
Selepas kepergian Zidane, Chayra dan Ardian saling pandang lalu tersenyum. Mengingat kejadian tadi yang membuat wajah Chayra langsung berubah merah padam. Benar kata Zidane tadi, untung saja Zidane yang datang. Andaikan Dokter atau Perawat. Entah semalu apa dirinya.
"Tunggu sebentar disini, aku mau ambil makanan yang sudah aku pesan di depan gerbang." Ardian melepas tangan istrinya seraya bangkit.
"Jangan lama-lama, Kak," menahan tangan suaminya.
"Iya, Chay. Aku nggak punya banyak waktu bersama kamu. Jadi, aku harus bisa memanfaatkan waktu agar tidak sia-sia."
Chayra tersenyum seraya melepas tangan Ardian. Menatap kepergian pria itu dari hadapannya.
Chayra merenung sendirian selepas kepergian Ardian. Tidak menyangka kalau pria itu akan memaafkan kesalahannya dengan mudah. Andaikan pria lain yang dia perlakukan seperti Ardian dulu. Entah, mungkin dia sudah dilepaskan dan berstatus janda sekarang.
Chayra meraih handphone Ardian yang tergeletak begitu saja disampingnya. Saat menekan tombol power. Fotonya langsung terpampang di layar kunci. Bibirnya tersenyum samar melihat pemandangan itu.
Chayra harus mulai membiasakan diri. Hidup dengan pasangannya tanpa memikirkan orang lain. Perlahan-lahan dia harus menghapus nama seorang Ghibran. Pria itu sudah banyak membuat masalah dalam pernikahan. Kata-kata yang mengatakan, jika ingin melupakan seseorang, maka ingatlah tentang keburukan-keburukan yang pernah dia lakukan.
Chayra akhirnya menarik nafas dalam. Mengusap air mata yang tidak ia sadari keluar. Membuka-buka isi handphone itu. Tidak ada yang mencurigakan di handphone itu. Hanya ada beberapa pesan dari Renata untuk Ardian. Kebanyakan isinya adalah foto dirinya yang entah kapan diambil suaminya. Selain itu, hanya screenshot do'a-do'a pendek yang dia temukan.
Tiba-tiba saja dia berpikir untuk mengaktifkan screen lock handphone suaminya. Baru saja akan menjalankan aksinya, Ardian tiba-tiba saja muncul di pintu. Spontan, Chayra langsung meletakkan handphone itu.
Ardian menautkan alisnya melihat tingkah istrinya. "Kamu kenapa meletakkan handphonenya. Aku nggak akan marah kok."
"Hehehehe," Chayra cengengesan salah tingkah.
"Makan dulu ayo. Aku pakai menunya yang nggak pedes. Pokoknya semuanya aman untuk kamu. Ngalah demi kamu, nggak apa-apa. Intinya, kita bisa makan berdua tanpa harus ada pantangan."
Chayra tersenyum samar. Melepas niqabnya, agar bisa lebih leluasa makan dengan suaminya.
"Sudah masuk waktu Zuhur nih, Chay. Aku harus cepat biar nggak telat kembali nanti."
"Bian nggak bisa dihubungi, Kak. Aku akan sendiri lagi kalau dia nggak kembali sampai Kakak pergi."
"Semua butuh pengorbanan, Sayang. Aku ingin sukses dan mandiri. Jadi, aku harus berani mengorbankan waktu kebersamaan kita. Kamu tidak mau kan, terus-terusan hidup numpang pada Ibu?"
Chayra menggeleng. "Aku ingin punya rumah sendiri. Hidup berdua bersama Kakak, terus ditambah sama anak kita nanti."
"Kamu saja yang numpang di rumah Ibu kamu, tidak mau terus-terusan bergantung. Apalagi aku yang hanya seorang menantu."
Chayra tersenyum seraya mengusap-usap wajah suaminya. "Aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Kak Ardian."
"Iya.. jangan bahas gituan lagi, nanti malah badmood. Makan dulu, biar aku tenang saat meninggalkan kamu nanti."
Chayra mengangguk, mengambil sendok plastik di wadah makanan dan mulai menyendok makanan yang di bawa suaminya.
__ADS_1
Chayra melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua belas tiga puluh lima menit. Menyuap suapan terakhirnya. "Aku shalat dulu, Chay. Nanti kamu biar Ibu yang bantu tayamum, ya. Aku buru-buru, Sayang."
"Iya.. nggak usah pikirin aku. Intinya, Kakak tidak sampai terlambat sampai Kantor."
Ardian mengangguk seraya bergegas ke kamar mandi.
*********
Renata datang membawa tangis ke ruangan rawat Chayra mencari keberadaan Ardian. Pria itu baru saja takbir mendirikan shalat Isya. Namun, kedatangan Maminya cukup mengganggu konsentrasinya.
"Sabar dulu, Bu Renata. Nak Ardian baru saja mulai shalat. Dia juga baru pulang kerja. Belum makan juga." Santi mencoba menenangkan besannya yang terlihat sangat tergesa-gesa.
"Papinya sadar, Bu Santi. Nama Ardian menjadi ucapan pertama yang diucapkannya saat dia membuka mata tadi."
"Alhamdulillah kalau begitu. Itu berarti Pak Sucipto ada perkembangan dan Insya Allah akan segera pulih seperti sedia kala."
