Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Percakapan antara dua pria


__ADS_3

Sejak mengajak Chayra jalan-jalan malam itu. Ardian sering senyum-senyum sendiri. Matanya sibuk menatap foto Chayra yang berhasil dia curi kemarin.


"Kenapa gue baru sadar kalau lho benar-benar cantik. Lho adalah bentuk kesempurnaan yang dikirim Tuhan untuk gue." Ucapnya bicara sendiri. Tidak sadar, kalau ada orang di belakangnya yang sedang menahan tawa.


"Hei, Bro!" Kate tiba-tiba menepuk pundaknya dari belakang.


"Apaan sih, ngagetin orang aja lho." Ardian yang terkejut menimpali malas.


"Hei, kenapa lho ngilang terus. Sudah hampir satu bulan lho nggak pernah hadir. Apa lho benar-benar tobat?"


"Ngapain tanyain gue tobat atau nggak. Mau bantu gue jadi lebih baik lho."


"Ngapain repot-repot bantu lho. Gue aja mau tobat nggak ada yang bantu. La.. lho punya istri shalihah kayak gitu. Tinggal bilang bimbing gue aja sama dia. Gue yakin dia pasti mau."


Ardian tersenyum. "Mumpung gue sudah berniat menjadi lebih baik. Lho jangan coba-coba untuk mempengaruhi gue lagi. Istri gue udah baik banget mau membantu gue berubah. Iya.. walaupun cintanya untuk orang lain."


"Maksud lho..?"


"Dia ingin melihat gue berubah demi Amira. Lho tau kan, kalau mereka berdua itu sahabat. Gue kira pas dia meminta gue untuk menikahinya kemarin, persahabatan mereka terputus. Soalnya Amira marah banget waktu itu. Dia bahkan sampai mengeluarkan kata-kata kasar untuknya. Eh, baru kemarin gue tau kalau mereka sudah baikan. Dia juga bilang sama Amira kalau dia akan berusaha untuk membuat gue menjadi pribadi yang lebih baik."


"Terus...?"


"Masalahnya sekarang, gue.. ck.. gue.. sepertinya jatuh cinta sama dia." Ardian memejamkan matanya menahan kesal.


"Ha...? Hahahaha.. kasihan sekali lho, Bro."


"Lho ini jahat banget sama gue. Bukannya bersimpati malah ketawa lagi." Ardian menepis punggung Kate dengan kasar.


"Mm.. terus bagaimana respon dia?"


"Respon apa maksud lho?"


"Respon dia saat kamu terlihat bucin sama dia."


Ardian menarik nafas dalam. "Chayra Azzahra itu wanita yang sangat sederhana. Memiliki misi hidup simpel. Tidak suka berbohong dan selalu ngomong apa adanya." Ardian mendongak, pikirannya melayang memikirkan Chayra.


"Waaaahhh.... ada yang lagu jatuh cinta berat nih sama istrinya."


Plak..!


Ardian langsung menempeleng kepala Kate. "Jangan teriak.. nanti ada yang dengar."


"Memangnya kenapa kalau ada yang dengar? Toh, lho jatuh cinta sama istri sendiri, bukan istri orang."


"Iya.. tapi masalahnya..." Ardian menghentikan ucapannya.


"Masalahnya dia tidak cinta sama lho?" Ucap Kate menebak. "Hahahaha.." Kate tertawa renyah.


"Apaan sih lho?!" Ardian berkata sinis.


"Tebakan gue bener kan..?"


"Nggak tuh.."


"Hahahaha.. curhat aja, Bro. Jangan suka memendam masalah sendiri. Nanti lho nggak jadi tobat karena tidak bisa mengatasi masalah sendiri."

__ADS_1


Ardian hanya menunduk tidak berniat menimpali ucapan temannya itu.


"Gue serius, Ar. Lho cerita aja. Lho tau gue kan. Siapa tau ada yang bisa gue bantu nanti."


Ardian menatap Kate. "Tapi lho harus janji, kalau lho akan memberikan solusi yang tepat. Bukan solusi yang sesat."


"Iya, iya.. astaga.."


"Dia.." Ardian kembali menatap Kate. Tampak jelas kalau dia masih ragu untuk bercerita pada temannya itu.


"Dia kenapa?"


Ardian membuang nafas kasar. "Dia masih mencintai mantan kekasihnya itu."


Kate menautkan alisnya. "Memangnya sehebat apa mantannya sehingga bisa menyaingi lho?"


Ardian tersenyum hambar. "Lho tau Dosen baru yang bertubuh tinggi bermata sipit itu?"


"Yang mana maksud lho?"


"Dosen yang mengajar Ekonomi Syariah itu. Yang kemarin kenalan di tengah lapangan."


Kate berfikir. "Iya.. gue ingat. Apakah dia itu saudara mantannya istri lho?"


"Bukan saudaranya, tapi dia orangnya.."


"What..?!!" Kate membelalakkan matanya. "Gila..."


"Kenapa, kaget?"


"Shhhiiitt.. setan lho. Katanya mau bantu, eh, malah semakin membuat gue lemah."


"Kalau mau tobat itu, hilangkan kebiasaan buruk lho. Mau tobat, kok masih suka berkata kasar." Menoyor kepala Ardian.


