Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Kecewa


__ADS_3

Chayra menahan rasa kecewa saat Ardian tak kunjung datang sampai nomor antrian dua puluh sembilan. Matanya berulang kali menatap ke arah pintu masuk. Berharap pria itu akan muncul dengan senyum mengembang.


Namun, harapan hanya tinggal harapan. Ardian bahkan tidak muncul sampai dia keluar dari ruangan. Santi mengelus-elus punggung Chayra saat keluar dari ruangan.


"Katanya dia sudah selesai rapat dari Ashar tadi, Bu. Tapi, kenapa malah hilang sampai sekarang. Apa dia membohongiku?"


"Khusnuzzon saja, Nak. Mungkin suami kamu ada urusan mendadak yang tidak bisa dia tunda."


"Dia tidak ada kabar, Bu. Terakhir dia kirim pesan pas nanyain aku dapat nomor antrian berapa. Terus dia bilang tunggu aku, itu aja."


"Memangnya kamu mau tunggu dia sampai datang kemari. Nggak mau pulang dan istirahat saja."


"Nggak, Bu. Aku mau pulang saja. Ngapain nungguin kedatangan orang yang tidak pasti akan datang."


Chayra akhirnya memasuki mobil dengan rasa kecewa. Matanya masih menengok ke belakang saat adiknya sudah menjalankan kendaraan. Berharap ada Ardian yang datang ke Klinik untuk menjemputnya.


Melihat tidak ada tanda-tanda, Chayra akhirnya membalik tubuhnya. Menarik nafas dalam untuk menekan perasaannya.


Bian menepikan kendaraannya saat melihat Masjid. "Kita shalat Maghrib dulu, Bu. Waktu Maghrib sudah masuk dari setengah jam yang lalu. Takutnya kalau shalat di rumah, waktu shalatnya keburu habis."


"Ayo, Nak." Santi keluar duluan. Membukakan pintu mobil untuk putrinya.


Chayra melirik handphonenya saat terdengar notifikasi pesan masuk. Saat melihat nama suaminya, ia melempar handphone itu asal. Menutup pintu mobil seraya mengikuti langkah ibunya.


Sementara itu..


Ardian bergegas meninggalkan Restoran setelah menemani orang tuanya makan malam. Mendengar adzan Maghrib berkumandang, ia segera ke Masjid terdekat untuk menunaikan shalat. Ia ikut shalat berjamaah dan zikir bersama. Walaupun perasaannya mulai tidak tenang karena istrinya sudah mengirim beberapa pesan, memberitahunya kalau sebentar lagi dia akan dipanggil.


Sampai di Klinik, Ardian mengedarkan pandangannya. Memperhatikan wanita-wanita hamil yang masih duduk ngantri di ruang tunggu. Hatinya seperti disentil melihat wanita-wanita itu yang semuanya ditemani oleh pasangan masing-masing. Pantas saja istrinya sangat ingin ditemani, ternyata memang hanya Chayra yang tidak ditemani oleh dirinya saat periksa.


Ardian berjalan mendekati seorang pria yang duduk paling dekat dengan posisinya berdiri saat ini. "Assalamualaikum, Pak.."


"Wa'alaikumsalam, Dek, ada apa?"


"Mm... saya mau nanya nih, Pak. Ini sudah nomor antrian berapa ya..?"


"Mm.. ada istri atau saudara Adek yang periksa disini?"


"Istri saya, Pak."


"Nomor antrian tiga puluh lima kayaknya, iya kan, Ma?" Pria itu bertanya pada istrinya.


"Tiga pulau empat, yang di dalam. Antrian selanjutnya nomor tiga puluh lima, Dek."

__ADS_1


Ardian kembali berdiri seraya membuang nafas dengan kasar. "Ya Allah.." kembali menunduk, tersenyum ramah pada Bapak itu. "Terimakasih, Pak."


"Istrinya memangnya dapat nomor antrian berapa?"


Ardian tersenyum hambar menatap pria itu. "Nomor tiga puluh, Pak."


