
Hari ini genap sudah umur Baby Adzra satu bulan. Ardian semakin gemas dengan putranya yang terlihat semakin gembul. Apalagi bayinya itu sering sekali mengganggunya ketika dia mencium atau memeluk Chayra. Seperti drama yang terjadi malam itu, Ardian yang tiba-tiba tergoda melihat bibir ranum istrinya, perlahan mendekat dan menyatukan dengan bibirnya. Tapi, ketika dia akan memperdalam ciumannya, Adzra yang sedang tidur anteng tiba-tiba bangun dan menangis dengan kencang. Hal itu tentu saja membuat Ardian kesal. "Sayang... please deh, Papa baru saja mepet-mepet. Ini baru mencium, bagaimana kalau mama kamu udah nggak nifas nanti. Terus pas Papa mau begituan kamu malah nangis. Arrrggghhh..." Ardian mengacak-acak rambutnya frustasi. Satu bulan libur membuatnya gampang emosi. Iya.. walaupun dia tidak pernah emosi di rumah. Tapi, di kantor dia sering marah tanpa alasan yang jelas.
"Sabar, Mas. Kemarin kamu yang nggak sabar ingin anaknya cepat keluar. Sekarang diganggu dikit malah marah nggak jelas. Wajar dong kalau Adzra nangis, kamu main nyosor-nyosor di depan bayi."
Ardian menarik nafas panjang untuk menetralkan pikirannya. "Astagfirullahal'adzim.." mengusap-usap wajahnya. "Dia tidak cuma sekali dua kali kayak gini, Sayang. Ya Allah.. astagfirullah.."
"Udah ah, kamu mandi sana, Mas. Pulang dari Kantor bukannya langsung mandi malah ganggu anak istri. Mandi gih.."
Ardian hanya mengangguk pasrah seraya membuka kancing kemejanya. Hari ini benar-benar terasa panjang karena tiga kali menghadiri rapat. Pulang dari kantor berharap bisa memeluk dan mencium sang istri, malah sang anak langsung merengek saat akan mulai.
"Awas kamu, Nak. Tunggu pembalasan Papa nanti setelah shalat. Papa akan ganggu kamu sampai kamu tidak bisa tidur." Tangan Ardian sudah teracung ingin mencubit pipi putranya yang sudah di angkat Chayra dan dibawa ke ranjang. "Jangan sentuh bayi kalau tangannya belum steril. Bayi itu sensitif, Mas."
Ardian cengengesan sambil berjalan menjauh. Melempar pakaiannya ke atas sofa.
"Coba belajar jaga kebersihan, Mas. Aku belum sembuh total untuk membereskan semuanya. Kasihan kalau Bi Idah harus menambah pekerjaan dengan membereskan kamar ini juga."
Ardian menggaruk-garuk kepalanya seraya berbalik. Mengambil pakaian yang tadi dilemparnya, membawanya ke ruang ganti dan meletakkannya di keranjang pakaian kotor.
"Nah, itu baru suami aku yang selalu jaga kebersihan. Nanti deh aku kasih bonus ciuman kalau sudah selesai shalat."
Bayi Adzra yang sedang menyusu dengan kuat tiba-tiba berhenti menyusu lalu menangis sambil menatap mamanya. "Eee... eee..."
"Jangan ngomong yang macam-macam di depan dia, Sayang. Adzra itu sensitif kalau ada hubungannya dengan kebahagiaan papanya." Ardian masuk ke kamar mandi, tidak perduli dengan tatapan bingung istrinya. Adzra kembali menyesap kuat ****** susu mamanya setelah tidak ada lagi pengganggu.
Usai mendirikan shalat Isya, Ardian mengganti pakaiannya dengan baju kaos putih tipis dan hanya memakai celana color. Memperhatikan wajah anteng anaknya yang sedang tidur dengan pulas di samping istrinya. "Anak kita kok dominannya mirip kamu, Sayang."
