
Chayra tertegun saat mobil suaminya berhenti di depan rumah Almarhum Pak Sucipto. "K.. kita ngapain ke rumah ini, Mas? Bukankah rumah ini disita Bank?"
"Aku sudah menebusnya, Sa... Chay." Ardian meralat ucapannya yang ingin memanggil istrinya dengan sayang. Hal itu membuat Chayra menautkan alisnya. "Kenapa diganti, Mas? Apa aku tidak pantas lagi dipanggil sayang sama kamu?"
Ardian memejamkan matanya seraya menelan ludahnya. "B.. bukan begitu. Aku hanya merasa tidak pantas memanggil kamu sayang."
"Ada apa sih, Mas? Kamu ini kok jadi aneh kayak gini. Jangan membuat perasaan aku jadi tak karuan seperti ini deh, Mas." Chayra menyandarkan tubuhnya. Ia memejamkan matanya menahan kesal. Perasaannya semakin tidak tenang mendengar ucapan suaminya.
"Itulah mengapa Mami jarang di rumah kita sekarang. Dia kebanyakan berada di rumah ini." Ardian masih berusaha menyambung pembicaraan dengan istrinya.
"Terus kenapa kamu nggak bilang sama aku, Mas?"
"Aku tidak ingin kamu memikirkan beban keluargaku, Chay. Sudahlah, ayo kita masuk sekarang."
Chayra menghela nafas berat seraya menatap manik mata istrinya.
"Jangan menatapku seperti itu, Chay." Ardian segera menghindari tatapan istrinya. Membuka pintu mobil dan keluar duluan. Chayra kembali memejamkan matanya. Kepalanya di penuhi dengan tanda tanya atas sikap suaminya hari ini. Ardian bahkan berjalan lebih dulu tanpa menunggu istrinya.
Adzan Ashar berkumandang tepat ketika Chayra menginjakkan kaki di lantai rumah. Chayra sedikit bergegas mengejar suaminya yang sudah berada di anak tangga pertama. Ia menarik lengan suaminya agar menghentikan langkahnya. "Kita shalat dulu, Mas."
Ardian menghentikan langkahnya seraya berbalik menatap istrinya. "Maafkan aku, Chay." Menarik tangan Chayra lalu menggenggam erat tangan itu.
Chayra POV....
Mataku tidak henti-hentinya melirik tanganku yang digenggam Mas Ardian. Kepalaku terasa berat karena terlalu banyak tanda tanya yang menjadi bebannya. Mas Ardian, what happen with you? Apa ada pekerjaan yang terlalu berat sehingga kamu bersikap aneh seperti ini?
Pagi tadi Mas Ardian berangkat kerja dengan perasaan bahagia seperti biasa. Kami bahkan sempat bercanda sebelum dia pergi. Usapan di kepalaku selalu menjadi penutup saat dia berpamitan di pagi hari. Saat pulang pun, yang akan dia lakukan pasti tidak jauh berbeda.
Tapi...
Semuanya terlihat berbeda saat dia pulang tadi. Wajahnya sedikit pucat dan tatapan matanya sendu. Saat aku ajak bicara, dia hanya menjawab seperlunya saja. Sekarang, dia malah membawaku ke rumah lama. Ada apa, Mas, ada apa? Kalimat pertanyaan itu terus diputar ulang dalam hatiku. Bukan hanya dalam hati, aku bahkan mengungkapkannya beberapa kali.
Saat aku menyentuh lengannya dan memperingatinya agar kami shalat terlebih dahulu, dia langsung minta maaf. Aku menarik sudut bibirku melihat tangannya yang menggenggam erat tanganku. Akhirnya, kami menaiki anak tangga dengan bergandengan tangan. Tapi, aku masih tidak mengerti dengan kata maaf yang dia ucapkan tadi. Entahlah, aku juga tidak mengerti dengan semuanya. Mudah-mudahan semuanya terselesaikan hari ini.
Author POV...
"Kamu mau shalat dimana, mau di kamar atau di Musholla?" Ardian menatap istrinya setelah mereka berada di lantai dua.
"Terserah kamu saja, Mas."
__ADS_1
"Kita di kamar saja ya.." Ardian menarik tangan istrinya memasuki kamarnya.
"M... Mas, kenapa kamu masuk ke kamar yang ini?"
Ardian berbalik seraya membuang nafas dengan kasar. "Apa yang membuatmu selalu bersikap baik padaku, Chay?" Ia mengunci pintu kamar.
Chayra tersentak. "M.. maksud kamu apa, Mas?"
"Jawab saja pertanyaanku, Chay. Aku butuh jawaban itu sekarang..!" Ardian sedikit berteriak.
"Aku istri kamu, Mas.. Wajarlah kalau aku bersikap baik."
"Sebutkan lagi alasan yang lain. Aku ingin mendengar alasan yang lain." Ardian mendekati ranjang lalu duduk di sana.
"Aku.. aku.."
"Kamu bersikap baik karena kamu kasihan padaku. Iya kan, Chay..?"
"Mas..!" Chayra memejamkan matanya seraya beristighfar beberapa kali.
"Pantas saja Pak Ghibran selalu meremehkan aku. Ternyata istriku baik padaku hanya karena kasihan." Ardian tersenyum sinis seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kamu masih menyimpan perasaan untuk pria itu." Ardian menjawab dengan ekspresi datar.