"Owh, yang tadi pakai cadar itu ya, Dek."


"I... iya, Pak."


"Oh, tadi istrinya nangis itu. Ditepuk-tepuk punggungnya sama Ibunya. Kami nggak tau sih, dia nangis kenapa. Coba dihubungi, Dek."


"I.. iya, Mbak. Terimakasih.." Ardian berbalik seraya memejamkan matanya. Rasa bersalah memenuhi pikirannya. Mungkinkah ada berita buruk yang disampaikan Dokter pada kandungan istrinya. Atau istrinya menangis karena dia tidak menepati janji. "Ya Allah.." mengusap wajahnya kasar seraya keluar dari Klinik.


Setelah masuk ke dalam mobilnya. Ardian mengambil handphonenya untuk menghubungi Chayra. Pesan yang terakhir dia kirim saat sampai Klinik tadi saja belum dibuka oleh Chayra. Hal itu membuat Ardian kembali mengusap wajahnya dengan kasar. Berulang kali ia mencoba menghubungi Chayra, tetapi tetap saja panggilannya tidak ada yang dijawab. Mencoba menghubungi Santi mertuanya. Namun hasilnya tetap sama. Tidak ada yang menjawab panggilannya.


"Aaarrghh..!" Ardian akhirnya memukul setir kemudinya untuk melampiaskan rasa kesal.


Ia harus segera pulang untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi sehingga istrinya sampai menangis seperti yang diceritakan Ibu tadi.


Baru akan menjalankan kendaraannya, Ardian baru ingat kalau dia belum menghubungi Bian. Dia mencoba menghubungi nomor itu. Bian yang baru saja masuk ke dalam mobil terkejut saat mendapati handphonenya berbunyi nyaring. Tanpa pikir panjang, Bian langsung menjawab panggilan itu.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokaatuh.."


"Eh, ni orang belum jawab salam dengan sempurna main nyosor aja bertanya."


"Aku sedang nggak mood bercanda. Aku beneran serius bertanya. Aku masih di Klinik nih mencari keberadaan kalian."


"Huh," Bian mendengus. "Ngapain nanya-nanya kalau hanya bisa memberi harapan palsu. Tau nggak, kalau Kak Ayra sampai bela-belain nggak mau daftar online karena mengharapkan kehadiran lu yang jadi suami. Tau-taunya.. eh, malah hilang nggak ada kabar. Pulang aja.. ngapain diam disana. Mau sampai subuh aja lu nunggu nggak akan ketemu sama kami."


"K.. kalian sudah pulang jadinya?"


"Eh, pakai nanya lagi ni orang. Udah tau juga. Emangnya di Klinik itu masih nomor antrian dua belas, sehingga Kakak nanya kami udah pulang atau belum?"


"Mm.. kalau begitu aku.. aku akan pulang sekarang. Assalamualaikum.."


Bian langsung meletakkan handphonenya. Melirik kakaknya yang sudah duduk di bangku kemudi. "Kayaknya lakinya Kakak udah menghubungi Kakak. Coba di cek."


Chayra hanya melirik Bian. Ia malah menyentuh lengan Ibunya yang sedang sibuk mengetik pesan di handphonenya. "Bu, Ayra mau jalan-jalan dulu, boleh. Ayra malas kalau langsung pulang."


"Loh, kok gitu, Nak. Suami kamu udah mau pulang katanya ini."


"Ngapain balas pesen dia sih?!" Biarin aja, siapa suruh nggak bisa jaga omongan sendiri."

__ADS_1


Santi menghela nafas berat. mengelus-elus kepala putrinya dengan lembut. "Kamu tau betapa besar perjuangan suami kamu, agar bisa menemani kamu?"


"Aku nggak tau dan nggak mau tau."


Santi tersenyum mendengar jawaban putrinya. "Mertua kamu dua-duanya datang ke Kantor. Dia juga menunggu Ardian sama seperti kamu. Saat selesai shalat Ashar, mereka meminta Ardian untuk menemani mereka ke Restoran. Suami kamu itu anak laki-laki, Nak. Dia tetap wajib berbakti kepada kedua orang tuanya walaupun dia sudah menikah. Berbeda dengan kamu yang anak perempuan."


