
"Jangan jemput saya nanti. Anda pergi saja kemana saja acara anda. Saya akan pulang sendiri." Chayra menutup pintu mobil dengan pelan. Bergegas meninggalkan Ardian yang hanya diam tidak merespon ucapannya.
Selepas kepergian Chayra, Ardian melirik gadis itu. "Apakah acara gue hanya mengantar gadis itu setiap pagi?" Tanyanya pada diri sendiri. "Harga diri lho dimana, Ardian..?" Ardian duduk bersandar sambil merenungi nasibnya.
"Kenapa sekarang gue selalu mati kutu di depan gadis itu? Bisa gila gue kalau terus-terusan sekamar dengannya." Ardian mendengus. Ternyata selama ini dia berusaha menahan diri. Untung saja Chayra selalu memakai pakaian tertutup saat tidur. Jika tidak, mungkin pria itu sudah memangsanya karena tidak tahan.
Ardian menarik nafas berat. "Kayaknya gue harus keluar malam ini." Kembali merenung, "tapi, kalau gue keluar, gue harus bilang apa sama Papi."
"Gue butuh pelampiasan. Gadis itu menyiksaku dan ingin membunuhku secara perlahan. Hampir dua bulan gue nggak pernah menikmati wanita. Ini semua gara-gara dia."
Ardian mendengus. Meletakkan kedua telapak tangannya di belakang kepala. "Ok... kita susun rencana mulai sekarang."
Siang itu saat akan pulang. Chayra terkejut saat mendapati mobil Ardian sudah berada di sebrang jalan. Padahal dia berulangkali memperingatkan agar pria itu tidak menjemputnya. Dia tidak nyaman jika terus merepotkan pria itu terus-menerus.
Chayra semakin terkejut saat Ardian melambai ke arahnya.
"Lho tunggu disana. Biar gue yang nyebrang." Ardian berteriak agar Chayra bisa mendengar suaranya.
Siang itu lalu lalang kendaraan memang sangat ramai. Untuk sekedar menyebrang jalan pun Chayra akan butuh waktu lama. Akhirnya, Chayra mengangguk setuju. Menunggu pria itu, duduk di pinggir trotoar jalan sambil membaca buku tebal di tangannya.
"Masuk!"
Satu kata itu membuat konsentrasi Chayra langsung buyar. Ia mendongakkan kepalanya dan mendapati mobil Ardian sudah berada di depannya. "Eh, kok sudah disini. Iya, iya saya naik sekarang." Memasukkan kembali buku tebalnya ke dalam tas ransel yang bertengger di punggungnya.
"Saya ada rencana akan pindah kuliah ke Universitas tempat anda menamatkan studi anda kemarin." Chayra membuka percakapan setelah lama hening sepanjang perjalanan.
"Terserah.. gue nggak akan mendukung, tapi tidak akan melarang lho juga. Kalau lho mau pindah, silahkan."
"Saya hanya berniat minta izin sama anda. Karena bagaimanapun keadaan kita sekarang. Saya adalah istri sah anda. Segala sesuatu yang saya lakukan harus dengan izin suami."
"Itu.. apa namanya.. gue kan udah bilang sama lho tadi. Masalah itu terserah lho. Kalau lho mau kuliah lagi, silahkan."
"Terimakasih.." Chayra menatap keluar jendela. Keheningan kembali tercipta di antara mereka.
Adzan Zuhur berkumandang. Ardian langsung menghentikan kendaraannya tanpa dimintai Chayra. Sepertinya dia sudah paham dengan kebiasaan Chayra yang selalu shalat tepat waktu.
"Silahkan kalau lho mau shalat dulu. Gue tunggu disini." Ucap Ardian tanpa menatap Chayra.
"Terimakasih.." Chayra melangkah keluar. Baru beberapa langkah, ia berbalik dan menatap ke arah mobil dengan heran. Tumben pria itu langsung mengerti tanpa dia minta berhenti terlebih dahulu.
"Gue hanya mau antar lho pulang. Gue ada acara setelah ini. Kalau Mami atau Papi bertanya, bilang saja kalau gue ke rumah teman gue yang lagi sakit." Ardian mengucapkan kata itu setelah Chayra masuk kembali ke dalam mobil usai mendirikan shalat.
"Dimana rumahnya?"
__ADS_1
"Lho nggak usah tau. Jangan cerewet. Lho bilang saja seperti yang gue katakan tadi."
"Tapi, saya tidak tau mau bilang apa kalau Mami atau Papi bertanya. Apalagi kalau Papi yang bertanya. Saya harus bisa menjelaskan dengan terperinci agar dia bisa percaya."
Ardian menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dalam hatinya dia membenarkan perkataan Chayra. Papinya itu sangat sulit dibohongi dan akan mencari tau sampai akar-akar permasalahan.
"Bilang saja kalau gue berada di jalan xxx perumahan xxx."
"Terimakasih.."
"Lho udah berapa kali bilang terimakasih sama gue." Ardian melirik Chayra.
"Apa kata itu menjadi masalah di pendengaran anda? Saya rasa kata itu mampu membuat perasaan orang yang telah baik kepada kita menjadi senang. Karena bagaimanapun juga, kata itu digunakan ketika seseorang menolong kita. Bukan benar begitu?" Chayra menatap Ardian tajam. Benar-benar bingung dengan pria disebelahnya ini.
*********
Malam itu..
