
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Bola mata Chayra terlihat bergerak. Bibirnya meringis menahan rasa sakit di sekujar tubuhnya. "Ya Allah, aku sakit ya Allah." Air mata mengalir dari sudut matanya yang masih terpejam.
Bu Ainun yang sedang menggenggam tangannya langsung mengangkat kepalanya mendengar gumaman Chayra. Mengusap air mata yang keluar, lebih mendekatkan wajahnya pada Chayra.
"Allahu Akbar, Ayra.. kamu sudah sadar, Nak?" Mengusap lembut dahi Chayra, menciumnya lembut beberapa kali.
"Ibu.. tolong Ayra.. Bu.." Tiba-tiba tangis Chayra pecah. Terdengar pilu menyayat hati. "Aku mohon jangan lakukan itu padaku. Maafkan aku.. maafkan aku.. huuu.. huuu.." tangan dan kakinya berontak kemana-mana.
Bu Ainun memejamkan matanya. "Maafkan kami, Nak.." Kembali mencium dahi Chayra.
"Jangan cium aku! Aku.. aku bukan wanita murahan yang bisa kamu sentuh semau kamu. Aku punya harga diri! Lepaskan aku.." Chayra semakin histeris. Kakinya berhasil menendang dada Bu Ainun.
"Ayra sayang, ini Ummi, Nak. Buka mata kamu, Nak. Ummi ada di sini, Sayang.." Bu Ainun tidak bisa lagi membendung air matanya. "Ini Ummi, Nak.." Bu Ainun berjalan mundur. Berlari keluar sambil menutup mulutnya, menahan isak tangis yang semakin menjadi-jadi. Mendekati kamar yang ditempati Zidane di rumah itu.
"Zidane, Zidane, apa kamu sudah selesai shalat, Nak? Adik kamu sudah sadar. Zidane, Ayra sudah sadar, Nak. Zidane, keluar, Nak. Adik kamu sudah sadar." Mengetuk-ngetuk pintu dengan keras.
Pintu kamar itu langsung terbuka dari dalam. Terlihat Zidane sedang sibuk menelpon. "Iya, Ghi. Nanti aku telepon lagi. Assalamualaikum.." Zidane memasukkan handphonenya ke dalam saku baju Koko yang dikenakannya. "Ayra sudah sadar, Ummi?"
"Iya, Nak.."
Zidane menutup pintu kamarnya asal dan bergegas menuju kamar Chayra.
Zidane tertegun saat mendapati Chayra yang sedang menggigit ujung-ujung jarinya. Satu tangannya memeluk lututnya. Matanya bengkak karena terlalu lama menangis. Bibir dan anggota tubuhnya yang lain terlihat bergetar seperti orang ketakutan.
"Dek, bagaimana keadaan kamu?" Zidane berjalan mendekat dengan penuh kehati-hatian.
Chayra hanya melirik ke arahnya tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
Zidane berbalik menatap Bu Ainun yang masih berdiri di depan pintu dengan air mata berlinang. "Ummi sudah menghubungi Ibu?" tanyanya pelan.
Bu Ainun menggeleng, "dia baru saja berangkat, Nak. Mungkin rapatnya baru saja dimulai."
Bu Santi ke Sekolahnya Bian untuk menghadiri rapat wali murid.
Bu Ainun perlahan mendekati ranjang Chayra.
"Ayra Sayang, ini Ummi, Nak. Istighfar, Nak. Ingat Allah."
Chayra terdiam, tetapi perlahan mengangkat kepalanya. Menatap Bu Ainun dengan tatapan kosong.
Melihat hal itu, Bu Ainun semakin mendekat sambil tersenyum. "Ini Ummi, Nak.."
"U.. Ummi.. Ayra.. t.. takut..." Mulut Chayra bergetar.
"Iya, Sayang. Maafkan kami, Nak. Ayra jangan takut sekarang ya.. Ummi ada di sini untuk Ayra." Memeluk Chayra sambil mencium pucuk kepalanya beberapa kali.
"A.. Ayra d.. dimana ini?"
"Ini di rumah, Sayang. Kamu sudah.." Bu Ainun tidak melanjutkan kalimatnya.