Chayra hanya diam, membenarkan semua ucapan Ibunya dalam hati. "Aku hanya ingin seperti yang lain, Bu."


"Kan masih ada jadwal periksa bulan-bulan berikutnya, Nak. Sedangkan untuk orang tuanya, suami kamu belum tentu ada waktu untuk menemani mereka makan malam. Karena minggu depan, Pak Sucipto dan Bu Renata akan kembalii ke Amerika. Putra mereka sudah bisa bertanggung jawab di perusahaan mereka yang disini. Jadi mereka bisa tenang untuk meninggalkannya."


Chayra akhirnya hanya bisa menarik nafas dalam. Dia harus bisa menerima alasan suaminya seperti yang diucapkan ibunya. "Tapi, bolehkan, kalau aku jalan-jalan dulu sekarang, Bu? Aku beneran tidak ingin langsung pulang. Tadi padahal udah berangan-angan, pulang dari periksa, aku akan makan bakso barengan dengan Kak Ardian."


"Masih ada waktu-waktu berikutnya, Nak. Nggak apa-apa deh, Ibu dan Bian temani kamu sekarang. Kamu bisa ajak suami kamu besok malam."


"Makasih, Bu." Chayra memeluk tubuh Ibunya dengan hangat.


"Kita ke Alun-alun kota saja ya, Kak. Kalau jam segini pasti suasananya sangat ramai. Kakak mau keramaian kan, biar nggak kesepian."


"Mm..." hanya itu jawaban Chayra. Kepalanya masih menempel di dada Ibunya.


Sampai di tempat tujuan...


"Mmm... Nak, Ibu mau mencari toilet umum sebentar, Ibu kebelet nih."


Chayra langsung mengangguk setuju. Matanya langsung tertuju pada pedagang yang berjejer rapi di pinggiran jalan.


"Mm.. Kak Ayra mau mencoba makanan itu semuanya? Kalau kayak gitu, Bian lebih baik tunggu di dalam mobil ya. Sekalian mau mengerjakan latihan soal untuk tes masuk Sekolah Menengah Atas."


Chayra mengangguk tanpa menoleh pada adiknya. Bian langsung berlalu setelah melihat anggukan kepala Kakaknya.


Chayra duduk sendirian menikmati makanan yang sudah dia pesan. Duduk makan sendirian membuat selera makannya yang tadi tiba-tiba hilang. Yang dimakannya terasa hambar. Entah apa penyebabnya.


"Kamu tidak akan kenyang kalau kamu hanya mengaduk-aduk makanan itu, Sayang."


Chayra tersentak saat mendengar suara itu. Langsung bangkit dan berbalik ke arah belakangnya. "Kak..."


"Maaf, aku telat, Sayang."


Chayra tersenyum melihat kehadiran suaminya. "K.. kenapa Kak Ardian bisa tau kalau aku ada disini?"


Ardian menarik tubuh istrinya untuk duduk kembali. "Aku harus menemukan keberadaan kamu dan bisa pulang bareng bersama kamu." Ardian menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Hal itu yang paling dia rindukan sepanjang hari ini. Mencium aroma tubuh istrinya dengan posisi seperti ini. "Aku yakin kalau kamu pasti tidak mau pulang langsung. Aku sempat berpikir, kalau pulang-pulang tadi aku akan disambut dengan bibir manyun kamu karena kesalahanku tadi."


"Andaikan Ibu tidak meluruskan jalan pikiranku, mungkin itu akan berlaku sejak Kak Ardian menampakkan batang hidung tadi. Tapi, Allah telah membuka mata hatiku. Aku harus bisa berpikir jernih, agar hubungan ini semakin baik kedepannya."

__ADS_1


Ardian semakin erat memeluk tubuh istrinya. "Terimakasih, Sayang..."


__ADS_2