Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Anak itu anugerah bukan musibah


__ADS_3

"Maaf karena aku su'udzon sama kamu tadi." Zidane minta maaf pada Ardian saat mereka sedang makan di Kafe. Ardian sedang menyuapi Adzra. Anak itu baru bangun dan langsung merengek-rengek minta makan dengan bahasa yang masih harus dicerna terlebih dahulu baru bisa dipahami.


"Maaf untuk apa, Kak?" Ardian hanya melirik Zidane lalu kembali fokus pada Adzra.


"Aku marah sama kamu pas kamu datang tadi. Aku tidak tau kalau kamu baru kembali dari luar negeri. Aku juga tidak tau kalau Ayra tidak mengabari kamu kalau dia sakit."


Ardian menarik nafas panjang. "Aku tidak mempermasalahkan hal itu, Kak. Aku malahan yang harus berterimakasih sama Kak Zidane, karena Kak Zidane selalu menjadi kakak yang siaga. Maafkan aku karena masih saja merepotkan kalian." Ardian masih sibuk menyuapi Adzra. Walaupun bicara dengan Zidane, tetapi matanya tetap mengawasi putranya. "Chay memang tidak pernah mau jujur kalau aku sedang jauh darinya. Maksud aku, dia tidak pernah jujur dalam hal keadaannya. Adzra sakit pun, terkadang dia menyembunyikannya. Bodohnya aku, aku tidak pernah curiga walaupun mendengar suaranya sedikit berbeda."


Zidane menarik nafas dalam. "Aku sudah pernah bilang sama kamu, walaupun aku dan Ayra bukan saudara kandung, tapi aku menyayanginya lebih dari adik kandungku. Mulai sekarang, kalau kamu akan berpergian jauh, jangan hubungi dia lewat panggilan suara. Hubungi dia lewat panggilan video agar dia tidak bisa berbohong."


"Maafkan aku, Kak."


Zidane tersenyum, "Kamu hebat, Ardian..." matanya menatap Ardian dengan tatapan kagum. "Jika aku di posisi kamu, sepertinya aku tidak akan bisa bersikap seperti kamu. Mengurus anak seperti kamu ini pun, sepertinya aku tidak akan bisa." Tangannya menunjuk ke arah Adzra yang duduk anteng di pangkuan Ardian. "Kamu terlihat telaten mengurus anak."


"Aku bisa karena biasa, Kak. Setiap pulang kerja, Chay selalu memintaku untuk memandikan Adzra, memakaikan baju dan perabotannya. Setelah itu aku akan langsung menyuapinya makan. Kalau kami tidak kerjasama, Adzra tidak akan bisa tumbuh dengan baik."


"Hal itu yang tidak aku kuasai." Zidane membuang nafas kasar. "Adzra biar aku yang jaga sementara kamu makan. Kasihan kamu, makananmu sudah dingin karena terlalu lama dianggurin."


"Menurutku makanan dingin itu lebih bisa dinikmati. Kalau masih panas, aku kurang bisa menikmati karena akan bercampur dengan rasa panas yang mengelupas di lidah."


"Heh, ada-ada saja kamu ini." Zidane mengambil alih Adzra dari pangkuan Ardian. "Adzra sama Om dulu ya ... papanya belum makan."


Adzra berontak saat Zidane mengangkat tubuhnya. "Papa ... papa ..."


Ardian segera berdiri untuk menenangkan putranya. "Iya, Sayang ... Adzra sama Om Zidane dulu ya. Papa mau maem. Adzra udah maem kan tadi. Sekarang giliran Papa." Ardian berucap dengan hati-hati.


Lama Adzra terdiam sebelum akhirnya mengangguk. Hal itu membuat Ardian tersenyum. "Tos dulu sama Papa, Sayang." Adzra langsung mengacungkan tangannya lalu melakukan tos dengan Ardian.

__ADS_1


"Wah ... ternyata keponakan Om sudah pintar." Zidane membawa Adzra berlalu menjauhi Ardian.


*******


"Mas, perut aku mual lagi." Chayra mulai bergerak tidak nyaman saat makanan yang baru saja masuk ke mulutnya terasa ingin keluar lagi.


"Kamu muntah disini saja, Sayang." Dengan sigap Ardian mengambilkan plastik kecil berwarna hitam yang sengaja dibelinya, agar istrinya tidak capek bolak balik ke kamar mandi.


"Minum obat saja ya ... kan kamu sudah sarapan tadi." Ardian meletakkan piring nasi istrinya di atas meja.