Chayra mondar mandir dan dalam kamarnya. Sudah pukul sebelas malam. Namun, Ardian belum ada tanda-tanda akan pulang. Tadi siang pria itu bilang kalau dia akan berkunjung ke rumah temannya.
Dengan perasaan was-was, Chayra menulis pesan singkat di handphonenya. Mencari kontak suaminya yang dia simpan dengan nama 'Abu Jahal.'
Anda dimana? Papi sudah dua kali menanyakan keberadaan anda.
Chayra tersenyum melihat nama itu. Bisa-bisanya dia menyimpan kontak suaminya dengan nama itu. Tapi, dia bertekad tidak akan mengubah nama itu di handphonenya, sebelum Ardian berubah menjadi manusia yang lebih baik.
Lama menunggu tidak ada balasan. Chayra bingung mau bilang apa lagi kalau mertuanya kembali bertanya.
Ketukan di pintu membuatnya menarik nafas dalam. Sudah bisa dia tebak kalau itu pasti Renata.
Benar saja, saat pintu baru saja terbuka, wajah Renata yang terpampang di depan pintu. Chayra dibuat terkejut saat melihat Sucipto juga ada disana.
"Apa Ardian sudah pulang?"
"Mm.. belum, Pi. Ayra di sudah mengirimkan pesan untuknya."
"Lalu dia bilang apa?"
"Mm.. belum dibalas, Pi."
"Kamu istirahat saja dulu. Urusan Ardian biar Papi yang urus."
"I.. iya, Pi."
__ADS_1
"Tidur di ranjang. Jangan tidur di sofa." Sucipto berlalu setelah menyelesaikan kalimatnya.
Chayra menelan ludahnya mendengar perintah mertuanya. Bu Renata tersenyum melihat ekspresi menantunya.
"Kalau kalian selalu tidur terpisah, kapan kamu bisa menimang cucu." Renata menepuk pelan pundak Chayra.
"Ehheheh, iya.. iya.. Mi." Chayra tersenyum salah tingkah. Menggaruk-garuk kepalanya untuk mengurangi rasa kikuk pada mertuanya itu.
"Sudah, kamu istirahat ya.."
"Iya, Mi."
Chayra menutup pintu kamar setelah Renata pergi. Duduk di sisi ranjang. Pikirannya di penuhi dengan hal-hal buruk tentang suaminya. Beristighfar beberapa kali untuk menghilangkan perasaan itu.
Merebahkan tubuhnya perlahan di atas tempat tidur. Dia harus tidur sekarang, agar bisa bangun saat tahajud nanti.
Pukul empat pagi, pintu kamar terbuka perlahan. Chayra melihat suaminya masuk dengan mengendap-endap.
Ardian langsung mengunci pintu dari dalam. Terdengar menarik nafas lega saat berhasil memasuki kamar tanpa sepengetahuan orang tuanya.
Ia hanya melirik Chayra yang duduk di atas sajadah tanpa ada niat untuk menyapanya. Badannya terasa pegal-pegal setelah berhasil melampiaskan hasratnya pada dua wanita malam ini. Tubuhnya butuh istirahat agar bisa menjadi pria normal lagi. Menghempaskan tubuhnya dengan keras di atas kasur. Menatap langit-langit kamarnya sambil senyum-senyum sendiri.
"Anda kemana saja? Papi beberapa kali menanyakan anda sepanjang malam ini. Saya sudah capek membuat alasan. Bilang inilah, bilang itulah. Dosa saya sangat banyak hari ini karena anda." Chayra bertanya sambil melipat sajadahnya.
"Kemanapun gue pergi, itu bukan urusan lho. Bodoh amat.."
"Saya istri anda. Saya berhak tau keberadaan anda."
"Heh..." Ardian tersenyum sinis. "Sejak kapan lho merasa menjadi istri gue? Kalau lho ingin mengontrol gue, buktikan kalau lho adalah istri yang baik."
Deg..!
Chayra terkejut mendengar ucapan Ardian. "M.. maksud anda apa berkata begitu?"
"Nggak usah dibahas. Gue ngantuk, butuh istirahat. Lho jangan ganggu gue. Kalau Papi bertanya, bilang kalau gue kurang enak badan. Semalam tidur di rumah teman karena tidak bisa menyetir. Kepala gue pusing."
"Anda jelaskan sendiri pada orang tua anda. Sudah cukup anda menyuruh saya berbohong. Saya tidak mau dosa saya semakin menumpuk karena menanggung dosa anda."
Ardian bangkit mendengar ucapan Chayra. "Lho lama-lama semakin ngelunjak ya. Lho seharusnya bersyukur, gue memperlakukan lho dengan baik selama ini. Lho ingat tidak, bagaimana bencinya gue sama lho. Lho kira perasaan gue sudah baik-baik saja saat ini? TIDAK..! Lho sudah merenggut semua kebahagiaan yang gue miliki."
Ardian mendekat dan mencengkram bahu Chayra dengan keras. "Lho mau tau.. Gue.. saat ini.. semakin benci sama lho. Gue... muak.. melihat wajah lho terus-menerus."
Ardian melepaskan cengkramannya dan menghempaskan tubuh Chayra. "Gue malam ini pergi ke tempat gue biasa sebelumnya. Gue butuh wanita cantik yang bisa memuaskan gue." Berlalu keluar setelah menyelesaikan kalimatnya.
__ADS_1
*******