
Ardian masih duduk termenung di depan Kate. Dia sudah mengutarakan keinginannya pada Kate untuk menghapus tato di punggungnya. Ada lagi tato di lengannya. Namun, karena di lengannya sangat kecil. Chayra tidak memperhatikannya. Sebuah inisial huruf wanita yang dulu menjadi candunya.
"Lho kenapa ngebet banget ingin menghapus itu?" Akhirnya Kate bertanya setelah mereka cukup lama terdiam. "Lho tau kan, tato ini adalah lambang persahabatan kita."
"Iya, tapi yang jadi masalahnya, istri gue nggak suka dengan keberadaannya di tubuh gue. Mungkin karena bentuknya juga yang seperti ini. Dia bahkan sampai bilang jijik melihat gue. Niat banget padahal kemarin. Lho tau nggak?"
"Apa..?" Kate menimpali malas. Dia benar-benar kecewa dengan keputusan Ardian.
"Lho jangan cemberut kayak gini dong. Gue kan jadi bingung. Jadi malas bercerita kalau kayak gini."
"Lho cerita aja. Sudah berapa kali lho kecewain gue selama ini. Gue tidak pernah sampai ninggalin lho, kan. Siapa tau gue bisa tertawa setelah mendengar cerita lho."
Ardian berusaha mengingat-ingat kejadian yang pernah dia lakukan dan membuat temannya itu kecewa.
"Nggak usah dipikirkan lagi. Gue udah ikhlas dengan semua yang lho lakuin sama gue."
"Hehehe..." Ardian nyengir.
"Ayo dong, katanya mau cerita hasil saran yang gue berikan."
Ardian terdiam sejenak. Terdengar helaan nafas berat darinya. "Gagal total, Bro. Gue udah berusaha menggoda dia semalam. Tapi, bukannya tergoda, eh, dia malah memukul gue dan menusuk-nusuk punggung gue. Dia bahkan bilang jijik lagi."
Kate menautkan alisnya. "Bukannya lho udah lama nikah sama dia?"
"Kurang lebih tujuh bulan, Bro?"
Kate tercengang. "Lalu selama itu lho bisa bertahan tanpa menyentuhnya?"
"Iya... nggak juga sih. Di awal-awal pernikahan kan, gue masih sering bergabung dengan lho. Jadi ya.. kalau gue pingin, langsung meluncur mencari mangsa."
"Terus, apa lho tidur terpisah dengan dia? Lalu bagaimana reaksi kedua orang tua lho?"
"Kami hanya pisah ranjang. Dia tidur pakai kasur lantai. Atau kalau tidak, dia akan memilih tidur di sofa."
"Wah... jahat bener lho. Kenapa lho tidak mengalah. Lho ini laki apaan? Masa istri dibiarkan tidur di lantai?"
"Iya.. awalnya kan gue benci banget sama dia. Gue nggak perduli lah, dia mau tidur dimana. Tapi, kemarin tiba-tiba saja perasaan gue jadi khawatir melihatnya tidur dengan kasur setipis itu. Tapi, dia malah tersenyum saat gue menawarkan tidur di ranjang. Dia malah bilang, saya ini anak santri. Di pondok dulu kita juga beralaskan tidur dengan kasur seperti ini."
"Hebat..." Kate bertepuk tangan mendengar cerita Ardian.
"Itulah mengapa, gue butuh kerjasama lho untuk membantu gue sekarang. Gue beneran jatuh cinta sama dia. Kedipan matanya saja terlihat sangat cantik. Apalagi kalau gue melihat wajahnya. Hah, sepertinya.. gue akan selalu tersenyum. Semua kesedihan akan sirna seketika." Ardian mendongakkan wajahnya membayangkan wajah sang istri."
"Hoek.. hoek.. kok gue mau muntah mendengar gombalan lho. Sudah ah, lama-lama gue iri mendengar lho membicarakan istri lho terus. Kita kembali ke topik awal. Lho mau hapus tato itu kan?"
__ADS_1
"Iya.."
"Lho mau pakai cara apa?"
"Itulah yang menjadi beban pikiran gue. Semua metode yang ada memiliki resiko kan? Apalagi sampai menjadi bekas permanen."
"Harus ada yang dikorbankan kan, kalau kita mau berubah?"
"Gue ambil yang paling mudah dan paling cepat prosesnya."
"Operasi.."
"Butuh berapa hari?"
"Tergantung kamunya, kalau rajin minum obat yang diresepkan oleh Dokter. Bekas lukanya pasti cepat sembuh. Lho konsultasi dulu lah sama orang tua dan istri lho."
"Papi tidak tau apa-apa. Bakal panjang urusannya kalau gue kasih tau dia."
"Mami lho?"
"Mm... dia baru kemarin tau pas gue keluar kamar sehabis mandi. Dia juga marah pas tau. Tapi, reaksinya nggak sekejam reaksi bini gue."
Perhatian Kate teralihkan saat melihat Chayra diikuti oleh Ghibran dari belakang. Dari raut wajah Ghibran, sudah bisa dipastikan, pasti ada yang sedang mereka perdebatkan.
Ardian mengikuti arah telunjuk Kate. Raut wajahnya langsung berubah. Apalagi saat melihat Ghibran mengambil posisi duduk di sebelah istrinya. Ia langsung bangkit sambil mengepalkan tangannya.
