
Dua bulan kemudian...
Hari itu Ardian berangkat kerja setelah melaksanakan shalat subuh. Dua jam lebih pagi dari jadwal biasanya.
"Kamu yakin mau berangkat sekarang, Mas? Kamu baru kembali dari Masjid loh."
"Aku ada pertemuan penting, Sayang." Jawab Ardian sambil memeriksa isi tas kerjanya. Dia harus memeriksa ulang isi tas yang sudah dipersiapkan istrinya semalam. Takutnya ada yang ketinggalan. "Semua yang aku tulis di kertas itu sudah kamu masukkan semua kan ke dalam tas?"
"Sudah kok, Mas. Apa ada yang kurang?" Chayra menatap tas yang sedang diperiksa suaminya.
"Aku hanya memeriksa, Sayang. Takutnya ada yang ketinggalan. Soalnya pertemuan ini benar-benar penting."
"Aku yakin sudah memasukkan semuanya, Mas."
"Iya, Sayang, iya..." jawab Ardian lagi tanpa menatap istrinya. Tangannya masih sibuk merapikan tas yang tadi dia obrak-abrik. Ardian bangkit setelah selesai seraya menarik nafas lega. "Oh iya, Chay. Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu, tapi nanti dah, pas aku pulang kerja. Mudah-mudahan aku bisa pulang cepat nanti."
Chayra menatap suaminya beberapa saat sebelum akhirnya membuang nafas kasar. "Iya, Mas..."
"Mm... aku juga tidak akan sarapan di rumah. Kamu siapkan saja dalam kotak bekal, nanti aku sarapan di Kantor."
"Iya, Mas..." Chayra menggeleng-geleng pelan melihat suaminya yang berjalan kesana-kemari seperti orang yang tergesa. Akhirnya dia memeninggalkan Ardian ke dapur untuk menyiapkan bekal sarapan sesuai dengan permintaan suaminya.
Ardian turun lima menit setelah Chayra. Dengan tergesa ia menghampiri istrinya. "Semuanya sudah siap, Sayang?"
"Mas..."
Ardian langsung menatap istrinya. "Mm.. ada apa?"
"Jangan tergesa-gesa, Mas! Kamu dari tadi kayak orang lain tau nggak?!"
Ardian menelan ludahnya, matanya berkedip beberapa kali mencoba mencerna maksud dari ucapan istrinya. "Mmm...."
Chayra melafadzkan istighfar seraya mendekati suaminya. Menepuk pundak suaminya perlahan. "Tergesa-gesa itu tidak baik, Mas. Aku senang kamu mendapatkan kontrak kerja ini. Aku akui kamu tekun dalam bekerja, Mas. Tapi aku nggak suka kamu sampai seperti ini. Kamu seperti diperbudak oleh pekerjaan."
Ardian mengusap wajahnya dengan kasar. Mulutnya terlihat komat-kamit mengucap istighfar. "M.. maaf, Sayang." Perlahan mengangkat wajahnya lalu menatap kembali istrinya.
"Tenang, Mas.. pekerjaan itu memang membutuhkan ketekunan, tapi tidak harus sampai membuat kamu seperti orang yang diperbudak. Yang mengatur pekerjaan itu kamu, bukan pekerjaan yang mengatur kamu."
"I.. iya, Sayang... maafkan aku."
Chayra tersenyum menatap suaminya. Ia meraih kotak bekal yang sudah disiapkannya untuk Ardian. "Ini bekal kamu. Jangan tergesa-gesa. Tergesa itu tidak akan membuat pekerjaan kamu selesai, Mas. Yang ada pekerjaan kamu malah salah nanti."
"Iya, Sayang... maaf ya.. insya Allah aku tidak akan mengulang ini lagi." Ardian memeluk istrinya. "Terimakasih sudah memperingatkan aku, Sayang." Ardian melepaskan pelukannya lalu menangkup pipi istrinya. Menatap wanitanya itu dengan penuh rasa kagum. "Ini yang membuat aku semakin sayang sama kamu. Kamu selalu mengajak aku menuju kebaikan."
Chayra menurunkan tangan Ardian perlahan. "Sudah seharusnya kita saling mengingatkan, Mas. Kita ini pasangan suami istri." Chayra menunduk karena tidak tahan melihat tatapan suaminya. "Kamu berangkat sekarang ya, Mas. Bawa mobil sewajarnya saja, jangan ngebut."
__ADS_1
"Iya, Sayang.. do'akan aku semoga aku bisa memberikan yang terbaik untuk Perusahaan."
"Aku selalu mendo'akan kebaikan untuk kamu, Mas."
Ardian tersenyum. "Aku pergi, assalamu'aliakum.."
"Wa'alikumsalam.." Chayra menatap kepergian suaminya dengan senyum mengembang. Ia berbalik setelah melihat mobil Ardian keluar dari gerbang rumah.
"Astagfirullahal'adzim.. Bibi.. kenapa Bi Idah ada disini?!" Chayra meraba dadanya karena merasa jantungnya berdetak lebih kuat.
"Ehehehe... Non. Mm... anu, Non. Tadi kan Bibi di dapur. Tapi, mendengar percakapan Non Ayra dan Tuan Ardian, Bibi jadi kepo." Bi Idah tersenyum malu. "Tapi Bibi nggak merasa bersalah kok, Non. Bibi malahan merasa seperti sedang menonton drama, seperti di sinetron gitu, Non."
