kartu tadi. Bakal makmur kayaknya hidup lu kedepannya."


"Insya Allah.. semoga Allah selalu memurahkan rizki Kakek. Aku merasa benar-benar beruntung memiliki orang-orang baik di sekitarku."


"Menghayalnya di sambung nanti ya, Pak. Perut minta diisi sekarang."


"Tapi... aku nggak ada duit, Dit."


"Lah, kartu tadi kan isinya uang, Ar."


"Kamu kan dengar sendiri tadi Kakek bilang apa."


Dodit menyebikkan bibirnya. "Ini juga kebutuhan namanya, Ar. Aku nggak mau terkena penyakit maag gara-gara Bos kere tidak mau membelikan makan siang untukku."


"Hahahah... nggak makan sekali tidak akan membuatmu terkena maag."


Dodit tidak perduli dengan ucapan Ardian. Dia memanggil waiters agar segera menghampiri mereka. "Terserah kalau lu nggak mau bayar. Yang penting perut gue terisi. Yang jadi Bos kan lu, yang malu juga pasti lu nantinya."


Ardian hanya menahan senyum mendengar ucapan Dodit.


**********

__ADS_1


__ADS_2