Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Pesan dari Amira


__ADS_3

Tina melototkan matanya mendengar Chayra mengatakan perutnya terasa kram. "Jangan bilang kalau lho mau melahirkan, Ayra."


Chayra melengos. "Cara berpikir kamu terlalu spontan, Tina. Kandungan aku baru mau tujuh bulan. Perut aku memang terasa kram kalau sedang merasa tertekan."


"Kamu makanya jangan terlalu memikirkan masalah ini. Kalau perut kamu bereaksi, itu berarti anak kamu merasa ikut tertekan karena masalah ini." Tina mengusap-usap perut Chayra dengan prihatin.


"Eh, malah salah sambung lagi kamu. Maksud aku tertekannya bukan karena pikiran, tapi kamu memeluk aku terlalu kuat tadi. Perut aku sedikit terjepit, itulah mengapa dia merasa tertekan."


Tina melongo mendengar jawaban Chayra. "Memang bisa ya kayak gitu?"


Alesha menggeleng-geleng pelan mendengar ucapan Tina. "Sudah ah, sekarang kita menyusun rencana untuk menyelesaikan masalah ini. Sakit hati gue lama-lama sama si Amira. Dia itu sudah kelewatan."


Setelah mendapatkan kesepakan, Chayra akhirnya bisa bernafas lega. Dia hanya bisa berdo'a semoga kedepannya rencana mereka bisa berjalan lancar.


"Eh, tapi kayaknya Amira akan segera kembali ke Turki."


"Loh, kenapa baru bilang, Tina.." Alesha yang terkejut langsung menepis paha Tina.


"Ehehehe... lupa gue dari tadi. Dia tadi malam nelpon gue. Mau bertemu katanya karena tiga hari lagi dia akan kembali ke Turki. Suaminya udah ngebet pingin pulang dari sekarang karena melihat tingkah Amira yang aneh selama di sini."


"Ah, kok lho baru bilang sih.." Alesha membuang nafas kasar. Percuma menyusun rencana rapi kalau pada akhirnya dibatalkan. Alesha menggigit ujung jarinya. Alisnya terlihat mengkerut karena kesal.


"Bagaimana kalau kita pindahkan ke besok saja pertemuannya." Chayra mencoba memberi solusi.


"Tapi kan lho ada jadwal periksa kandungan, Ayra. Kalau lho terlalu banyak aktivitas, takutnya lho nanti kecapekan. Tau kan tubuh lho itu lemah. Terlalu banyak aktivitas lho bisa langsung drop nanti. Kebayang deh, raut wajah kakak sepupu lho nanti kalau mendengar lho full aktivitas. Udah tau juga dia itu selalu mengontrol kondisi lho walaupun sudah pisah rumah." Alesha mangap-mangap, hidungnya kembang kempis membayangkan ekspresi Zidane kalau mengetahui keadaan adiknya yang kecapekan.


"Jangan dikasih tau. Toh, dia itu orangnya juga sangat sibuk sekarang. Palingan pulang kerja jam sembilan atau jam sepuluh malam."

__ADS_1


"Iya juga ya. Kemarin aja pas dia masuk kerja habis nikahan itu, dia lembur sampai jam sebelas malam terkadang juga sampai jam dua belas. Sampai kesel gue nunggu dia. Sampai ketiduran juga pernah saking lamanya aku nunggu. Nggak nyangka aja kemarin, tiba-tiba Kakek nelpon dan menyuruh laki gue cuti dulu. Nikmati waktu bersama istri kamu katanya. Ya Allah kayak dapat angin Surga." Alesha terlalu semangat bercerita sampai tidak sadar tangannya meremas paha Chayra yang duduk di sebelahnya. Chayra hanya bisa melototkan matanya. Pahanya terasa sakit karena perbuatan temannya. Mulutnya yang masih mengunyah kerupuk langsung berhenti mengunyah. "Kalau senang sih boleh, Lesha. Tapi kegembiraan kamu menyakitiku." Chayra semakin melototkan matanya, meraih tangan Alesha dan menghempaskan tangannya dengan kasar.


"Hehehe.. Sorry.. gue terlampau bahagia."


"Mmm... tapi Amira juga bilang itu.. apa namanya.. mm.." Tina terlihat khawatir untuk menjelaskan. Menatap Chayra dan Alesha secara bergantian.


"Apapun yang dia katakan sama kamu, katakan saja. Kita ini sahabat, terlebih lagi kamu adalah sepupu aku." Alesha menepuk pelan bahu Tina. "Amira bersikap lebih terbuka sama lho karena sepertinya lho terlihat selalu mendukung dia."


Tina terlihat masih segan untuk mulai bercerita. "Amira... Amira katanya... tidak mau bertemu kalian lagi. Dia juga tidak mau bertemu lho, Lesha. Karena... menurut dia lho udah menjadi bagian dari keluarga Ayra. Gue udah berulang kali nasehatin dia agar tidak bersikap seperti itu. Tapi, dia malah menuduh gue macam-macam lagi." Tina mengalihkan pandangannya. "Gue kan jadi bingung bagaimana mau bersikap."


Alesha dan Chayra saling pandang seraya menghela nafas berat. "Sepertinya kita harus menyusun ulang rencana itu." Alesha menepuk pelan paha Chayra. "Lho yang sabar ya, Ayra. Insya Allah ada berkah dibalik semua ini."


Chayra mengangguk lemah seraya tersenyum. "Hanya itu yang bisa aku lakukan. Kita tidak tau rencana Allah ke depannya. Semoga saja masalah ini bisa cepat berlalu. Aku hanya ingin kita bisa seperti dulu lagi."


