Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Rencana


__ADS_3

"Ini rumahnya, Pi?" Ardian menunjuk rumah sederhana yang berdiri di depannya.


"Iya, kenapa memangnya, kamu tidak suka?"


"Mm.. suka sih. Tapi, rumahnya kenapa kecil kayak gini, Pi? Kok, aku lihat seperti rumah kontrakan."


"Iya.. itu memang rumah kontrakan dari Papi untuk kamu. Kamu harus bisa cari uang untuk bisa membayar kontrakan itu setiap bulan. Kalau kamu tidak rajin kerja nanti. Bisa jadi rumah ini Papi tarik kembali."


"Tega Papi kayak gitu sama anak sendiri."


"Papi harus tega biar kamu bisa mandiri. Sudah berkeluarga juga, masih bergantung pada orang tua. Sudah sana, ajak istri kamu melihat kondisi rumahnya." Sucipto menepuk pundak Ardian. Mengisyaratkan pada putranya agar memanggil Chayra yang masih sibuk menelepon di dalam mobil.


"Dari dulu juga aku sudah dibiarkan hidup sendiri. Ditinggal Papi dan Mami hidup sendirian di rumah. Hidup hanya bersama pelayan. Bukankah itu namanya aku sudah hidup mandiri." Ardian berlalu dari hadapan papinya. Keluar dari gerbang rumah, mendekati mobil dimana istrinya berada.


Sucipto hanya tersenyum samar menanggapi celotehan putranya. Semua yang dikatakan Ardian itu memang benar adanya.


"Chay.. keluar dulu. Kita mau melihat-lihat rumah baru kita."


Chayra menjawab dengan anggukan kepala. Handphone masih menempel di telinganya. "Iya, Bu. Nanti Ayra hubungi Ibu lagi." Chayra mematikan sambungan telepon. Menatap suaminya yang masih menunggu di depan mobil.


"Kakak sudah selesai diskusi dengan Papi?"


"Sudah dari tadi. Aku malah sedang menunggu kamu selesai ngobrol dengan Ibu."


Chayra tersenyum meringis. "Maaf, aku sering lupa waktu kalau ngobrol dengan Ibu."


"Kamu membahas apa dengan Ibu?"


"Rencana ke Makam Bapak hari Minggu ini."


"Astaga, aku kok lupa ya.. Belum bilang sama Papi dan Mami."


"Bilang astagfirullah, Kak. Jangan bilang astaga. Malas banget sih melanjutkannya."


"Hehehe," Ardian cengengesan. "Masih perlu diasah lagi, Sayang."


"Huh, panggil sayang lagi." Chayra mendengus.


"Kenapa marah? Aku kan cuma bilang sayang ke kamu sekarang. Nggak ada orang lain yang spesial selain kamu."


"Terserah... intinya aku nggak suka. Panggil Chay aja, terdengar lebih spesial."


"Ok, ok.. jangan marah. Ayo, Papi sudah menunggu kita."


"Hmmm..." Chayra bangkit lalu menutup pintu mobil. Tangan Ardian sudah terulur saat dia berbalik.


"Harus seperti ini ya..?" Menunjuk tangan Ardian yang terulur. Seolah-olah dia tidak ingin bergandengan tangan saat berjalan dengan suaminya.


"Bukan harus, tapi wajib, Chay.."


"Apa bedanya harus dan wajib?"


Ardian membuang nafas kasar. "Harus itu mengharuskan dan wajib itu mewajibkan."

__ADS_1


Chayra tertawa mendengar jawaban Ardian. "What do you mean, Kak? Hahahaha.."


"Lho, kan kamu yang bertanya apa bedanya harus dan wajib. Kalau menurut aku ya.. itu seperti yang aku katakan tadi."


"Mm.. bolehlah bolehlah." Chayra masih ingin tertawa. Namun, buru-buru ia menarik nafas dalam-dalam. "Mm.. kalau definisi wajib menurut syarak, apa?"


"Mmm..." Ardian mendongak mencoba mengingat. "Wajib menurut syarak itu. Kalau dikerjakan mendapatkan pahala. Dan kalau ditinggalkan mendapatkan dosa." Ardian langsung menatap istrinya karena takut jawabannya salah.


"Mmm... you right, Honey. Kakak hebat ternyata." Chayra mengacungkan jari jempolnya. "Kalau begitu aku tambah pertanyaannya."


"Kalian kenapa lama sekali?"


Ardian dan Chayra menoleh serentak saat mendengar suara Sucipto di depan mereka.


"Eh.." Ardian dan Chayra saling tatap salah tingkah. Bingung mau menjawab apa pertanyaan Papi mereka.


"Kalian ini kenapa, selalu saja lama? Padahal Papi sudah peringatkan kamu untuk menghemat waktu, Ardian."


"Hehehe, maaf, Pi. Chay masih ngobrol dengan Ibu tadi."


Sucipto hanya menggeleng-geleng pelan menatap menantu anaknya secara bergantian. "Kalian masuk duluan. Papi mau menghubungi seseorang sebentar."


Ardian menarik tangan istrinya untuk mendekati gerbang rumah. Saat gerbang terbuka. Chayra menganga tak percaya melihat rumah di depannya. Rumah yang sederhana. Namun, yang membuatnya kagum adalah tampilan rumah itu yang benar-benar persis seperti rumahnya.