"Diam lho!"


Kate mengangkat sebelah bibirnya kesal. "Terus mau lho apa sekarang?!"


"Kasih gue jalan keluar. Jalan keluar yang bisa mengikat bini gue, agar suatu saat nanti dia tidak bisa berpaling dari gue."


"Hebat sekali keinginan lho. Dicintai saja tidak. Seharusnya lho memahami dirinya dulu. Buat pendekatan secara perlahan. Beri dia perhatian yang lebih. Wanita itu sensitif walaupun itu dengan hal-hal yang kita anggap sepele."


"Gue sudah melakukan itu semua. Lho kira gue nganggur di rumah tidak melakukan itu?"


"Semua butuh proses, Bro."


"Iya, gue tau. Tapi kalau prosesnya kelamaan, gue takut keburu tobat dan Amira sudah kembali."


"Kalau Amira kembali, terus lho mau apa?"


"Gue udah nggak perduli lagi sama dia. Toh, dia yang ninggalin gue duluan."


"La.. kan lho yang ninggalin dia kawin dengan temannya."


"Gue pernah ajak dia kabur waktu itu, tapi dia menolak. Sudah ah, jangan bahas Amira lagi. Males gue mengingat dia."

__ADS_1


"Sekarang lho bilang malas. Dulu, tidak ada malam yang indah tanpa seorang Amira. Ingat dong jasa dia pada lho. Dia satu-satunya wanita yang berhasil membuat lho nyaman."


"Itu hanya masa lalu. Sekarang, kita harus fokus pada masa depan. Gue kan sudah mau tobat nih. Kalau si Amira kan, sebelas dua belas lah sama gue kalau masalah agama."


Kate hanya menyebikkan bibirnya.


"Yang gue mau sekarang, wanita yang mampu membawa gue menuju Surga. Gini-gini gue juga mau dong masuk Surga."


"Kalau lho mati sekarang. Bukannya mencium bau Surga. Malaikat bahkan langsung menyeret lho ke dalam neraka."


Giliran Ardian yang menyebikkan bibirnya. "Pembahasan kita nggak nyambung. Kita kembali ke inti pembahasan."


Kate menarik nafas dalam. "Lho beneran jatuh cinta pada bini lho?"


"Iya.. masa sih, gue bohong. Nih, lho lihat," Ardian menunjukkan koleksi foto Chayra pada Kate.


Kate menganga tak percaya. "Gila.. istri lho ternyata cantik pisan..."


"Astaga.. firullah.."


Plak..!


"Lho kenapa ucap istighfar kayak gitu? Kalimat yang benar itu disambung. Kayak gini, astagfirullah.."


"Hehehe... masih belajar. Lidah gue masih kaku." Menarik handphonenya dan memasukkannya kembali ke dalam saku.


"Kenapa lho ambil? Gue kan belum puas melihatnya?"


"Enak aja lho mau menikmati kecantikan bini gue. Gue aja yang lakinya belum melihatnya tanpa cadar sekarang."


"Terus itu kapan lho mengambil gambarnya?"


"Foto ini gue curi dari handphonenya kemarin. Niat banget gue ingin menatapnya terus."


Kate menarik nafas panjang. "Gue dukung lho untuk memperjuangkan dia. Tambah lagi nilai perhatian lho pada dia, agar dia bisa mencintai lho."


Ardian menatap Kate. "Apa lho benar-benar tidak ada solusi untuk gue?"


"Hmmm... sebenarnya sih ada. Tapi, gue nggak yakin lho bisa melakukan itu."


"Katakan saja. Gue akan mencoba asalkan itu tidak membuatnya marah dan semakin membenci gue."


"Lho buat dia hamil. Taburkan benih lho dalam rahimnya. Kalau dia hamil, kalian akan terikat karena kehadiran seorang anak."


Ardian tertegun seraya menatap Kate dalam. "Gue.. gue bahkan belum menyentuhnya selama kami menikah," tersenyum hambar.


"Tapi lho pernah melakukan itu dengannya, kan?"


Ardian kembali tersenyum hambar. "Apakah lho pikir, wanita sebaik dia akan mau melakukan itu? Iya, gue memang pernah melakukan itu. Tapi, itu semua terjadi bukan atas dasar suka sama suka. Lebih tepatnya, gue melakukan pemerkosaan padanya. Gue menculiknya dan menyekapnya di dalam kamar gue. Gue melakukan itu karena waktu itu gue sangat membenci dia. Bahkan, darah gue seperti mendidih di ubun-ubun setiap melihatnya. Waktu itu, gue memaksakan kehendak gue, untuk melampiaskan semua yang bisa gue lampiaskan."


Kate tersenyum sinis. "Lho mendapatkan karma atas apa yang lho lakukan dulu padanya. Gue cuma bisa memberi lho dukungan. Mudah-mudahan solusi yang gue tawarkan tadi bisa lho lakukan. Caranya lho bisa pikirkan sendiri." Kate bangkit karena melihat Chayra dan dua temannya mendekat ke arah mereka.


"Gue cabut, Bro. Bidadari lho datang. Semoga rencana tadi sukses." Kate meninggalkan Ardian dengan setengah berlari.


********

__ADS_1


__ADS_2