Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Sesuatu yang aneh


__ADS_3

Setelah dua malam menginap di Rumah Sakit, Chayra akhirnya diperbolehkan pulang. Ardian bisa bernafas dengan lega setelah mendengarkan hasil pemeriksaan Dokter.


"Bulan depan kita akan melakukan USG, Pak. Seharusnya sih sekarang biar kalian bisa tau umur janinnya sudah berapa Minggu. Tapi, karena alatnya sedang dikalibrasi. Jadinya kita tidak bisa melakukannya sekarang. Tapi, kalau Pak Ardian mau Minggu depan juga tidak apa-apa."


"Insya Allah, kami akan datang kembali secepatnya, Dok."


"Bu Ayra masih sering mual?" Dokter Amalia bertanya pada Chayra yang duduk di samping suaminya. Dokter wanita ini sengaja ditunjuk Ardian untuk menjadi Dokter Spesialis kandungan yang akan mengurus istrinya selama masa kehamilannya.


Chayra tersenyum lembut. "Alhamdulillah, saya merasa lebih baik sekarang, Dok."


"Ibu Ayra harus sering makan ya. Sedikit-sedikit tapi sering itu yang baik. Jangan makan banyak tapi cuma sekali. Apalagi sekarang Bu Ayra masih sering mual karena ini memang trimester pertama kehamilan. Insya Allah, kalau sudah masuk trimester kedua, rasa mual itu akan hilang dengan sendirinya."


"Iya, Dok."


"Pak Ardian juga jangan lupa perhatikan istrinya ya, Pak."


"Iya, Dok."


"Jadwal padatnya coba dikendorkan selama kehamilan istrinya. Wanita hamil terkadang banyak yang sensitif, Pak. Suaminya sibuk, dia kita kelayapan."


"Hehehe ... dia udah biasa, Dok. Saya bahkan kebanyakan pulang malam."


"Memangnya Pak Ardian bekerja dimana?" Dokter Amalia memperhatikan penampilan Ardian. Karena Ardian memakai pakaian rumahan, Dokter cantik itu tidak bisa menebak pekerjaan Ardian.


"Dia seorang General Manager, Dok." Zidane tiba-tiba ikut nimbrung. Dia berdiri bersandar di pintu ruang perawatan Chayra. Entah darimana datangnya dia, tiba-tiba saja menyahut tanpa ada yang meminta.


"Hah..?" Dokter Amalia menganga tak percaya. "Semuda ini sudah menjadi seorang GM?" Tatapan Dokter cantik itu berubah. "Patut diacungi jempol. Itu termasuk pencapaian yang luar biasa, Pak."


"Terimakasih, Dok." Ardian tersenyum sopan.


"Hmm ... saya pamit dulu kalau begitu. Bu Ayra jangan lupa obat penambah darahnya diminum ya. Tekanan darah Bu Ayra sangat rendah. Seharusnya Bu Ayra masih dirawat inap. Tapi, karena suaminya sangat sibuk, jadinya Bu Ayra harus dibawa pulang sebelum waktunya."


"Insya Allah, saya merasa lebih stabil sekarang."


Dokter Amalia tersenyum lembut seraya berlalu.


********


Seminggu kemudian...


Usai shalat Maghrib, Ardian langsung bersiap untuk pulang. Dodit yang baru masuk ke ruangannya mengernyit melihat tingkah Ardian. "Mau pulang sekarang, Ar?"


Ardian mengangkat wajahnya. "Mm ... iya, aku lupa belum bilang sama Chay, kalau ada acara malam ini."

__ADS_1


Dodit mendengus. "Wanita itu dandannya lama, Ar. Kenapa nggak jadi samaan dengan acara lamaran aku, biar sekalian aku cuti."


"Acara kamu masih terlalu lama, Dit. Sekarang Chay terlihat stabil. Tapi keadaannya masih plin-plan sih. Sekarang enakan, besok pagi tiba-tiba uring-uringan."


"Bukannya orang hamil memang kayak gitu, sekarang sehat, besok sakit dan seterusnya."


"Kok tau kamu masalah begituan?"


"Iya ... tau dong. Aku punya banyak saudara perempuan. Dulu aku sering melihat mereka kayak gitu."


"Kalau sekarang, bagaimana?"


Dodit tersenyum hambar. "Heh, sudah diceritakan juga, masih saja bertanya."


Ardian cekikikan sambil menutup tasnya. "Aku langsung pulang, Dit. Kamu langsung saja ke tempat acara."


"Aku mau shalat Isya dulu baru berangkat. Istrimu pasti belum ngapa-ngapain."


"Kamu langsung saja berangkat sekarang. Nanti kamu shalatnya disana. Chay tidak akan dandan lama. Aku sudah bilang sama kamu, istriku itu berbeda dengan kebanyakan wanita. Belanja seperlunya, mandi seperlunya, apalagi dandan, pasti hanya seperlunya juga."


"Iya.. iya.., Tuan Ardian. Kalau begitu saya akan berangkat sekarang. Kamu juga harus mempersiapkan duri, Ar. Jangan sampai kamu keluar kencing nanti gara-gara gerogi."


"It's impossible for me, Dit. Apa kamu pernah lihat aku gerogi bicara di tempat umum?"


Ardian tersenyum meringis. "Itu kan pas awal-awal saja, Dit. Sekarang biasa aja kok." Ardian menenteng tas kerjanya. "Aku berangkat, Dit. Kamu juga berangkat sekarang biar kita cepat."


"Wokay, Bos.."


Ardian turun ke lantai bawah dengan langkah gontai. Suasana Kantor sudah sepi karena kebanyakan karyawannya sudah pulang jam lima tadi.