Chayra akhirnya hanya bisa menggeleng-geleng pelan. Entah kenapa Bi Idah sering sekali menguping pembicaraannya dengan Ardian. Terkadang bahkan Bi Idah beberapa kali mengintip adegan yang dilakukannya dengan Ardian. Seperti berpelukan, bertatapan, bahkan pernah sampai berciuman. Saat Chayra menanyakan, Bi Idah akan senyum-senyum sambil *******-***** jari tangannya.
"Aku ke kamar sebentar, Bi. Mau melihat Adzra sudah bangun apa belum."
"Iya, Non.. silahkan.."
*********
Malam itu, Ardian pulang setelah lewat pukul sembilan malam. Menghilang setelah shalat Subuh dan kembali setelah shalat Isya.
Chayra yang sedang berdiri di dekat jendela kamarnya, bergegas menuruni anak tangga setelah melihat mobil suaminya memasuki gerbang rumah.
Ardian tersenyum seraya menyerahkan tas kerjanya pada Chayra. Menarik pelan kepala istrinya lalu mendaratkan satu ciuman di dahinya. "Aku mau mandi sebentar, badan aku lengket."
"Iya, Mas. Aku sudah menyiapkan air hangat untuk kamu mandi. Tadi sih, agak panas. Tapi aku sengaja. Kalau sekarang suhunya pasti sudah pas kok. Aku juga sudah menuangkan sedikit aromaterapi."
Ardian menghentikan langkahnya seraya menatap Chayra. Bibirnya kembali menyungging senyum. "Sesempurna itu, Sayang?"
"Kamu capek, Mas. Jangan memuji aku terus. Bagiamana kalau aku terbang karena pujian kamu." Mereka menaiki anak tangga dengan tangan yang saling tertaut.
"Aku akan menyiapkan baju ganti dulu sementara kamu mandi. Sudah shalat kan, Mas?"
Ardian mengangguk. Matanya terus menatap aktivitas istrinya yang membuka pakaian dan sepatunya. Tidak sedikitpun Chayra merasa gengsi untuk melepas sepatu suaminya. Hal itu membuat kekaguman Ardian bertambah pada istrinya itu. "Kenapa kamu harus sampai seperti ini, Chay? Aku bisa melakukannya sendiri. Aku tau kamu juga capek di rumah. Berdiam diri di rumah bukan berarti kamu tidak capek. Pekerjaan ibu rumah tangga itu yang paling berat, Chay."
"Kamu mandi sekarang, Mas. Nanti kita bahas yang begituan. Kamu juga mau ngomong sesuatu kan?"
Ardian menghela nafas berat. "Baiklah.." jawabnya lemah seraya bangkit.
___________
Chayra duduk bersandar di dada suaminya. "Kamu mau ngomong apa sih, Mas? Aku sampai nggak bisa tidur gara-gara mikirin ucapan kamu itu."
"Terus kamu tidak tidur siang dong."
__ADS_1
"Aku memang rebahan, tapi mata yang tidak bisa terpejam."
"Aku hanya ingin bilang, lusa Adzra akan berumur dua tahun. Sebaiknya kamu berhenti memberikannya ASI. Anjuran memberikan ASI sampai bayi berumur dua tahun."
Chayra menegakkan posisi duduknya. "Aku juga sempat memikirkan hal itu dari kemarin. Tapi, aku belum ada kesempatan untuk membicarakannya dengan kamu, Mas. Aku akan mencobanya dari besok pagi."
********
Chayra meringis saat merasakan sakit di dadanya. Hari ini dia memutuskan untuk berhenti memberikan ASI pada Adzra. Anak itu sudah berumur dua tahun. Mau tidak mau, dia harus berhenti minum ASI. Handphone masih menempel di telinganya. Tetapi belum ada jawaban dari Ardian. Sudah dua kali dia mencoba menghubungi suaminya itu. Tapi, sepertinya Ardian masih sibuk sehingga tidak menjawab panggilannya.
Nanti malam akan diadakan perayaan ulang tahun Adzra di rumah Bu Santi. Ardian sudah berjanji akan pulang lebih cepat. Tapi, sakit yang semakin menyiksa membuat Chayra tidak kuat.
Chayra akhirnya mencoba menghubungi Alesha. Ingin menghubungi Bian, tetapi sudah pasti adiknya itu berada di sekolah.
"Assalamu'alaikum.. ada apa, Ayra..?"
Chayra menarik nafas lega setelah mendengar jawaban dari sebrang. "Wa'alaikumsalam, kamu sedang apa, Sha?"
"Nggak ada, ada apa?"
"Bisa kemari sebentar nggak? Aku juga mau minta tolong, belikan obat pereda nyeri."
"Kamu sakit apa emangnya? Bisulan kamu?"
"Eh, nggak, Sha. Cuman, anu.. mm.. Adzra kan berhenti mimik karena umurnya sudah dua tahun. Terus sekarang p***d**a aku sakit banget, Sha. Lebih sakit dari bisul sih kayaknya ini." Chayra kembali meringis.
"Loh, memangnya kalau anak berhenti mimik p******a kita sakit gitu?"
"Iya, sakit banget. Makanya kamu tolong belikan obatnya sekarang."
"Adzra mana sekarang?"
"Udah dibawa ke rumah Ibu, Sha."
"Tapi kamu bisa datang kan, untuk merayakan ulang tahun anak kamu nanti."
"Iya, tapi kamu antarkan obat itu dulu."
"Kenapa nggak minta Bi Idah saja biar lebih cepat?"
"Bi Idah ikut disetor ke rumah Ibu."
"Aku akan antarkan. Tapi jangan paksa aku untuk cepat. Kamu tau sendiri kalau aku tidak suka tergesa-gesa."
"Hmmm...."
__ADS_1