Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
The real incident


__ADS_3

Ardian bergegas turun dari mobil. Mulutnya terlihat komat-kamit melafadzkan hamdalah. Bersyukur karena sampai rumah dengan selamat. Saat mengetuk pintu, Ardian terkejut saat Bi Idah yang membukakannya pintu. Padahal dia sudah mengirim pesan pada Chayra, kalau dia akan sampai rumah sore ini.


Raut wajah Ardian berubah. Senyum yang tadi mengembang langsung sirna. "Mm.. Bi, Chay dan Adzra mana. Kenapa Bibi yang menyambut kepulanganku?" Pikiran Ardian teringat pada kejadian beberapa tahun yang lalu saat dirinya belum menikah. Dimana hanya ada Asisten yang akan menyambutnya saat pulang ke rumah.


"Mm ... anu, Tuan. Non Ayra dibawa ke Rumah Sakit tadi saja?"


"Hah...?! M.. maksud Bibi, Chay sakit dan dibawa ke Rumah Sakit?" Ardian mengguncang tubuh Bi Idah dengan keras.


"I.. iya, Tuan. T.. t.. tadi pagi, Non Chayra muntah-muntah sampai lemas. D.. dia sempat menolak dibawa. T.. tapi Bu Santi memaksanya, Tuan."


"Ya Allah..." Ardian menutup matanya seraya mengusap wajahnya dengan kasar. "Kenapa Bibi tidak menghubungiku?"


"Semua orang melarang saya, Tuan." Akhirnya Bi Idah bisa bicara dengan normal setelah menarik nafas dalam.


"Kenapa?"


"Non Chayra dan Bu Santi tidak mau Tuan khawatir."


Ardian membuang nafasnya dengan kasar seraya melafadzkan istighfar. "Maaf kalau aku kasar sama Bibi. Aku hanya terkejut. Padahal Chay bilang dirinya baik-baik saja tadi pagi."


Bi Idah menatap Ardian dengan bingung. "Kapan Tuan menghubunginya? Non Chay ... eh, keikutan deh bilang Chay." Bi Idah menepuk-nepuk mulutnya. "Maksud saya, Non Ayra sudah nggak enak badan dari kemarin, Tuan."


"Terus kenapa Bibi tidak bilang dari kemarin. Kan Bibi dilarangnya tadi?"


"Aku sudah dilarang dari kemarin, Tuan."


"Aku mau ke Rumah Sakit, Bi. Minta tolong Bibi bantu turunkan barang-barang aku dari mobil."


"Tuan tidak mau istirahat dulu sebentar.." Bi Idah mencoba menawarkan.


"Aku tidak bisa tidur tanpa memeluk Chay, Bi." Ardian langsung berlalu tanpa memperdulikan ekspresi Bi Idah.


"Hah... kok Tuan ngejawabnya begitu. Padahal dia sudah pergi selama tiga hari ini. Terus, dia memeluk siapa disana agar bisa tidur." Bu Idah menggaruk-garuk kepalanya bingung. Segera mengambil barang-barang Ardian yang tersimpan di bagasi mobil.


Sekitar lima belas menit, Ardian sudah keluar dengan pakaian santai. Wajahnya juga sudah berubah, terlihat lebih segar. "Bi, titip rumah ya... hubungi aku kalau ada tamu." Ucapnya sambil memasang helm.

__ADS_1


"Kenapa Tuan tidak pakai mobil?"


"Capek, Bi. Aku nggak mau terjebak macet. Ini jam pulang kerja. Kalau pakai motor aku bisa lebih cepat."


Bi Idah hanya manggut-manggut. Matanya tidak henti-hentinya menatap Ardian sampai pria itu hilang dari pandangan.


Sampai Rumah Sakit ...


Ardian mendapati Bian sedang menyuapi Adzra makan di Kafe sebelah parkiran. "Kakak kamu dimana, Bi?"


Bian langsung mengangkat wajahnya. "Abang kapan pulang?" Tanyanya dengan suara sedih.


"Baru sampai rumah dan Kakak langsung kemari." Ardian menggendong putranya. Adzra tiba-tiba saja menangis saat diambil papanya. "Loh, Adzra nggak kangen emangnya sama Papa?"


"Dari tadi dia rewel, Bang. Mungkin dia merasakan apa yang dirasakan Kak Ayra. Dia nangisnya kenceng tadi, makanya Perawat menyuruhku membawanya keluar.


"Papa.. huaaa.. " Adzra memeluk leher Ardian. Hal itu membuat Ardian merasa bersalah. Andaikan saja dia tau kalau istrinya sakit dari kemarin. Dia pasti tidak akan jalan-jalan dulu sebelum pulang.


"Kak Ayra masih di IGD, Bang. Dia muntah terus. Adzra juga gini terus dari tadi. Biasanya dia nggak pernah nangis kalau sama aku. Tapi nggak tau aja, dari tadi pagi bawaannya rewel terus."


"Adzra kenapa nangis terus, Sayang? Kasih tuh paman Bian capek gendong Adzra terus." Adzra hanya memeluk leher papanya semakin erat.