Chayra beralih menatap Zidane yang sedang duduk di depan meja belajarnya. "K.. Kak Zidane.."
__ADS_1
Zidane tersenyum hangat. "Iya, Dek, ini Kak Zidane. Ayra butuh apa?"
Chayra menggeleng pelan. Kembali merenung mencoba mengingat-ingat kejadian yang menimpanya. "Aku.. aku.. w.. wanita.."
Bu Ainun langsung mengeratkan pelukannya. "Jangan katakan apapun, Nak. Kamu baik-baik saja ya.."
"Tidak, Ummi. Pria itu.. pria itu.. huaaa.. huaa.." Chayra kembali histeris. Memberontak dalam pelukan Bu Ainun.
Zidane berjalan mendekat. "Kamu tidak diapa-apain pria itu, Dek. Jangan membuat prasangka sendiri." Zidane mencoba menguatkan. Namun, dia hanya berdiri di samping Chayra tanpa berani berbuat lebih. Bagaimanapun juga Chayra bukan adik kandungnya. "M.. minum Dek ya.."
Chayra menggeleng, "aku.. aku wanita kotor, Ummi."
"Siapa yang bilang begitu, Nak? Jangan berkata macam-macam. Kamu baik-baik saja, Sayang. Serahkan urusan ini pada pemilik kehidupan ini."
Chayra meringis, "Tubuhku sakit semua, Ummi. Ayra ingin mati saja biar semua sakit ini hilang."
"Astagfirullahal'adzim, Ayra kenapa ngomong gitu, Nak. Ingat Allah, Sayang. Kita tidak boleh meminta hal buruk, Nak."
Chayra hanya menelan ludahnya. Perbuatan Ardian benar-benar membekas dalam ingatannya. Air mata kembali mengalir.
"Kamu makan dulu ya, Nak."
"Ayra tidak lapar, Ummi. Tubuh Ayra sakit semua. Ayra hanya ingin tidur saat ini." Chayra kembali merenung. Namun, kali ini ia mengedarkan pandangannya.
"Ibu.. Ibu Ayra mana, Ummi? Apakah Ibu pergi meninggalkan Ayra karena Ayra seperti ini?"
"Astagfirullahal'adzim, tidak, Nak. Ibu kamu pergi ke sekolah Bian karena ada rapat penting yang harus dihadirinya."
"Abah kamu pergi menjemput kakek dan nenek kamu ke Bandara, Nak. Sekalian dia juga menjemput Dokter untuk memeriksa keadaan kamu."
Chayra kembali terdiam seraya menelan ludahnya. "Ayra mau mandi, Ummi."
Bu Ainun saling pandang dengan Zidane. Seolah-olah mereka sedang saling bertanya apa yang akan mereka lakukan.
"Mm.. nanti dulu ya, Nak. Tunggu Ibu kamu kembali dari sekolah adik kamu."
"Tapi Ayra mau mandi sekarang. Tubuh Ayra sangat tidak nyaman."
Zidane berjalan keluar untuk menghubungi Pak Ismail dan juga Bu Santi.
"........ iya, Abah. Tapi Ayra bersikeras mau mandi. Zidane dan Ummi sudah berusaha untuk mencegahnya."
"......... sepertinya dia ingat semua yang terjadi padanya. Iya, Abah iya, assalamualaikum.."
Zidane kembali masuk ke dalam kamar. "Ibu dalam perjalanan pulang, Ummi. Kalau Abah masih di Bandara. Pesawat kakek dan nenek baru saja mendarat. Dokter akan datang siang ini."
Baru saja Zidane menyelesaikan kalimatnya, terdengar ucapan salam dari pintu. Terlihat Bu Santi tergesa masuk ke dalam kamar putrinya.
"Ya Allah, alhamdulillah putriku baik-baik saja." Mencium sambil memeluk erat tubuh Chayra. Meninggalkan rapat yang baru saja dimulai karena mendengar putrinya sudah sadar
Chayra hanya tersenyum masam. "Ayra mau mandi, Bu. Tubuh Ayra kotor sekali," menggeliat pelan dalam pelukan ibunya.
__ADS_1
Bu Santi menatap Bu Ainun, "bagaimana ini, Mbak?"
"Ayra dari tadi terus memaksa, Dek."
