
Setelah kejadian malam itu. Chayra tidak pernah mau lagi kalau Ardian mengajaknya keluar. Dia bahkan lebih banyak menghindari pria itu. Lebih banyak diam dan menjawab seperlunya saja kalau pria itu bertanya.
Pagi itu, Chayra keluar duluan dari kamar. Meninggalkan Ardian yang masih mandi. Sengaja tidak menyiapkan baju untuk Ardian. Jika pria itu menganggapnya tidak penting. Dia pasti akan cuek walaupun Chayra tidak menyiapkan keperluannya. Sudah cukup pria itu mempermainkannya. Dia sudah terlalu berbakti pada pria zalim yang tidak tau kewajibannya sebagian suami.
Ardian bernyanyi kecil saat keluar dari kamar mandi. Menggosok-gosok rambutnya dengan handuk kecil. Hari ini, dia ada praktek ke lapangan.
"Lho, baju gue mana?" ucapnya saat menatap kasur tempat Chayra biasa meletakkan baju gantinya.
"Apakah dia tidak menyiapkannya?" ucapnya lagi. Berjalan keluar kamar untuk mencari keberadaan Chayra.
"Gue harus bilang apa nih, untuk memanggilnya." Ardian menggaruk-garuk kepalanya. Sebenarnya dia tinggal memanggil Chayra. Namun, untuk menyebut nama gadis itu dia merasa gengsi untuk melakukannya. Selama pernikahan, dia memang tidak pernah menyebut nama Chayra. Dia hanya menyebut nama gadis itu ketika akad nikah.
"Tuh orang kemana sih. Biasanya juga dia tidak pergi tanpa pamit." Ardian kembali menggaruk-garuk kepalanya. Hampir tiga bulan tinggal dengan Chayra membuatnya berubah menjadi pria manja. Tidak pernah lagi menyiapkan pakaian sendiri. Ini itu selalu disiapkan oleh Chayra. Sampai-sampai buku yang akan dia bawa ke Kampus pun, Chayra yang mempersiapkan untuknya.
"Kenapa kamu masih mondar-mandir disini?" Kedatangan Renata membuat Ardian tersentak kaget.
"Eh, Mami.."
"Kenapa kamu belum pakai baju?" Renata membalik tubuh putranya dan sangat terkejut saat mendapati sebuah tato di punggung anaknya.
"Ini.. Mi. Dia kemana kenapa tidak menyiapkan baju untuk Ardian."
"Dia siapa maksud kamu? Istri kamu?"
,
"Iya, Mi."
"Kenapa lidahmu sangat sombong tidak mau menyebut nama istri kamu sendiri."
"B.. bukan begitu, Mi. Tapi aku kaku aja kalau menyebut namanya."
Plak..!
Satu pukulan mendarat di punggung Ardian. "Apa ini, Ardian?!" Menusuk-nusuk punggung putranya yang bertato dengan jari telunjuknya.
"Mami apaan sih?"
"Masuk dan pakai bajumu. Jangan sampai Papi kamu melihatnya." Mendorong tubuh Ardian masuk ke dalam kamar.
"Ardian bingung mau pakai baju yang mana, Mi. Biasanya dia yang mempersiapkan semuanya untuk Ardian."
"Itu tandanya kamu mulai tidak bisa hidup tanpa dia."
__ADS_1
"Mana ada seperti itu."
"Lah itu, dia tidak menyiapkan baju ganti untuk kamu saja, kamu sudah kewalahan dan mencarinya."
"Iya.. itu kan karena dia selalu mempersiapkannya. Kalaupun dia tidak mempersiapkan itu, Ardian akan mencari baju sendiri."
"Lalu kenapa kamu mencarinya sekarang?"
Ardian terdiam. Hanya bibirnya yang terlihat monyong menahan kesal. Dia seperti sedang diintrogasi oleh Maminya.
"Dia kemana memangnya, Mi?"
"Dia udah berangkat duluan. Katanya ada jadwal kuliah pagi. Kalau dia menunggu kamu, sudah pasti dia akan terlambat."
"Alasan saja.." Ardian menggerutu.
"Sudah, Mami tunggu kamu di ruang makan. Jangan lama-lama biar Papimu tidak ngambek."
"Iya.. Mami Sayang.. Mami cerewet banget sih."
Plak..!
Satu pukulan kembali mendarat di punggung Ardian. "Kamu yang jangan banyak akal biar Mami tidak capek-capek ngomong." Renata langsung berlalu.
*******
"Sialan, kenapa ni cewek menghindar terus. Gue mau cari kemana lagi dia." Ardian menggerutu sambil berkacak pinggang. Mengedarkan pandangan ke semua penjuru.
Matanya berbinar senang saat mendapati Chayra duduk bersama Alesha dan Tina di kafetaria Kampus. Berjalan cepat untuk menghampiri gadis itu.