Chayra pulang usai mendirikan shalat Zuhur di rumah Alesha. Meninggalkan rumah itu setelah mendapatkan kesepakatan dan berkeliling mencari tempat yang cocok sebagai tempat pertemuan mereka. Hatinya merasa sakit mendengar Tina mengatakan kalau Amira tidak lagi mau bertemu dengannya. Ia menghempaskan tubuhnya di atas kasur untuk melepas rasa lelah. Tak berapa lama, matanya terpejam dan melayang ke alam mimpi. Hari ini perasaannya menjadi tak menentu karena memikirkan mengapa bisa Amira sampai berkata begitu. Padahal persahabatan mereka sudah berjalan cukup lama.


*********


"Sayang, bangun..." kali ini memberikan pelukan hangat. Bukannya membuka mata, Chayra malah meringkuk ke dalam pelukan suaminya. "Loh, kok tidurnya malah semakin nyenyak. Bangun, Sayang..." Ardian akhirnya menepuk-nepuk pipi Chayra. "Kamu sudah shalat apa belum. Ini sudah jam lima."


Chayra mengerjap-ngerjap lalu menggeliat. "Ya Allah mata aku kok kayak sulit terbuka ya.."


"Kamu lagi hamil juga, ngapain menggeliat kayak gitu. Kasihan anak kita di dalam." Ardian menahan tangan Chayra yang sudah siap untuk menggeliat lagi. "Jangan dibiasakan kayak gitu ah, jelek dilihat orang."


"Aku mau merenggangkan otot saja, Mas. Ya Allah.. kayak gini aja banyak protes. Sekalinya tobat langsung kayak Ustadz suka memberi ceramah." Chayra melengos seraya membalik tubuhnya membelakangi suaminya.


Ardian tersenyum menatap istrinya. "Kamu sadar bilang apa tadi? Kamu manggil aku beda tadi. Aku nggak salah dengar kan?" Mengusap-usap rambut istrinya.

__ADS_1


"Eh, perkataan aku yang mana yang salah. Perasaan juga nggak ngomong yang aneh-aneh." Chayra langsung berbalik mendengar suaminya mengatakan dirinya ngomong aneh.


"Coba diingat-ingat lagi. Kamu tidak manggil aku Kakak lagi tadi. Tapi aku suka dengernya. Terasa lebih dihormati kalau di panggil 'Mas' kayak tadi. Ayo bangun dulu, kamu belum shalat kan. Ibu menyuruh aku membangunkan kamu. Katanya kamu tidur sejak kembali dari rumah Alesha tadi." Ardian bangkit, takutnya dia malah ikut tidur kalau terlalu lama berbaring.


Chayra masih berbaring. Dia masih mengumpulkan kesadarannya yang masih berceceran kemana-mana. Masih mencerna ucapan suaminya tadi. Benarkah dia memanggil suaminya begitu tadi.


"Ayo bangun. Mulai sekarang panggil aku Mas saja. Aku seneng dengarnya."


Chayra menautkan alisnya seraya bangkit. "Aku nggak mau. Nanti Kak Ardian malah mati lagi kayak Almarhum Bapak. Aku nggak mau jadi janda muda."


"Eh, malah ngomong sembarangan lagi." Ardian menjembel pipi istrinya. "Siapa juga yang mau mati muda. Aku masih ingin bersama kamu, menua bersama kamu. Kalau perlu hidup mati bersama kamu."


"Hehehe..." Chayra cengengesan seraya beranjak dari tempat tidur. "Aku mau shalat dulu. Capek banget tadi makanya langsung terkapar sampai rumah."


Ardian berbaring lagi sambil menunggu istrinya shalat. Mengambil handphone Chayra yang tergelatak di atas ranjang. Tangannya langsung membuka handphone dengan lincah. Membuka pesan untuk melihat dengan siapa saja istrinya sering berkirim pesan. Karena sejak dia sibuk bekerja, dia jarang mengecek handphone itu.


Matanya malah langsung fokus dari pesan baru dari nomor yang sangat dia kenal. Pesannya juga belum dibuka.


Gue akan kembali ke Turki tiga hari lagi. Tapi jangan harap urusan kita selesai begitu gue pergi. Gue nggak akan puas kalau belum melihat lho hancur.


"Eh, apa-apaan ini. Kenapa dia malah ngancam Chay." Tangan Ardian langsung gatal dan membalas pesan itu.


Ini gue Ardian. Apa-apaan lho ngancam istri gue. Kalau memang lho marah, jangan marah sama dia. Karena gue yang memintanya untuk tetap di posisinya sekarang. Gue yang duluan jatuh cinta sama dia. Gue juga yang tidak sudi kalau harus berbalikan lagi sama lho. Udah dikasih permata, ngapain gue harus menggantinya dengan batu sungai kayak lho.


????????


"Kok malah membalas dengan tanda tanya." Ardian semakin kesal. Ardian kembali mengetik pesan.

__ADS_1


Jangan menyiksa batin lho gara-gara mikirin suami orang. Udah dikasih suami tampan plus tajir, masih aja ngejar-ngejar sampah seperti gue. Apa sih yang menarik dari gue, sehingga lho bela-belain menghilangkan harga diri lho. Kalau lho memang manusia baik-baik, lho akan memikirkan kata-kata gue ini. Jangan suka mengancam istri gue karena gue nggak suka. Kalau lho berani, hubungi gue jangan dia.


Ardian meletakkan handphone itu kembali saat melihat istrinya sudah selesai shalat. Pura-pura memejamkan matanya agar Chayra tidak curiga kalau dia membuka handphonenya.


__ADS_2