"Aku takut terlalu sering minum obat, Mas." Chayra mengembungkan mulutnya karena perutnya kembali terasa seperti diaduk.


"Sementara waktu, Sayang. Obat ini juga kan dari resep Dokter. Dokternya Dokter spesialis kandungan lagi."


Chayra terdiam. Mulutnya masih kembung karena menahan mual. Ardian tidak menunggu anggukan kepala istrinya. Ia mengambilkan obat dan segera memberikannya pada Chayra.


Sekitar sepuluh menit setelah minum obat, Chayra sudah tidak merasakan mual lagi. "Terimakasih sudah mau mengurusku, Mas."


Chayra hanya tersenyum sambil menggeleng-geleng pelan mendengar ucapan suaminya.


Lama mereka terdiam dalam pikiran masing-masing. Hanya tangan Chayra yang tidak berhenti turun naik karena terus dicium oleh suaminya. Setelah lama diam, Ardian batu teringat dengan sesuatu yang ingin di tanyakan sejak kemarin. "Mm ... Chay, aku ingin bertanya dari kemarin, tapi aku lupa terus."


"Mau menanyakan apa, Mas?"


"Kenapa Pak Ghibran bisa ada di Rumah Sakit ini kemarin?"


"Aku nggak tau, Mas. Kayaknya dia datang bersama Kak Zidane. Tapi dia nggak pernah macam-macam kok, Mas."

__ADS_1


"Ya ... Alhamdulillah kalau begitu. Aku cuma terkejut saja, kenapa dia bisa ada disini. Apalagi dia terus-terusan sok perhatian pada Kak Zidane."


"Mereka memang seperti itu dari dulu, Mas. Tapi ... syukurlah kamu cepat datang. Jadinya dia cepat pergi. Aku juga kurang nyaman saat melihat dia kemarin, Mas. Bagaimanapun juga kami pernah ada hubungan. Aku takut dia seperti Kak Zidane yang menganggap kamu tidak bertanggung jawab."


"Apa kamu tidak pernah mencoba untuk menjelaskan pada Kak Zidane masalah keperluanku ke luar negeri?"


"Aku pernah mencoba, Mas. Tapi Kak Zidane terlalu keras kepala. Pas aku dan Ibu mau mulai bicara, dia langsung menyimpulkan sendiri. Mengatakan kami melindungi kamu lah, suami tak bertanggung jawab lah, macam lagi yang dikatakannya. Ibu akhirnya membiarkan dia mengatakan apapun yang dia ingin katakan."


Tepat ketika ucapan Chayra selesai, Zidane masuk bersama istrinya, diikuti Bu Santi yang menggendong Adzra dan juga Bian.


"Mama.. mama.. papa.." Adzra langsung mengeluarkan jurus andalan begitu melihat kedua orang tuanya.


"Keren lho, Ayra." Alesha mendekati teman sekaligus adik iparnya itu. Tangannya menjembel pipi Chayra. "Kak Ardian benar-benar tancap gas. Adzra berhenti mimik, langsung disambung dengan adiknya nanti. Kenapa nggak sekalian lho carikan obat biar papanya juga bisa berhenti."


"Sha ... omongan kamu, Dek ..."


Alesha tersenyum meringis saat melihat tatapan tajam pak suami. Chayra langsung cekikikan melihat ekspresi Alesha. "Lihat kondisi dulu makanya kalau mau meledek. Sudah tau punya suami taat, eh malah kamu tidak bisa menyesuaikan tempat dan kondisi."


"Ehehehe.. keceplosan. Mm ... ngomong-ngomong kenapa kamu tidak pernah cerita masalah kehamilan kamu, Ayra?"


"Kami juga baru kemarin tau. Aku sih belum ada rencana kesitu sebenarnya. Aku bahkan masih rutin minum pil kontrasepsi. Tapi siapa sih, yang bisa menolak rizki dari Allah. Ya ... Alhamdulillah, ternyata Allah memberikan kepercayaan lagi kepada kami."


"Aku hanya kasihan sama Adzra."


"Kasihan kenapa?"


"Dia masih terlalu kecil untuk punya adik. Satu anak aja kamu kewalahan. Bagaimana kalau dua anak, Ayra. Kamu pasti kewalahan."

__ADS_1


"Astagfirullahal'adzim, Sha ...'' Chara mendengus mndengar ucapan Alesha. Anak itu anugerah bukan musibah. Kamu ini ada-ada aja deh." Alesha hanya cekikikan mendengar ucapan Chayra.


**********


__ADS_2