"Mm.. Bu, apa Ayra boleh ikut ke ruang rawat Papi?" Chayra tiba-tiba bertanya yang membuat Renata dan ibunya langsung menoleh ke arahnya.
"Aku pakai kursi roda. Aku juga ingin mengetahui keadaan Papi." Ucap Chayra lagi. Seolah-olah menjawab pertanyaan dari tatapan ibu dan mertuanya.
"Kita tunggu suami kamu selesai shalat dulu,"
"Kenapa Ardian lama sekali shalatnya?"
"B.. bukan begitu maksud Mami, Nak. Tapi.. Papinya baru sadar, setidaknya dia bisa mempercepat bacaannya agar bisa lebih cepat bertemu dengan Papinya."
Chayra mendengus mendengar jawaban mertuanya. Namun, buru-buru dia melafadzkan istighfar agar tidak timbul perasaan yang tidak dia inginkan. "Sabar sebentar, Mami."
"Eh, i.. iya, Nak. Memang hanya itu yang bisa Mami lakukan."
Selesai mendirikan shalat, Ardian langsung bergegas menuju ruangan Papinya. Perasaan bahagia memenuhi pikirannya saat ini. Entah kenapa, perasan bahagia itu bagaikan air es yang menyirami hatinya yang sedang gersang.
"Ardian... pulang, Nak. Maafkan kesalahan Papi, Nak. Papi ingin istirahat, Papi sudah sangat lelah, Nak."
Ardian hanya bisa mengerjap-ngerjap mendengar ucapan Papinya. Kata-kata itu terus diulang Sucipto. Tangannya mencengkram erat kursi roda tempat istrinya duduk. Mendorong perlahan kursi roda itu agar lebih mendekat pada Papinya.
"Putra kamu sudah datang, Sucipto. Ini Ardian, bahkan dia datang dengan istrinya juga." Seorang wanita yang berdiri di dekat kepala Sucipto membisikkan kalimat itu di dekat telinga Sucipto.
Ardian menatap wanita itu dengan mata berair. "N.. Nenek.."
Wanita itu tersenyum haru. Merentangkan tangannya pada Ardian. "Kamu apa kabar, Sayang?"
"Baik, Nek. Aku sangat baik. Alhamdulillah, Allah selalu memberkahi hidupku sejak menikah dengan wanita yang bisa membimbingku mengenal Tuhanku."
__ADS_1
Wanita yang bernama Erna yang ternyata Ibunya Pak Sucipto itu hanya bisa menepuk-nepuk punggung cucunya.
"Maafkan Ardian tidak pernah mengunjungi Nenek. Ardian tidak punya uang, Nek. Ardian baru beberapa hari ini masuk kerja. Insya Allah, kalau Ardian sudah gajian nanti, Ardian akan mengunjungi Nenek."
"Kerja dimana kamu, Sayang. Kenapa kamu tidak meneruskan perjuangan Papi kamu, membesarkan nama perusahaannya yang tidak seberapa itu."
"Aku tidak ada hak untuk itu, Nek. Papi sudah mengusirku. Namaku bahkan sudah dihapus dari ka...." Ucapan Ardian terhenti saat tangannya ditahan oleh Papinya.
"P.. pulang, Nak."
Ardian menoleh menatap Papinya. Ada rasa bersalah menyelimuti hatinya melihat kondisi Papinya yang semakin tua dan terlihat tak terurus.
Tangan Sucipto menggapai-gapai tempat kosong. Ingin menyentuh menantunya, tetapi tangannya tak sampai. "A.. Ayra... maafkan Papi, Nak. Ajaklah suamimu untuk pulang." Ucapnya dengan suara yang semakin lemah.
"Papi sembuh saja dulu. Jangan memikirkan aku. Aku.. tidak mungkin tidak pulang ke rumah. Aku hanya ingin Papi sembuh sekarang."
"Papi lelah, Nak. Papi ingin istirahat dulu dari memikirkan dunia."
"Alhamdulillah, kalau Papi berpikir seperti itu. Sudah waktunya Papi memikirkan bekal yang akan Papi bawa mati."
Chayra menepis tangan Ardian. "Papi sedang sakit, Kak. Jangan ngomong begitu."
Ardian hanya menanggapi ucapan istrinya dengan senyuman.
Sucipto memanggil istrinya memintanya untuk mendekat.
Renata yang sudah paham maksud suaminya mendekat dengan membawa map berwarna biru. "Papi kamu ingin kamu tanda tangan disini."
"Berkas apa ini, Mi?"
"Tanda tangan saja. Mami akan menjelaskan nanti kalau kamu sudah tanda tangan. Ini permintaan Papi kamu, Nak. Siapa tau jika kamu mengabulkan permintaannya, Papi kamu cepat pulih."
Ardian menatap istrinya. Melihat anggukan kepala Chayra, ia akhirnya menandatangani berkas itu walaupun sedikit ragu.
Renata menarik nafas lega setelah Ardian tanda tangan. "Akhirnya Papi kamu terbebas dari beban pikirannya. Sekarang kamu yang memiliki tanggung jawab penuh untuk mengurus perusahaan."
"Maksud Mami?!" Ardian langsung bangkit karena benar-benar terkejut mendengar ucapan Maminya.
"Saham di Perusahaan Papi kamu sudah atas nama kamu sekarang."
********
.
__ADS_1