
Amira menepikan mobilnya ketika suara deringan handphone Tina terus-terusan mengganggu indra pendengarannya.
"Angkat apa, tu handphone berisik amat dari tadi." Amira menepis lengan Tina yang terlihat santai saja mendengar bunyi handphone yang sangat berisik.
"Males gue, ini nomor baru." Hanya melirik layar handphone tanpa berniat untuk menekan ikon berwarna hijau yang terus bergerak.
"Iya masalahnya apa kalau nomor baru. Siapa tau ada hal penting yang ingin dibicarakan si penelpon. Coba sini, gue mau lihat nomornya." Amira langsung mengambil handphone dari tangan Tina.
"Eh, eh, kok main tarik aja.." Tina berusaha merebut kembali handphonenya.
"Ntar dulu, gue cuma mau lihat." Amira memindahkan handphone itu agar tidak bisa direbut Tina. "Eh, ini kan nomornya Kak Ardian. Tunggu, tunggu. Ngapain dia menelpon ke lho?" Menatap Tina dengan tatapan mengintimidasi.
"Mana gue tau. Itu kan pacar lho. Gue nggak ada urusan sama sekali dengan dia." Timpal Tina dengan kesal. Langsung menatap keluar jendela.
Amira terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab panggilan itu.
"Halo, Tina. Please, kasih handphone lho ke Amira sebentar. Gue mau ngomong sama dia. Ada hal yang harus gue bicarakan dengan dia."
"Ini dengan Mira, Kak."
"Eh, sorry, Sayang. Gue nggak tau kalau ini lho. Lho udah nemuin handphone lho?"
Amira terdiam.
"Halo, Sayang. Apa lho masih disana?"
"Iya, Kak. Kak Ardian tau darimana kalau handphone Mira hilang?"
Giliran Ardian yang terdiam.
"Kenapa Kak Ardian diam? Jawab Mira, Kak."
"Kan kamu yang bilang kemarin."
"Oh, gitu."
"Jangan bahas handphone sekarang. Gue sedang di depan rumah lho ini. Lho dimana, kenapa belum pulang sampai sekarang?"
"Kenapa Kak Ardian ke rumah?"
"Ya ampun, Sayang. Gue mau balikin laptop lho. Punya gue sudah selesai diperbaiki."
"Kakak titip saja sama Bibi di rumah. Gue masih di jalan."
"Tapi gue ingin bertemu lho."
"Untuk apa?"
"Gue kangen sama lho. Gue ini kekasih lho, gue mencintai lho. Jadi, jangan bertanya untuk apa gue ingin bertemu lho. Gue akan tunggu lho disini sampai lho pulang."
Tut..Tut.. Tut..
Ardian memutus sambungan telepon secara sepihak.
Amira mendengus. "Iya, Kak. Mira akan pulang sekarang " Memutar bola matanya kesal.
"Eh, kok lho bilang mau pulang? Kita kan sudah janji sama Ibu, kalau kita akan mencari tau tentang Ayra."
__ADS_1
"Pusing gue kalau kayak gini." Berbalik menatap Alesha yang duduk di bangku penumpang. "Lesha, bagaimana ini?"
"Bisa nggak lho berhenti berhubungan dengan pria itu, Mira?! Gue capek melihat lho dengannya. Lho denger nggak kata-kata Abah tadi. Dia pernah mengancam Ayra sebelum ini. Seberapa cinta sih, lho pada pria seperti dia?"
Amira dan Tina langsung terdiam menundukkan kepala. Mereka hanya saling lirik dalam diam.
Sirat kemarahan terlihat jelas di mata Alesha. "Dari tadi kalian berdua berdebat terus. Kalian pernah nggak memikirkan bagaimana keadaan Ayra sekarang? Apa dia masih baik-baik saja atau apa."
"Kami juga memikirkan itu, Lesha."
"Lalu kenapa kalian memperdebatkan hal yang tidak penting sejak tadi?!" Alesha meninggikan suaranya sampai Amira dan Tina terperanjat.
"Kalian lihat tidak, bagaimana kesedihan Ibu tadi? Kalian dengar tidak apa yang diucapkan Ibu tadi?"
Tidak ada respon. Amira dan Tina hanya diam menunduk. Siap mendengarkan apapun yang akan dikatakan Alesha.
"Seberapa cinta sih, lho sama pria itu, Mira? Lho sadar nggak, kalau lho sedang dimanfaatkan. Pria itu hanya menginginkan kepuasan dari lho, Amira."
"Dia tidak seperti itu, Lesha. Kak Ardian memang mencintai gue."
Alesha langsung tersenyum kecut. "Lho berani jamin dengan apa kalau memang dia tidak sedang memanfaatkan lho?"
Amira kembali terdiam.
"Bekal apa yang akan lho persiapkan kalau pria itu hanya mempermainkan perasaan lho?"
Amira mengangkat wajahnya. Berbalik menatap Alesha. "Kita akan buktikan sekarang."
"Oke, oke, oke... Kamu akan menyesal telah mencintai pria seperti itu."
"Jangan menghakimi Kak Ardian sebelum lho tau bagaimana dia selama ini memperlakukan gue. Dia itu tidak seperti yang kalian bayangkan."
Lama mereka terdiam karena belum ada yang mau mengalah. Sampai akhirnya, Tina menarik nafas berat dan memandang kedua temannya yang sedang bersitegang secara bergantian. "Sampai kapan kita akan diam di sini? Kita tidak akan menemukan Ayra kalau kita hanya diam di tempat ini."
Amira hanya mengangkat bahu. Terlihat jelas kalau dia sedang malas bicara.
"Antar kami pulang. Gue mau ambil mobil. Kita tidak akan bisa berbuat banyak kalau menggunakan satu mobil."
