Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Berbohong demi kebaikan


__ADS_3

"Kamu mau dibawakan apa?" Ardian tersenyum sambil membayangkan wajah istrinya. Dia sengaja berdiri di Balkon untuk mengusir kantuk yang mulai mendera. Sudah pukul sebelas malam, tetapi karena acara pertemuannya baru selesai, ia langsung kembali ke Hotel. Selama di Tiongkok, baru kali ini ia bisa menghubungi istrinya. Dua hari kemarin, dia hanya mengabari istrinya lewat pesan singkat.


"Mau dikasih oleh-oleh kok ditanya dulu. Aneh deh kamu, Mas. Lagian baru aja teleponnya dijawab, malah langsung menanyakan mau oleh-oleh apa. Seharusnya ucap salam dulu, terus tanyakan keadaan Ibu dan Mami sehat apa nggak, tanyakan keadaan anak istri."


Ardian menarik nafas panjang. Akhirnya dia bisa mendengar suara yang sangat dia rindukan tiga hari terakhir ini. "Maaf, Sayang ... aku hanya terlalu bahagia bisa mendengar suara kamu. Aku dari kemarin sibuknya minta ampun. Aku sampai nggak bisa lihat handphone."


"Namanya juga kerja, Mas. Tapi, Alhamdulillah aku dan Adzra baik-baik saja kok disini. Mami, Ibu dan yang lain juga sehat."


"Hmm ... Alhamdulillah, aku senang mendengarnya. "Aku serius bertanya, Sayang. Istriku ini mau oleh-oleh apa?"


Chayra menarik nafas panjang. "Kamu sudah bertanya pada Mami, Mas?"


"Menanyakan apa?"


"Kamu sudah menanyakan, Mami mau oleh-oleh apa?"


"Eh," Ardian terdiam. Dia belum sempat menghubungi maminya sampai saat ini. Dia hanya mengirim pesan singkat kemarin. Hanya untuk mengabari Bu Renata kalau dirinya baik-baik saja.


"Jangan tanya aku mau oleh-oleh apa sebelum kamu bertanya pada Mami, Mas. Ingat, kamu itu anak laki-laki, Mami. Utamakan orang tua agar hidup dan rizki yang kita dapatkan berkah."


"M.. maaf, Sayang. Aku akan menghubungi Mami sekarang. Nanti aku hubungi kamu lagi. Jangan tidur dulu ya. Aku masih rindu berat nih."


"Iya ... suamiku. Aku tunggu panggilannya.


Ardian mematikan sambungan telepon dan langsung menghubungi maminya.


Ardian POV...


Aku terduduk lemah setelah mematikan sambungan telepon dengan Mami. Ya Allah ... aku bersyukur sekali, Mami banyak berubah sekarang. Mami bilang tidak menginginkan apa-apa. Dia hanya ingin aku pulang dengan selamat dan segera mengunjunginya bersama Chay dan Adzra ke rumahnya.


Akan tetapi,


Di sisi lain, aku malu dengan ucapan istriku tadi. Berulang kali aku jelaskan kalau istriku ini memang berbeda dari wanita kebanyakan. Yang aku tau, banyak wanita di luaran sana yang nggak suka sama mertuanya. Tapi, istriku ini justru selalu mengutamakan Mami. Aku yang punya kewajiban, kok malah lalai pada kewajiban sendiri. Maklum, aku ini mantan preman yang tak kenal kata menghormati. Tapi, itu hanya berlaku dulu, sebelum aku menikah dengan wanita yang berhasil memutar balikkan kehidupanku yang kelam kepada kehidupan yang lebih baik. Alhamdulillah ... semua ini patut aku syukuri.


Lama berperang dengan pikiranku sendiri, aku akhirnya menghubungi Chay kembali. Aku tidak mau membuat wanitaku itu terlalu lama menunggu. Aku harus berterimakasih padanya karena sudah mengingatkan aku untuk tidak lupa pada kewajiban ku.


Huh, tiga kali aku mencoba, tetapi Chay tidak menjawab. Sepertinya dia tidur karena aku terlalu lama. Ya sudahlah, masih ada waktu besok pagi. Mungkin saja istriku itu juga kecapekan. Aku kan tidak tau apa bagaimana kesibukannya selama aku tidak ada di rumah. Akhirnya, aku memilih untuk mengirimkan pesan singkat, sekedar mengucapkan selamat beristirahat.

__ADS_1


Author POV...


Ardian akhirnya merebahkan tubuhnya. Baru saja matanya akan terlelap, ia dikejutkan oleh ketukan di pintu kamar.


"Ar, buka pintunya, woi...!"


Ardian mendengus seraya bangkit. "Kamu ini ganggu aku terus deh, Dit." Ucapnya seraya membukakan pintu.


"Heh, lu ini ninggalin acara tanpa pamit."


"Eh, jangan ngomong sembarangan kamu, Dit. Aku sudah pamit dulu tadi sama yang lain. Kamu kan lagi ke toilet tadi. Udah ah, kamu jangan berisik. Aku mau istirahat. Kamu sudah shalat belum?"


"Aku tidak pernah melupakan kewajiban yang sudah ditetapkan Allah untukku, Ar. Ya ... walaupun sekarang aku belum shalat sih ..."