Bu Santi terdiam sejenak. "Mm.. Ibu saja yang memandikan Ayra, bagaimana?"
Chayra menggeleng pelan. "Ayra bisa mandi sendiri, Bu. Ayra juga belum shalat. Sudah berapa waktu yang terlewat dan Ayra tidak bisa melaksanakan kewajiban Ayra."
Mata Bu Santi berkaca-kaca mendengar ucapan putrinya. "Mm.. maafkan Ibu, Nak. Ibu tidak bisa menjagamu dengan baik." Kembali menghambur memeluk Chayra.
Chayra hanya diam mematung, tidak membalas pelukan ibunya.
"Maafkan Ibu, Nak.." Menangkup pipi Chayra seraya mencium keningnya dengan lembut.
Chayra tersenyum hambar. "Ayra mau mandi, Bu. Bantu aku berdiri biar aku bisa ke kamar mandi."
Bu Santi menatap Zidane dan Bu Ainun secara bergantian.
Melihat gelengan kepala Zidane, Bu Santi menghela nafas berat. Dia harus kembali mencari alasan agar putrinya itu mengurungkan niatnya. "Mm.. kamu belum boleh mandi, Sayang."
Chayra hanya menatap ibunya seperti orang bingung. Terlihat jelas kalau pikirannya sedang melayang entah kemana.
"Ayra istirahat saja dulu ya, Nak. Nanti kalau kondisi kamu sudah lebih baik, kamu boleh mandi sepuas kamu." Bu Ainun berjalan mendekat berusaha meyakinkan.
"Tapi..."
"Sssttt... Ayra bobok dulu ya, Nak." Bu Santi membaringkan tubuh putrinya dengan hati-hati. "Ibu mau ke dapur membuatkan kamu teh hangat."
Chayra hanya menganggukkan kepalanya lemah.
Bu Santi setengah berlari keluar dari kamar itu. Menutup mulutnya untuk menahan tangis yang siap meledak. Tangisnya langsung pecah begitu sampai dapur. Hatinya benar-benar hancur melihat putrinya seperti orang yang kehilangan tujuan hidup.
Tidak mungkin membiarkan Chayra mandi, karena takut melihat reaksi putrinya melihat tanda merah yang memenuhi sekujur tubuhnya. Tanda merah itu menyebar terutama di bagian dada dan leher Chayra. Dia takut putrinya semakin terpuruk melihat semua hasil perbuatan laki-laki bejat yang telah merenggut kehormatannya itu.
"Ibu...." Zidane menghentikan langkahnya saat melihat Bu Santi menelungkupkan wajahnya di atas meja makan. Tubuhnya terlihat bergetar karena menangis. "Mas Ari maafkan aku. Aku tidak bisa menjaga putri kita dengan baik. Maafkan aku, Mas."
Zidane menghela nafas berat. Perlahan mendekat dan mengusap punggung Bu Santi. "Ibu.. jangan seperti ini. Kita harus kuat demi Ayra, Bu."
Bu Santi mengangkat wajahnya dan menatap Zidane dengan air mata berlinang. "Ibu tidak kuat, Nak, melihat adik kamu seperti itu. Adik kamu... adik kamu... hiks.. hiks..."
"Sudah.. sudah, Bu. Ayra insya Allah kuat menghadapi ini semua. Ini semua sudah menjadi ketetapan Allah untuk Ayra. Ummi sendiri kan yang selalu bilang pada kami. Allah tidak akan menguji hambanya melebihi batas kemampuannya untuk menghadapi cobaan itu."
"Tapi... tapi.."
"Sudah, Bu. Sekarang kita kembali pada Ayra. Dia menanyakan keberadaan Ibu dari tadi. Ibu bilang cuma mau buat teh hangat. Kok Ibu malah hilang hampir setengah jam."
Bu Santi bangkit sambil mengusap air matanya. "Kamu duluan saja, Nak. Ibu mau buatkan teh hangat dulu untuk Ayra."
"Tapi Ibu harus segera kembali ya. Ada hal serius yang harus kita bicarakan setelah ini."
Bu Santi hanya menjawab Zidane dengan anggukan kepala. Mendekati wastafel untuk mencuci wajahnya.
__ADS_1
*********