
Ardian kembali masuk kerja setelah dua minggu cuti karena kepergian papinya. Ucapan bela sungkawa masih saja berdatangan dari teman-teman kantor maupun teman kuliahnya dulu. Dia sampai-sampai malas membuka handphone karena hal itu.
Pagi itu, Ardian berangkat lebih pagi karena harus mengurus banyak hal. Bu Renata dibawa pindah ke rumahnya karena rumah
peninggalan Pak Sucipto disita oleh pihak Bank. Di hari kesepuluh kepergian papinya, dua orang penagih hutang datang dan mengatakan kalau Pak Sucipto meninggalkan hutang dua milyar. Karena dilengkapi dengan bukti yang kuat, Ardian tidak bisa berbuat apa-apa dan membiarkan rumah itu disita.
Sebelum berangkat, Ardian berpamitan pada Maminya yang masih istirahat di dalam kamar. Ia mengetuk pintu dengan perlahan agar tidak terlalu berisik. Ardian takut kena semprotan istrinya lagi karena kurang sopan pada orang tua. "Mami.. Mami.." Tok.. tok.. tok.. Ardian berulang kali mengetuk pintu karena maminya tidak merespon. Setelah berulang kali mengetuk, barulah pintu terbuka perlahan.
"Ada apa, Nak?" Bu Renata menampakkan wajah kusut pada putranya.
"Mami nggak shalat subuh lagi ya..?"
Bu Renata mengernyit mendengar pertanyaan putranya. "Kamu itu curiga terus deh sama Mami. Ini sudah jam berapa sehingga menanyakan Mami sudah shalat Subuh atau belum?"
"Jam setengah tujuh."
"Mami sudah shalat, Nak. Tapi Mami tidur lagi setelah shalat tadi."
"Kenapa tidak ikut sarapan bersama kami?"
"Mami kan ketiduran, Nak. Kamu juga kenapa pagi-pagi sudah rapi seperti ini?"
"Mau kerja lah, Mami. Aku sudah dua minggu ini tidak bekerja."
"Memangnya kamu masih bisa bekerja di sana?"
"Apa masalahnya denganku. Yang bermasalah dan membuat masalah kan Papi. Jadinya aku tidak tau apa-apa. Tetapi seandainya gara-gara masalah Papi aku harus diberhentikan, aku akan mengundurkan diri. Aku.. aku juga berniat mencari tau penyebab kepergian Papi."
"Kan Papi kamu masuk rumah sakit dan terkena serangan jantung, Nak."
"Tapi percakapan dibalik telepon yang membuatnya sampai terkena serangan jantung itu."
"Mami tidak mau ikut repot ah. Masalah sudah berlalu juga."
"Masalah harus diselesaikan, Mi. Intinya, semua harus terungkap. Aku akan mencari tau semuanya. Aku tidak mau papiku meninggal sedangkan orang yang menyebabkan kematiannya berkeliaran dengan bebas tanpa merasakan penderitaan yang Papi rasakan."
"Sudah, Nak. Masalah ini jangan diperpanjang. Seharusnya kamu menyibukkan diri dengan pekerjaan kamu, jangan merepotkan diri dengan hal tidak penting seperti ini."
"Siapa bilang ini tidak penting, Mi. Ini adalah hal yang sangat penting. Karena ini, aku harus kehilangan sosok Papi. Aku pamit.." Ardian meraih tangan maminya tanpa menunggu jawaban. Perasaannya mulai tidak tenang. Kematian papinya pasti ada sangkut pautnya dengan maminya. Bu Renata terlihat ketakutan saat dia membahas hal ini.
__ADS_1
Bu Renata masuk kembali ke dalam kamarnya setelah Ardian berlalu. Sedangkan Ardian bertolak ke lantai satu untuk berpamitan pada istrinya.
"Chay...!"
"Eh, Mas.." Chayra berbalik dengan sebelah tangannya memegang Adzra yang duduk di atas kursi. "Udah berpamitan sama Mami?"
"Udah Sayang. Heran aku sama Mami.." Ardian membuang nafas kasar seraya duduk di depan anaknya. Menusuk-nusuk pipi Adzra yang sedang makan.
"Mas... jangan suka jahil deh. Adzra sedang makan ini.."
"Aku nggak perduli. Aku hanya senang mengganggunya karena lesung pipinya membuat aku gemezzzz..." Ardian malah semakin mencubit pipi putranya.
Chayra menarik nafas panjang. Percuma dia mengingatkan karena suaminya ini tidak akan pernah mau mendengarkan. "Udah, Mas... kamu berangkat kerja sana. Katanya mau merubah kehidupan masa depan."
"Aku akan ke kantor kok, cuman mau nunggu kamu dulu. Aku mau curhat sama kamu."
"Curhat?"
"Iya.."
"Nanti siang aku akan mengantarkan makan siang. Kamu bisa curhat nanti. Nggak enak banget dilihat kalau sampai kamu telat datang. Ini hari pertama masuk kerja loh, Mas."
"Selalu saja nggak pernah mau kalah."
"Hehehe.. aku berangkat ya.. Jangan lupa ingatkan Mami untuk makan siang nanti. Dia itu sering lalai."
"Iya, Mas.. cerewet banget sih."
Ardian tersenyum seraya meraih kepala istrinya. Menciumnya lama sebelum benar-benar keluar dari dalam rumah.