Ardian akhirnya hanya mendengus. "Kamu jangan coba-coba mengganggu waktu istirahatku. Aku mau tidur pulas malam ini. Dari kemarin aku tidak mendapatkan waktu istirahat yang layak karena tuntutan kerja yang keterlaluan."


"Ngeluh terus deh lu. Kerja keras kita sudah membuahkan hasil, Bro. Besok kita akan kembali ke tanah air. Gw sih anteng-anteng aja walaupun seminggu lagi diminta berdiam diri disini. Tapi, kalau lu kayaknya nggak akan kuat deh."


"Kamu akan merasakannya nanti kalau kamu sudah menikah. Sekarang sih, rindu kalian bisa terobati dengan saling bertukar pesan. Tapi, saat menikah nanti, rindu tidak akan bisa terobati kalau kita tidak bersentuhan."


"Hah...?!" Dodit melongo mendengar ucapan Ardian. "Buset ... kok, kalimat itu terdengar bagaimana gitu.."


Dodit mengernyit. "Dasar lu ..." berlalu ke kamar mandi karena tidak mau melanjutkan perdebatan.


********


Pagi itu...


Chayra mencoba bangkit dari tempat tidur. Kepalanya terasa berat membuatnya merebahkan tubuhnya kembali. Sebenarnya, dia tidak enak badan dari kemarin. Tetapi, untuk mengatakan hal itu pada suaminya, takutnya Ardian mengkhawatirkannya. Berulang kali mengingatkan dirinya sendiri, bahwa yang dilakukannya sudah benar.


Adzra menaiki ranjang tempat mamanya istirahat dengan susah payah. Anak itu memeluk leher ibunya lalu mencium pipinya berulang kali. Hal itu membuat Chayra tersenyum haru. Biasanya Adzra sering rewel kalau pagi. Tapi, pagi ini anak itu seperti paham keadaan mamanya.


Chayra membuka matanya saat pintu kamarnya terbuka. Bu Santi masuk bersama Bian.


"Kata Bi Idah kamu demam dari semalam, Nak." Bu Santi meraba dahi putrinya yang memang terasa demam.


"Aku baik-baik saja kok, Bu. Cuman kepalaku terasa berat."

__ADS_1


"Baru ditinggal tiga hari sama Kak Ardian, Kak Ayra udah uring-uringkan. Bagaimana kalau ditinggal satu bulan. Kayaknya, Kak Ayra akan dibawa ke Rumah Sakit karena tidak kuat menahan rindu."


"Astagfirullahal'adzim, Bi ..." Bu Santi melirik putranya.


"Hehehe ... Bian bercanda, Bu. Jangan marah, nanti bertambah cantik seperti kata Pak RT."


"Bian..." kali ini Bu Santi melotot sambil mengeratkan giginya.


"Kabur...!" Bian meraih tubuh Adzra lalu berlari keluar membawa bocah itu.


Bu Santi menggeleng-geleng pelan melihat tingkah putranya. Kembali menatap putrinya yang memejamkan matanya. "Kapan suami kamu pulang?"


"Hmm ... katanya hari ini, Bu. Tapi Ayra kurang tau. Soalnya semalam, kami tidak ngomong panjang lebar. Aku memintanya untuk menghubungi Mami terlebih dahulu. Saat dia menghubungiku lagi, aku sudah tidur."


Baru saja menyelesaikan ucapannya, handphonenya berbunyi nyaring. Bu Santi mengambil handphone Chayra untuk melihat siapaa yang menghubungi putrinya itu. "Suami kamu, Nak."


"Mm.. jangan bilang kalau aku sakit, Bu. Aku tidak mau Mas Ardian khawatir."


Bu Santi mengangguk mengiyakan ucapan putrinya. Bu Santi menjauh saat menjawab panggilan itu. Kembali mendekat saat susah selesai bicara dengan Ardian.


"Mas Ardian bilang apa, Bu?"


"Dia cuma bertanya kenapa aku yang menjawab panggilannya. Iya ... Ibu bilang aja kalau kamu sedang memandikan Adzra. Kebetulan Ibu baru datang dan melihat handphone ini berbunyi. Sekalian saja Ibu yang jawab."


Chayra tersenyum mendengar jawaban ibunya. Terimakasih, Bu."


"Niat kamu baik, Nak. Kamu bukannya suka berbohong. Tapi, seandainya kamu tidak berbohong, suami kamu akan menjadi khawatir dan bahkan tidak tenang. Sedangkan dia berada jauh dari kamu. Insya Allah, Allah tidak akan marah padamu karena kamu berbohong." Bu Santi mengusap-usap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang. Baginya, Chayra tetaplah putri kecilnya yang masih membutuhkan kasih sayang darinya.


Sementara itu...


Dodit dan Ardian memilih untuk berkeliling sebelum kembali pulang. Dodit sibuk membantu Ardian mencari oleh-oleh untuk keluarganya.


"Untung saja lu sudah tidak miskin lagi kayak kemarin-kemarin, Ar. Kalau lu masih kere, gw jamin, gw tidak akan mau menemani lu belanja seperti ini. Gw takut tekor, Bro."


"Brisik banget deh kamu, Dit. Aku kan sudah mengganti uang itu."


"Hehehe ..." Dodit hanya cengengesan.

__ADS_1


*******


__ADS_2