"Astagfirullahal'adzim.. jaga omongan kamu, Mas..!" Chayra menarik nafas dalam. Mendengar ucapan suaminya membuatnnya merasa perjuangannya selama ini tidak dihargai Ardian. "Kamu berprasangka buruk pada istrimu sendiri, Mas. Kita sudah berapa tahun bersama. Kalau aku memang mencintai laki-laki lain, kenapa aku masih bertahan di sampingmu?"
"Kamu hanya kasihan padaku, Chay."
Chayra kembali melafadzkan istighfar. Ia segera duduk karena merasa emosinya semakin meluap. "Ya Allah.. ampuni hamba karena telah mengecewakan suami hamba." Chayra menunduk dalam. Air mata sudah tidak bisa ditahan lagi. Belum lagi rasa sesak karena berada di dalam kamar ini. Kamar yang menyimpan masa lalu kelam suaminya.
"Apa... apa.. yang membuatmu seperti ini, Mas..? Chayra bertanya disela-sela isak tangisnya. Ia mendongak menatap suaminya yang duduk di sisi ranjang.
"Mantan kekasihmu itu selalu memandangku dengan sebelah mata. Selalu saja keluar kata yang tidak enak didengar dari mulutnya." Ardian berkata sambil menatap ke sembarang arah. Tidak kuat menatap Chayra karena istrinya itu menangis.
"Aku tidak mempunyai mantan kekasih, karena waktu itu kami hanya melakukan ta'aruf. Dan sekarang.. aku tidak mengingat lagi orang yang melakukan ta'aruf denganku itu. Yang aku tau saat ini, aku memiliki suami yang bertanggung jawab, suami yang sedang memperjuangkan kebahagiaan anak dan istrinya."
"Jangan memujiku, Chay..!"
"Aku tidak sedang memujimu, Mas. Yang aku katakan ini adalah fakta karena aku yang merasakannya sendiri."
__ADS_1
"Tapi..."
"Tidak ada lagi nama seorang Ghibran dalam kamus hidupku, Mas. Yang ada hanya namamu, Ardian Baskara."
Ardian menunduk seraya memejamkan matanya. "Bagaimana bisa namaku bisa ada dalam kamus hidupmu setelah melihat apa yang aku lakukan padamu?"
"Allah yang membolak-balikkan hati kita, Mas."
"Seharusnya kamu membenciku, Chay. Aku tidak pantas mendapatkan ketulusan wanita sepertimu."
"Lalu siapa yang akan mencintaiku seperti kamu, Mas? Kamu adalah satu-satunya laki-laki itu. Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain, karena sudah jelas kamu berbeda dengan mereka." Chayra beringsut mendekati suaminya. Perlahan ia merentangkan tangannya memeluk kaki Ardian. "Aku mencintaimu, Mas. Jangan berubah hanya karena ucapan orang."
Nyesssss...
Hati Ardian seperti disirami air es mendengar pengakuan cinta dari istrinya. Tangannya membelai kepala istrinya yang masih menempel di kakinya.
"J.. jangan lakukan ini, Chay. Aku tidak pantas dicintai kamu."
"Jangan hancurkan cinta yang sudah dipercayakan Allah untuk kita, Mas."
Ardian mengangkat tubuh istrinya perlahan. "Kamu terlalu sempurna untuk laki-laki bejat sepertiku." Mencengkram erat pundak Chayra.
"Kamu yang terlalu sempurna untuk wanita egois dan keras kepala sepertiku, Mas." Chayra menangkup pipi suaminya. "Jangan pernah berubah, Mas. Aku bahagia memilikimu. Aku tidak perduli dengan omongan orang. Yang ada aku bahagia menjadi istrimu, aku bahagia dicintai kamu. Aku mencintaimu terlepas seburuk apapun masa lalu kamu."
"Jangan dilanjutkan, Chay!"
"Kita saling mencintai dan saling membutuhkan, Mas. Kita sudah memiliki bukti cinta yang kuat. Kehadiran Adzra dalam pernikahan ini adalah bukti, kalau kita sudah saling menerima satu sama lain."
"Maafkan aku, Chay." Ardian menarik tubuh Chayra ke dalam pelukannya. "Aku masih terus dihantui rasa bersalah atas kebodohanku dulu. Kedatangan Pak Ghibran tadi siang membuatku semakin merasa bersalah. Bagiamana laki-laki itu terlihat masih mengharapkan kamu."
"Sampai mati pun, jika Allah tetap mengizinkan kita bersama, selama itu aku akan jadi pendampingmu, Mas."
"Aku tidak pantas diperjuangkan, Chay."
"Kamu terlalu baik untuk disia-siakan." Chayra menarik diri dari pelukan suaminya. Ia kembali menagkup pipi Ardian, menatap mata Ardian yang memerah karena menangis. "Apa perubahan sikapmu ini ada hubungannya dengan Ghibran Abdullah?"
Ardian menunduk menghindari tatapan mata istrinya. "Tadi siang dia tiba-tiba datang, Chay." Akhirnya cerita panjang tentang kejadian tadi siang keluar dari mulut Ardian. Tidak lupa ia menceritakan bagaimana sandiwaranya dengan Dodit sampai Ghibran pergi membawa perasaan kesal.
*********
__ADS_1