Amira terdengar mendengus. Walaupun pada akhirnya dia menghidupkan kembali mobilnya.
Amira menghampiri Ardian yang duduk di Post Satpam setelah ia sampai di rumahnya. "Kenapa Kakak disini?"
Ardian tidak menghiraukan pertanyaan Amira. Dia malah sibuk menatap sekitar.
"Ngelihatin apa sih?"
"Lho sendirian? Alesha dan Tina mana?"
"Ngapain cari mereka?" Amira langsung menunjukkan ekspresi kesal.
Ardian terdiam. "Gue.. gue kan cuma bertanya aja. Biasanya kan mereka selalu mampir kesini kalau pulang kuliah."
Amira mendengus. "Nggak ada. Gue habis berdebat sama si Alesha tadi. Lihat nih muka gue kusut dibuatnya." Menunjuk pipinya dengan kesal.
Ardian tersenyum gemas seraya menangkup pipi kekasihnya itu. "Kamu kok terlihat makin cantik sih, kalau lagi kesel kayak gini.."
Amira tersenyum salah tingkah. Memegang tangan Ardian yang masih melekat di pipinya. "Kak Ardian bisa aja. Udah ah," menurunkan paksa tangan itu. "Jangan diteruskan, nanti kita berdosa."
__ADS_1
"Huh," Ardian langsung melengos.
Tina yang mengintip dari balik gerbang mengernyitkan bibirnya. "Huh, dasar manusia. Katanya udah tobat dan tidak mau main pegang-pegangan lagi. Eh, saat berduaan malah asyik-asyikan."
"Sudah, Tina. Lho masuk ke dalam mobil. Kita tunggu di tempat yang aman."
Tina berbalik dan bergegas masuk ke dalam mobil. Alesha langsung memindahkan mobil agar tidak dicurigai Ardian.
* * *
Chayra meringis menahan rasa perih di lambungnya. Belum ada makanan atau minuman yang masuk ke perutnya sejak dia sadar pagi tadi. Dia menatap keluar. Walaupun semua jendela kamar itu gordennya tertutup. Namun, Chayra bisa menebak kalau sebentar lagi akan masuk waktu Maghrib.
"Ya Allah, sampai kapan hamba akan terjebak di tempat ini." Lirihnya pelan sambil meringis. Rasa perih ini semakin menyiksa dirinya. Belum lagi posisinya yang tidak pernah berubah membuatnya semakin tersiksa. Matanya bengkak karena terlalu lama menangis.
Pintu kamar yang terbuka dengan keras memaksanya untuk menoleh ke arah pintu. "T.. tolong, keluarkan aku dari sini." Ucapnya lirih setelah melihat Ardian muncul di depan pintu.
"Lho mau keluar?" Ardian mendekat sambil tersenyum sinis pada Chayra.
Chayra mengangguk lemah. "A.. aku belum shalat, a.. aku juga sangat lapar."
Ardian hanya melirik tanpa menghiraukan ucapan Chayra. Dia malah sibuk menghubungi seseorang.
"Halo, bagaimana? Lho berhasil mengalihkan perhatian mereka?"
"Mereka sudah ada di depan rumah, Bos.
"Apa?! Sialan! kenapa kalian biarkan mereka sampai di sini? Apa Amira juga ikut?"
"Iya, Bos. Amira juga ikut. Tapi, dia tidak satu mobil dengan temannya yang lain. Sepertinya mereka sudah tau, Bos."
"Sekarang kalian urus mereka. Gue tidak mau tau, kalian harus membuat mereka pergi dari rumah ini. Gue nggak mau rencana gue gagal."
"Baik, Bos"
Ardian langsung mematikan sambungan telepon. "Sialan!" umpatnya kesal.
Chayra menelan ludahnya saat melihat Ardian kembali mendekatinya. "Lepaskan aku," ucapnya.
"Gue ingin melihat lho mati dulu. Baru gue akan melepaskan lho."
Chayra menarik nafas berat. Dia benar-benar sudah putus asa. Menyerahkan dirinya sepenuhnya pada takdir yang sudah digariskan Allah untuknya.
"Berikan aku minuman, aku haus sekali."
Ardian berdecak kesal. "Lho lama-lama banyak maunya ya.." Meraih botol minum yang tersimpan di nakas. Mendekatkan sedotan yang sudah tersimpan ke bibir Chayra.
"Bismillah.." Chayra meneguk air itu dengan penuh rasa syukur.
"Yaelah ni orang sedang kehausan juga, sempat-sempatnya baca basmalah segala. Langsung teguk aja biar dahaganya cepat hilang." Ucap Ardian ketus.
Chayra hanya diam. Mau menjelaskan pun, tidak akan ada gunanya pada manusia seperti Ardian.
Ardian berdiri mendekati jendela kamarnya. Menatap ke bawah, ke arah tiga orang gadis dan dua pria yang terlihat sedang berdebat di depan gerbang. "Gue harus bertindak cepat. Gue nggak mau perjuangan gue ini sia-sia. Tinggal satu langkah lagi." Berbalik menatap Chayra yang sudah memejamkan mata.
Menautkan alisnya heran. Gadis itu tidak banyak melawan. Bahkan terkesan lebih banyak diam. Tidak pernah melakukan perlawanan yang berarti saat dia menyakitinya.
Tiba-tiba, muncul rasa bersalah pada dirinya yang telah menyekap gadis itu. Padahal, Chayra hanya ingin melindungi sahabatnya dari dirinya. Namun, kenapa dia sampai nekat menjebak dan menculik gadis itu.
__ADS_1
Ardian buru-buru menepis pikirannya itu. Dia sudah bertindak sejauh ini. Tidak mungkin dia akan mundur dan membebaskan Chayra begitu saja tanpa memberikan pelajaran kepada gadis itu.
* * *