"Belum terlalu kelihatan, Mas. Adzra kan masih kecil. Kalau sekarang menurut aku wajahnya masih belum bisa dipastikan akan mirip siapa."
Ardian tersenyum sambil terus menatap wajah anaknya. "Menatapnya membuat rasa lelah karena bekerja menguap begitu saja."
"Alhamdulillah, kalau begitu, Mas."
Ardian beralih menatap istrinya. "Eh, aku hampir lupa. Sebelum mandi tadi kamu janji mau kasih aku ciuman." Ardian beralih menatap putranya. Biasanya bayinya itu langsung bereaksi ketika dia mengucapakan kata-kata yang berbau mesum. "Ehehehe.. Adzra tidak bereaksi. Itu berarti dia mengizinkan kita berciuman."
"Sudah ah, Mas Ardian ini pikirannya mesum terus. Sini mana pipinya." Chayra meminta suaminya untuk mendekatkan wajahnya. Tetapi, sampai sekian detik menunggu, Ardian tidak bereaksi dan malah menatapnya bingung. "Buruan, Mas.. nanti Adzra bangun, bagiamana. Mau bonus nggak?"
__ADS_1
Ardian tersenyum jahil seraya mendekatkan pipinya. Tepat ketika bibir Chayra hampir menyentuh pipinya, dia berbalik sehingga bibir mereka yang bertemu. Ardian tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Semakin memperdalam ciuman yang tertunda karena Adzra sebelum mandi tadi.
"Mmmppp..." Chayra memukul dada suaminya karena sudah kehabisan nafas. Hidungnya kembang kempis menahan kesal karena suaminya benar-benar seperti orang kelaparan. "Pelan-pelan apa caranya. Adzra kan nggak ganggu, kenapa main kayak orang yang kelaparan?"
"Sekali lagi ya.." Ardian kembali nyosor tanpa menunggu persetujuan istrinya. Tubuhnya terasa memanas karena menuntut untuk mendapatkan yang lebih. Chayra yang menyadari hal itu segera mendorong suaminya. "Istighfar, Mas. Kita belum boleh melakukan yang lebih. Tubuh kamu kenapa cepat sekali bereaksi, Mas."
"Maafkan aku. Terlalu lama libur kayaknya."
"Sabar ya... insya Allah sebentar lagi masa nifasnya akan selesai. Mas Ardian butuh iman yang lebih tebal lagi karena ujian puasa itu sangat berat. Aku mau istirahat, nanti sebentar lagi Adzra pasti bangun lagi untuk menyusu." Chayra merebahkan badannya di samping putranya.
Ardian bersandar seraya menarik nafas panjang beberapa kali. Chayra yang merasa terusik akhirnya bangkit lagi. Ikut bersandar seperti yang dilakukan suaminya. "Ada apa, Mas? Apa ada masalah di Kantor? Kenapa tarik nafasnya panjang-panjang kayak gitu, mengurangi oksigen dalam ruangan saja."
Ardian melirik istrinya. "Kakek bertanya lagi soal kesiapan aku untuk bekerja Perusahaan yang dikelola Kak Zidane. Sedangkan saat ini Pak Randi sangat tergantung padaku. Dodit sudah pindah jabatan karena aku sudah semakin handal dalam mendampingi Pak Randi."
"Terus, maksudnya Mas Ardian bingung dalam menentukan pilihan?"
"Iya.. bisa dibilang begitu. Aku sangat mencintai pekerjaanku yang sekarang. Tapi, hati kecilku menginginkan aku mencari yang lebih. Maksud aku mencari pengalaman kerja, agar tidak mentok mengerjakan satu hal saja."
"Kenapa tidak dicoba dulu, Mas?"
"Aku ingin, tapi cara menjelaskan ke Pak Randi itu loh yang membuat aku bingung. Dia sudah beberapa kali mengajak aku bicara empat mata. Tapi, sampai sekarang kami belum bisa bicara serius. Pasti ada saja yang menjadi halangan."