"Kenapa lho ninggalin gue tadi? Tau nggak, Papi rela mampir dulu ke Kampus asalkan gue nggak bawa mobil. Lho kenapa tidak siapkan baju ganti juga buat gue. Gue kewalahan cari baju sendiri."
Tiga gadis yang sedang khusyuk menatap handphone di tangan Chayra langsung mengangkat wajahnya. Alesha bahkan menarik handphone itu dan langsung memasukkannya ke dalam tas.
Ardian menatap tajam ke arah Chayra. Tidak perduli dengan tatapan tajam dua gadis di samping Chayra.
"Apa itu menjadi masalah untuk anda. Saya rasa anda bisa melakukan itu semua sendiri. Anda sendiri yang bilang ke saya, kalau anda terbiasa hidup mandiri dan tidak suka diatur."
"Tapi kan lho yang biasa nyiapin keperluan gue akhir-akhir ini. Kan gue juga sudah bersedia untuk berubah. Tapi lho malah ngambek dan tidak mau mengajar gue shalat lagi."
"Anda bisa mencari Ustadz untuk mengajar anda. Saya bukan orang santai yang kerjaannya cuma mendidik orang yang pura-pura mau tobat."
"Kenapa lho ngomong gitu?" Ardian melirik ke arah Alesha dan Tina.
__ADS_1
"Tidak ada orang yang mau benar-benar tobat, lalu sengaja kembali ke tempat maksiat." Chayra bangkit, berniat untuk meninggalkan Ardian. Namun, pria itu dengan sigap menahan lengan Chayra.
Chayra tersentak dan menatap lengannya yang dicengkeram Ardian. "S.. siapa yang mengizinkan anda menyentuh saya..?" Air mata sudah menganak sungai di mata gadis itu. Berusaha menarik tangannya. Dadanya mulai berdebar tak karuan. Rasa trauma karena perbuatan Ardian yang dulu belum benar-benar hilang.
Ardian semakin mempererat cengkramannya
"Lho jangan main pergi aja, gue belum selesai ngomong."
"Lepaskan tangan saya.." Chayra masih berontak. "Laki-laki menyebalkan seperti anda tidak pantas dihormati. Lepas...!" menghentakkan tangannya sekuat tenaga sampai tangan Ardian terlepas.
Alesha dan Tina yang dari tadi melongo akhirnya bangkit dan menahan Ardian yang ingin menarik tangan Chayra lagi.
"Kak Ardian jangan menyakitinya!" Alesha memeluk Chayra. Kondisi gadis itu terlihat tidak stabil. "Kak Ardian lihat sendiri, tubuh Ayra bergetar karena Kakak memaksanya untuk mendengarkan Kakak."
"Gue nggak ada niat untuk menyakitinya. Gue cuma mau menahannya agar dia tidak pergi."
"Tapi Kak Ardian membuat penyakitnya kambuh lagi."
"Penyakit apa maksud lho?"
"Kak Ardian pura-pura bodoh atau memang benar-benar bodoh." Tina mendorong tubuh Ardian dan beralih memeluk Chayra. Tubuh gadis itu masih bergetar.
"Lho baik-baik aja kan, Ayra."
"Insya Allah, aku baik-baik saja. Antar aku pulang ke rumah Ibu."
"Iya, kami akan antar lho kesana sekarang."
"Biar gue yang antar."
Ucapan Ardian menghentikan langkah Alesha dan Tina.
"Bagaimana lho akan mengantarnya pulang? Melihat lho aja, Ayra menggigil kayak gini."
"Dia seperti itu karena gue menyentuhnya tadi. Tapi bagiamanapun juga, dia sudah menjadi tanggung jawab gue sekarang. Gue nggak mau diamuk sama Papi dan Mami gara-gara dia sakit."
"Lho perduli sama dia karena rasa kemanusiaan atau karena lho takut sama orang tua lho?" Alesha menepis tangan Ardian yang sudah terulur.
Ucapan Alesha telak membuat Ardian tidak bisa berkata-kata. Dia hanya menunduk sambil menggaruk-gaeum kepalanya.
"Jika lho mengantarnya pulang hanya karena lho takut sama orang tua lho, maaf. Gue tidak akan membiarkan Ayra pulang bersama lho. Gue bahkan akan melaporkan perbuatan lho pada Papi dan Mami lho. Lho sudah kelewatan dalam menyakiti Ayra."
"Please, Alesha.. lho jangan melakukan itu."
__ADS_1
"Berhenti jadi orang menyebalkan mulai sekarang. Lho kira, dengan bertingkah semau lho itu, tidak merugikan banyak orang? Sudah berapa orang yang terluka karena laki-laki seperti lho. Benar-benar menyebalkan.." Alesha membawa Chayra berlalu dari hadapan Ardian.
*******