Sampai rumah...


Ardian bergegas menaiki anak tangga untuk mencari keberadaan istri dan anaknya.


"Sayang ... kamu bersiap sekarang, kita mau keluar."


Chayra yang sedang duduk di depan meja riasnya terkejut. "Kita mau kemana, Mas?" Ia bertanya untuk memperjelas ucapan suaminya tadi. Mendongak menatap suaminya yang berdiri di belakang kursi yang didudukinya.


"Sssttt ... jangan cerewet, Sayang. Kamu cepetan aja, nanti kita terlambat. Kamu dandan yang cantik, ok."


Chayra mendengus. "Hem, kenapa coba nggak bilang dari kemarin biar aku bersiap."


"Kalau dikasih tau terlebih dahulu nggak surprise dong jadinya." Ardian menatap raut wajah penasaran istrinya dari cermin. "Adzra kita titip ke Ibu. Bian sudah menunggunya di bawah." Ardian beralih menatap handphonenya karena berbunyi. "Tunggu sebentar, aku mau mengangkat telepon dari Dodit." Ardian segera menjauhi istrinya saat melihat nama Dodit terpampang di layar handphone yang sedang dipegangnya.

__ADS_1


Chayra masih terlihat bingung. Tetapi, ia menuruti keinginan suaminya untuk segera bersiap. "Mas Ardian aneh deh ... mau ngajak makan malam, tapi akunya disuruh dandan cantik. Hmm ... kok aku merasa aneh gini sih. Adzra malah pakai dititip ke rumah Ibu segala. Kenapa nggak sekalian bawa anak biar ramai." Tangannya mulai sibuk memoles makeup tipis di wajahnya.


Sepuluh menit berlalu, Ardian belum juga kembali ke dalam kamar. Chayra sedikit curiga dengan tingkah suaminya. Ia akhirnya bangkit untuk mencari tau. Tetapi, saat akan membuka pintu Balkon, saat itu juga pintu di dorong dari luar. "Kamu sudah selesai, Sayang?" Ardian sedikit panik, mendorong tubuh istrinya masuk kembali.


"Udah dari tadi banget, Mas. Kamu perginya lama."


"Mm ... anu, itu apa namanya, Dodit membahas pekerjaan yang tadi aku tinggalkan. Aku harus pulang menjemputmu kan. Jadinya aku harus meninggalkan pekerjaan itu.


Chayra mendengus seraya menggeleng-geleng pelan. "Bingung aku, Mas. Kalau sibuk nggak usah dipaksakan untuk mengadakan acara makan malam segala. Gini kan jadinya sekarang. Pekerjaan kamu terbengkalai karena terlalu memaksa."


"Nggak apa-apa. Aku butuh waktu untuk berdua dengan kamu, Sayang. Kita kan jarang berduaan sekarang. "Ayo, kita berangkat sekarang." Ardian mengangkat tubuh Adzra yang sedang tidur.


Baru saja keluar dari kamar, Chayra dikejutkan oleh Bian yang sedang berdiri dengan wajah cemberut. "Eh, kamu kapan datang, Dek?"


"Pakai nanyain aku kapan datang segala. Aku di sini sejak Maghrib, Kak. Habis shalat Maghrib, aku langsung meluncur. Kak Ardian bilang, aku akan mengambil Adzra sebentar. Eh, sampai sini malah waktunya molor sampai Isya. Aku nggak bisa pergi ngaji jadinya kalau kayak gini."


"Sekali saja, Dek." Timpal Ardian yang sudah selesai mengunci pintu kamar. Ia menyerahkan Adzra kepada Bian. "Loh, ini Adzranya bobo, bagaimana aku akan membawanya, Kak? Aku kemari pakai motor, Bang."


"Astagfirullah, Dek. Aduh, bagaimana ini.." Ardian menggaruk-garuk kepalanya bingung. Beberapa saat, mondar-mandir untuk mencari jalan keluar. Dia tidak mungkin membawa Adzra bersamanya. Jika anak itu ikut, sudah pasti acaranya tidak akan berjalan lancar.


"Bawa aja bersama kita, Mas."


"Nggak.. nggak, Sayang. Acaranya akan gagal kalau Adzra ikut."


"Memangnya ini acara apaan sih, Mas? Dari tadi tingkah kamu terlihat aneh deh."


"Mm ... cuma acara makan malam. Hehehe..."


Bian mendengus melihat ekspresi Ardian. "Kunci mobil Kak Ayra mana?" Bian menyodorkan tangannya.


"Astagfirullahal'adzim ... kenapa coba aku nggak mikir kesitu dari tadi." Ardian menepuk jidatnya seperti orang bodoh.


"Huh, makanya kepalanya itu dipakai untuk mikir yang beginian juga. Jangan hanya untuk memikirkan berkas yang mengandung duit."


Ardian tertawa kecil mendengar ucapan Bian. Ia berbalik untuk mengambil kunci mobil istrinya di dalam kamar.


"Dek, kamu yakin mau membawa Adzra? Besok kan kamu mau ke sekolah." Chayra bicara sedikit berbisik setelah suaminya masuk ke dalam kamar.


"It's no problem, Sis." Bian mengerlingkan matanya. Tangannya mengisyaratkan tentang kesepakatan yang sudah dilakukannya dengan Ardian. "Lagian, Kak Ardian sudah berjanji akan langsung mengambil Adzra saat kalian pulang nanti."


"Oh, udah ada kontrak kerjasama ternyata. Dibayar berapa kamu sama dia?"


"Secret, Sis ..." Bian segera mengambil kunci dari Ardian lalu mengambil alih Adzra.

__ADS_1


********


__ADS_2