"Papi sudah tau, Sayang. Dia malah menanyakan kesiapan aku untuk dipindah tugas ke perusahaan Kakek. Papi bilang kalau beliau tidak melarang, tetapi mendukung juga tidak. Karena keberadaanku di perusahaannya cukup membantu Pak Randi."
"Lalu yang membuat Mas Ardian ragu itu apa?"
"Nggak tau juga, Chay. Aku jadinya ingin shalat istikharah biar mantap untuk melangkah maju ke depan."
"Itu kan sudah dapat solusinya. Tinggal di jalankan saja, Mas. Tidur dulu sekarang. Masalah dunia besok dipikirkan lagi. Sekarang tubuh butuh istirahat agar bisa bangun untuk mengingat Allah nanti." Chayra kembali merebahkan tubuhnya. Ardian melakukan seperti yang di lakukan sang istri.
"Tidak mau memindahkan Adzra ke boxnya, Sayang?"
"Nggak usah, aku sengaja membiarkannya di sini. Soalnya kalau bangun nanti aku tidak perlu turun ranjang."
"Tapi kalau kamu sudah selesai nifas nanti, Adzra harus dipindah ke box agar tidak menggangu."
__ADS_1
Chayra mendelik menatap suaminya. Entah antara rasa kesal dan kasihan yang sedang dia rasakan saat ini. Ia diam beberapa saat menatap pria itu sebelum akhirnya menarik nafas dalam. "Organ kewanitaan aku masih sakit, Mas. Bayangin luka yang dijahit dan belum kering. Lukanya baru kemarin dijahit. Kalaupun aku sudah mandi besar saat selesai nifas nanti, aku rasanya belum berani kalau harus melakukan terlalu jauh. Kata orang, kayaknya dua atau tiga bulan insya Allah lukanya sembuh total."
Ardian hanya tersenyum lemah, beberapa lama terdiam lalu memeluk tubuh istrinya. "Aku hanya bercanda, Sayang. Pas kamu melahirkan Adzra saja, aku hampir tidak percaya melihatnya. Ternyata sesulit itu melahirkan bagi seorang wanita. Aku tidak akan memaksa kamu, Sayang. Aku akan menunggu sampai kamu siap."
Chayra mengusap-usap wajah suaminya dengan penuh rasa sayang. "Mas tidur ya.. besok kan harus ke Kantor pagi-pagi. Tidak boleh kurang istirahat biar badannya fit mencari rizki untuk aku dan Adzra."
"Iya, Sayang.." Ardian menyusupkan kepalanya di ceruk leher istrinya. "Jangan marah, aku cuma mau menikmati kasih sayang dari kamu."
Chayra yang sudah bersiap melayangkan protes akhirnya terdiam. Membiarkan kepala suaminya menelusup di lehernya. Ia membelai kepala itu dengan penuh kasih sayang.
"Chay..."
"Mm..."
"Aroma tubuh kamu sekarang menghangatkan."
"Maksudnya?"
"Tubuh kamu bau minyak telon m*b***, Sayang. Kok baunya menenangkan gini ya."
"Aku suka ikut membalur tubuhku saat membalur tubuh Adzra."
"Pantesan kamu ikutan bau Adzra."
"Mas Ardian nggak suka memangnya?"
"Suka kok. Aku kan sudah bilang kalau aromanya menghangatkan tubuh yang sedang membutuhkan kehangatan."
"Mas.. jangan mulai lagi deh."
"Hehehe... bercanda, Sayang."
"Tidur gih..."
"Iya..."
__ADS_1
Setelah sekian menit, akhirnya Chayra mendengar nafas teratur suaminya yang menandakan kalau pria itu sudah tidur. Ingin berbalik tetapi tubuhnya dipeluk erat oleh Ardian.
********