Chayra membawa putranya masuk ke dalam kamar setelah kepergian suaminya. Sejak Bu Renata tinggal di rumahnya, dia lebih disiplin untuk memandikan putranya lebih pagi. Takutnya mertuanya tiba-tiba mau menggendong cucunya. Tapi, sampai saat ini, hal itu seperti mimpi yang belum ada tanda-tanda akan menjadi kenyataan.
**********
Ardian pulang setelah waktu Maghrib tiba. Pekerjaan yang menumpuk di kantor membuat kepalanya terasa berdenyut. Tapi, ia memilih untuk pulang untuk mengencerkan kepalanya.
"Assalamualaikum..." Ardian membuka pintu kamar. Senyumnya mengembang saat melihat istrinya yang sedang shalat di pojok ruangan. Bibirnya semakin merekah saat melihat putranya yang sedang meniru gerakan shalat ibunya. Saat mendengar suara papanya, anak itu langsung berjalan dengan langkah tertatih.
"Wah... anak papa sudah pintar ya sekarang.." Ardian langsung mengangkat putranya dengan bangga. Membawa Adzra duduk di sisi tempat tidur untuk menunggu istrinya selesai shalat.
__ADS_1
"Anaknya jangan diganggu terus, Mas. Dia ngantuk dari tadi, tapi aku nggak sempat menemaninya tidur."
Ardian beralih menatap istrinya. Bibirnya mengulas senyum jahil. "Kamu memang pengertian, Sayang. Adzra memang harus ditidurkan lebih awal biar tidak menggangu waktu pribadi kedua orang tuanya."
"Eh, kenapa omongannya ngawur ngelantur kesitu. Sudah shalat apa belum?"
"Waktu Isya baru saja masuk, Sayang. Aku pulang habis shalat Maghrib tadi. Jadi, aku belum shalat Isya sekarang." Ardian menyerahkan putranya kepada Chayra. "Aku mau membersihkan badan dulu. Nanti pijitin dikit ya.. tubuh aku rasanya pegel semua. Kelamaan duduk rapat tadi. Banyak masalah yang terjadi selama aku tidak masuk. Nama Papi juga sudah dihapus dari daftar. Saham Papi juga tinggal lima persen. Ternyata ada nama Mami yang terselip di antara kebohongan Papi selama ini."
"Maksudnya?"
Ardian kembali duduk dan mengurungkan niatnya untuk ke kamar mandi. "Ini yang ingin aku bahas saat jam makan siang tadi dengan kamu. Tetapi kamu malah langsung pulang setelah mengantarkan makan siang."
"Aku kan udah bilang kalau Adzra rewel terus, Mas."
"Iya, aku tau. Itu makanya aku mau cerita sekarang." Ardian menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ceritanya. "Mami terlilit hutang kemarin."
Chayra menautkan alisnya. Semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan suaminya. "Apa hubungannya coba, Mas?"
"Papi terkena serangan jantung karena terkejut saat ditelepon oleh seseorang yang mengaku dari pihak Bank. Orang itu menyebutkan nominal hutang Mami yang membuat Papi langsung terkena serangan jantung. Masalah pemotongan gaji itu juga karena ulah Mami."
Chayra hanya manggut-manggut mendengar cerita suaminya. "Siapa yang bilang ke kamu, Mas?"
"Aku mencari tau semuanya, Chay. Dan... sekarang... aku menyesal telah menyalahkan Almarhum Papi atas semuanya."
"Menyesal kemudian tak ada gunanya. Itu semua sudah berlalu. Aku tidak ingin kamu memperpanjang masalah ini. Biarkan Mami istirahat dan tinggal dengan tenang di rumah ini. Jika dia tidak terlalu bergaul keluar, maka tidak ada jalan dia untuk mencari hutang lagi."
"Hutang Mami masih tersisa satu M di Perusahaan, Sayang. Tapi, kalau aku menjual sisa saham yang ada, maka hasil jerih payah keringat Papi satu-satunya akan habis juga karena Mami. Aku tidak mau itu terjadi, Sayang. Aku lebih baik mencicilnya sedikit demi sedikit. Iya... walaupun aku didesak untuk segera melunasinya."
"Kenapa tidak minta bantuan Kakek saja, Mas." Chayra merasa prihatin mendengar cerita suaminya.
"Jangan, Chay. Kakek sudah terlalu banyak membantu kita." Ardian kembali menarik nafas panjang. "Ucapan Papi padaku waktu itu terngiang-ngiang, kalau Kakek itu hatinya sangat baik, walaupun ucapannya terkadang membuat kita jengkel." Ia beralih menatap istrinya. "Kakek juga pasti sudah mengetahui semua ini. Mata telinganya berkeliaran dimana-mana, mana mungkin dia tidak tau. Tapi, selama Kakek tidak membantu kita, aku tidak akan mengungkit apapun di depan Kakek."
"Minta bantuan Ibu saja kalau begitu, Mas. Biar Ibu memotong jatah bulananku caranya nanti."
"Aku tidak mau melibatkan kamu, Sayang. Kamu terlalu baik untuk menjadi korban Mami. Biarkan aku yang mencari cara sendiri."
"Anggap saja kamu yang berhutang padaku. Atau kalau kamu malu sama Mami, pakai saja tabunganku yang ada. Kita ini suami istri, Mas. Sudah semestinya kita saling menutupi."
Ardian terdiam mencoba mencerna ucapan istrinya.
__ADS_1
*********