"Tahan, Bro, tahan.. Kita harus tau apa yang terjadi. Itu juga kan ada Alesha dan Tina yang menemani bini lho."
Ardian berusaha menguasai pikirannya dengan menarik nafas panjang beberapa kali. "Kita kesana!" Menarik tangan Kate yang masih duduk santai.
"Biarkan mereka ngobrol dulu, Ar. Kalau dia sudah pergi, baru kita mendekat."
"Itu namanya tindakan bodoh, Kate. Itu sama saja artinya dengan gue membiarkan bini gue selingkuh." Ardian langsung berlalu tanpa menghiraukan Kate lagi.
Brak!
Ardian menggebrak meja Kantin tempat Chayra sedang berdebat dengan Ghibran.
"Apa-apaan ini?"
Mendekati Ghibran dengan wajah merah padam. "Lho kenapa sih terus mengganggu istri gue?! Lho seorang Dosen di Kampus ini. Pekerjaan lho sangat-sangat terhormat. Apa lho tidak mikir, kalau perbuatan lho mengejar-ngejar istri orang itu sangat rendah."
Ghibran yang tidak siap dengan kedatangan Ardian hanya bisa beristighfar karena terkejut. Begitu juga dengan Chayra. Gadis itu bahkan sampai bangkit untuk menenangkan suaminya.
__ADS_1
"Astagfirullah, Kak. Kak Ardian salam paham." Chayra menahan tangan suaminya yang masih menunjuk Ghibran. "Ayra mohon, Kakak jangan buat keributan. Kakak jangan buat Kak Ghibran malu. Ini tempat umum."
Ardian menatap istrinya. Sirat kemarahan masih terlihat di matanya. Menangkup pipi Chayra dengan lembut. Tidak ada penolakan dari gadis itu membuat Ardian tersenyum lembut.
"Apa yang membuatmu harus berhubungan lagi dengan pria itu? Kamu sadar kan, kalau kamu memiliki suami yang sangat mencintaimu dan sedang mengharapkan balasan rasa itu darimu."
Chayra tersentak mendengar ucapan Ardian. Berusaha mempertahankan posisinya menatap Ardian dalam. Gadis itu sedang mencari kebohongan dari ucapan suaminya. Namun, Ardian terlihat berkata jujur. "K.. Kak Ardian salah paham. Kami sedang mendiskusikan materi yang baru saja disampaikan Kak Ghibran."
Ghibran berulang kali menarik nafas dalam melihat pemandangan itu. Dia juga yang salah. Memaksakan kehendaknya untuk bicara pada Chayra. Entah hal apa lagi yang ingin disampaikannya pada Chayra. Intinya, dia belum ikhlas kalau Chayra menjadi milik orang lain.
Ardian melepaskan tangannya. "Apakah aku bisa mempercayaimu?" ucapnya. Giliran dagu Chayra yang dia angkat.
"Sudah lah, Kak. Nanti di rumah kita bahas lagi masalah ini. Terlalu banyak mata yang sedang memperhatikan kita sekarang."
Ardian menoleh ke kiri dan kanan. Mendapati keadaan kalau ucapan istrinya benar adanya, ia melepaskan dagu Chayra. "Kita bicara nanti di rumah."
Chayra mengangguk. "Kakak sudah makan siang?"
"Belum, aku belum lapar."
"Duduklah di sini. Ayo, kita makan bersama."
"Tapi aku belum lapar. Kamu makan saja duluan. Aku akan menunggu kamu di sini."
"Aku tau Kakak lapar. Jangan berbohong sama aku." Chayra duduk dan menggeser tubuhnya agar Ardian bisa duduk. Tentu saja hal itu membuat Ghibran tergeser posisinya. Sekarang Ardian yang duduk disebelahnya, bukan lagi Chayra.
"Aku malas makan, Sayang."
"Jangan pa..." Chayra menghentikan ucapannya. Berniat untuk melarang Ardian memanggilnya sayang. Namun, ia urungkan saat mengingat tempatnya duduk sekarang.
"Aku akan suapi Kakak kalau Kakak malas makan sendiri." Akhirnya kata itu yang terlontar.
Ghibran, Alesha dan Tina tidak bisa berkata apa-apa. Ingin rasanya Ghibran menggebrak meja seperti yang dilakukan Ardian tadi. Namun, semua itu tidak bisa dia lakukan. Dia masih sadar diri dan tau tempat.
Alesha dan Tina menghela nafas berat. Dia takut melihat temannya itu bertingkah manis pada Ardian. Jangan sampai perlakuan Chayra yang memberikan perhatian yang lebih padanya membuatnya jatuh cinta.
"Aku sudah memutuskan akan menghapus tato yang membuatmu tidak nyaman ini." Ardian tiba-tiba angkat bicara setelah lama tidak ada percakapan diantara mereka.
Senyum Chayra langsung mengembang. "Benarkah begitu?"
"Iya, aku rela menghapus kenangan lama demi kamu. Iya.. walaupun teman-teman aku kecewa setelah mendengar keputusanku. Tapi, sekali lagi ini semua demi kamu. Aku tidak mau kehilangan kamu gara-gara keberadaan benda ini."
Ghibran membanting sendok di tangannya. Sedangkan Alesha dan Tina langsung tersedak.
__ADS_1
********