"Mm.. nggak apa-apalah, Dek. Daripada Adzra kelaparan karena tidak dikasih makan. Lagian Kafe ini bersih kok. Kakak juga sering makan disini pas kakak kamu sakit dulu itu." Ardian kembali menatap putranya. Mata Adzra terlihat layu, antara efek karena kebanyakan nangis atau mungkin anak itu ngantuk. Saat Ardian masih berperang dengan pikirannya, Adzra tiba-tiba menguap. "Papa.. bobo..." Ardian tersenyum, "wah, anak papa sudah pintar sekarang. Kalau mau bobo bisa lapor sama papa." Adzra merespon dengan mengucek-ngucek matanya.


"Adzra ke paman Bian dulu, ya. Papa mau menengok mamanya Adzra dulu di dalam." Adzra pasrah saja diserahkan kepada Bian. Bian segera mengalihkan perhatian anak itu agar tidak menangis saat melihat Ardian pergi.


Saat memasuki IGD, Ardian melihat ada Zidane disana. Tatapan tajam pria itu membuatnya tidak nyaman. Apalagi saat melihat Zidane berjalan mendekat, Ardian langsung menarik nafas panjang.


"Kemana saja kamu, kenapa baru datang? Tidak bertanggung jawab sama sekali, istri sakit malah pergi kerja."


"Astagfirullah ... ini Rumah Sakit, Zidane. Kamu harus bisa mengontrol emosi kamu. Jangan sampai ulah kamu malah membuat orang lain tidak nyaman." Ghibran yang ternyata ada di tempat itu menenangkan Zidane yang mulai tersulut emosi. Ardian bergegas meninggalkan Zidane selagi ada gengnya di sana.


"Kamu sudah pulang, Nak?" Bu Santi menyapa Ardian begitu melihatnya.


"Aku baru sampai rumah, Bu. Tapi aku terkejut saat Bi Idah bilang kalau Chay dibawa ke Rumah Sakit." Ardian membuang nafas kasar seraya mendekati istrinya. "Kamu kenapa, Sayang ... kenapa kamu tidak bilang kalau kamu lagi sakit tadi pagi. Apa kamu sengaja menyembunyikan semuanya. Aku akan paksakan untuk mengambil penerbangan pagi kalau tau kamu sakit."

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, Mas. Jangan berlebihan seperti itu."


"Kamu selalu bilang kalau kamu baik-baik saja. Kenapa kamu tidak pernah mengeluh sakit kepadaku, Chay? Aku kan nggak enak jadinya. Kak Zidane menyalahkanku karena aku baru tiba."


"Kakak kamu tidak tau kalau kamu baru kembali dari Tiongkok, Nak."


Kedatangan seorang Perawat menghentikan perdebatan itu. "Suami dari saudari Chayra Azzahra di panggil Dokter." Ardian langsung menegakkan tubuhnya. Dia sedikit terkejut saat melihat Zidane dan Ghibran sudah ada disana juga.


Ardian kembali berbalik, mencium dahi istrinya lalu pergi tanpa memperdulikan tatapan rasa bersalah Zidane karena menyalahkannya tadi.


Sudah dua puluh menit Ardian bicara dengan Dokter. Tetapi belum ada tanda-tanda pria itu akan kembali. Hal itu membuat Bu Santi khawatir. Akankah putrinya memiliki penyakit serius sehingga Ardian cukup lama menemui Dokter itu?


Sampai pukul setengah enam, barulah Ardian menampakkan diri lagi. "Maaf, Bu. Aku bicara lama dengan Dokter." Ardian mengusap-usap matanya yang sedikit berair karena


"Ada apa, Nak? Apa istrimu mengidap penyakit serius sehingga kamu tidak cepat kembali."


"B.. bukan seperti itu, Bu." Ardian kembali mengusap matanya. Ia menatap sekeliling sebelum menceritakan semuanya kepada mertuanya. Melihat Zidane dan Ghibran tidak ada, Ardian duduk di samping Brangkar tepat istrinya istirahat. Ia mendaratkan satu ciuman di dahi Chayra. "Aku... aku... hah," Ardian mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh.


"Ada apa, Nak?" Bu Santi semakin khawatir.


"Aku.. aku.. Adzra akan punya adik, Bu.."


Sepersekian detik Bu Santi tertegun. Berita yang dibawa menantunya ini cukup mengejutkan.


"Aku hamil, Mas?" Chayra mencengkram erat tangan suaminya.


"I.. iya, Sayang. Allah mengabulkan ucapanmu beberapa Minggu yang lalu."


"Masya Allah, Alhamdulillah, Allahuakbar... terimakasih ya Allah.." Chayra menutup wajahnya dengan telapak tangan. "Terimakasih Engkau masih memberikan kepercayaan kepada kami untuk memiliki anak lagi."


Ardian memeluk erat tubuh istrinya. "Terimakasih, Sayang. Kamu sudah mau menjadi ibu untuk anak-anakku. Semoga kelak, anak kita tumbuh menjadi anak yang taat pada agamanya seperti kamu, Sayang."


"Kamu juga orang baik, Mas. Kita harus saling mendukung agar kedepannya kita semakin baik."


Bu Santi tidak bisa berkata-kata melihat pemandangan di depannya. Hanya air mata yang mengalir, menjadi bukti kalau wanita itu juga terharu mendengar berita yang dibawa menantunya itu.

__ADS_1


Sementara itu dua pria yang berdiri dibelakang Ardian pun, tertegun melihat semua itu. Zidane semakin merasa bersalah karena menyalahkan Ardian tadi. Bagaimanapun juga, Ardian sedang berusaha menjadi suami terbaik untuk adiknya.


*********


__ADS_2