"Ini.. kita nggak salah masuk kan, Kak?"


Ardian menautkan alisnya. "Salah masuk bagaimana maksud kamu? Ini rumah dari Papi untuk kita tempati berdua. Papi sendiri yang bilang, kalau rumah ini adalah rumahnya."


"Ini terlihat sangat istimewa, Kak."


"Ini benar-benar istimewa, Kak."


"Dimana letak istimewanya sih?! Padahal aku melihatnya biasa-biasa aja."


Chayra mendelik menatap Ardian. "Apa rumah ini terlihat asing di mata Kakak?"


"Iya jelas asing lah. Inikan rumah baru kita."


Chayra mendengus. "Huh, ayo kita masuk." Menarik tangan Ardian kasar.


Hampir satu jam berkeliling, mereka akhirnya memutuskan untuk keluar.


Chayra tersenyum puas setelah keluar.


"Bagaimana pendapatmu, Ayra?" Sucipto langsung mengajukan pertanyaan saat melihat Chayra tersenyum.


Chayra menatap suaminya dengan senyuman masih mengembang. "Alhamdulillah, aku sangat puas, Pi. Darimana Papi dapat ide untuk rumah ini?"


Sucipto tersenyum seraya mendekati Chayra dan Ardian. "Tentu saja dari rumah menantuku yang sangat anggun ini."


*********


Selepas meninjau rumah baru mereka. Chayra dan Ardian meluncur ke rumah Santi. Hari ini mereka akan membahas rencana keberangkatan mereka ke Pesantren Al-Mukarramah untuk mengunjungi makam Almarhum Arianto Putra Akmal, bapaknya Chayra.

__ADS_1


Mereka sudah di tunggu Santi dan Bian saat memasuki pintu rumah.


"Assalamualaikum, Ibu, Bian." Ardian yang mengucap salam.


"Wa'alaikumsalam.." Timpal Bian sambil tos dengan Ardian. "Kakak lama sekali. Padahal sudah janji mau datang pagi."


"Maaf, Dek. Kak Ardian dan kakak kamu ada urusan tadi pagi. Rencananya kami mau pergi kemarin sore. Tapi, Kakak malah ketiduran. Jadi, Papi marah dan langsung membatalkan rencana."


"Kakak itu suka mengumbar janji, setelah itu Kakak ingkari. Jangan suka memberikan harapan palsu kalau pada akhirnya akan membuat orang lain kecewa pada Kakak."


"Tuh, dengar. Jangan suka mengumbar janji, Ardian Baskara..."


"Apaan sih.." Ardian menggaruk-garuk kepalanya salah tingkah.


"Anak kemarin sore aja tau, kalau kita tidak boleh mengumbar janji."


"Sudah, kalian ini jangan berdebat terus. Duduk dulu, biar kita bisa bicara serius." Santi menghentikan perdebatan yang terdengar akan semakin panjang kalau tidak segera diakhiri.


Chayra dan Ardian hanya bisa cengengesan seraya mendudukkan pantatnya di atas sofa.


Lama mereka berdiskusi sampai mendapatkan keputusan akhir. Mereka akan menggunakan transportasi darat. Bian yang kekeh tidak mau menggunakan pesawat. Anak yang baru beranjak remaja itu benar-benar tidak mau mencoba untuk naik pesawat.


"Kita harus mengalah kalau begitu. Tapi siapa yang akan membawa mobil dengan jarak tempuh yang sangat jauh seperti ini? Aku tidak kuat soalnya. Aku sering ngantuk saat berkendara. Jangankan untuk berkendara sejauh itu. Dari rumah sampai Kampus saja aku bisa ngantuk."


Mereka bertiga mengangkat bahu. Sedangkan Bian hanya bisa cemberut. Bian belum boleh mengendarai mobil karena umurnya yang baru lima belas tahun. Padahal, anak itu sudah bisa membawa mobil sendiri karena Ardian yang mengajarkannya beberapa minggu yang lalu.


"Kita sewa sopir.." usul Ardian setelah beberapa lama terdiam.


"Ngapain? nambah modal saja." Chayra langsung menolak.


"Terus..?"


"Ibu, bagaimana menurut Ibu?"


"Kalian yang membuat keputusan. Ibu hanya menyetujui saja. Intinya kita pergi menggunakan transportasi darat."


"Bagaimana, Chay. Kita harus membuat keputusannya sekarang. Kita tidak bisa menunda lagi."


"Kita gantian nyetirnya." Jawab Chayra spontan.


"Yang benar saja kamu ini."


"Atau kita minta Kakek Akmal untuk menyuruh Pak Parjo menjemput kita."


"Merepotkan orang itu, Nak." Santi menolak.


"Itu pilihan terakhir, Bu. Kalau kita tidak seperti itu, kita tidak akan bisa pergi dengan transportasi darat. Biar Ayra yang ngomong sama Kakek. Ibu tinggal menunggu persetujuan saja."


Santi akhirnya hanya bisa pasrah mendengar ucapan putrinya.


"Assalamualaikum.."


Mereka semua menoleh ke arah pintu saat suara orang yang melepas salam terdengar tidak asing di telinga mereka.

__ADS_1


********


__ADS_2